Bulan mei yang lalu, tanggal 17
adalah satu tahun diterimanya saya sebagai mahasiswi UI. Sekarang, 2 Juni 2012,
hampir genap satu tahun yang lalu saya mengurusi segala tetek bengek keperluan
kuliah. Sudah satu tahun ya?
Saya merasa baru mendapat pengumuman
SNMPTN undangan, tetapi ternyata semua adalah satu tahun yang lalu.
Waktu tidak berjalan cepat, atau
lambat. Harus ada pembandingnya jika mau disebut cepat atau lambat. Bahkan
konsep waktu sendiri saya tidak mengerti juga.
Banyak sekali hal yang terjadi
setahun terakhir. Banyak sekali. Banyak yang mungkin menyenangkan, atau memang
patut disesali.
Ketika hari ini saya buka buku teks
<<Echo1>>,
saya langsung lompat ke halaman terakhir. Halaman-halaman yang hampir terakhir
maksud saya. Saya sadar setahun yang lalu saya bahkan tidak mengerti cara
membaca huruf <<ҁ>>
dalam konsonan Perancis. Pernah saya mencoba membuka halaman-halaman terakhir
buku itu, dan yang terlintas di pikiran hanyalah: “Bagaimana cara bacanya?
Maksudnya apaan sih?”. Bahasa Perancis bagi saya sangatlah asing, alien. Namun
kini, membaca conversation, bahkan
artikel singkat dari buku Echo
menjadi hal yang biasa. Semakin hari saya makin terbiasa dengan bahasa Perancis
yang alien itu, yang susah itu. Saya makin terbiasa.
Kemudian saya beranjak membuka mundur
buku Echo. Saya sadar bagaimana dulu
kelas pertama kali dengan dosen saya bu Irzanti. Saya sadar di kelas itu saya
bodoh sekali, tetapi nilai saya selalu baik. Saya punya semangat. Dulu, bagi
saya, Bahasa Perancis adalah musuh yang harus dikalahkan, dinding beton yang
harus saya rubuhkan karena di baliknya ada mimpi-mimpi saya. Dulu.
Sekarang buku Echo di samping saya menjadi musuh yang mengalahkan saya. Musuh
yang menghantui setiap jengkal kehidupan saya, musuh yang bergelayut di kaki
saya, di tangan saya, di pundak saya. Bahasa Perancis kian sulit bagi saya.
Semakin hari, nilai yang saya harapkan semakin dibawa melayang oleh kenyataan.
Harapan saya hancur, hati saya hancur.
Dulu, masuk kuliah adalah kegiatan
menyenangkan. Sekarang lima menit pertama di kelas Kemahiran Bahasa Perancis,
saya mulai melihat jam. Saya rindu jam pulang. Kelemahan ini memang memalukan.
Pembaca pasti tertawa melihat betapa bodohnya saya, betapa hinanya saya.
Sekarang sudah setahun, dan tangisan
frustasi saya bukan mereda malah kian memburuk.
Echo 1 masih di
samping saya. Saya tidak mengerti apakah saya masih harus menggunakan buku yang
smaa setahun ke depan.
dinia