Sabtu, 02 Juni 2012

Percakapan pada Malam dengan Satu Rokok Terakhir


Malam masih seperempat lagi sebelum berakhir. Angin berembus pelan-pelan, membawa dingin yang menusuk. Langit sepi, jauh dari kerlap-kerlip bintang. Bulan tersenyum kecut, ditinggal sendiri di langit malam.

Makhluk tertidur. Kota tidak lagi bicara nyaring, tetapi berbisik pelan takut mengganggu. Sepi.
Dalam malam yang sesepi itu, kau duduk berteman rokok. Memang hanya rokok teman karibmu kala sendiri berkelana dalam malam kota. Sejenak kau menyadari bahwa rokokmu tinggal satu batang. Rokok terakhir sejak berjam-jam yang lalu kau memutuskan untuk tidak tidur.

Sementara sudah ada kotak rokok tanpa isi, kotak rokok yang lain juga baru saja habis. Isinya tengah kau nikmati sekarang. Dalam candu nikotin itu kau melamunkan malam yang kelam. Berganti-ganti menatap rokok, langit, dan jam di pergelangan tanganmu. Kau selalu mengantuk, tetapi selalu gagal tidur tiap kali ingat kau sedang dalam penantian. “Bagaimana jika dia datang dan aku sedang tertidur?”. Sebab itu kau selalu mengharamjaddahkan tidur malammu.

Lamunanmu dirusak. Namun kau justru bahagia.

“Ternyata Kau masih suka duduk di sini malam-malam begini?” seorang perempuan duduk di sampingmu.

Ia melanjutkan gerakkan tangannya, menyelipkan seuntai rambut di balik telinganya.

Perempuan itu selalu saja cantik dan tidak pernah kehilangan kesegarannya meski pada malam begini. Itu yang membuat kau tidak pernah puas menatapnya sebentar.

“Dan Kau masih sudi saja datang ke sini memuaskan penantianku. Kau menunggu saatnya aku bosan dan melepaskan penantianku?”

“Tidak juga. Aku senang Kau mau menantikan kedatanganku. Jangan terlalu banyak merokok, Kau bisa sakit.”

“Kau masih sama setiap hari, selalu berkata demikian. Dan aku pun sama setiap hari. Kau tahu kenapa aku merokok?”

“Kau belum pernah bertanya begitu.”

“Kalau aku tidak merokok, aku akan kehilangan suaramu yang risau itu. Aku senang Kau mengkhawatirkanku.”

“Ah.”

“Tenanglah, rokok ini tidak akan membunuhku. Kehilangan cintamu adalah racun buatku.”

“Kau.”

“Aku ini selalu menjagamu. Aku tidak akan sakit.”

“Terserah.”

Udara dingin tidak lagi menjadi masalah. Menggigil adalah cerita lalumu tentang penantian yang pertama-tama. Namun kini tanpa baju pun kau rela duduk di tempat yang sama pada setiap malam untuk menantinya. Sekarang udara adalah selimut bagi kau dan dia. Udaralah yang menyempurnakan kisah kau dan dia dalam malam yang sepi.

Kau, tanpa nama, tanpa asal. Dan perepmuan itu adalah Embun. Kalian berbeda tetapi sama; sama-sama pengecut. Kau dan Embun bertemu hampir setiap malam hanya untuk lari dari kenyataan. Hanya untuk bertemu, karena kenyataan tidak pernah mau mempertemukan kalian sebagai kalian di dalam imaji.

Bagi kalian, dunia adalah malam. Pagi adalah awal bencana, Malam membiarkan kalian menjadi-dewa dan dewi yang berhak dan puas memadu kasih, cinta, rasa, nafsu, dan berahi. Kalian bebas menatap langit menghitung tanpa akhir bintang-bintang di langit malam. Pada awal pertemuan, kalian mulai menggambar peta-peta rencana hidup kalian berdua. Kalian pula bercerita tentang ketakutan kalian akan pagi dan hari-hari terang. Tentang ruang-ruang yang saling berhimpitan pada terang dan makin sempit bagi individu-individu seperti kau dan dia. Karena kalian liar dan selalu ingin terbang.

“Pagi”, kata dan kenyataan yang melucuti cinta kalian. Menjadikan kalian tanggal dari cinta-cinta yang kalian semai malam-malam hari. Kau dan Embun bertemu pada pagi-siang-sore tanpa kasih sama sekali. Karena semua itu kenyataan, tanpa lahan bebas untuk imaji kalian. Tiada yang kalian bawa saat bertemu ketika malam habis. Kau bahkan tidak mengenali Embun. Embun bahkan tidak tahu siapa kau.

Sesungguhnya, kau tidak pernah benci pagi. Kau hanya terlalu takut kedatangan pagi yang merusak imaji kau dan Embun-mu. Pada pagi, matahari nampak. Ia menyeberang jadi sebuah lukisan warna yang sepenuhnya adalah kata-kata. Mantra yang memisahkan kau dan Embun.

Embun, perempuan itu membiarkan wajahnya kau nikmati tanpa kata-kata. Kau tahu sebentar lagi Embun-mu itu akan pergi karena hangat matahari akan mengusirnya.

“Embun. Embun-ku.”

“Apa?” senyumnya tipis, segar.

“Aku benci pagi.”

“Jangan begitu.”

“Kau adalah milikku jika malam.”

“Selalu.”

“Aku tidak mau Kau pergi. Lantas imaji ini berakhir dan kita bertemu pada dunia nyata sebagai alien dan alien.”

“Ini imaji. Aku embun. Kau tahu, tidak ada embun di Jakarta jam tujuh pagi.”

“Selalu begitu. Kau Embun…. Aku? Aku ini apa?”

“Kau penjaga embun. Esok malam kita bertemu lagi. Kau jangan merokok ya.”

Embun bangkit, berjalan menuju punggungmu. Dan kau tidak pernah tahu ke mana ia berjalan. Kau sendiri,  dan langit mulai terang. Kota mulai bangun dan mulai berbicara nyaring lagi.

*

Rokokmu telah sepenuhnya habis. Dari matamu pasti merembes tangis yang sepi dalam diam. Jangan menangis! Pagi datang mengusirku, dan kau tidak akan pernah cukup mampu untuk menjagaku, Malam!

-Embun