Ini postingan ngaco, jadi jangan dibaca.
Pagi ini saya menemani ibu ke pasar, terdengar seperti lagu bukan? Ya, minggu pagi ini saya dan ibu pergi ke pasar untuk membeli beberapa jenis kue untuk keperluan acara ayah saya. Lumayan lama kami memilih – milih kue, kemudian ibu mengajak saya ke tempat penjual ayam. Kata ibu saya untuk stock makanan beku di rumah. Membeli ayam bagi saya bukanlah pekerjaan yang asing, tetapi membeli ayam di pasar merupakan pengalaman baru bagi saya. Biasanya, ibu membeli ayam dari tukang ayam yang lewat di depan rumah jadi kami cukup menerima ayam yang kami beli secara bersih tanpa tahu prosesnya. Nah, kali ini ibu membawa saya ke pasar supaya saya melihat bagaimana proses dari ayam hidup menjadi ayam potong.
Di pasar yang saya kunjungi, kios kios penjual ayam tidak hanya mendisplay ayam potong yang akan dijual. Kios – kios ayam itu juga mengeksploitasi adegan kekerasan. Kenapa begitu? Di bawah ayam – ayam telanjang yang siap dibeli, terdapat ayam – ayam hidup. Kejam bukan?
Ayam – ayam yang hidup dibiarkan merasa ketakutan, dibiarkan menghitung detik – detik menunggu giliran mereka dijagal. Mereka sudah lupa bagaimana untuk ‘petok petok’ menyatakan protesnya. Saya rasa semalaman mereka sudah ‘petok petok’ sekuat tenaga mau memberi tahu kepada dunia kalau mereka belum mau dijagal, kemudian di rebus seperti di neraka.
Dan ya, pengalaman melihat ayam ‘telanjang’ seharusnya bisa menjadi evaluasi bagi saya sendiri. Mengapa begitu? Dalam strata hewan, menurut saya, sekali pun ayam bukan hewan yang garang dan kuat seperti yang ditampilkan singa atau pun harimau, ayam tetap hewan yang punya pertahanan diri. Sebelum dia sadar bahwa dia bukan apa apa, mungkin ayam – ayam itu merasa mereka cukup pantas menguasai dirinya sendiri. Namun, tidak disangka ternyata ada makhluk Tuhan bernama manusia yang secara naluriah menjagal mereka untuk kebutuhan pakan manusia.
Bagaimana dengan manusia? Bayangkan selama ini manusia merasa hidup sebagai yang terhebat, yang terbaik, yang mengerti, yang memimpin segala – galanya. Oh, tapi manusia banyak yang lupa bahwa nanti kita mungkin jadi seperti ayam yang dijagal yang direbus yang disiksa di neraka. Berbeda dengan ayam memang yang tidak bisa berusaha untuk mengubah nasibnya karena tidak memiliki akal, manusia bisa merubah nasibnya! Kita bisa memilih apakah kita ingin disiksa tanpa ampun, dicelup ke rebusan air di neraka, atau justru terhormat di surgaloka. Kita bisa memilih, untuk menjalankan sesuatu yang lebih spiritual sesuai dengan keyakinan masing – masing. Ya, walaupun dari segi kebebasan orang pun berhak percaya maupun tidak akan adanya surga neraka.
Manusia bukan ayam, jadi jangan mau dijagal, direbus disiksa seperti ayam!
07:53
Din
25 September 2011