Merci, Monsieur Arif! :D
Jumat, 31 Mei 2013
Kartu Pos (langka)
Les cartes postales dans cet album sont ete donnees par mon proffeseur. Il les a recues quand il etait au Portugal. Au fait, elles se sont imprimees a Kemang, en Indonesi. Mais, je pense que c'est un peu difficile pour les trouver en Indonesi. Elles sont rares, je pense.
Merci, Monsieur Arif! :D
Merci, Monsieur Arif! :D
Senin, 27 Mei 2013
Ini sudah larut, ketikasemua terang angkat kaki
ketika semua hal, bahkan burung layang-layang, merasa lelah dan ingin beristirahat.
Tidur di pangkuan gelap, lelap di pelukan malam
Tidak hendak menyingkirkan kalian, Nokturno
Tapi aku saat ini aku sedang tidak ingin berkawan dengan kalian, maaf.
Sebelum sampai kereta mimpi pada gerbang tidurku,
pintu rumahku diketuk nyaring
parade warna minta masuk.
Padahal kemarin parade yang sama tetiba bubar karena hujan kecewa
Namun malam ini malah ngambek hendak masuk dan tidur di dalam tidurku.
Aku bilang begini: "Jangan dulu, kalian belum punya tempat di sini."
-Tapi di hatimu masih ada ruang kosong untuk kami!-
Aku bilang begini: "Kurang ajar! Pergi! Tidak ada tempat bagi tukang intip!"
ketika semua hal, bahkan burung layang-layang, merasa lelah dan ingin beristirahat.
Tidur di pangkuan gelap, lelap di pelukan malam
Tidak hendak menyingkirkan kalian, Nokturno
Tapi aku saat ini aku sedang tidak ingin berkawan dengan kalian, maaf.
Sebelum sampai kereta mimpi pada gerbang tidurku,
pintu rumahku diketuk nyaring
parade warna minta masuk.
Padahal kemarin parade yang sama tetiba bubar karena hujan kecewa
Namun malam ini malah ngambek hendak masuk dan tidur di dalam tidurku.
Aku bilang begini: "Jangan dulu, kalian belum punya tempat di sini."
-Tapi di hatimu masih ada ruang kosong untuk kami!-
Aku bilang begini: "Kurang ajar! Pergi! Tidak ada tempat bagi tukang intip!"
Sesungguhnya ketika aku bilang siap, maka aku tidak akan pernah siap
Bisa jadi 'siap'ku hanya kebohongan belaka
Karena perasaanku ini daun bagi pohon raksasa
Sedari tumbuh aku sudah sadar, perasaanku memang diciptakan untuk gugur pada akhirnya
tapi toh perasaan ini adalah selembar daun saja
yang ketika tumbuh memang harus berwarna hijau muda sampai akhirnya kering
perasaan ini tinggal menikmati saja, memberikan sensasi pada aku si batang pohon
Sebelum pada akhirnya perasaanku betul-betul gugur
entah karena angin, hujan, panas, musim, atau karena tangan jahil milik anak-anak.
Sabtu, 25 Mei 2013
Setelah sebelumnya aku disajikan potonganpotongan kehidupanmu yang magis buatku
Aku menyerah.
Sungguh menyerah.
Aku pikir pada akhirnya semua ini seperti prosesi mengupas buah; menyingkirkan kulitnya pelan-pelan, kemudian mendapatkan daging buah yang segar, dan pada akhirnya menerima biji dengan lapang setelah puas menikmati lezatnya daging buah, tapi ternyata aku salah.
Ini semua bukan seperti mengupas buah.
Pada malam kemarin dan sampai pagi ini aku masih tahu dan masih sadar keadaan magis itu tiada berkurang
Malah menyelinap terus ke dalam hati, mengetuk-ngetuk rasa penasaranku
Tapi bukankah semua sudah cukup jelas ketika aku sudah ditolak di pintu kehidupanmu?
Ketika di teras hatimu kau menuliskan "Untukmu, cukup sampai di sini. Tidak boleh masuk lebih jauh."
Ya ya, aku mengerti dan semua telah terang benderang di siram sinar bulan dan diselimuti kebenaran. Aku paham.
Aku ini memang hanya tukang intip. Tukang intip hidupmu yang mau tahu apa yang kau rasakan di kamar kamar perasaanmu.
Aku ini memang hanya tukang ketuk. Pagipagi datang ke rumahmu padahal kau di dalam sedang mencairkan rindumu kepada perempuan yang sedang tidur.
Aku menyerah.
Sungguh menyerah.
Aku pikir pada akhirnya semua ini seperti prosesi mengupas buah; menyingkirkan kulitnya pelan-pelan, kemudian mendapatkan daging buah yang segar, dan pada akhirnya menerima biji dengan lapang setelah puas menikmati lezatnya daging buah, tapi ternyata aku salah.
Ini semua bukan seperti mengupas buah.
Pada malam kemarin dan sampai pagi ini aku masih tahu dan masih sadar keadaan magis itu tiada berkurang
Malah menyelinap terus ke dalam hati, mengetuk-ngetuk rasa penasaranku
Tapi bukankah semua sudah cukup jelas ketika aku sudah ditolak di pintu kehidupanmu?
Ketika di teras hatimu kau menuliskan "Untukmu, cukup sampai di sini. Tidak boleh masuk lebih jauh."
Ya ya, aku mengerti dan semua telah terang benderang di siram sinar bulan dan diselimuti kebenaran. Aku paham.
Aku ini memang hanya tukang intip. Tukang intip hidupmu yang mau tahu apa yang kau rasakan di kamar kamar perasaanmu.
Aku ini memang hanya tukang ketuk. Pagipagi datang ke rumahmu padahal kau di dalam sedang mencairkan rindumu kepada perempuan yang sedang tidur.
Kamis, 23 Mei 2013
Bisakah ketika suatu hari datang, cermin cukup berpura-pura saja
Tidak perlu begitu jujur menampilkan ketelanjangan yang tak pernah diminta
Bahkan sampai tahi lalat terkecil tak hendak ditutupi
Sampai masuk (ke hati) kah mata cermin memantau ku?
Kalau kembali ditanya oleh kenyataan "Bisakah berpaling dari cermin?"
Bukannya tidak bisa, aku bahkan tidur di atas cermin
Was-was karena aku tak hendak membuatnya retak
Sejauh apa berpaling
tetap bintang dan bulan membutuhkan permukaan tenang air danau
untuk sekadar bercermin
Walau akhirnya jika aku jadi mereka,
Sedikit meteor bisa memecah nyata, membuat sedikit imaji.
Tidak perlu begitu jujur menampilkan ketelanjangan yang tak pernah diminta
Bahkan sampai tahi lalat terkecil tak hendak ditutupi
Sampai masuk (ke hati) kah mata cermin memantau ku?
Kalau kembali ditanya oleh kenyataan "Bisakah berpaling dari cermin?"
Bukannya tidak bisa, aku bahkan tidur di atas cermin
Was-was karena aku tak hendak membuatnya retak
Sejauh apa berpaling
tetap bintang dan bulan membutuhkan permukaan tenang air danau
untuk sekadar bercermin
Walau akhirnya jika aku jadi mereka,
Sedikit meteor bisa memecah nyata, membuat sedikit imaji.
Sekadar Cukup
Sepertinya Tuhan menjawab doa-doa dan kekhawatiran,
meluruhkan gunung-gunung kegelisahan di dalam dada
menutup pembicaraan gamang dan catatan angan
membiarkan aku setidaknya lepas dulu, dengan rasa sebagai jeda
Dan di antara ruang yang bisu sesungguhnya aku hanya mencoba menerka
dengan kesimpulan yang aku tarik dari balik semua "jika"
Supaya ketika nanti datang bulan untuk memberi tahu
aku tak lagi mendapat bualan yang palsu
Detik mengiringi pertanyaan yang telah berangkat pulang
hendak kembali ke siapa yang membuat; tak minta diulang
Seharusnya dengan begitu tak lagi berguna mencari jawab
cukup kehilangan tanya sebagai penenang
23 Mei 2013
Rabu, 01 Mei 2013
Selendang itu melilit imajiku
mengajakku menari tanpa basa-basi
akhirnya aku merasakan juga bagaimana diajak
Dengan selendang itu aku meliuk
bermantra gerak dan dedoa
akhirnya aku merasakan juga dimiliki
Dia, selendang itu menciumiku ganas dari ujung kaki tapi tak sampai kepala
Kecupannya terhenti di jarak antara kepala dan badan: leherku
mengajakku menari tanpa basa-basi
akhirnya aku merasakan juga bagaimana diajak
Dengan selendang itu aku meliuk
bermantra gerak dan dedoa
akhirnya aku merasakan juga dimiliki
Dia, selendang itu menciumiku ganas dari ujung kaki tapi tak sampai kepala
Kecupannya terhenti di jarak antara kepala dan badan: leherku
Langganan:
Postingan (Atom)










