Sudah lama kuperhatikan. Dia adalah bapak penjual kue putu
keliling. Badannya hitam legam, tidak dipermanis dengan selengkung senyuman
pun. Bapak itu datang dengan gerobak kecil dan sebuah kaleng pengukus yang
tidak bosan menyemburkan suara “nguuuuuuuuuuuuuung” sepanjang jalan. Sedari kecil, ibu hanya mengizinkanku
membelikue putu itu. Kata ibu, jajan kue putu masih lebih mending dari pada
jajan yang lain. Kue putu dari tepung beras, ketan dan kelapa, jadi aku bisa
kenyang dengan makan sedikit saja.
Setiap sore di serambi rumah, aku selalu duduk dengan sabar
menanti bapak penjual kue putu itu. Di genggamanku ada sekepal uang seribu
rupiah dan di pangkuanku ada piring kecil. Ketika aku menunggu si bapak, ibu
ada di sampingku. Terkadang di belakangku menyisiri rambutku. Rambutku selalu
saja masih basah dan lepek habis keramas. Tapi aku selalu suka harum shampoo
masa kecilku. Dan aku selalu senang saat aku dan ibu menghabiskan sore menanti
si tukang kue putu lewat.
Aku kecil semakin lama semakin besar. Aku mulai bisa
membedakan rasa makanan yang aku suka dan aku tidak suka. Namun, kue putu tetap
pada daftar makanan yang aku suka. Aku bertambah besar, dan kian hari uang
digenggamanku nilainya bertambah. Ketika dulu dengan uang seribu perak aku
dapat lima kue putu, kini tiga ribu rupiah aku hanya dapat enam. Aku tidak
pernah keberatan, dan tidak pernah bosan dengan kue putu.
Semakin bertambah besar, aku semakin sadar bagaimana rupa si
bapak penjual kue putu itu. Ketika kelas enam sekolah dasar, aku baru
memperhatikan bahwa bapak itu tidak pernah tersenyum sekalipun. Waktu aku kelas
tiga SMP aku mencoba membuatnya tertawa. Namun, gagal. Aku coba bertanya
ini-itu tentang keluarganya, tetap pula gagal untuk membuatnya tersenyum.
Aku tidak pernah berani bertanya masalah itu kepadanya.
Mungkin pembaca berpikir kalau tidak pernah tersenyum artinya selalu cemberut. Bukan, bukan itu maksudku. Bapak itu tidak pula cemberut, hanya saja ia tidak pernah memancarkan aura kebahagiaan.
Ketika suatu hari yang hujan, kue putu tidak datang ke
rumahku. Padahal kala itu aku sedang sangat ingin ngemil kue putu. Memang, biasa jika hari hujan si bapak penjual
kue putu tidak berdagang. Aku pun berpikir untuk membeli kue putu pada hari
lain.
Keesokan harinya, aku menunggu di serambi rumah. Lagi-lagi
sama dengan sebuah piring kecil dan segenggam uang. Bedanya sekarang aku tidak
lagi disisiri ibuku. Tetapi justru bersantai mencabuti uban ibu. Sudah lima
belas menit aku menunggu. Biasanya si penjual itu tidak pernah telat melewati
rumahku. Uban ibu yang kucabuti makin menumpuk. Namun kue putu tak kunjung
bernyanyi melengking di depan rumahku. Padahal hari ini tidak hujan. Ibu
memutuskan mengajakku masuk ke dalam rumah karena adzan maghrib hampir
mengalun.
Begitu selanjutnya hingga hari ini. Dua tahun lalu aku
menunggu si bapak penjual kue putu yang tak kunjung datang dan sampai hari ini
tidak pernah datang.
Malam hampir benar-benar menggelapkan warna langit. Dan
ketika adzan mulai mengalun, aku masih di perjalanan bersama karibku. Lapar. (Aku sudah tidak ingat-ingat kue putu lagi. Aku
tidak benci.) Sebelum sampai ke rumahku, ia mengajakku makan di pecel lele
langganannya, dekat dengan kampus kami. Aku tidak terlalu suka pecel lele. Kataku
kepadanya. Dan dia hanya menyarankan aku untuk pesan makanan yang lain. Aku
mengalah. Kami makan pecel lele.
Dik. Ucap penjual pecel lele.
Ya. Hm, kenapa Pak?
Adik lupa? Wah saya saja masih ingat. Saya yang tukang jual
kue putu Dik.
Waaaah. Kemana saja Pak? Saya kangen makan putu.
Saya bla bla bla….
Percakapan berlanjut.
O! Aku menyadari satu hal; Bapak itu kini tersenyum. Ia menyapaku
dengan senyuman.
dinia
inspired by grenta