Selasa, 08 November 2011

Simpan Untuk Kamu Saja

Orang berkata hidupku sepi,
biarlah aku tak berkeberatan. 
Hidupku memang sepi, tetapi bukan kesepian.
Orang berkata dan bertanya mengapa aku sendiri
Ku jawab aku nyaman begini.
Siapa yang sendiri lagipula?
Bukankah semut-semut, cacing, kupu-kupu, atau rumput-rumput serta akasia adalah teman yang baik.
Aku tidak bodoh, mereka tak bisa bicara
Memang
Siapa yang bilang mereka bisa bicara?
Bisa mengerti perasaanku?
Siapa bilang begitu?
Tetapi aku punya rasa, dan Kamu pun begitu.
Jadi biar saja ketika aku bercerita kepada guguran kapas dan dia melengos seperti tidak mendengar.
Biar saja, Aku punya rasa, 
Yang penting aku merasakan bahagia
Jadi jangan bilang aku kesepian, atau sendirian
Simpan kata-kata itu untuk Kamu sendiri.

Senin, 07 November 2011

Bapak

Saya bertemu seorang bapak tadi pagi. Berjalan terseok,pincang karena memikul beban. Ia membawa gerabah-gerabah pucat yang terayun ringan setiap ia bergerak. Pundaknya mungkin sudah linu, tetapi ia hanya bisa diam. Saya meneruskan jalan di selasar gang Kober. Matahari hampir muncul menghantui makhluk ciptaan Tuhan dan manusia. Saya berjalan, bertemu bapak itu. Perih hati saya melihatnya menyandang pikulan yang berisi gerabah-gerabah. Siapa yang hendak membelinya? Saya terpesona oleh  keadaan yang tidak memberikan pilihan bagi sang bapak. Gerabah adalah sisa masa lalu yang antik untuk dinikmati, bukan dimiliki. Bapak itu seperti ceceran kepahitan hidup yang secara tidak langsung bagian dari kehidupan saya dan Anda. Saya tidak akan sesedih ini jika yang dipikul oleh bapak itu adalah bahan pangan. Sesial-sialnya, pangan yang ia jajakan bisa ia telan sendiri untuk menutupi rasa lapar. Tetapi apa yang bisa diharapkan dari gerabah? Terlalu keras untuk dikunyah, pahit untuk ditelan, terlalu rapuh untuk dibawa-bawa. Matahari menyapa bahagia, tetapi bapak itu tersepak sendiri. Ia terkikis. Bapak itu menjadi gambaran betapa sempitnya ruang bagi kepahitan hidup. Saya beranjak, menulis pagi ini dengan segaris air di pipi.


Minggu, 06 November 2011

PIKSIRESIR :)

Ayo! Kita piknik di kebun bunga
Di samping kolam yang keruh dengan lotus berwarna merah muda
Bawa roti, dan selai
Atau justru nasi putih dan ayam goreng
Aku siap!
Jangan lupa jus jeruk atau teh manis.
Mari bermain bola, di atas karpet rumput
atau sejenak mendendang lagu

Ayo! Berplesir ke Jogjakarta
Menuntun kaki ke Keraton
Kita pura-pura mandi di Taman Air
Nanti kita jajan di angkringan dan melihat kembang api
Biar aku yang bayar!

Ayo! Ayo!
Ke pantai! Air terjun! Atau Pulau!
Aku siapkan koper, kaca mata hitam, dan kamera ku
Ayo! Kapan kita mau merekam jejak bahagia?
Vakansi, Rekreasi, Piknik, Plesir! Aku siap!

Kucing

Langkah terhenti
Mata menangkap
Kucing tergolek di pinggir jalan
Terlibas debu jalan pagi hari

Aku mematung
Ku kira kamu mati
Ku tendang lembut, kamu bergerak lemah
Napasmu sepertinya tersengal

Aku kira kamu lapar,
Jalanan ku sebrangi,
Ku kembali dengan sepotong ayam goreng.
8.000 harganya
Ku sodorkan sedikit pada mu

Kamu tidak mau!

Kucing malang,
Aku kira kamu haus
Maka aku sebrang jalan mencari segelas air

Aku kembali dengan segelas air
Ku teteskan ke mulutmu yang hampir putih
Kamu meminumnya mula-mula
Kemudian seperti tersedak, air yang ku tetesi mengalir lewat hidungmu yang mungil

Kucing, aku termangu-mangu
Bingung karena diburu waktu

Seorang tetangga lewat, melihatku seperti anak kecil kehilangan mainan
Berjongkok di pinggir jalan raya

Kucing, kamu  harus aku bawa ke mana?
Aku alpa di mana dokter hewan musti ku tuju

Kucing, mandi sinar mentari pagi dulu ya.
Aku berangkat.
Maaf tak bisa memutus atau melanjutkan napasmu
Jangan tersengal!
Ku sisakan segelas air di sampingmu.