Rabu, 28 Januari 2015

Tentang daun yang tidak pernah marah pada angin yang telah membuatnya jatuh, seorang penyair pernah membahasnya.
Tapi tentang kerinduan daun yang pergi meninggalkan pohon, apa sudah ada yang menceritakannya?



Sabtu, 24 Januari 2015

Di Antara Batas

Sepi menari di antara batas pergi dan lari
Mengajak kawan seakan mustahil
Ini jalan milik satu orang saja
Sehingga bersama menjadi menyesakkan

Berjuang antara melangkah atau diam mengobservasi
Sungguh bukan tentang pilihan yang sederhana
Ada kemungkinan kehilangan,
Ada kemungkinan diterima suatu saat nanti.

Kapan? Tapi kapan?

Tentang semua yang tidak bisa sabar,
Belajarlah bagaimana teraturnya musim datang tanpa saling mendahului
Atau belajarlah pada ombak yang meski saling mendahului muaranya pada lautan juga.

Sabar,
Tentang yang begini musti belajar lagi

Supaya tak main asal lari
Supaya tak menyeret-nyeret perasaan yang belum tentu sudah matang
yang belum tentu berseminya di saat yang tepat.

Jumat, 23 Januari 2015

Pemberian

Tentang seorang asing yang belum benar-benar menjadi teman. Apa salah jika ada pemberian khusus untuknya?

Kalau memang dibilang mengorbankan harga diri, rasanya tidak juga. Berpuluh-puluh halaman buku yang diberikan, bermasalahkah jika yang diminta hanya agar kamu membacanya pelan-pelan, satu persatu, seksama? Mungkin ada dulu perasaan yang terselip. Tapi, kalau yang begitu sudah gugur dihempas angin dan jadi debu, apa perlu masih bertanya-tanya?

Tak ada yang dikorbankan, apalagi harga diri. Cih, kayak roman picisan saja.

Persoalan memberi pada orang asing yang hampir menjadi teman, dibesar-besarkan, karena yang memberi adalah seorang perempuan, yang menerima seorang laki-laki. Katanya perempuan lebih pemalu daripada laki-laki. Maka tindakan seperti itu adalah pernyataan sikap dari hati yang paling dalam dan pasti ada maksudnya.

Apa harus selalu seperti itu?

Kalau seperti itu, menyesal lah aku telah memberikannya. Maksudku baik, buku itu bagus, dan kamu suka membaca. Tak lebih.

Tak ada secuil rasa pun yang ingin dibagi kecuali perasaan senang bahwa buku itu buku yang patut dibaca. Bahwa esensinya manusia pasti bisa kena godaan, Mourad sekalipun.

Kalau kamu tanya kenapa harus kamu? Entahlah. Saya memang begitu suka iseng. Jangan dianggap serius. Take it easy lah bro. Lagipula mana mungkin mengembalikan keisengan. Jadi, tak ada yang perlu dikembalikan.

Dinia


Minggu, 04 Januari 2015

Isyarat

Isyarat adalah bahasa kelu yang tak pernah menari dari kata terucap.
Dalam sepi dan diam, kerling mata bisa jadi tanda, mungkin diartikan salah tapi bisa juga benar.
Isyarat menemukan maknanya dalam kegelisahan yang berharap kekeliruan menjauh dari arti yang ditemukan.
Entah bagaimana, isyarat melemparkan busur panah pada yang dikehendaki. Memberikan peta untuk mencari apa yang dimaksud dari apa yang tersembunyi.

Isyarat membuat perjalanan terasa lambat, diulur-ulur oleh dugaan yang cemasnya mampu menggugurkan daun muda yang baru tumbuh di pohon. Isyarat menjadikan ingatan sebagai ruh: tak bisa dilepaskan untuk kemudian direlakan.

Dan pada suatu ketika yang datang adalah hanya isyarat: entah yang sebenar dirasa, atau justru menciptakan apa yang tiada.