Kamis, 26 Januari 2012

Ada apa dengan Aura

Aku tidak mengerti mengapa tidak ada yang mau berteman dengan Aura, gadis yang kamarnya bersebrangan dengan kamarku. Semua temanku selalu memperingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan Aura. Pada kenyataannya dari satu lorong asrama ini, hanya aku yang mau berteman dengannya. Entahlah, mungkin aku yang terlalu berani mungkin mereka yang terlalu penakut. Aku tidak pernah ambil pusing.
Kehidupan asrama memang baru bagiku. Baru tujuh hari aku habiskan di asrama ini. Dalam tujuh hari itu sudah sekian banyak cerita tentang Aura yang masuk ke pikiranku. Teman satu asramaku yang berbeda gedung bahkan membuat tanda miring di keningnya saat membicarakan Aura. Apa mungkin Aura gila seperti yang orang-orang bicarakan? Bagaimana orang gila dapat diterima di perguruan tinggi ini? Aku hanya bisa menghela napas tiap kali memikirkannya.
Sebetulnya gunjingan dan cerita yang begitu beragam tentang Aura tidak membuatku takut, tetapi justru meningkatkan rasa ingin tahuku untuk mengenalnya lebih dalam. Pada hari ketiga, aku memberanikan diri untuk menyapa Aura yang saat itu sedang duduk di taman.
“Hai. Gue Gina.” Kataku sambil mengulurkan tangan.
Yang tak ku sangka adalah Aura justru menyambut tanganku dengan sangat hangat. Ia bahkan menutup buku yang tengah ia baca hanya demi melanjutkan perkenalanku.
“Aura. Ayo duduk sini. Kamu anak baru itu kan?”  Ia menggeser duduknya untuk menyilakanku duduk.
“Hmm.. Iya. Aku kamu nih ga gue lo?”
“Aku kamu aja.”
Percakapan sore itu berlanjut . Aura mulai bercerita tentang buku yang ia baca, tentang tupai-tupai di pohon rambutan di belakang kamarnya, tentang air di kamar mandi yang sering mati. Aura bercerita banyak hal. Ia kelihatan sangat bahagia menceritakan itu semua kepadaku.
Sore sudah di penghujung. Kami saling berpamitan dan masuk ke kamar masing-masing.
*
Bagiku semua yang ada pada Aura sangatlah normal. Malah menurutku ia termasuk gadis yang cantik. Matanya bundar, rambutnya yang sebahu terlihat sehat dan berkilau, wajahnya bersih tanpa jerawat, bibirnya merah. Gaya berpakaiannya pun menarik. Ia begitu feminin dengan gaun selututnya.
Tidak ada yang aneh pada Aura kecuali kecepatannya berbicara. Kalau sudah bercerita, ia sulit untuk dihentikan. Apa yang ia ceritakan pun terkadang begitu acak bagiku. Ya, tapi apakah itu tidak normal?
Aura, sampai bertemu esok.
*
Selama dua minggu berteman dengan Aura, orang-orang mulai berhenti  bergunjing tentangnya. Namun, kebalikannya mereka mulai bergunjing tentangku. Orang-orang yang sebelumnya bersedia menjadi temanku, kini mulai menjauh. Menyapaku saja enggan.
Aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang katakan tentang Aura. Aku harus buktikan bahwa Aura pantas mendapat teman. Bahwa Aura juga manusia normal yang harus diakui keberadaannya.
*
Hari ini Aura mengajakku masuk ke kamarnya. Lagi-lagi dugaanku salah. Aku pikir kamarnya adalah kamar yang rapi dengan kasur yang resik, buku-buku yang tertata, lantai yang kesat atau setidaknya ada sudut rapi untuk berdandan.
Rupanya aku salah. Jangankan untuk menginjak lantai, melihatnya pun aku tidak bisa. Lantainya tertutupi oleh banyak sekali benda, buku, plastik sisa makanan, cat, kanvas, laptop, kabel, selimut, baju, dan sekian banyak benda lain yang aku tidak tahu namanya apa. Aku tidak berani menampakkan keterkejutanku, maka aku buru-buru mengalihkan perhatian pada  sebuah lukisan yang sepertinya belum selesai.
“Aura, itu lukisan apa?”
“Oh pacarku minggu depan ulang tahun. Ini sebagai hadiahnya.” Ucapnya sambil mengangkat lukisan itu.
“Itu lukisan pantai tempat aku pertama bertemu dengannya.” Sambungnya.
Aura tidak betah lama-lama diam. Ia pun memulai ceritanya tentang pertemuannya dengan sang pujaan hati, Adam. Ia bercerita panjang lebar tentang rencananya untuk memberikan lukisan ini kepada Adam. Ia tidak hendak memberikannya secara langsung, tetapi melalui pos. “Aku malu, Gin.” Ucapnya dengan pipi bersemu merah.
*
Satu hari sebelum hari ulang tahun kekasihnya, aku sudah tidak bertemu dengan Aura. Ketika pagi-pagi ia tidak ada di taman, aku  sudah berusaha mengetuk-ketuk pintu kamarnya. Namun, tak ada jawaban.
Mungkin ia sedang mempersiapkan kejutan untuk kekasihnya. Lucu juga pikirku.
Namun, bukan main terkejutnya aku ketika keesokan harinya aku bermaksud untuk pergi kuliah. Aura keluar dari kamarnya dengan rambut cepak dan celana robek-robek. Penampilannya sungguh kacau. Kaos yang dipakainya pun sudah sangat belel. Di mulutnya terselip sebuah rokok yang masih menyala, dan di tangannya sebotol minuman keras yang aku tak tahu namanya. Aura?
Aku berusaha menyapanya, tetapi ia seperti orang lain. Ia seperti laki-laki. Matanya kosong saat menatapku, menunjukkan kalau ia benar-benar tidak mengenaliku. Ah, tiba-tiba bulu romaku berdiri. Siapa orang yang ada di hadapanku? Apa iya laki-laki boleh masuk ke asrama putri?
Aku baru sadar bahwa sedari tadi ada seikat bunga dan sebuah hadiah bersandar di dinding di samping pintu kamar Aura. Sosok di hadapanku pun rupanya baru saja sadar atas hadiah dan bunga itu. Dengan kasar ia mulai merobek-robek pembungkus hadiah. Aku baru sadar saat sosok itu selesai membukanya, bahwa hadiah itu adalah lukisan yang beberapa hari lalu Aura tunjukkan kepadaku.
Ia mendekatiku, dan dengan sengaja menghembuskan asapnya di wajahku. Asap itu begitu perih dan menyesakkan. Mungkin aku sesak bukan karena asap rokoknya, tetapi karena merasa telah dikhianati.
“Aura!” Bentakku
“Jangan ganggu ulang tahun gue!” Bentaknya persis di depan wajahku.
Aku terpaku beberapa saat. Itu bukan Aura! Suara itu bukan suara perempuan, tetapi wajahnya…. Aura! Adam!
Brak! Sosok itu membanting pintu kamarnya.

Kojek Oh Kojek


            Senyum sumringah terpancar, bersinar – sinar dari wajah legam pak Mansur. Gigi putihnya menyembul di bawah kumisnya yang panjang.
            Ia mengintip dari balik jendela rumahnya yang sudah reyot. Menyaksikan antrean panjang orang – orang yang berbondong – bondong datang untuk sembuh.
            Di antara mereka pak Mansur mendapati wajah pak Sutaryo, sang ketua rukun warga setempat, bu Kasminah pemilik perusahaan tebu, dan beberapa orang kaya di kampung itu.
            “Liat apa Pak?”
            “Itu loh Bu, coba bayangin kita dapet duit berapa hari ini.” Ucap pak Mansur dengan wajah berseri – seri.
            “Uh Bapak nih, enggak pernah kapok.” Ucap bu Mansur seraya masuk ke dapur.
            Sudah jam delapan pagi, dan sudah mengular pula orang – orang di depan rumah pak Mansur. Maklumlah, baru – baru ini terjadi sebuah peristiwa heboh di kampung itu.

*

            Beberapa hari yang lalu, pak Mansur, yang bermaksud pulang setelah memanen tebu, terperosok ke dalam empang tempat biasanya ibu – ibu mencuci baju di pagi hari. Sepedanya rusak parah, dan ia pun terluka gores.
            Saat sedang menyumpah – nyumpah, matanya menangkap ada warna keemasan menyembul dibalik air empang yang keruh itu.
            “Apa ya itu?” gumamnya dalam hati.
            Pak Mansur menengok ke sekitar memastikan tidak ada orang lain. Sambil meringis kesakitan ia menyeret dirinya ke bagian tengah empang untuk mengetahui warna emas yang ia lihat dari kejauhan. Rupanya warna tersebut berasal dari seekor ikan, entah ikan apa.
            Karena tanpa peralatan pancing sama sekali, maka pak Mansur pun memutuskan untuk pulang, karena hari telah sore.
            Pagi berikutnya bu Mansur sangat terkejut ketika si bapak menolak untuk dibangunkan. Katanya, ia tidak mau ke penggilingan tebu hari ini.
            “Loh Bapak ini gimana sih? Mau apa prei hari ini?”
            “Aku mau mancing bu di empang.”
            “Mancing? Aneh – aneh saja. Wis, terserah Bapak lah. Aku mau ngaji nanti siang.”
            Dengan semangat perjuangan, pak Mansur pun pergi memancing di empang yang sepi siang itu. Lama, menunggu, akhirnya kesabaran pak Mansur pun habis.
            Tepat saat ia akan menendang pancingannya, tiba – tiba tali pancing bergerak – gerak minta ditarik.
            Ia pun bergegas mengambil alat pancing, dan menggulung dengan sekuat tenaga. Hup! Betapa terkejutnya pak Mansur saat menggulung tali pancingnya. Ia berhasil mendapatkan si ikan gabus emas!
            Kepada sang istri, dan anak menantunya, pak Mansur bercerita dengan bangga tentang bagaimana ia mendapatkan ikan tersebut. Tentunya cerita yang disampaikan berbeda jauh  dengan kenyataan, ia membumbui cerita itu, seakan – akan ikan tersebut langsung datang kepadanya karena ada ikatan batin. Ia pun mengatakan bahwa ikan itu dapat mengobati berbagai macam penyakit.
            “Buktinya tangan bapak yang jatuh yang memar kemarin sudah baik baik saja.”
            Anak dan menantu pak Mansur terperangah mendengar cerita yang disampaikan olehnya. Namun, bu Mansur yang telah lebih dahulu diceritakan oleh suaminya hanya diam saja. Ia tahu bahwa tidak semua yang dikatakan suaminya sesuai dengan kenyataan.

*

            Tanpa diminta, hal tentang pak Mansur dan ikan gabus emasnya itu menyebar ke seluruh kampung. Tidak sedikit masyarakat yang penasaran dan pada akhirnya mengunjungi rumah pak Mansur untuk melihat ikan tersebut.
            Entah angin dari mana, kabar lain pun dengan cepat mnyelimuti desa, berpindah dari mulut satu ke mulut lain; ikan gabus emas milik pak Mansur dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit!
            Sejak dibuka seminggu yang lalu, memang, praktik ikan gabus emas milik pak Mansur selalu dibanjiri orang – orang seantero desa. Jangan salah, bukan hanya penduduk sekitar, bahkan sampai calon walikota setempat pun pernah datang diam – diam ke rumah pak Mansur agar si ikan gabus emas dapat mewujudkan mimpinya menang di pilkada nanti. (Pssst.. Jangan kasih tau siapa – siapa ya!)
            Bahkan sekarang ikan itu sudah punya nama! Namanya adalah Kojek. Pak Mansur pun mulai memasang sebuah papan iklan di depan gubuknya, bertuliskan ““AYO DAPATKAN KEBERKATAN SI KOJEK di RUMAH PAK Mansur!!”

*

            Melihat antrean yang makin mengular dan makin panas, pak Mansur pun mulai bersiap – siap dengan kostum kebesarannya. Peci putih, tasbih, pakaian serba putih, lengkap dengan tanda hitam di jidat seperti ulama kebanyakan.
            Pukul sepuluh, pak Mansur pun siap. Siap untuk keluar menemui pasien – pasiennya. Disusul pak Mansur, adalah Padil anak pak Mansur yang bertugas membagikan air rendaman ikan gabus emas yang (katanya) penuh dengan khasiat, dan keberkatan.
Sebelumnya telah hadir di meja pendaftaran, Surimah menantu pak Mansur. Bu Mansur? Ia tidak pernah mau ikut ambil bagian dalam praktik penyembuhan ini.
            Manusia – manusia yang kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah itu rela berpayung – payung, berpeluh – peluh, berdesakkan di bawah panasnya matahari siang itu. Tujuan mereka satu; kesembuhan! Pak mansur pun rela duduk di depan gubuk reyotnya, bermandi peluh dan sumpek, tujuannya satu; Uang!
            Maka dibukalah praktik Kojek Emas hari itu. Satu per satu orang dipanggil oleh Surimah berdasarkan nomer urut. Sekarang bahkan sudah mencapai bomer urut 239. Di antara pasien – pasien yang masuk Surimah hafal ada beberapa orang yang memang sudah sering datang ke praktik Kojek sang gabus emas. Salah satunya adalah pasangan suami – istri dari bekasi; pak Sudrajat dan ibu Maemunah.
            Pasangan ini datang bukan untuk kesembuhan, melainkan mencari berkat kesuburan tubuh, karena mereka belum juga dikaruniai bayi mungil di tahun ke dua belas pernikahan mereka.
            Hari ini masih sama, tampaknya pasangan itu datang masih untuk berobat. “Tapi kok, seneng banget tuh ibu mukanya?” batin Surimah.
            Rupanya dugaan pak Mansur salah. Begitu berbasa – basi menanyakan kabar, pak Sudrajat pun mengeluarkan amplop tebal.
            “Ini ada sedikit untuk Bapak. Istri saya hamil, berkat minum air dari si Kojek.” Ucap pak Sudrajat. Sementara bu Maemunah hanya tersenyum malu – malu di samping suaminya.
            “Terima kasih Pak. Semoga kehamilan istri Bapak lancar.” Ucap pak Mansur seraya mengambil amplop tebal itu. Wow! Bahkan pak Mansur pun tidak melakukan apa – apa, terlebih si Kojek. Sebetulnya, ia tidak peduli betul dengan kehamilan itu, baginya yang terpenting adalah si ampol tebal!       
           Tak lama berada di dalam, pasangan pak Sudrajat dan ibu Maemunnah pun keluar dari ruang sumpek itu. Cerah sekali wajah mereka, dan mesra pula mereka berdua.
            Setelah pasangan itu keluar, berikutnya masuk berganti – gantian orang ke dalam rumah reyot itu. Ada yang tangannya di perban, matanya buta, kakinya pincang, dan berbagai macam orang berpenyakit silih berganti masuk, diperiksa, dan diberi air Kojek.
            Orang – orang itu kemudian disodorkan kotak amal bertuliskan “Seikhlasnya”. Anehnya, walaupun ada label “Seikhlasnya” barangsiapa yang memasukkan uang kurang dari lima ribu rupiah tidak akan lepas dari delikkan mata pak Mansur.


*

            Sedari tadi bergantian orang masuk ke gubuk reyot pak Mansur, yang mereka cari Cuma air penyembuhnya saja, tidak satupun dari mereka yang betul – betul memperhatikan si Kojek.
            Sang ikan gabus emas hanya melihat dari balik akuarium kumal tempatnya diletakkan. Sebetulnya ikan gabus emas itu sendiri bingung, mengapa orang yang sedari tadi dipanggil Padil itu sibuk menciduk air tempatnya berendam. Di lain sisi, Kojek pun bingung mengapa antrean orang – orang itu meminum air dari tempatnya berendam. Entahlah.

*

            “PRAKTIK PENYEMBUHAN KOJEK TUTUP”

            Papan iklan yang dahulu bertuliskan “AYO DAPATKAN KEBERKATAN SI KOJEK di RUMAH PAK MANSUR!!” tak lagi tampak, digantikan oleh berita bahwa pengobatan Kojek telah ditutup.
            Pasien, atau calon pasien yang telah mengantre sejak tadi pagi untuk mendapatkan nomor urut pun hanya bisa gigit jari, dengan wajah kecewa mereka harus mengubur harapan untuk sembuh dari si ikan gabus emas itu.
            Tak hanya para pasien dan calon pasien yang datang tak diberi tahu hal mengapa praktik ini tiba – tiba ditutup. Keluarga pak Mansur pun tidak mengetahui akan hal ini.
            Rasanya bukan senyum sumringah lagi yang terpancar dari pak Mansur yang bersembunyi di dalam rumahnya yang kini telah mewah, melainkan wajah kesal dan marah karena ia kehilangan praktik sumber kekayaannya.
            Pak Mansur kaku di kursi ruang tamunya, wajahnya keras, menyiratkan kemarahan dalam hatinya.
            “Kenapa ditutup sih Pak?” tiba – tiba Padil datang bertanya.
            “Iya Pak kenapa ditutup sih? Kan kita bisa jadi tambah kaya kalo masih dibuka tuh praktik!” susul Surimah yang sama tak habis pikirnya seperti Padil.
            “Hus! Ga usah banyak nanya Kalian! Itu si Kojek mati!” jawab pak Mansur dengan nada tinggi.
            Terbersit tanya di benak Padil; “Kok si Kojek bisa mati sih? Dia kan ikan sakti. Katanya bisa nyembuhin orang, tapi kok nyembuhin badan sendiri aja ga bisa?”.
            “Pak kok si Kojek mati sih? Katanya bisa nyembuhin orang?” tanya Surimah.
            “Heh Imah! Ga usah banyak tanya bapak bilang!”
            “Tarmi, Kamu buang tuh ikan!” bentak pak Mansur kepada istrinya.
            Suasana di ruang itu rikuh. Tidak ada yang berani banyak bicara. Padil dan Surimah beranjak ke luar, mencoba menenangkan orang – orang yang banyak bertanya penyebab ditutupnya praktik si Kojek.
            Beberapa saat kemudian suasana di luar rumah pak Mansur kembali tenang. Hanya terlihat beberapa orang yang datang, kemudian pulang setelah mendengar penjelasan Padil dan Surimah.

*

            “Betul begitu Pak Hakim, saya nemuin ikan mati yang mirip Kojek itu di depan rumahnya pak Mansur. Masa iya ikan penyembuh bisa mati? Kan nipu begitu namanya Pak.” Cerocos pak Surtaryo, sang ketua RW yang sudah beberapa bulan ini setia meminum “air si Kojek”.
            Suasana di tempat itu memanas, aura ketegangan menggantung di langit – langit ruang persidangan.
            Sembari saksi bergantian bercuap – cuap di hadapan sang hakim, pak Mansur hanya menunduk lesu, dan malu di kursi pesakitan.
            Tibalah saat pak Mansur menyampaikan keterangan. Tamu sidang yang kebanyakan korban kibulan pak Mansur secara bersamaan menyoraki pak Mansur. Bahkan di antara mereka pun ada yang berteriak “Penipu! Penipu!”.
            Tak ada lagi pembelaan dari diri pak Mansur. Semuanya sudah terbongkar, ia pun mengakui segala kebohongannya tentang si Kojek yang dapat menyembuhkan. Tak hanya pak Mansur, Surimah dan Padil pun harus rela mengikuti jejak pak Mansur yang harus mendekam di bui.
           Oh! Hancurlah reputasi pak Mansur. Bahkan saat penangkapan di rumahnya beberapa minggu yang lalu, banyak warga yang melempari dirinya dengan romat busuk sisa panen.
            Di sisi lain, bu Mansur hanya dapat mengurut dadanya. Dalam hatinya ia hanya berkata, “Ya Allah, taubatlah kamu pak.” diselingi dengan air mata di pipnya.
            Dari jauh pak Mansur melirik ke bu Tarmi, istrinya. Dari sinar matanya yang lesu terbaca, “Maafkan aku Bu. Aku ga akan ulangin lagi.”
            Yah, apa boleh dikata, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada lagi rasa bangga dapat menyembuhkan, tidak ada lagi pundi – pundi rupiah yang mengalir ke kantong pak Mansur dan keluarga, yang ada hanya malu, malu dan malu.
            Para bekas pasien pun belajar untuk menjadi manusia yang lebih cerdas, agar tidak lagi mau percaya hal – hal bodoh seperti “pengobatan Kojek”.

*



Sepanjang Garis Risau

Pagi – pagi sekali sebelum matahari bersinar terang, aku buru – buru ke luar rumah. Ku paksakan badanku yang masih nyaman dalam balutan tipis sarung dekil untuk ke luar menghadang dingin subuh.
            Sebelum betul – betul ada yang melihat, aku copot bendera merah putih dari tiang bambu di halaman rumahku. Aku sempatkan diri untuk menengok, meneliti daerah sekitar, takut kalau ada yang memperhatikan.
            Selama ini, bendera merah putih itu setia menghiasi rumah ku yang mungil ini, sementara di belakang aku biarkan bendera kebangsaan negara Malaysia. Di satu sisi aku hidup di tanah Indonesia, sementara di sisi lain aku hidup di tanah orang, Malaysia.
            Keadaan sesungguhnya tidak pernah sesulit ini, aku tidak pernah harus tergesa – gesa mencopot bendera merah putih, atau bendera negri Jiran di belakang rumah. Namun sekarang semua lebih menegangkan, dan atmosfer  daerah perbatasan bukan sesuatu yang menyenangkan akhir – akhir ini.
            Semenjak terjadi gesekan politik dan kedaulatan antara RI dan Malaysia, kami seperti anak ayam kehilangan induk. Kami yang biasanya bertransaksi dengan ringgit jadi sedikit rikuh, kami bingung terlalu banyak gejolak politik yang melibatkan kami sebagai korban.
            Aku sebagai Indonesia sejati tentu mendukung langkah pemerintah mempertahankan kedaulatan kami. Akan tetapi, semua berbalik menantangku. Di rumah yang terletak di dua negara ini, aku hidup bersama kekasih yang berbeda. Dewi cintaku tersayang bukan dari bangsa ku, hasil cinta kami pun begitu. Mereka orang – orang Malaysia sejati, yang hidup di dua negara sama seperti aku.
            Kesetiaan masing – masing kami pada negeri semakin diuji. Lebih mudah bagi istriku untuk memilih, karena ia mengenal betul negaranya. Sementara aku? Bahkan lupa, atau lebih tepat tidak pernah diajari pancasila.
            Aku bergegas masuk. Ku lipat bendera merah putih kesayanganku, pemberian dari teman yang berkunjung kala waktu. Ku hirup aromanya dalam – dalam. Ada bau matahari, hujan, dan sebuah kesedihan yang tak dapat aku jelaskan.
            Istriku belum bangun, di belakang rumah masih berkibar bendera Malaysia. Kupandangi wajah istriku, kemudian anak – anak ku di kamar lain. Sedikit rasa miris melintas di hatiku, “Ah, andaikan negara melihat aku yang diliputi risau berganti bangsa. Andaikan negara tahu betapa aku jatuh cinta pada ibu pertiwi.”
            Aku beranjak ke dapur. Ku buat sebuah kopi hitam panas, dan ku nikmati di serambi rumah. Sekitarku masih sepi, masih belum banyak yang bangun. Aku menyesapnya, ku hirup aroma kopiku.
            Aku tarik napas sekuat ku. Ku biarkan bau tanah basah bekas hujan tadi malam, bau udara subuh, dan bau kopi hitam mengisi rongga paru – paru ku. Ah, hening. Tidak sengaja aku begitu sentimentil dan segaris air merembes dari kelopak mataku. Aku ingin badan dan jiwaku tahu, bahwa jika esok rumah ku hanya berada di satu wilayah, hatiku tetap untuk negeri pertiwi.

Ulang Tahun Alyssa

Beberapa hari ini setiap aku melewati taman kompleks rumahku, selalu ada seorang gadis yang sedang sendiri. Awalnya aku tidak menyadari kehadirannya sampai suatu ketika saat aku hendak pulang dan melewati taman itu, angin bertiup kencang dan gadis itu tidak bisa menahan kertas-kertas yang berada di pangkuannya. Aku tidak bisa hanya menonton. Aku berusaha membantu mengumpulkan kertas-kertas itu, dan mengembalikan kepadanya.
Keesokan harinya, aku berusaha mendekati gadis itu. Masih berseragam, aku menempatkan diri duduk di sampingnya. Ia sekilas menoleh kepadaku, tersenyum, memamerkan sederetan giginya yang putih seperti mutiara. Aku baru sadar betapa cantiknya gadis itu.
“Terima kasih ya atas bantuanmu kemarin. Kertas-kertasku akan berakhir di got tanpa bantuanmu.”
Ternyata suara gadis itu pun sangat merdu.  Aku merasa apa yang ada di diri gadis ini sangatlah sempurna. Tanpa bisa menguasai diri, pipiku mungkin sudah merah.
Gadis itu kemudian memulai percakapan. Namanya Alyssa. Ia menunjuk ke sebuah rumah yang tak jauh dari rumahku sebagai rumahnya. Alyssa  bercerita kalau ia berusa 16 tahun sama seperti usiaku. Namun, ia tidak bersekolah sepertiku. Ibunya sakit dan ia tidak mau meninggalkannya sendiri.
Aku makin terkesima dan terkesan dengan perempuan di sampingku ini. Ia tidak hanya banyak bercerita, ia pun mau mendengarkan ceritaku dengan seksama.
Aku ceritakan kepadanya bahwa aku baru seminggu tinggal di kompleks ini, dan ia lah teman pertamaku di sini. Aku menawarkan kepadanya untuk bermain ke rumahku malam ini. Namun, Alyssa hanya tersenyum dan aku mengartikan senyuman itu sebagai penolakan halus.
Mentari mulai menarik diri ke ufuk barat, dan sinarnya berbaur hangat dengan sisa langit petang. Alyssa menutup matanya, menikmati keindahan senja. Ia menghirup udara senja itu dengan penuh penghayatan. Sementara aku menikmati memandangnya lebih dari ia menikmati senja ini.
“Aku selalu suka senja. Aku pulang, Kamu juga sebaiknya pulang. Sebentar lagi adzan magrib.”
Alyssa bangkit dan kemudian hilang di balik pagar rumahnya yang rimbun oleh rambatan bunga Alamanda.
*
Semakin hari aku semakin senang berteman dengan Alyssa. Gadis ini sungguh penuh dengan kejutan, dan teka-teki. Ia masih senang duduk di bangku taman, dan aku masih senang menghampirinya, duduk di sampingnya.
Aku dan Alyssa bahkan pernah hanya duduk berdua di bangku itu tanpa melakukan apapun. Alyssa betah sekali dan tampak tidak merasa bosan. Sebuah pikiran jahil muncul, ku keluarkan kamera kesayanganku. Ya Tuhan, betapa indah gadis di sampingku ini. Ia bahkan tidak sadar sudah kujadikan modelku. Sayang kameraku bukan digital.
Alyssa membuka matanya, melirik ke arahku dan tersenyum malu.
“Jahatnya Kamu.”
Aku hanya tertawa kecil dan justru merasa terhibur dengan sikap Alyssa yang seperti anak-anak. Semak-semak di samping bangku taman ini berbunga putih, ku petik satu. Aku selipkan di telinganya. Alyssa kamu menawan sekali. Tak sadar ku landaskan sebuah kecupan di keningnya.
*
Di sebuah senja Alyssa duduk di bangku taman sambil memangku sebuah buku. Ku dekati dirinya.
“Al, itu buku apa?”
Alyssa tidak berkata apa-apa. Aku pun sebenarnya tidak peduli itu buku apa dan bagaimana cerita di dalamnya. Aku tidak pernah benar-benar suka membaca buku. Yang sebetulnya ku inginkan adalah mendengar suara merdu Alyssa. Biasanya Alyssa akan menjawab panjang lebar tentang buku yang sedang ia baca. Ia akan menceritakan tokohnya, alurnya, pendapatnya sendiri tentang buku itu, dan segala hal yang aku tanyakan tentang buku yang ia baca.
Kali ini Alyssa berbeda. Ia dengan lemah menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku biarkan saja, mungkin ia terlalu lelah mengurus ibunya. Tadi memang sempat kuperhatikan wajahnya sedikit pucat, tetapi aku kira ia baik-baik saja.
“Besok ulang tahunku. Kamu mau datang ke rumahku kan? Aku mau dihadiahi seikat bunga ya.” Ucapnya ketika masih bersandar di pundakku.
“Kau mau bunga apa?”
“Aku mau bunga lili. Kamu bisa bawakan?”
“Bisa.”
Senja itu kami tidak pulang ke rumah masing-masing. Al tertidur di pundakku dan baru pada jam sebelas malam ia terbangun. Matanya tampak begitu berat, dan wajahnya kelihatan pucat. Meski begitu, kecantikannya justru makin jelas di bawah sinar rembulan.
Al bangkit dan hendak kembali ke rumahnya. Aku tak menyangka ia mengecupku di pipi.
*
Ini adalah hari ulang tahun Al. Aku sengaja pergi ke pasar bunga untuk memilih sendiri bunga lili yang menurutku paling indah. Aku baru tahu ternyata bunga itu banyak sekali macamnya. Awalnya aku sempat kebingungan karena di mataku berbagai bunga ini sama menariknya, terlebih aku tidak tahu seperti apa bunga lili. Aku akhirnya jatuh hati pada sebuah bunga ungu yang akhirnya aku tahu bahwa bunga itu bernama lili.
*
Aku sudah sangat siap untuk bertemu Al di hari ulang tahunnya. Aku bisa membayangkannya akan sangat cantik dengan balutan gaun, dan terkejut menerima lili yang begitu indah dariku.
Sebelum senja benar-benar habis, aku datang ke rumahnya. Seusai ku ketuk, seorang ibu tua muncul dari balik pintu. Ia bersusah payah mengenaliku, dan pada akhirnya melontarkan pertanyaan:
“Kamu siapa, Nak? Dan mencari siapa?”
“Saya teman Alyssa, Bu. Saya membawakan bunga untuk hadiah ulang tahunnya.”
Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba wajah ibu tua itu berubah kaget. Sejenak air menggantung di matanya. Ia menghela napas. Sejurus kemudian memintaku menuntunnya ke beranda rumahnya.
Kami duduk di beranda itu tanpa bicara satu sama lain. Ibu tua itu tampak masih terguncang, dan aku tidak mengerti mengapa. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Aku semakin tidak mengerti dan tidak sabar. Mengapa ibu ini menangis?
“Al itu anakku.” Suara serak ibu tua memecah kesunyian.
“Ia meninggal empat tahun lalu, dan hari ini adalah tanggal kematiannya.”
Deg! Bulu romaku tiba-tiba berdiri. Aku teringat bunga yang aku bawakan untuknya dan fotonya yang baru saja aku cetak. Aku masih belum bisa percaya. Rasanya ingin aku bungkam cerita bohong ini. Aku buru-buru mengeluarkan foto yang kumaksud. Al, mengapa engkau tiada di dalam foto ini?
Al?
Ibu tua itu masih terus bercerita tentang putrinya, dan aku makin kebingungan. Mengapa engkau diam saja Al? Katakanlah kepadanya bahwa engkau ada! Engkau nyata. Namun, Alyssa yang terlihat begitu cantik dengan gaunnya, hanya tersenyum, duduk di samping ibu tua.

Selasa, 24 Januari 2012 

Gadis Kemuning

Harum bunga kemuning adalah yang paling menenangkan hatiku setiap berjalan pulang menuju rumah atau keluar dari rumah. Rumah itu, rumah yang berjarak tiga rumah dari rumahku, memang sangat rimbun. Yang kukenali adalah bunga sepatu, kembang puring, kembang terompet, bunga kemuning, kembang soka, kembang mayang, pohon jambu, pohon mangga, dan pohon sirsak di rumah itu.
Harum bunga kemuning itulah yang sedari kecil selalu kukenang. Entah mengapa harumnya tidak tergantikan. Pernah suatu ketika aku coba membandingkan mana yang lebih harum, bunga kemuning atau bunga melati. Pada akhirnya aku tahu, bukan yang mana yang lebih harum, melainkan yang mana yang lebih aku suka. Jelas, aku lebih menyukai harum bunga kemuning.
Pernah suatu ketika kecil aku dan teman-temanku bermain. Kami berpura-pura hidup disebuah kerajaan dan aku yang menjadi putri di kerajaan itu. Ketika seorang pangeran datang melamarku, mereka dengan sorak-sorai menghujani aku dan pangeranku bunga kemuning. Rasanya sangat bahagia kala itu.
Sampai ketika aku duduk di sekolah menengah pertama, aku masih sering memetik bunga kemuning itu diam-diam. Aku selalu menyimpannya di jurnal harianku. Sehingga ketika suatu saat kubuka lagi, bunga-bunga kemuning itu telah menjadi kering, tetapi harumnya tetap sama.
Suatu ketika, aku memiliki seorang kekasih. Kekasihku bukan orang yang perasa sepertiku. Ia tidak tahu mengapa aku sampai begitu mencintai bunga kemuning. Baginya bunga tidak lebih dari sekadar penghias. Harum-harum bunga pun sebagian besar sama menurutnya.
Pernah sampai suatu kali aku membawakan bunga mawar, melati, kemuning, lili, krisan, dan kamboja ke hadapannya. Aku hanya ingin dia tahu kalau bunga-bunga itu berbeda harumnya. Namun, akhirnya aku menangis ketika ia hanya mengacak-acak rambutku sambil berkata “Sayangku, entah bagaimana aku dapat membedakan harumnya. Bagiku tiada beda harumnya, Sayang.”. Ah aku kesal sekali kala itu. Yang aku butuhkan bukanlah perlakuannya itu. Yang aku inginkan dia mau tahu kalau bunga kemuning itulah yang paling indah dan harum. Meski begitu aku bahagia karena ia akhirnya mau memanggilku “Sayang”.
Kekasihku yang aku bilang tidak perasa itu, pada akhirnya melamarku. Bukan di hotel, atau di restoran ia melamarku. Ini yang membuatku sedikit geli. Malam itu, kami baru saja pulang dari sebuah toko buku. Ia membawaku ke sana, padahal sudah berjanji untuk mengajakku ke taman. Aku sempat sebal kala itu. Terlebih ia tidak langsung membawaku ke rumah, ia mengajakku berputar-putar di sekitar kota malam itu. Namun di suatu tempat yang berjarak jauh dari rumahku ia memintaku untuk mengenakan penutup mata. Aku menurut saja, meski merasa sedikit ngeri diboncengi dalam keadaan mata tertutup. Aku sempat mengira ia akan membawaku ke sebuah danau yang romantis, penuh dengan lilin-lilin dipermukaannya, juga musik yang indah dan makan malam di sana. Rupanya bukan. Ia justru berhenti disebuah tempat yang  sepi. Tidak ada musik ataupun hembusan angin danau.
Ia memintaku untuk membuka penutup mataku. Ah aku salah rupanya. Ternyata kekasihku itu membawaku ke rumah yang rimbun milik tetanggaku itu. Kami berdiri berhadapan di bawah pohon bunga kemuning itu. Sungguh harum, terlebih kala itu bunga kemuning sedang bermekaran. Aku sebal, tetapi tak sanggup marah kepadanya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan satu kotak kecil. Aku sangat terkejut melihatnya mengeluarkan kotak itu. Ah indahnya, aku tidak bisa menahan perasaanku. Air mataku tiba-tiba saja mengalir karena terlalu bahagia. Ia membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah cincin emas, dan memasangkannya ke jari manisku. Aku mendekapnya karena terlalu bahagia. Kekasihku mengecup keningku. Ah, aku dilamar hari itu, disaksikan rimbunan bunga kemuning, bulan purnama, dan para bintang.

***
Hari ini aku masih mencintai harum bunga kemuning, dan kekasihku, yang sekarang menjadi suamiku, masih juga belum mengerti kenapa aku bisa sebegitu jatuh hati kepada bunga kemuning. Raisa putriku juga tidak mengerti mengapa ibunya bisa begini cinta kepada bunga kemuning.
Raisa, sudah tiga puluh lima tahun. Anakku, yang telah menjadi ibu itu, hari ini menghadiahiku seikat bunga mawar. Aku senang bunga mawar, tetapi mengapa bukan bunga kemuning? Sudah aku bilang berulang kali kalau aku lebih menyukai bunga kemuning ketimbang mawar. Tak apalah, aku senang putriku mengunjungiku.
Ia kemudian duduk di sampingku, bersama Dinda, putri kecilnya, dan suaminya. Aku sudah bilang berjuta kali kepadanya bahwa jika menjengukku jangan bawa air mata ke sini. Ya, tetapi Raisa, putriku, memang selalu begitu. Duduk dan menangis di sampingku. Suaminya berusaha menenangkan, sementara Dinda duduk manis di sampingnya.
Ah, tetapi hari ini aku pun menangis sejadinya, ketika kekasihku, suamiku, datang juga mengunjungiku. Kekasihku itu tidak pernah lagi datang ke sini. Ia pernah bercerita pada angin bahwa hatinya selalu hancur dan tak kuat jika harus datang ke sini. Padahal aku sangat merindukannya. Padahal aku kesepian. Padahal aku..
Aku memeluk kekasihku. Dengan dekap yang hampa. Aku menangis dan berusaha menjerit agar ia mendengar bahwa aku ada, bahwa aku merindu, bahwa aku ingin menhapus air matanya yang mengalir deras itu. Kekasihku! Kekasihku! Kekasihku! Aku tahu kita sama-sama merindu, Kekasih. Rupanya ia masih tahu kesukaanku. Ia membawakan aku seikat bunga kemuning. Membaringkannya di pusaraku. Betapa bahagianya diriku! Andai ia bisa mendengar suaraku.

Depok, 20 Januari 2011

Selasa, 24 Januari 2012

Rokok Setengah Batang

Ku pandangi tetes demi tetes air hujan yang menggantung di genting seng tempatku bernanung. Tidak ada lagi suara gemuruh halilintar, tetapi hujan belum mau usai.  Bukan hujan yang menjadi musuhku sebetulnya. Aku tidak berkeberatan untuk pulang hujan-hujan begini. Masalahku adalah bis untuk pulang belum juga tiba. Memang begini ceritanya, bis yang membawa aku pulang hanya lewat dua jam sekali. Terlebih hari ini aku pulang sangat larut.
Sambil menantikan bis, aku sulut rokok terakhir milikku. Ku pikir daripada aku melamun sendiri, lebih baik berteman dengan sebatang rokok. Ku hisap dalam-dalam rokok itu, mencoba menghangatkan diri di tengah sepinya malam dan dinginnya hujan.
Bisku belum juga muncul. Sementara toko buku tempatku berteduh sudah tutup. Aku sempat bertemu dengan pemiliknya tadi. Ia mengizinkanku dan beberapa orang yang lain berteduh di serambi toko buku miliknya. Bapak itu sangat baik, logat cinanya masih sangat kental. Ia masuk ke dalam toko dan tak keluar lagi. Mungkin dibalik toko ini adalah rumah sang pemilik.
Orang-orang yang tadi berteduh bersamaku, sudah tiada lagi. Satu per satu mereka pulang dengan kendaraan yang dinanti. Ada sorang gadis yang dijemput pemuda, seorang bapak yang dijemput anaknya, ada pula yang sudah dihampiri bis tujuannya. Aku menghela napas. Bisku lama sekali rupanya.
Rokokku masih tiga perempat batang. Ku pejamkan mataku di bawah sinar remang lampu serambi toko buku ini, dan menghisap rokokku. Asapnya sengaja kupermainkan untuk mengusir kebosanan. Ku lirik sekitarku, rupanya sudah sepi sekali. Sesekali motor berlaju kencang lewat dihadapanku, mencipratkan genangan air. Haruskah aku menginap di sini? Aku tertawa kecil. Seperti gelandnagan saja aku kalau begitu.
Namun hujan masih begitu rapat, dan bisku belum juga datang. Aku curiga sepertinya aku memang benar-benar harus menginap di sini. Mungkin tak apa, toh di belakangku terdapat beberapa kardus-bekas buku. Aku jadi benar-benar memikirkan opsi ini. Aku mulai gelisah. Di mana bis yang hendak menantarkan aku pulang?
Saat aku kembali menghisap rokokku yang tinggal setengah batang, bus itu datang. Aku jelas bisa menebak dari warna kuningnya yang khas, mengantarkan paparan sinar lampunya dari kejauhan. Betapa aku beruntung masih ada bis selarut ini. Terima kasih Tuhan! Meski ya, selalu begini , bis  penuh. Ku lemparkan rokokku ke sembarang arah sebelum naik. Akhirnya aku tidak harus menginap di serambi toko, walaupun harus dengan susah payah menyelipkan tubuh jangkungku di antara penumpang yang lain.
*
Tanganku gemetar memegang koran di hadapanku. Saat itu rasanya seseorang harus menamparku, harus membangunkanku dari keterkejutanku ini. Siapapun bangunkan aku!
Tanpa sadar, koran yang kupegang lolos dari cengkramanku. Jatuh di ujung sepatuku dan menampakkan sebuah bangunan yang sedang dilalap api. Tertulis dikoran itu, “Sebuah toko buku terbakar. Hanya seorang gadis yang selamat dari peristiwa ini.”  Apa ini salahku, Tuhan?
*
Koran itu tidak mungkin berbohong. Aku mengamati lekat-lekat gambar yang terpampang di surat kabar itu, dan seperti mengenali suatu tempat. Jangan-jangan itu adalah toko buku tempatku berteduh semalam.
Tanpa terasa aku tiba-tiba menggigil ketakutan. Wajah bapak tua pemilik toko buku itu langsung mengisi seluruh pengelihatanku. Yang ku dengar sekarang adalah suaranya. Yang aku ingat sekarang adalah logat cina-nya. Yang aku rasa sekarang adalah dinginnya hujan tadi malam. Yang aku lihat sekarang adalah serambi toko buku semalam yang temaram.
Air mataku mengalir tanpa permisi. Aku tidak mampu membayangkan jika ternyata yang menghanguskan bapak itu serta keluarga dan tokonya adalah aku. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung beranjak dari kampus. Pergi meninggalkan teman-temanku yang kebingungan melihat ulahku.
Tidak terasa kaki ku berlari sangat kencang. Tak kupedulikan tatapan penuh tanya orang-orang. Aku harus sampai ke toko buku itu sekarang juga!
*
Lututku lemas, dan aku berusaha sekuat tenaga untuk berdiri. Bis yang aku tumpangi sudah pergi, meninggalkanku sendiri dengan seonggok bangunan yang telah hangus di hadapanku.
Papan nama toko buku itu masih tersisa setengah bagian, setengahnya lagi aku lihat sudah meleleh. Tak ada genting seng tempat aku berteduh semalam. Bangunan itu kosong dan sepi, dan warnanya menjadi sangat kumal karena terbakar. Hanya sedikit orang di tempat ini. Beberapa mungkin masih kerabat, mereka meletakkan bunga di depan toko buku itu.
Ketakutan mulai menyergapku. Aku sangsi untuk bertanya penyebab kejadian ini. Namun, rasa penasaranku juga menusuk ingin dipuaskan. Telapak tanganku mulai berkeringat, kepalaku berdenyut sangat kencang, dan jantungku tak mau sedikit reda berdentum; aku takut.
Tiba-tiba seseorang di sampingku mulai bercerita kepada orang di sampingnya tentang penyebab kebakaran. Aku mendengarkannya dengan perasaan was-was.
“Iya, Mbak. Katanya gara-gara puntung rokok loh. Padahal kan Koh Lim ga ngerokok.”
“Aneh ya. Ih kok orang sejahat itu.”
Ah! Aku langsung beranjak dari tempat itu. Air mata ini mengalir saja tiba-tiba. Aku pembunuh! Aku pembunuh yang tak akan pernah diketahui! Ampuni aku Koh..
*
Satu minggu sebelum pernikahan kami, Lisa mau menguak kisah hidupnya. Sebelumnya, yang ku tahu hanya satu hal; Lisa sebatang kara karena ayah dan ibunya telah tiada. Namun, ia tidak pernah mau bercerita tentang hidupnya sama sekali. Sampai akhirnya hari ini ia mengajakku pergi.
Lisa mengajakku pergi ke makam ayah dan ibunya. Ah kekasihku ini sangatlah tegar, ia bahkan tidak menangis di hadapan nisan ayah dan ibunya.
*
Hari menjelang senja. Kami sudah hendak pulang ketika Lisa mengajakku pergi ke sebuah tempat. Kami berdua begitu lelah, tetapi ia memaksaku tetap mengemudikan mobil ini ke arah yang ia maksud.
Kami berhenti di sebuah jalan. Hari sudah gelap dan aku tidak betul-betul mengerti mengapa Lisa tetap memaksaku untuk keluar dari mobil. Aku tak menolak, meski rasanya badanku sangat lelah menemaninya menelusuri catatan hidupnya.
Aku tercengang saat Lisa menyuruhku berdiri di depan sebuah bangunan. Meski gelap aku masih dapat mengenali bangunan itu. Toko buku itu…
Bibirku kelu, dan keringat mulai membasahi tubuhku. Aku tidak tahu apa kaitan Lisa dengan bangunan tua yang sudah tinggal puing di hadapanku.
Tanpa terasa air mataku mengalir, sementara Lisa masih menceritakan tentang masa kecilnya di bangunan di hadapan kami. Tentang ayahnya yang selalu menungguinya di serambi toko. Tentang ibunya yang tidak pernah lelah melayani pembeli. Tentang buku-buku yang sering ia sembunyikan untuk dibacanya. Aku tak dapat memahami ceritanya. Hatiku hancur berkeping, dan aku merasa makhluk paling malang di alam semesta.
Lisa! Ku kecup keningnya. Aku tahu di kepalanya pasti berputar-putar alas an mengapa aku menangis, mengapa orang asing sepertiku harus menangis sementara ia begitu tegar. Namun, Lisa membiarkanku dalam tangisanku. Tangannya membelai lembut pipiku.
“Lisa, Kau tak akan pernah tahu mengapa aku menangis. Maafkan aku, Sayang.”
*

Curiga, Jalanan Curiga

Jalan ini adalah saksi kegelisahanku
Ketika aku curiga, maka aku berusaha dengan susah payah untuk mengingat
Bagaimana hari menjadi begitu indah ketika buah kapas terbuka tanpa pembuka
Dan salju lokal turun pelan pelan
Seketika hatiku bahagia membuncah
Menengadah tangan, menangkap kapas-kapas yang seperti bulu boneka
Dan esok, aku kembali merekam dengan seksama
Bagaimana pohon flamboyant saling taut dengan pohon kapas
Membentuk kanopi hangat yang melindungi kala hujan
Atau sebagai pelembut sinar mentari siang
Aku curiga semua cepat berubah
Maka ku siapkan diriku agar tidak kecewa.
Ketika nanti Kamu terlambat mengingat, aku sudah siap dengan memori indah
Saat aku tinggal mencari ingatan untuk mencium harum yang sama,
Kamu akan sibuk mencari bagian-bagian ingatanmu yang lepas
Kita adalah yang menjejakkan kaki setiap hari di jalan ini
Sebuah jalan dengan keindahan yang akan hilang
Kamu mungkin akan merindukannya, atau sangat merindukannya

7 November 2011

Kopi dan Kopi

Ibu memberiku uang lima puluh ribu rupiah
Ku pakai untuk membeli kopi dan ongkos perjalanan ke sekolah
Ibu memberiku uang delapan puluh ribu rupiah
Uang itu ku pakai untuk membeli kopi tiga cangkir dan sisanya untuk sepotong kue
Ibu memberiku uang lima ratus ribu rupiah
Hampir semuanya ku pakai untuk bercangkir-cangkir kopi
Sisanya sepuluh ribu rupiah aku pakai untuk satu bungkus rokok
Hari ini ibu tidak lagi memberiku uang
Aku tidak lagi pergi ke sekolah
Membeli kue untuk kudapan
Atau menghisap rokok
Tetapi aku masih minum secangkir kopi
Yang aku dapatkan di dasar cangkir kopi milik temanku.

Depok 23 Januari 2012

Minggu, 22 Januari 2012

Merpati Putih di Pekaranganku

Kemarin, kemarin sekali, aku selalu berharap dapat melihat dan merawat merpati di hidupku. Aku sudah mulai bosan dengan burung-burung gereja yang biasa mondar-mandir di pekaranganku setiap pagi. Setiap malam aku berdoa di dekat jendela agar Tuhan mau memberikanku burung-burung merpati putih sebagai hadiah untuk esok pagi. Tidak hanya kepad Tuhan, aku bahkan menceritakan keinginan dan harapanku ini ke seluruh kerabat yang ku kenal. Aku pinta kepada mereka agar mau meminta kepada Tuhan mereka masing-masing untuk mengirimkanku merpati-merpati putih yang jelita. Kala hujan pun aku tidak lelah meminta kepada Tuhan untuk mengabulkan doaku yang satu ini.
Lama sekali aku menunggu jawaban atas keinginanku….
Suatu pagi setelah malam yang penuh bintang, aku bangun pagi dan dikejutkan oleh bunyi ‘ketuk-ketuk’ di jendela kamarku. Saat ku sadari ternyata itu adalah bunyi paruh burung  merpati putih yang mengetuk-ketuk daun jendelaku. Kau harus tahu betapa bahagianya aku kala itu. Aku bergegas mencari sarang ‘teman baru’-ku ini. Pohon akasia! Ya pohon akasia! Rupanya di situ rumahmu, Cantik!
Semenjak kedatangan sekawanan merpati itu, aku menjadi selalu bersemangat setiap bangun pagi. Aku selalu mempersiapkan sekantung biji-biji untuk sarapan merpati-merpati putih itu. Terkadang ku terbarkan biji jagung, terkadang sisa beras, atau kacang hijau pun pernah kuberikan. Sayang, aku rasa merpati-merpati cantik itu tidak menyukai biji kacang hijau.
Aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas semua karunia ini. Ketika senja pun aku masih berkawan dengan para merpati. Terkadang sebelum gelap mengganti sinar mentari, aku sering menebarkan biji-biji lagi. Namun, jika senja, aku melakukannya di pinggir danau, bukan di pekarangan rumahku. Kau harus tahu, mengahbiskan senja di pinggir danau dengan sekawanan merpati yang masih lapar adalah hal yang menyenangkan. Danau ini selalu indah di kala senja, karena ia memiliki matahari yang beranjak pergi di sudutnya untuk Kau lihat.
Sebulan setelah kehadiran sekawanan merpati putih ini, aku mulai mengadu kepada Tuhan. Aku tidak  menyesali pemberian-Nya, tetapi aku hanya tidak tahu kalau ternyata sekawanan merpati putih itu sama mnyebalkannya dengan tikus-tikus yang berwarna putih. Mereka sama nakalnya.
Burung-burung merpati putih itu sangat tidak tahu malu. Bayangkan, mereka selalu membalas kebaikanku dengan tingkah yang amat menjengkelkan. Kau harus tahu, seprai putih yang sedang ku jemur diberakinya! Padahal aku sudah susah payah mencuci seprai itu, dan akhirnya aku harus mencuci seprai itu dua kali. Yang lain lagi suka menyembunyikan sepatuku, membawanya ke balik semak-semak gulma di samping rumahku. Tidak hanya itu, mereka pun memberakinya! Kabel telepon dan listrikku pun sering dijadikan tempat mereka untuk bertengger menunggu senja, menunggu jatah tidur mereka pada malam hari. Dan aku? Aku tersiksa karena saluran teleponku jadi kacau, siaran televisiku seperti semut semua.
Ah, aku jadi berpikir mengapa dulu aku meminta merpati-merpati nakal ini kepada Tuhan. Jadi begini kacau hidupku semenjak kedatangan jelita-jelita pengacau ini!
Sudah ku tetapkan di hati; esok aku harus mengusirnya! Aku harus mengirimnya kembali kepada Tuhan! Supaya jatah beras dan biji-biji di rumahku tidak lagi berkurang. Supaya seprai-seprai yang ku jemur di bawah sinar mentari tidak harus ku cuci ulang. Supaya aku tidak kesulitan mencari sepatu saat hendak pergi ke pasar. Supaya pekaranganku tidak penuh dengan serakkan daun yang mereka gugurkan dengan bantuan angin.
Pergi! Pergi! Pergi Kau merpati! Aku pikir Kau adalah penghias dan penghibur yang baik! Pergi!
Mana burung-burung gerejaku?
Tuhan, aku mau mereka kembali!

Depok, 15 Januari 2012

Jumat, 20 Januari 2012

Aku ingin menjadi....

Aku ingin menjadi birumu jika engkau adalah lautan
Aku ingin menjadi gersangmu jika engkau adalah hujan
Aku ingin menjadi kelammu jika engkau adalah malam
Aku ingin menjadi puisimu saat engkau menjelma kasih

Depok, 18 Januari 2012

Sabtu, 07 Januari 2012

SEXY RED LONDON