Aku tidak mengerti mengapa tidak ada yang mau berteman dengan Aura, gadis yang kamarnya bersebrangan dengan kamarku. Semua temanku selalu memperingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan Aura. Pada kenyataannya dari satu lorong asrama ini, hanya aku yang mau berteman dengannya. Entahlah, mungkin aku yang terlalu berani mungkin mereka yang terlalu penakut. Aku tidak pernah ambil pusing.
Kehidupan asrama memang baru bagiku. Baru tujuh hari aku habiskan di asrama ini. Dalam tujuh hari itu sudah sekian banyak cerita tentang Aura yang masuk ke pikiranku. Teman satu asramaku yang berbeda gedung bahkan membuat tanda miring di keningnya saat membicarakan Aura. Apa mungkin Aura gila seperti yang orang-orang bicarakan? Bagaimana orang gila dapat diterima di perguruan tinggi ini? Aku hanya bisa menghela napas tiap kali memikirkannya.
Sebetulnya gunjingan dan cerita yang begitu beragam tentang Aura tidak membuatku takut, tetapi justru meningkatkan rasa ingin tahuku untuk mengenalnya lebih dalam. Pada hari ketiga, aku memberanikan diri untuk menyapa Aura yang saat itu sedang duduk di taman.
“Hai. Gue Gina.” Kataku sambil mengulurkan tangan.
Yang tak ku sangka adalah Aura justru menyambut tanganku dengan sangat hangat. Ia bahkan menutup buku yang tengah ia baca hanya demi melanjutkan perkenalanku.
“Aura. Ayo duduk sini. Kamu anak baru itu kan?” Ia menggeser duduknya untuk menyilakanku duduk.
“Hmm.. Iya. Aku kamu nih ga gue lo?”
“Aku kamu aja.”
Percakapan sore itu berlanjut . Aura mulai bercerita tentang buku yang ia baca, tentang tupai-tupai di pohon rambutan di belakang kamarnya, tentang air di kamar mandi yang sering mati. Aura bercerita banyak hal. Ia kelihatan sangat bahagia menceritakan itu semua kepadaku.
Sore sudah di penghujung. Kami saling berpamitan dan masuk ke kamar masing-masing.
*
Bagiku semua yang ada pada Aura sangatlah normal. Malah menurutku ia termasuk gadis yang cantik. Matanya bundar, rambutnya yang sebahu terlihat sehat dan berkilau, wajahnya bersih tanpa jerawat, bibirnya merah. Gaya berpakaiannya pun menarik. Ia begitu feminin dengan gaun selututnya.
Tidak ada yang aneh pada Aura kecuali kecepatannya berbicara. Kalau sudah bercerita, ia sulit untuk dihentikan. Apa yang ia ceritakan pun terkadang begitu acak bagiku. Ya, tapi apakah itu tidak normal?
Aura, sampai bertemu esok.
*
Selama dua minggu berteman dengan Aura, orang-orang mulai berhenti bergunjing tentangnya. Namun, kebalikannya mereka mulai bergunjing tentangku. Orang-orang yang sebelumnya bersedia menjadi temanku, kini mulai menjauh. Menyapaku saja enggan.
Aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang katakan tentang Aura. Aku harus buktikan bahwa Aura pantas mendapat teman. Bahwa Aura juga manusia normal yang harus diakui keberadaannya.
*
Hari ini Aura mengajakku masuk ke kamarnya. Lagi-lagi dugaanku salah. Aku pikir kamarnya adalah kamar yang rapi dengan kasur yang resik, buku-buku yang tertata, lantai yang kesat atau setidaknya ada sudut rapi untuk berdandan.
Rupanya aku salah. Jangankan untuk menginjak lantai, melihatnya pun aku tidak bisa. Lantainya tertutupi oleh banyak sekali benda, buku, plastik sisa makanan, cat, kanvas, laptop, kabel, selimut, baju, dan sekian banyak benda lain yang aku tidak tahu namanya apa. Aku tidak berani menampakkan keterkejutanku, maka aku buru-buru mengalihkan perhatian pada sebuah lukisan yang sepertinya belum selesai.
“Aura, itu lukisan apa?”
“Oh pacarku minggu depan ulang tahun. Ini sebagai hadiahnya.” Ucapnya sambil mengangkat lukisan itu.
“Itu lukisan pantai tempat aku pertama bertemu dengannya.” Sambungnya.
Aura tidak betah lama-lama diam. Ia pun memulai ceritanya tentang pertemuannya dengan sang pujaan hati, Adam. Ia bercerita panjang lebar tentang rencananya untuk memberikan lukisan ini kepada Adam. Ia tidak hendak memberikannya secara langsung, tetapi melalui pos. “Aku malu, Gin.” Ucapnya dengan pipi bersemu merah.
*
Satu hari sebelum hari ulang tahun kekasihnya, aku sudah tidak bertemu dengan Aura. Ketika pagi-pagi ia tidak ada di taman, aku sudah berusaha mengetuk-ketuk pintu kamarnya. Namun, tak ada jawaban.
Mungkin ia sedang mempersiapkan kejutan untuk kekasihnya. Lucu juga pikirku.
Namun, bukan main terkejutnya aku ketika keesokan harinya aku bermaksud untuk pergi kuliah. Aura keluar dari kamarnya dengan rambut cepak dan celana robek-robek. Penampilannya sungguh kacau. Kaos yang dipakainya pun sudah sangat belel. Di mulutnya terselip sebuah rokok yang masih menyala, dan di tangannya sebotol minuman keras yang aku tak tahu namanya. Aura?
Aku berusaha menyapanya, tetapi ia seperti orang lain. Ia seperti laki-laki. Matanya kosong saat menatapku, menunjukkan kalau ia benar-benar tidak mengenaliku. Ah, tiba-tiba bulu romaku berdiri. Siapa orang yang ada di hadapanku? Apa iya laki-laki boleh masuk ke asrama putri?
Aku baru sadar bahwa sedari tadi ada seikat bunga dan sebuah hadiah bersandar di dinding di samping pintu kamar Aura. Sosok di hadapanku pun rupanya baru saja sadar atas hadiah dan bunga itu. Dengan kasar ia mulai merobek-robek pembungkus hadiah. Aku baru sadar saat sosok itu selesai membukanya, bahwa hadiah itu adalah lukisan yang beberapa hari lalu Aura tunjukkan kepadaku.
Ia mendekatiku, dan dengan sengaja menghembuskan asapnya di wajahku. Asap itu begitu perih dan menyesakkan. Mungkin aku sesak bukan karena asap rokoknya, tetapi karena merasa telah dikhianati.
“Aura!” Bentakku
“Jangan ganggu ulang tahun gue!” Bentaknya persis di depan wajahku.
Aku terpaku beberapa saat. Itu bukan Aura! Suara itu bukan suara perempuan, tetapi wajahnya…. Aura! Adam!
Brak! Sosok itu membanting pintu kamarnya.