Rabu, 20 Januari 2021

Emosi, Perasaan, dan Rasionalisasi yang Kontinu

Ada makna yang bisa dipahami dari tiap kejadian. Baik dan buruk, itu penilaian. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana berusaha mengerti, memproses, dan bereaksi sesuai dengan kapasitas, tidak berlebihan atau kurang.

Ibarat langit berbintang, maka serpihan-serpihan cahaya kecil yang indah itu ya emosi dan perasaan yang menghiasi hati kita. Kadang tertutup, kadang terlihat. Memiliki nama, tapi kita harus teliti menilai untuk tahu itu bintang apa --untuk tahu apa yang kita rasakan. 

Mudah saja bilang "Aku marah." Tapi di balik kata marah ada perasaan apa yang tersimpan? Apakah malu? Merasa frustasi? Merasa kalah? Merasa dikhianati? Merasa sendiri? Merasa buntu? 

Apa?

Kemudian disusul pertanyaan. "Apa yang membuatku merasakan marah? Mengapa aku marah?"

Butuh dialog yang panjang dan intens dengan diri sendiri untuk bisa menjawab pertanyaan itu. 

"Aku marah karena....."

Prosesnya sangat tidak enak karena harus ditinjau ulang apakah marahnya sudah tepat. "Kepada siapa aku marah? Bolehkah aku marah pada dia? Apakah aku adil dengan menumpahkan kemarahanku padanya?"

Marah boleh, namun harus tetap adil dalam bersikap. 

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak ada di lembar soal. Mencari di google pun sia-sia. Tidak ada tenggat waktu. Semua ya dijawab perlahan-lahan saja. 

Saat belum mendapatkan jawaban, senantiasa lah maklum dan jangan bereaksi dengan tidak terukur. 

Kalau memang terlanjur marah, tidak bisa memafkan, dan masih sulit mendapatkan alasan kenapa aku marah dan jawaban atas pertanyaan lainnya, pamit sejenak. Atau kalau perlu pamit tak kembali. 


Selasa, 19 Januari 2021

Kamu juga boleh

Di antara yang bergaduh terburu-buru,
kamu boleh berhenti. Istirahat sejenak meskipun terengah-engah. 

Di antara yang melaju pelan-pelan dan tampak statis,
kamu juga boleh berhenti. Istirahat sejenak meskipun selama ini kamu santai tak berlari. 

Ketika lelah, ya lelah. 

Bukan hanya yang sedang berlomba,
Bukan hanya yang sedang mengejar sesuatu,
Bukan hanya yang dalam tekanan,

Letih, ya letih.

Sebuah perasaan universal yang berhak dimiliki siapa saja. 

Hal yang normal merasa cukup, lelah, letih, dan ingin rehat, walaupun tak bisa jabarkan apa-apa yang menjadi alasan. 

Karena dalam hati dan pikiran siapa yang tahu,
kadang ada pertarungan laten yang diri sendiri juga tidak sadari. 

I'm welcoming myself.

Wah aku kira blog ini sudah mati dan ga bisa dibuka lagi, ternyata masih bisa. 

Well..

Kita lihat blog ini bisa diisi apa lagi.  ^^