rasanya ingin balik ke kebiasaan lama kalau sudah pusing begini.
ingin ambil benda kecil, menyendiri, dan ngerasain apa yang harus saya pikir saya rasain.
tapi ga boleh.
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Januari 2013
Keluhan
okay, bulan ini saya pathetic banget. ngabisin duit buat lalala yeyeye. kas enol besar!
masih musti rontgen, tes darah, ngurusin gigi. pokoknya spendthrift banget. uang atm abis, uang celengan abis. mau ikut short visit ke Jepang lupa bikin transkrip nilai (ini nyesek banget). diteror musti ikut a, b, c, lalalalala. Lima postcards ke china, rusia, polandia, dan jerman belum nyampe jugaa. :(
Seems like I screw up everything.
Sabaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr. RISE AND SHINE! :)
masih musti rontgen, tes darah, ngurusin gigi. pokoknya spendthrift banget. uang atm abis, uang celengan abis. mau ikut short visit ke Jepang lupa bikin transkrip nilai (ini nyesek banget). diteror musti ikut a, b, c, lalalalala. Lima postcards ke china, rusia, polandia, dan jerman belum nyampe jugaa. :(
Seems like I screw up everything.
Sabaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr. RISE AND SHINE! :)
Selasa, 22 Januari 2013
Minggu, 20 Januari 2013
Edisi peluk
Bantal guling tas selimut bantal bantal bantal guling guling guling selimut selimut selimut
Kenapa semua bisa dipeluk tapi tak bisa memeluk? Saya mau dipeluk, ingin sekali dipeluk.
Kenapa semua bisa dipeluk tapi tak bisa memeluk? Saya mau dipeluk, ingin sekali dipeluk.
Sabtu, 12 Januari 2013
Hi
Hi.
It's a short greeting from me. How's your life there? It's been a month or more. So many things happened to me. I had an accident. I broke my teeth, I had my lips stitched. You wont recognize me.
You know, it's really hard to find someone as polite, patient, and warm as you.
I wish you'd visit this page, and read this awful writing.
Have a very good life :)
It's a short greeting from me. How's your life there? It's been a month or more. So many things happened to me. I had an accident. I broke my teeth, I had my lips stitched. You wont recognize me.
You know, it's really hard to find someone as polite, patient, and warm as you.
I wish you'd visit this page, and read this awful writing.
Have a very good life :)
Senin, 24 Desember 2012
hari ibu
terlalu munafik kalau bilang tak perlu hari ibu karena hari ibu adalah tiap hari. aku manusia tempatnya alpa, dan lalai. urusanku banyak dan terkadang mengesampingkan mamaku. aku butuh waktu menarik diri, merefleksi hubunganku dengan mama. aku butuh hari ibu karena aku cuma manusia biasa yang butuh diingatkan dan titik untuk kembali.
Minggu, 09 Desember 2012
Selasa, 04 Desember 2012
Minggu, 02 Desember 2012
You
Dearest friend,
May be you'll read this post when you accidentally go to this pathetic blog. How's life? As you wish, I hope you're life's gonna be super great. I was just about to reply your last e-mail, when our good bye finally arrived. God will let us meet again someday :)
May be you'll read this post when you accidentally go to this pathetic blog. How's life? As you wish, I hope you're life's gonna be super great. I was just about to reply your last e-mail, when our good bye finally arrived. God will let us meet again someday :)
Rabu, 18 Juli 2012
Kitin
Hari ini saya akan menulis tentang salah satu teman baik saya. Namanya Christina Febriani Lautsan Fernandes, beken dengan nama "Kitin". Kenapa harus Kitin? Karena saya dipastikan tidak akan bertemu dan berkomunikasi sama sekali dengan dia sampai satu tahun ke depan.
Kitin teman saya dari SMP. Kala itu kami tidak terlalu dekat, tetapi dengan sifatnya yang supel dan heboh dia selalu menjadi kenalan masa SMP saya. Kemudian kami masuk ke SMA yang sama. Pada saat inilah kami menjadi agak lebih dekat. Dari SMP kami yang masuk SMA 39 kebetulan hanya belasan orang, dan kebetulan beberapa dari mereka cukup dekat dengan saya.
Dua tahun terakhir masa SMA kami berada di kelas yang sama karena memang tidak ada pengacakan kelas pada kenaikan dari kelas XI ke kelas XII. Kami pun berada pada barisan yang sama. Saya, Kitin, Tara, Tita, Mpok, Genta, Ade, Irma. Makin lama makin dekat, dan makin seru.
Seiring berjalan waktu, kami semua berkuliah kecuali Kitin. Dari SMP Kitin memang selalu ingin masuk kepolisian supaya jadi polwan. Ternyata tahun pertama setelah lulus SMA, Kitin gagal jadi polwan. Tahun ini dia coba daftar kowal. Tahu kowal apa? Korps Wanita Angkatan Laut.
Untuk ini Kitin berusaha abis-abisan. Dia jogging tengah hari bolong pake jaket parasut, suntik varises, berenang, lalalala. Banyak banget yang dia lakukan supaya bisa diterima. Setelah lolos tes wilayah Jakarta, Kitin berangkat tanggal 3 Juli kemarin ke Malang untuk tes selama dua minggu. Hari ini ternyata pengumuman dari tes selama dua minggu itu, dan Kitin lolos.
Konsekuensinya adalah Kitin akan masuk asrama untuk pendidikan lanjutan selama (kurang-lebih) 5 bulan di Surabaya. Tanpa komunikasi sama sekali. Tetapi bukan hanya lima bulan, karena setelah pendidikan Kitin bakal terus di Surabaya hingga total waktu satu tahun. Hmm.. kebayang ya segitu lama tanpa komunikasi.
---------
Kitins manusia usil, bokep, dan selalu menyapa mama saya dengan baik hati setiap ketemu. Meski jarang ketemu sama mama saya, tapi setiap ketemu selalu seperti kenal lama. Kitin, kitin....
-------------
Ingat-ingat kenyataan ini, ternyata memang masa SMA itu udah lama sekali ya. Dan memori, kenangan itu masih ada di kepala saya. Ternyata kenangan cuma sesuatu yang terperangkap di kepala saya, dan kenyataannya semua sudah jauh, pergi, berkembang.
Kitin, satu dari teman baik saya. Selamat berjuang! Jangan berubah ya, tetep bokep, heboh, dan ga tau malu. Akan sangat rindu sama lo! :"*
Kitin teman saya dari SMP. Kala itu kami tidak terlalu dekat, tetapi dengan sifatnya yang supel dan heboh dia selalu menjadi kenalan masa SMP saya. Kemudian kami masuk ke SMA yang sama. Pada saat inilah kami menjadi agak lebih dekat. Dari SMP kami yang masuk SMA 39 kebetulan hanya belasan orang, dan kebetulan beberapa dari mereka cukup dekat dengan saya.
Dua tahun terakhir masa SMA kami berada di kelas yang sama karena memang tidak ada pengacakan kelas pada kenaikan dari kelas XI ke kelas XII. Kami pun berada pada barisan yang sama. Saya, Kitin, Tara, Tita, Mpok, Genta, Ade, Irma. Makin lama makin dekat, dan makin seru.
Seiring berjalan waktu, kami semua berkuliah kecuali Kitin. Dari SMP Kitin memang selalu ingin masuk kepolisian supaya jadi polwan. Ternyata tahun pertama setelah lulus SMA, Kitin gagal jadi polwan. Tahun ini dia coba daftar kowal. Tahu kowal apa? Korps Wanita Angkatan Laut.
Untuk ini Kitin berusaha abis-abisan. Dia jogging tengah hari bolong pake jaket parasut, suntik varises, berenang, lalalala. Banyak banget yang dia lakukan supaya bisa diterima. Setelah lolos tes wilayah Jakarta, Kitin berangkat tanggal 3 Juli kemarin ke Malang untuk tes selama dua minggu. Hari ini ternyata pengumuman dari tes selama dua minggu itu, dan Kitin lolos.
Konsekuensinya adalah Kitin akan masuk asrama untuk pendidikan lanjutan selama (kurang-lebih) 5 bulan di Surabaya. Tanpa komunikasi sama sekali. Tetapi bukan hanya lima bulan, karena setelah pendidikan Kitin bakal terus di Surabaya hingga total waktu satu tahun. Hmm.. kebayang ya segitu lama tanpa komunikasi.
---------
Kitins manusia usil, bokep, dan selalu menyapa mama saya dengan baik hati setiap ketemu. Meski jarang ketemu sama mama saya, tapi setiap ketemu selalu seperti kenal lama. Kitin, kitin....
-------------
Ingat-ingat kenyataan ini, ternyata memang masa SMA itu udah lama sekali ya. Dan memori, kenangan itu masih ada di kepala saya. Ternyata kenangan cuma sesuatu yang terperangkap di kepala saya, dan kenyataannya semua sudah jauh, pergi, berkembang.
![]() |
| G-string sebagi kado ulang tahun Kitin. Bagus kan? |
![]() |
| Kitin nangis pas dikasih surprise ulang tahun ke-17 |
![]() |
| menjajah mac panjul |
![]() |
| di rumah Ninis |
Kitin, satu dari teman baik saya. Selamat berjuang! Jangan berubah ya, tetep bokep, heboh, dan ga tau malu. Akan sangat rindu sama lo! :"*
Sabtu, 02 Juni 2012
Curahan Hati Siang Bolong
Bulan mei yang lalu, tanggal 17
adalah satu tahun diterimanya saya sebagai mahasiswi UI. Sekarang, 2 Juni 2012,
hampir genap satu tahun yang lalu saya mengurusi segala tetek bengek keperluan
kuliah. Sudah satu tahun ya?
Saya merasa baru mendapat pengumuman
SNMPTN undangan, tetapi ternyata semua adalah satu tahun yang lalu.
Waktu tidak berjalan cepat, atau
lambat. Harus ada pembandingnya jika mau disebut cepat atau lambat. Bahkan
konsep waktu sendiri saya tidak mengerti juga.
Banyak sekali hal yang terjadi
setahun terakhir. Banyak sekali. Banyak yang mungkin menyenangkan, atau memang
patut disesali.
Ketika hari ini saya buka buku teks
<<Echo1>>,
saya langsung lompat ke halaman terakhir. Halaman-halaman yang hampir terakhir
maksud saya. Saya sadar setahun yang lalu saya bahkan tidak mengerti cara
membaca huruf <<ҁ>>
dalam konsonan Perancis. Pernah saya mencoba membuka halaman-halaman terakhir
buku itu, dan yang terlintas di pikiran hanyalah: “Bagaimana cara bacanya?
Maksudnya apaan sih?”. Bahasa Perancis bagi saya sangatlah asing, alien. Namun
kini, membaca conversation, bahkan
artikel singkat dari buku Echo
menjadi hal yang biasa. Semakin hari saya makin terbiasa dengan bahasa Perancis
yang alien itu, yang susah itu. Saya makin terbiasa.
Kemudian saya beranjak membuka mundur
buku Echo. Saya sadar bagaimana dulu
kelas pertama kali dengan dosen saya bu Irzanti. Saya sadar di kelas itu saya
bodoh sekali, tetapi nilai saya selalu baik. Saya punya semangat. Dulu, bagi
saya, Bahasa Perancis adalah musuh yang harus dikalahkan, dinding beton yang
harus saya rubuhkan karena di baliknya ada mimpi-mimpi saya. Dulu.
Sekarang buku Echo di samping saya menjadi musuh yang mengalahkan saya. Musuh
yang menghantui setiap jengkal kehidupan saya, musuh yang bergelayut di kaki
saya, di tangan saya, di pundak saya. Bahasa Perancis kian sulit bagi saya.
Semakin hari, nilai yang saya harapkan semakin dibawa melayang oleh kenyataan.
Harapan saya hancur, hati saya hancur.
Dulu, masuk kuliah adalah kegiatan
menyenangkan. Sekarang lima menit pertama di kelas Kemahiran Bahasa Perancis,
saya mulai melihat jam. Saya rindu jam pulang. Kelemahan ini memang memalukan.
Pembaca pasti tertawa melihat betapa bodohnya saya, betapa hinanya saya.
Sekarang sudah setahun, dan tangisan
frustasi saya bukan mereda malah kian memburuk.
Echo 1 masih di
samping saya. Saya tidak mengerti apakah saya masih harus menggunakan buku yang
smaa setahun ke depan.
dinia
Jumat, 25 Mei 2012
Pertemuan
Saya bukan pemilik blog ini loh. Saya orang lain yang pinjam blog ini dan mau cerita:
Buat saya, Anda seperti hal baru. Sebetulnya tidak juga sih. Begini, sebelum saya tahu nama Anda, siapa Anda, dalam bidang apa ketertarikan Anda, saya sudah pernah bertemu dengan Anda secara tidak sengaja. Ya, saya pikir jadi penyaksi sebuah video yang berisikan Anda juga bisa dianggap bertemu tho? Kalaupun tidak, saya akan menganggapnya sebagai pertemuan yang pertama juga. Setidaknya, saya bertemu jiwa dan roh Anda yang terjebak dalam satu bingkai. Bahkan pada bingkai yang berbingkai-bingkai pun isinya Anda. Maksud saya agar persepsi saya sebagai penulis, dan Anda sebagai pembaca sama. Biar sama-sama enak. Yo rak?
Hmm.. Sejujurnya, saya menghargai siapapun yang membaca tulisan ini. Monggo. Tapi, untuk si "Anda" yaa saya maunya sih "Anda"-nya ya Anda. Haha.
Baik, saya sudah mencantumkan pertemuan kita pertama. Lantas pertemuan kita kedua? Yang saya ingat begini, suatu kali ada pertunjukkan teater di kampus saya, kampus Anda juga. Ketika itu saya tidak punya cukup keinginan untuk menghabiskan duit saya untuk menonton pertunjukkan teater itu. Yah, dasar saya rak iso nahan napsu ya saya beli satu tiket. Berdua dengan teman, kami menonton di barisan kedua sebelum pertama dari panggung.
Dari sekian banyak pemain di teater itu, saya tertarik dengan Anda. Saya juga kurang mengerti kenapa Anda yang harus 'nyangkut' di otak saya. There was something that made you look different to me, and it was like you're so familiar to me. Saking penasaran, saya buka bolak-balik booklet dari panitia yang berisi daftar para pemain. Dan ada Anda di situ. Sampai sekarang booklet-nya masih saya simpan. Norak sekali ya?
Norak pun manusiawi lah saya rasa.
Kemudian pertemuan ketiga saya catat ketika kita bertemu dalam sebuah kesempatan itu. Anda membaca puisi saat itu, sambil mengepal tangan karena kesal. Anda kesal karena belum siap ya? But that was very wonderful for me. Bagus sekali kok.
Andaikan kita bisa berkenalan ya.
Jangan lah, saya urung. Anda tak akan mau juga tho?
Buat saya, Anda seperti hal baru. Sebetulnya tidak juga sih. Begini, sebelum saya tahu nama Anda, siapa Anda, dalam bidang apa ketertarikan Anda, saya sudah pernah bertemu dengan Anda secara tidak sengaja. Ya, saya pikir jadi penyaksi sebuah video yang berisikan Anda juga bisa dianggap bertemu tho? Kalaupun tidak, saya akan menganggapnya sebagai pertemuan yang pertama juga. Setidaknya, saya bertemu jiwa dan roh Anda yang terjebak dalam satu bingkai. Bahkan pada bingkai yang berbingkai-bingkai pun isinya Anda. Maksud saya agar persepsi saya sebagai penulis, dan Anda sebagai pembaca sama. Biar sama-sama enak. Yo rak?
Hmm.. Sejujurnya, saya menghargai siapapun yang membaca tulisan ini. Monggo. Tapi, untuk si "Anda" yaa saya maunya sih "Anda"-nya ya Anda. Haha.
Baik, saya sudah mencantumkan pertemuan kita pertama. Lantas pertemuan kita kedua? Yang saya ingat begini, suatu kali ada pertunjukkan teater di kampus saya, kampus Anda juga. Ketika itu saya tidak punya cukup keinginan untuk menghabiskan duit saya untuk menonton pertunjukkan teater itu. Yah, dasar saya rak iso nahan napsu ya saya beli satu tiket. Berdua dengan teman, kami menonton di barisan kedua sebelum pertama dari panggung.
Dari sekian banyak pemain di teater itu, saya tertarik dengan Anda. Saya juga kurang mengerti kenapa Anda yang harus 'nyangkut' di otak saya. There was something that made you look different to me, and it was like you're so familiar to me. Saking penasaran, saya buka bolak-balik booklet dari panitia yang berisi daftar para pemain. Dan ada Anda di situ. Sampai sekarang booklet-nya masih saya simpan. Norak sekali ya?
Norak pun manusiawi lah saya rasa.
Kemudian pertemuan ketiga saya catat ketika kita bertemu dalam sebuah kesempatan itu. Anda membaca puisi saat itu, sambil mengepal tangan karena kesal. Anda kesal karena belum siap ya? But that was very wonderful for me. Bagus sekali kok.
Andaikan kita bisa berkenalan ya.
Jangan lah, saya urung. Anda tak akan mau juga tho?
Minggu, 08 April 2012
Minyak Jelantah
Mungkin aku cuma minyak jelantah. Kemarin masih bersih. Kemarin masih cerah dan jernih, sekarang hitam dan pekat. Aku membiarkan diri jadi penghantar bagi kerupuk-kerupuk untuk digoreng, atau ayam penyet supaya garing. Semua orang suka, semua orang mau makan apa yang aku hasikan. Mereka tidak tahu kalau aku pada akhirnya tersisa sebagai minyak jelantah yang membawa penyakit, membunuh orang. Aku pada akhrinya cuma sebagai pembunuh mereka. Aku pada akhirnya dibenci dan terbuang ke pelimbahan yang amis. Padahal… mereka makan kerupuk dan ayam penyet itu. Aku pembunuh? Minyak jelantah yang buruk rupa ini adalah pembunuh?
Aku tidak mengerti mengapa setelah aku sampai begini hitam dan pekat sebagai minyak, aku justru yang digugat, dihakimi, dicaci, dan dimaki. Minyak jelantah yang malang. Aku jadi kasihan sekali pada diriku yang buruk rupa ini. Selamat tinggal. Jika tidak berakhir di pelimbahan yang amis, aku akan berakhir di penjara yang gelap dan pengap.
Minggu, 01 April 2012
Self Respect
saya bingung sebenarnya mau menunangkan apa di blog saya. Sudah beberapa lama saya merasa seperti dipenjara, dipasung, diikat, dicekik, disumpal. Saya merasa gagu, tuli, buta, tidak punya hati, dan gila. Saya berceracau dalam kepala saya, dalam pikiran saya, dan hal tersebut hampir membuat seisi kepala saya meledak. Saya kurang mengerti masalah seperti ini.
Sebenarnya saya jadi merasa kehilangan jati diri akhir-akhir ini. Saya takut beropini jadinya. Mengapa? Karena saya takut diserang balik dari berbagai arah. Saya jadi tidak meras apercaya diri dengan apa yang akan saya katakan. Tidak ada puisi, cerpen, bahkan up date status, ataupun twit yang berguna. Mungkin karena saya selalu menganggap opini saya kurang lebih tidak berguna, dan tidak perlu didengar.
Oh ya, saya tahu. Sepertinya saya mengalami penyakit Lack of Self Respect yang sangat akut. Siapa bisa menolong?
Sebenarnya saya jadi merasa kehilangan jati diri akhir-akhir ini. Saya takut beropini jadinya. Mengapa? Karena saya takut diserang balik dari berbagai arah. Saya jadi tidak meras apercaya diri dengan apa yang akan saya katakan. Tidak ada puisi, cerpen, bahkan up date status, ataupun twit yang berguna. Mungkin karena saya selalu menganggap opini saya kurang lebih tidak berguna, dan tidak perlu didengar.
Oh ya, saya tahu. Sepertinya saya mengalami penyakit Lack of Self Respect yang sangat akut. Siapa bisa menolong?
Minggu, 04 Maret 2012
Altruisme, Egoisme, Tolak-Menolak, sekaligus Tarik-menarik
"Jika Anda tidak membaca apapun. Anda akan kesulitan merumuskan permasalahan dalam hidup Anda. Sekalipun hanya masalah kegundahan hati yang Anda anggap biasa."Hal tersebut yang saya rasakan selama bertahun-tahun, kesulitan merumuskan perasaan saya. Kesulitan ini saya alami ketika merumuskan apa yang saya impikan dalam hidup saya menjadi kontradiktif satu sama lain. Beberapa orang merumuskan hidup untuk mewujudkan mimpinya menjadi seoranng yang kaya, berorientasi pada nilai, material dan kebendaan. Pun saya begitu. Masalahnya, hati saya terkadang menolak. Yang terlintas selalu, kalau kamu bergerak pada bidang bidang yang makro, kapan kamu mau menyentuh lapisan yang lebih bawah, sehingga benar-benar menyentuh. Saya selalu berharap bisa menjadi seorang guru yang sederhana, jauh dari gilang gemilang duniawi. Hidup di tempat terpencil dan merasakan kesulitan yang harus diatasi. Itu yang ideal bagi saya.
Namun, bukankah saya pun tidak beda dengan teman-teman saya yang mengejar kesempatan bagi diri sendiri. Bukankah saya selalu ingin membeli seisi toko buku, toko sepatu, toko baju, toko parfum, saya ingin segalanya. Saya ingin kebendaan yang saya rasa dapat memuaskan hasrat saya. Manusiawi bukan? Jika itu yang memang saya inginkan, artinya saya harus bekerja keras mengumpulkan banyak uang, sehingga bisa mendapatkan segala kebendaan yang saya inginkan. Hal tersebut sangat fantastis bagi saya, sehingga hati saya menolak.
Penolakan satu gagasan dan gagasan lain dalam hati dan otak saya menjadi pertanyaan saya yang telah lama tanpa jawaban. Apa yang bisa mendefinisikan apa yang saya rasa?
Membaca. Saya membaca buku filsafat manusia dan tak sengaja menemukan apa yang saya cari ketika saya tidak mencari apa-apa. Saya menemukan kata Altruisme yang ternyata berseberangan dengan kata egoisme. Hubungan antara egoisme dan altruisme mampu menjadi rumusan yang tepat.
Altruisme secara sederhana dapat diartikan sebagai kesediaan manusia untuk berkorban bagi orang lain secara sadar tanpa mengharapkan imbalan. Sedangkan egoisme adalah gagasan untuk selalu memenangkan sudut pandang satu pihak, sehingga hanya menguntungkan satu pihak saja. Mungkin altruisme dan ego saya selama ini bertarung dalam diri saya. Entahlah.
Yang manakah yang akan saya menangkan altruisme atau egoisme? Atau saya menangkan salah satu dulu baru pada akhirnya menangkan yang lain? Atau justru tak perlu ada yang dimenangkan?
Saya kurang mengerti, hanya saja saya bahagia setelah tahu bahwa memang terjadi tarik menarik dan tolak menolak antara altruisme dan ego diri. :)
Sabtu, 25 Februari 2012
Kehilangan, Bukan Kerinduan
Hari ini saya mulai belajar mendefinisikan apa yang saya rasa. Mulai belajar mempertanyakan gejolak-gejolak yang saya terima, bukan sekadar menerimanya mentah-mentah. Pagi ini saya sadar kehilangan sebuah kepingan kecil yang kemarin-kemarin membantu saya memandang hidup sebagai sebuah realita yang sedang melawak. Setidaknya itu kesan yang saya terima, bukan yang dimaksudkan siapa pun. Dan ketika saya mencoba menggali lagi ke dalam diri saya, saya berusaha bertanya apa yang hilang? apakah itu sesuatu yang baik sehingga saya menginginkan hal tersebut kembali? apakah yang hilang itu sesuatu yang baik sehingga saya tidak perlu menyesali kehilangan ini? Hal tersebut saya kurang mengerti kesungguhannya. Yang saya tahu saya baru saja mendefinisikan perasaan saya ke dalam sebuah kehilangan, bukan kerinduan.
Anda tahu bedanya antara rindu dan kehilangan? Bagi saya hal tersebut tentu berbeda. Dan baru saya sadari perbedaannya pagi ini. Tidak perlu tinjauan dari KBBI saya rasa untuk menelaah perbedaannya, saya mau mengikuti intuisi saya hari ini. Terkadang semua tidak selalu akademik, atau terlihat akademik hanya sekadar menyampaikan maksud dari hati terdalam. Sekali lagi, saya mengikuti intuisi, bukan tinjauan akademik.
Tanpa ada komunikasi yang wajar sejak beberapa hari, saya kehilangan. Pasti, saya kehilangan.Ada kekosongan dalam menjalani hari, menghabiskan malam tepatnya. Ketika hal tersebut benar-benar hilang, saya mulai mencari-cari cara agar saya mendapatkan hal tersebut kembali lewat manusia yang sama. Saya sudah mencoba untuk menginisiasi diri saya, untuk membuka perasaan bahwa saya menginginkan keadaan yang sama. Nyatanya saya lelah mencari-cari. Kemudian saya berusaha menjadi pengamat perasaan saya sendiri, bukan menjadi orang yang merasakannya. Seperti saya adalah seorang wasit sepak bola, sedang diri saya yang lain adalah pemain sepak bola, sedang bola itu adalah perasaan saya, dan arenanya adalah hati saya. Saya (yang seorang wasit) hanya melihat bagaimana si 'saya' mengolah perasaan saya. Perasaan saya (bola) sedang digiring-giring ke sebuah gawang. Saya melihatnya jelas. Si 'saya' menggiringnya dengan harapan yang begitu besar supaya si bola masuk ke dalam gawang yang dimaksud. Semangatnya membara, saya bisa melihat harapan yang terpancar bersinar-sinar dari si 'saya', penggiring bola. Ketika pada akhirnya si 'saya' gagal memasukkan bola tersebut ke dalam gawang, saya melihat si 'saya' berganti-ganti air muka. Mula-mula ia kecewa sangat, kemudian ia mengerutkan kening, marah, kemudian ia cuma terduduk di lapangan dengan lesu, dan bingung, kemudian si 'saya' terlihat begitu biasa. Ketika saya berusaha bertanya kepada si 'saya', ia menjawab tidak tahu mengapa ia biasa saja. "Aku hanya melihat bahwa, masih banyak gawang lain yang bisa ku masukkan bola ke dalamnya." Kamu sedih? "Tidak, aku hanya kehilangan." Kehilangan apa? "Aku kehilangan kesempatan untuk memasukkan bola ke dalam gawang yang itu." Cobalah lagi. Kamu pasti bisa. "Tidak aku telah kehilangan kesempatan, pun keinginanku." Maksudmu? "Aku gagal, tetapi tak ada lagi keinginanku untuk mencoba ke gawang itu. Mungkin Kamu tidak lihat masih banyak gawang lain." Jadi perasaanmu? "Aku hanya merasa kosong. Tak ada rasa sesal karena gagal."
Jadi saya memutuskan untuk menyatukan kembali diri saya, bukan lagi individu-individu yang berbeda. Saya berusaha sadar, bahwa nurani saya sudah tidak berharap apa-apa akan hal tersebut (komunikasi), juga tidak menyesal tanpa kehadirannya. Ini yang saya agungkan sebagai kehilangan, bukan kerinduan. Kalau kehilangan ini bisa mengarungkan saya pada muara kerinduan. Saya lebih baik menepi, dan menemukan keberadaan saja. Saya sadar kerinduan di bangun dari harapan atas kehilangan. Saya tidak mau membangun apa-apa, saya tidak mau rindu. Kalau sudah hilang, saya lebih baik tidak mencari yang sama.
Anda tahu bedanya antara rindu dan kehilangan? Bagi saya hal tersebut tentu berbeda. Dan baru saya sadari perbedaannya pagi ini. Tidak perlu tinjauan dari KBBI saya rasa untuk menelaah perbedaannya, saya mau mengikuti intuisi saya hari ini. Terkadang semua tidak selalu akademik, atau terlihat akademik hanya sekadar menyampaikan maksud dari hati terdalam. Sekali lagi, saya mengikuti intuisi, bukan tinjauan akademik.
Tanpa ada komunikasi yang wajar sejak beberapa hari, saya kehilangan. Pasti, saya kehilangan.Ada kekosongan dalam menjalani hari, menghabiskan malam tepatnya. Ketika hal tersebut benar-benar hilang, saya mulai mencari-cari cara agar saya mendapatkan hal tersebut kembali lewat manusia yang sama. Saya sudah mencoba untuk menginisiasi diri saya, untuk membuka perasaan bahwa saya menginginkan keadaan yang sama. Nyatanya saya lelah mencari-cari. Kemudian saya berusaha menjadi pengamat perasaan saya sendiri, bukan menjadi orang yang merasakannya. Seperti saya adalah seorang wasit sepak bola, sedang diri saya yang lain adalah pemain sepak bola, sedang bola itu adalah perasaan saya, dan arenanya adalah hati saya. Saya (yang seorang wasit) hanya melihat bagaimana si 'saya' mengolah perasaan saya. Perasaan saya (bola) sedang digiring-giring ke sebuah gawang. Saya melihatnya jelas. Si 'saya' menggiringnya dengan harapan yang begitu besar supaya si bola masuk ke dalam gawang yang dimaksud. Semangatnya membara, saya bisa melihat harapan yang terpancar bersinar-sinar dari si 'saya', penggiring bola. Ketika pada akhirnya si 'saya' gagal memasukkan bola tersebut ke dalam gawang, saya melihat si 'saya' berganti-ganti air muka. Mula-mula ia kecewa sangat, kemudian ia mengerutkan kening, marah, kemudian ia cuma terduduk di lapangan dengan lesu, dan bingung, kemudian si 'saya' terlihat begitu biasa. Ketika saya berusaha bertanya kepada si 'saya', ia menjawab tidak tahu mengapa ia biasa saja. "Aku hanya melihat bahwa, masih banyak gawang lain yang bisa ku masukkan bola ke dalamnya." Kamu sedih? "Tidak, aku hanya kehilangan." Kehilangan apa? "Aku kehilangan kesempatan untuk memasukkan bola ke dalam gawang yang itu." Cobalah lagi. Kamu pasti bisa. "Tidak aku telah kehilangan kesempatan, pun keinginanku." Maksudmu? "Aku gagal, tetapi tak ada lagi keinginanku untuk mencoba ke gawang itu. Mungkin Kamu tidak lihat masih banyak gawang lain." Jadi perasaanmu? "Aku hanya merasa kosong. Tak ada rasa sesal karena gagal."
Jadi saya memutuskan untuk menyatukan kembali diri saya, bukan lagi individu-individu yang berbeda. Saya berusaha sadar, bahwa nurani saya sudah tidak berharap apa-apa akan hal tersebut (komunikasi), juga tidak menyesal tanpa kehadirannya. Ini yang saya agungkan sebagai kehilangan, bukan kerinduan. Kalau kehilangan ini bisa mengarungkan saya pada muara kerinduan. Saya lebih baik menepi, dan menemukan keberadaan saja. Saya sadar kerinduan di bangun dari harapan atas kehilangan. Saya tidak mau membangun apa-apa, saya tidak mau rindu. Kalau sudah hilang, saya lebih baik tidak mencari yang sama.
Selasa, 25 Oktober 2011
Bis?
Dimana bis yang hendak menjemputku? Yang menghantarku sampai ke halte? Sedari tadi aku membawa langkah, tetapi bis tak urung muncul. Aku lelah menyisir jalan. Bis yang kunanti mungkin pincnag di jalan lain. Bis, dimana? Malam hampir membuat sketsa di langit. Aku mau pulang, kelaparan, punggung dan pundakku linu, kakiku gemetar usai berjalan. Bisku yang lelah, aku pun lelah. Maka aku sampaikan padamu; "Jemput aku! Aku mau pulang!"
Jangan Dibaca Ya!
Saya mulai merasa ini bukan saya. Saat malam saya berjalan sendirian di pinggir jalan yang ramai, saya coba mengulang ingatan hari-hari yang telah saya lalui. Saya sangsi ini bukan diri saya. Siapa saya? Kenapa sendiri? Kenapa seakan-akan saya hilang? Saya tertawa tetapi tawa saya pahit, seakan-akan saya memang harus tertawa. Saya marah tetapi marah saya semu, siapa yang mau mendengarkan juga? Saya bicara tetapi itu tubuh saya, jiwa saya ada di tempat lain. Saya menyibukkan diri, dan itu untuk mencari siapa saya. Saya mengeluh pada aspal-aspal yang selalu diinjak. Saya ini apa? Saya siapa? Mungkin pertanyaan ini menggantung karena jawaban perlu pengalaman panjang hingga akhirnya diputuskan sebagai jawaban. Saya merasa pura-pura selama ini. Harus bersikap begini dan begitu. Saya terkadang bersikap (sok) baik, (sok) mengerti, (sok) bijak, padahal saya adalah nol besar. Saya ingin bilang ke kawan-kawan saya yang percaya pada saya bahwa saya ini adalah ketiadaan dalam sebuah tubuh. Saya merasa linglung, dan bingung. Terakhir; Siapa saya?
Minggu, 07 Agustus 2011
Hati yang lebih kuat ya Tuhan
bulan separuh di langit malam ini.
mungkin ada bintang, entahlah saya tak terlalu memperhatikan.
dan kilau bulan pun baru saya sadari di gerbang rumah yang gelap.
hah rasanya saya sudah berjanji ya pada diri saya
tapi rupanya bukan sembarang janji, karena sulit ditepati padahal harus
jauh sebelum ini, saya berharap bukan lagi hal hal sensitif yang menguasai diri saya.
wah rupanya sulit, apalagi anda mencoba mengacak acak hati saya seperti orang yang kemarin itu
monitor laptop terang seperti bulan di luar
tapi tak begitu terang karena dikelilingi cahaya lampu neon di ruang ruang di rumah saya.
rupanya ada lagi pengganggu, yang mengacak acak hati saya.
tolong Tuhan, berikan hamba hati yang kuat
mungkin ada bintang, entahlah saya tak terlalu memperhatikan.
dan kilau bulan pun baru saya sadari di gerbang rumah yang gelap.
hah rasanya saya sudah berjanji ya pada diri saya
tapi rupanya bukan sembarang janji, karena sulit ditepati padahal harus
jauh sebelum ini, saya berharap bukan lagi hal hal sensitif yang menguasai diri saya.
wah rupanya sulit, apalagi anda mencoba mengacak acak hati saya seperti orang yang kemarin itu
monitor laptop terang seperti bulan di luar
tapi tak begitu terang karena dikelilingi cahaya lampu neon di ruang ruang di rumah saya.
rupanya ada lagi pengganggu, yang mengacak acak hati saya.
tolong Tuhan, berikan hamba hati yang kuat
Langganan:
Postingan (Atom)



