Tampilkan postingan dengan label bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bebas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Februari 2013

Bahagia

Bulan di luar merangkak naik, pelan-pelan. Bulatnya belum sempurna di mata. Masih tertutup awan gelap, belum waktunya memang. Mungkin besok atau lusa, baru ia sempurna. Atau justru sudah lewat masa? aku kurang mengerti. Malas juga memeriksa tanggalan bulan.

Beberapa hari lalu temanku datang. Mukanya cemberut. Aku tahu dia habis pisah dari kasihnya. Memang pisah selama ini, karena yang stau di Depok yang lain di Jawa Tengah. Katanya kasihnya sudah habis sabar menghadapi si temanku ini. Katanya si Perempuan ini kayak bocah lakunya. Kataku sih juga begitu. Si Perempuan terlampau kayak bocah.

Aku kasihan sebetulnya terhadap dia. Habis seperti tergantung sekali pada kasihnya. Aku kata dia baru lihat dunia seujung tahi kuku. Masih banyak orang lebih baik buat dia. Aku terka dia tidak bahagia. Lantas aku kata lagi: Buat apa begini? Mending cari yang lain saja. Orang baik banyak, laki ganteng banyak, yang kaya dia biar sedikit tapi ada, cari yang lain saja. Buat apa siksa diri?

Temanku itu memeluk tiang koridor. Jangan begitu, kataku. Masih muda kita ini, waktu masih panjang. Masa mau mati, mau ga bahagia cuma gegara Laki itu? Dia kata, Tapi aku bahagianya sama dia. Kalo ga sama dia ga bakalan bahagia. Sekalipun kayak begini, aku bahagia. Aku ga mau nikah kalo ga sama laki itu.

Ini temanku memang sekeras batu. Aku heran kenapa harus menyiksa diri cuma biar bahagia. Kenapa bahagia saja bergantung pada orang lain? Atau memang konsep kebahagiaan itu harus tergantung ini atau itu? Aku iba ah pada temanku itu. Seperti layaknya perempuan itu objek, bahkan untuk bahagia saja butuh subjek untuk mengatur. Aduh!

-Aku

Minggu, 24 Februari 2013

Penguntit

Pernah tidak anda merasa dikuntit setiap saat?
Diintipi setiap gerak anda, diawasi setiap perkataan anda, dan disusupi bahkan sampai ke otak dan alam piukiran anda.
Kalau pernah, saya sedang mengalaminya sekarang.
Di blog ini sebetulnya saya mau telanjang saja, jadi kapan-kapan yang membaca tahu ketelanjangan saya. Walaupun, kalau mau dibilang tidak seratus persen. Kadang saya justru pura-pura telanjang, padahal yang orang ketahui itu palsu. Ketelanjangan saya di sini bisa jadi asli atau palsu, hanya pura-pura.
Tapi kan itu tidak penting. Kadang saya merasa seperti anjing piaraan lepas dari kandang di sini. Bebas dan lepas. Mau gigit orang juga boleh, tinggal kabur setelahnya. Lagipula saya tidak terkontaminasi rabies (semisal saya adalah anjing). Eh entahlah mungkin juga sudah terkontaminasi. Intinya, saya bisa lepas di blog ini. Jadi diri saya sendiri. Seperti di bagian ini.

Tapi di bagian sekarang ini, saya mau cerita hal yang berbeda. Di banyak waktu saya merasa blog ini tak ubahnya penjara. Ke sana ke mari saya tetap membawa citra. Tetap peduli pada pikiran orang lain (anda). Padahal "anda" itu sebetulnya ada atau hanya imajinasi, saya pun tidak tahu. Kalau sudah merasa dikuntit sampai ke kepala, saya merasa otonomi saya terganggu. Rasanya tampak di mata saya sedang mengerjakan sesuatu yang saya kehendaki di blog ini, padahal sebetulnya saya hanya menuruti kehendak entah perasaan atau suara atau apalah namanya di kepala saya. Nah! Dia itu penguntitnya!

Anda mengertikan?

Ada penguntit di mana pun, bahkan untuk menyatakan "saya tidak suka blablabla" saya tidak merasa punya kebebasan untuk melakukannya.

Apa sih yang mengikat begini? Pikiran saya sendiri ya? Apa mungkin penjara dan ketidakbebasan ini saya yang cipatakan sendiri? Kalau iya, kenapa saya tidak punya kuasa untuk melepaskan pengaruhnya?

Ah! Saya tahu! Penguntitnya bisa jadi adalah Anda! Bisa jadi!

Minggu, 20 Januari 2013

Di ladang ada jagung, ada tebu,  ada sengon.
Tapi di ladang tidak ada anda. Sebal.
Seorang kurcaci bosan di hutan, akhirnya minggat ke pantai.
Sampai di depan deburan ombak, kurcaci ragu.
Aduh kapan bisa balik k hutan? Hutan yang hutan, hutan kurcaci bukan hutan bakau
Suatu sore aku melihat keranjang bambu.
Di rumah seorang tua yang serong kanan dari arah sawah bapakku.
Aku berjalan di pematang sore-sore. Karena mulai gelap jadi aku harus segera pulang.
Setelah lewat pohon tanjung barulah rumah seorang tua itu.
Ia mulai menyalakan pelitanya. Rumahnya punya sedikit cahaya.
Di luar, ada keranjang bambu bertumpuk. Ada yang sudah jadi, banyak yang masih setengah jadi. Ada juga potongan bambu yang siap dianyam. Tapi semuanya remang remang, ditelan malam.
Aku cuma lewat sebentar.

Minggu, 13 Januari 2013

cukup bermain-main dengan dunia yang abu-abu. coba ke luar, di luar hujan bukan salju

Sabtu, 12 Januari 2013

"Buka jendelanya, di sini panas sekali."
Jendela kubuka. Pemandangan pohon apel tersaji. Pohon apel sudah lama di situ. Rantingnya pernah patah banyak karena angin puting beliung. Ada kolam ikan di samping pohon apel. Kolamnya berisi ikan kecil-kecil. Ikan mas koki warna oranye. Di sampingnya ada tanaman perdu. Ada bunga rumput. Keladi. Dan gulma-gulma.

Jendela terbuka. Angin berhembus.

Langit sebatas kusen jendela cerah. DI genting gerimis bersahutan. Ada matahari cerah. Tidak ada awan. Langit kosong.

Angin berhembus pelan. Pohon apel bergoyang. Bunyinya gemerisik. Air kolam bergelombang. Tidak ada bunyinya.

"Sudah bertambah sejuk?"
"Tidak. Anginnya buat tambah gerah."

"Tutup saja kalau begitu."
"Jangan."
"Panas ini bukan masalah. Tapi aku butuh energi dari alam."


"Terserah Kau lah."


Minggu, 09 Desember 2012

ketika air mata jatuh segemerincing uang receh, kau akan tahu betapa banyak yang jatuh dari suaranya.
Sayang, air mata tak bersuara. kerap jadi rupa bersembunyi

Senin, 03 Desember 2012

bahwa aku dan kamu bagaikan daun dan klorofil. kamu membuatku hijau bersemi, lalu tinggalkanku di musim gugur yang berangin.

Minggu, 10 Juni 2012

Kamu aktor layar susut. Berjalan mondar-mandir dari ujung panggung sampai ujung lainnya. Kamu penguasa panggung berlantai baret. Kamu berlatih semalaman buat menit-menit di atas panggung. Kamu aktor panggung lebar, dan layar susut. Saya penonton yang harus berbagi bangku dengan penonton lain.

Rabu, 06 Juni 2012

It is Dinia not Diana

when I browsed my name on google, I found out that once India was called "Dinia" as an alternative name. Haha. I do not know whether it is only an opinion or what since I found the info on wikipedia. :]




I feel happy when google could find something named Dinia instead of Diana.


Sabtu, 02 Juni 2012

Les Fleurs



Ceritanya saya lagi ngebet banget sama bunga segar dan bunga kering. jadi setelah googling saya dapat beberapa hasil foto. Ini dari berbagai sumber:












indah ya?
satu jambangan di atas meja cukup menyegarkan mata tampaknya.

Minggu, 12 Februari 2012

*Plak*
sakit

Selasa, 11 Oktober 2011

KAMU!

4 Nama dan semuanya kamu!
4 Nama dan semuanya kamu!
4 Nama dan semuanya kamu!
4 Nama dan semuanya kamu!

Bisa gila aku begini!
Mabuk, mabuk kamu!

Minggu, 09 Oktober 2011

Pohon Ketapang

Add caption
Ini pohon ketapang.
Saya selalu suka pohon ini karena dia mengalami siklus gugur daun
Daunnya kemerahan kemudian gugur
semacam ada perasaan lain,
setiap kali melihat gugur daun pohon ketapang

Rabu, 05 Oktober 2011

Ternyata Bulan

"Terkadang aspal yang basah bukan sekadar penampilan selintas. Dan wajah aspal yang kasar seketika berubah indah saat merefleksikan sebuah cahaya. Terang sekali. Saya celingukan mencari asal cahaya, tetapi tidak ada lampu jalan. Rupanya bulan menjelma dan tumpah cahayanya pada air yang tergenang di aspal kasar."

Mitologi, Siapa yang Tidak Logis?


Kelas  teater hari ini menyisakan sebuah pertanyaan panjang dalam benak Tera. Mitologi nusantara  yang kaitannya dengan pertunjukkan teater terlalu diintimidasi dengan hadirnya seni teater Yunani yang jauh lebih berkembang. Sebuah diskusi terjadi, lebih  seperti monolog, yang membahas mengapa kisah Sangkuriang tidak dapat go international  dalam seni teater seperti Oidipus Sang Raja yang berasal dari Yunani.
Maka sang dosen yang kelihatan amat ahli di bidang teater membahas panjang lebar mengenai beberapa dongeng rakyat. Beliau berpendapat bahwa nilai dalam dongeng rakyat nusantara tidaklah mencerminkan nilai – nilai yang patut menjadi teladan dalam berkehidupan. “Bayangkan, seorang anak diceritakan cerita tentang kancil.  Bagaimana kita dapat mencetak generasi berkarakter jika cerita kancil itu menunjukkan bahwa untuk menggapai sesuatu kita boleh menghalalkan berbagai cara. Tak aneh kalau begitu, sekarang banyak sekali koruptor. Jelas, kecilnya diceritakan tentang Kancil yang begitu.”
Sekali lagi dosen saya menunjukkan cacat pada sebuah dongeng nusantara. “Sangkuriang. Ayahnya seorang anjing, sementara ibunya adalah manusia, Dayang Sumbi. Nah, di sini saja terlihat ketidaklogisan dari dongeng Sangkuriang. Indonesia banget ya?” Lontarnya pada kami mahasiswa yang lugu – lugu. Tera memandang sekitar, melihat teman – temannya yang mengangguk takzim, disusul beberapa tawa.
Tera jujur merasa tersinggung. Teman – temannya tampak tidak peduli dan merasa santai dengan pernyataan maupun pertanyaan yang dilontarkan sang dosen. Tidak ada yang peduli, semuanya santai dan mengalir, sang dosen melanjutkan cerita mengenai ketidaklogisan dan ketiadaan nilai luhur sebagai pembangun karakter bangsa.
Kalimat “Indonesia banget ya?” sangat menyinggung hati Tera. Kalimat itu menjadi teramat berduri ketika disandingkan dengan banyak ketidaklogisan dalam mitologi nusantara. Ini penghinaan bagi Tera! Dan ia aneh mengapa seisi kelas justru tampak setuju dan tidak terganggu. Tera mencoba mencari kawan, anehnya ia menemukan dirinya sendiri dalam emosinya yang menggebu.
Mitologi bukanlah sebuah cerita yang tidak sengaja diciptakan atau digilir datri generasi ke generasi. Mitos memang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu, atau untuk menjelaskan sesuatu. Kenapa terbentuknya gunung Tangkuban Perahu, manusia pada masanya mencoba menjelaskan dengan cerita yang polos dan lugu, yang terlalu banyak unsur sihir di dalamnya. Atau untuk menjelaskan kenapa ada keong berwarna emas di sawah, atau untuk menjelaskan kenapa bisa terbentuk danau Toba. Ini jelas – jelas cerita yang berawal dari ketidaklogisan Tera mengerti itu.
Yang Tera tidak mengerti adalah kenapa konsep ketidaklogisan itu seakan – akan hadir hanya di mitologi nusantara. Mitologi Yunani pun penuh dnegan ketidaklogisan. Mereka, orang – orang Yunani terdahulu, berusaha menjelaskan terjadinya siang dengan menggambarkan bahwa matahari di dorong oleh Dewa Apollo setiap harinya. Logis? Tidak, tidak logis sama sekali.
Tidak ada yang logis dalam mitos – mitos yang ada. Tidak di Yunani, pun di Indonesia. Semuanya terllingkup kebodohan – kebodohan yang coba dibangun sebagai penjelasan. Tidak perlu menurut Tera menempatkan kalimat “Indonesia banget.” setelah menyebutkan kata “tidak logis”. Mereka, orang – orang terdahulu, yang menciptakan mitos secara sangat sederhana mencerminkan pengetahuan kala itu. Maka menurut tera, sangat hina orang yang menghina ketiadaan pengetahuan yang berusaha dijelaskan dengan nalar manusia melalui mitos. Kala itu, yang bodoh yang tidak nyambung bukan hanya orang Indonesia, orang – orang di belahan bumi lain pun sama. Sama – sama bodoh dan sok tahu. Jadi ini bukan perkara Indonesia, atau Yunani. Ini perkara ketiadaan pengetahuan!
Meski pada akhirnya, patut diakui bahwa dongeng rakyat adalah cerminan kondisi karakter, dan mentalitas bangsa secara implisit. Dongeng rakyat nusantara harus diakui memang sedikit banyak mengajarkan suatu sikap nrimo, tidak mau kalah, dan kurang ksatria dalam kehidupan. Tetapi itu tidak berarti cerita Cinderella menjadi lebih baik. Tetap saja cerita itu mengajarkan anak – anak yang mendengarnya menjadi mereka yang percaya bahwa kebahagiaan akan datang dengan sihir, dan dengan mudah.
Cerita yang buruk bukan menyangkut sebuah bangsa, melainkan cerita itu sendiri yang merusak.
Jika memang ya harus diakui, sebetulnya Tera tahu bahwa bangsanya memang bobrok. Bangsanya tidak punya malu. Lucu jika membandingkan cerita Timun Mas dan Putri Kaguya dari Jepang. Ceritanya sama, sama – sama putri yang lahir atas pemberian, dan kemudian hendak dijemput kembali. Bedanya, Timun Mas berakhir pada kepemilikan Timun Mas di pihak orang tuanya, sementara Putri Kaguya justru meninggalkan orang tuanya. Jelas terlihat bahwa Putri Kaguya merupakan cerminan bangsa yang sangat tahu diri. Orang tua Kaguya menepati janjinya untuk menyerahkan kembali Kaguya, sementara orang tua Timun Mas enggan menepati janjinya untuk menyerahkan sang anak. Beda kan? Ya beda.
Tera tidak peduli. Baginya bangsanya sudah bobrok, tidak perlu lagi menambah kebobrokan dengan menceritakan aib.
Tak dapat Tera berdiskusi banyak dnegan dosennya. Ia pun cepat cepat menyambung pikirannya melalui tulisan ini.

Minggu, 25 September 2011

JANGAN DIBACA!


Ini postingan ngaco, jadi jangan dibaca.
Pagi ini saya menemani ibu ke pasar, terdengar seperti lagu bukan? Ya, minggu pagi ini saya dan ibu pergi ke pasar untuk membeli beberapa jenis kue untuk keperluan acara ayah saya. Lumayan lama kami memilih – milih kue, kemudian ibu mengajak saya ke tempat penjual ayam. Kata ibu saya untuk stock makanan beku di rumah. Membeli ayam bagi saya bukanlah pekerjaan yang asing, tetapi membeli ayam di pasar merupakan pengalaman baru bagi saya. Biasanya, ibu membeli ayam dari tukang ayam yang lewat di depan rumah jadi kami cukup menerima ayam yang kami beli secara bersih tanpa tahu prosesnya. Nah, kali ini ibu membawa saya ke pasar supaya saya melihat bagaimana proses dari ayam hidup menjadi ayam potong.
Di pasar yang saya kunjungi, kios kios penjual ayam tidak hanya mendisplay ayam potong yang akan dijual. Kios – kios ayam itu juga mengeksploitasi adegan kekerasan. Kenapa begitu? Di bawah ayam – ayam telanjang yang siap dibeli, terdapat ayam – ayam hidup. Kejam bukan?
Ayam – ayam yang hidup dibiarkan merasa ketakutan, dibiarkan menghitung detik – detik menunggu giliran mereka dijagal. Mereka sudah lupa bagaimana untuk ‘petok petok’ menyatakan protesnya. Saya rasa semalaman mereka sudah ‘petok petok’ sekuat tenaga mau memberi tahu kepada dunia kalau mereka belum mau dijagal, kemudian di rebus seperti di neraka.
Dan ya, pengalaman melihat ayam ‘telanjang’ seharusnya bisa menjadi evaluasi bagi saya sendiri. Mengapa begitu? Dalam strata hewan, menurut saya, sekali pun ayam bukan hewan yang garang dan kuat seperti yang ditampilkan singa atau pun harimau, ayam tetap hewan yang punya pertahanan diri. Sebelum dia sadar bahwa dia bukan apa apa, mungkin ayam – ayam itu merasa mereka cukup pantas menguasai dirinya sendiri. Namun, tidak disangka ternyata ada makhluk Tuhan bernama manusia yang secara naluriah menjagal mereka untuk kebutuhan pakan manusia.
Bagaimana dengan manusia? Bayangkan selama ini manusia merasa hidup sebagai yang terhebat, yang terbaik, yang mengerti, yang memimpin segala – galanya. Oh, tapi manusia banyak yang lupa bahwa nanti kita mungkin jadi seperti ayam yang dijagal yang direbus yang disiksa di neraka. Berbeda dengan ayam memang yang tidak bisa berusaha untuk mengubah nasibnya karena tidak memiliki akal, manusia bisa merubah nasibnya! Kita bisa memilih apakah kita ingin disiksa tanpa ampun, dicelup ke rebusan air di neraka, atau justru terhormat di surgaloka. Kita bisa memilih, untuk menjalankan sesuatu yang lebih spiritual sesuai dengan keyakinan masing – masing. Ya, walaupun dari segi kebebasan orang pun berhak percaya maupun tidak akan adanya surga neraka.
Manusia bukan ayam, jadi jangan mau dijagal, direbus disiksa seperti ayam!
07:53
Din
25 September 2011
 

Collage (?)

well the story started when my coolest friend, genta, had a lil idea about making collage together. So before we made our coolest collage, I tried to make mine. so here are pics of my collage.












I still dont know wether this thing can be defined as collage or not :p

25 September, plain sunday

Kamis, 22 September 2011

YOU!

It's my 40th posts, and I was only about to say some simple things when my heart told me to write my feelings.

"I'm waiting for tomorrow to come early, no
 I'm waiting for my French History class to end early tomorrow, no
 I'm waiting for 15.30 of tomorrow, no
 I'm waiting for me to meet YOU there tomorrow!"

That's the simplest way I can let you know my feeling now. :)