Malam masih seperempat lagi sebelum berakhir. Angin berembus
pelan-pelan, membawa dingin yang menusuk. Langit sepi, jauh dari kerlap-kerlip
bintang. Bulan tersenyum kecut, ditinggal sendiri di langit malam.
Makhluk tertidur. Kota tidak lagi bicara nyaring, tetapi
berbisik pelan takut mengganggu. Sepi.
Dalam malam yang sesepi itu, kau duduk berteman rokok.
Memang hanya rokok teman karibmu kala sendiri berkelana dalam malam kota.
Sejenak kau menyadari bahwa rokokmu tinggal satu batang. Rokok terakhir sejak
berjam-jam yang lalu kau memutuskan untuk tidak tidur.
Sementara sudah ada kotak rokok tanpa isi, kotak rokok yang
lain juga baru saja habis. Isinya tengah kau nikmati sekarang. Dalam candu
nikotin itu kau melamunkan malam yang kelam. Berganti-ganti menatap rokok,
langit, dan jam di pergelangan tanganmu. Kau selalu mengantuk, tetapi selalu
gagal tidur tiap kali ingat kau sedang dalam penantian. “Bagaimana jika dia
datang dan aku sedang tertidur?”. Sebab itu kau selalu mengharamjaddahkan tidur
malammu.
Lamunanmu dirusak. Namun kau justru bahagia.
“Ternyata Kau masih suka duduk di sini malam-malam begini?”
seorang perempuan duduk di sampingmu.
Ia melanjutkan gerakkan tangannya, menyelipkan seuntai
rambut di balik telinganya.
Perempuan itu selalu saja cantik dan tidak pernah kehilangan
kesegarannya meski pada malam begini. Itu yang membuat kau tidak pernah puas
menatapnya sebentar.
“Dan Kau masih sudi saja datang ke sini memuaskan
penantianku. Kau menunggu saatnya aku bosan dan melepaskan penantianku?”
“Tidak juga. Aku senang Kau mau menantikan kedatanganku.
Jangan terlalu banyak merokok, Kau bisa sakit.”
“Kau masih sama setiap hari, selalu berkata demikian. Dan
aku pun sama setiap hari. Kau tahu kenapa aku merokok?”
“Kau belum pernah bertanya begitu.”
“Kalau aku tidak merokok, aku akan kehilangan suaramu yang
risau itu. Aku senang Kau mengkhawatirkanku.”
“Ah.”
“Tenanglah, rokok ini tidak akan membunuhku. Kehilangan
cintamu adalah racun buatku.”
“Kau.”
“Aku ini selalu menjagamu. Aku tidak akan sakit.”
“Terserah.”
Udara dingin tidak lagi menjadi masalah. Menggigil adalah
cerita lalumu tentang penantian yang pertama-tama. Namun kini tanpa baju pun
kau rela duduk di tempat yang sama pada setiap malam untuk menantinya. Sekarang
udara adalah selimut bagi kau dan dia. Udaralah yang menyempurnakan kisah kau
dan dia dalam malam yang sepi.
Kau, tanpa nama, tanpa asal. Dan perepmuan itu adalah Embun.
Kalian berbeda tetapi sama; sama-sama pengecut. Kau dan Embun bertemu hampir
setiap malam hanya untuk lari dari kenyataan. Hanya untuk bertemu, karena
kenyataan tidak pernah mau mempertemukan kalian sebagai kalian di dalam imaji.
Bagi kalian, dunia adalah malam. Pagi adalah awal bencana,
Malam membiarkan kalian menjadi-dewa dan dewi yang berhak dan puas memadu
kasih, cinta, rasa, nafsu, dan berahi. Kalian bebas menatap langit menghitung
tanpa akhir bintang-bintang di langit malam. Pada awal pertemuan, kalian mulai
menggambar peta-peta rencana hidup kalian berdua. Kalian pula bercerita tentang
ketakutan kalian akan pagi dan hari-hari terang. Tentang ruang-ruang yang
saling berhimpitan pada terang dan makin sempit bagi individu-individu seperti
kau dan dia. Karena kalian liar dan selalu ingin terbang.
“Pagi”, kata dan kenyataan yang melucuti cinta kalian.
Menjadikan kalian tanggal dari cinta-cinta yang kalian semai malam-malam hari.
Kau dan Embun bertemu pada pagi-siang-sore tanpa kasih sama sekali. Karena
semua itu kenyataan, tanpa lahan bebas untuk imaji kalian. Tiada yang kalian
bawa saat bertemu ketika malam habis. Kau bahkan tidak mengenali Embun. Embun
bahkan tidak tahu siapa kau.
Sesungguhnya, kau tidak pernah benci pagi. Kau hanya terlalu
takut kedatangan pagi yang merusak imaji kau dan Embun-mu. Pada pagi, matahari
nampak. Ia menyeberang jadi sebuah lukisan warna yang sepenuhnya adalah
kata-kata. Mantra yang memisahkan kau dan Embun.
Embun, perempuan itu membiarkan wajahnya kau nikmati tanpa
kata-kata. Kau tahu sebentar lagi Embun-mu itu akan pergi karena hangat
matahari akan mengusirnya.
“Embun. Embun-ku.”
“Apa?” senyumnya tipis, segar.
“Aku benci pagi.”
“Jangan begitu.”
“Kau adalah milikku jika malam.”
“Selalu.”
“Aku tidak mau Kau pergi. Lantas imaji ini berakhir dan kita
bertemu pada dunia nyata sebagai alien dan alien.”
“Ini imaji. Aku embun. Kau tahu, tidak ada embun di Jakarta
jam tujuh pagi.”
“Selalu begitu. Kau Embun…. Aku? Aku ini apa?”
“Kau penjaga embun. Esok malam kita bertemu lagi. Kau jangan
merokok ya.”
Embun bangkit, berjalan menuju punggungmu. Dan kau tidak
pernah tahu ke mana ia berjalan. Kau sendiri, dan langit mulai terang. Kota mulai bangun dan
mulai berbicara nyaring lagi.
*
Rokokmu telah sepenuhnya habis. Dari matamu pasti merembes
tangis yang sepi dalam diam. Jangan menangis! Pagi datang mengusirku, dan kau
tidak akan pernah cukup mampu untuk menjagaku, Malam!
-Embun