Ada makna yang bisa dipahami dari tiap kejadian. Baik dan buruk, itu penilaian. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana berusaha mengerti, memproses, dan bereaksi sesuai dengan kapasitas, tidak berlebihan atau kurang.
Ibarat langit berbintang, maka serpihan-serpihan cahaya kecil yang indah itu ya emosi dan perasaan yang menghiasi hati kita. Kadang tertutup, kadang terlihat. Memiliki nama, tapi kita harus teliti menilai untuk tahu itu bintang apa --untuk tahu apa yang kita rasakan.
Mudah saja bilang "Aku marah." Tapi di balik kata marah ada perasaan apa yang tersimpan? Apakah malu? Merasa frustasi? Merasa kalah? Merasa dikhianati? Merasa sendiri? Merasa buntu?
Apa?
Kemudian disusul pertanyaan. "Apa yang membuatku merasakan marah? Mengapa aku marah?"
Butuh dialog yang panjang dan intens dengan diri sendiri untuk bisa menjawab pertanyaan itu.
"Aku marah karena....."
Prosesnya sangat tidak enak karena harus ditinjau ulang apakah marahnya sudah tepat. "Kepada siapa aku marah? Bolehkah aku marah pada dia? Apakah aku adil dengan menumpahkan kemarahanku padanya?"
Marah boleh, namun harus tetap adil dalam bersikap.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak ada di lembar soal. Mencari di google pun sia-sia. Tidak ada tenggat waktu. Semua ya dijawab perlahan-lahan saja.
Saat belum mendapatkan jawaban, senantiasa lah maklum dan jangan bereaksi dengan tidak terukur.
Kalau memang terlanjur marah, tidak bisa memafkan, dan masih sulit mendapatkan alasan kenapa aku marah dan jawaban atas pertanyaan lainnya, pamit sejenak. Atau kalau perlu pamit tak kembali.