Minggu, 22 Januari 2012

Merpati Putih di Pekaranganku

Kemarin, kemarin sekali, aku selalu berharap dapat melihat dan merawat merpati di hidupku. Aku sudah mulai bosan dengan burung-burung gereja yang biasa mondar-mandir di pekaranganku setiap pagi. Setiap malam aku berdoa di dekat jendela agar Tuhan mau memberikanku burung-burung merpati putih sebagai hadiah untuk esok pagi. Tidak hanya kepad Tuhan, aku bahkan menceritakan keinginan dan harapanku ini ke seluruh kerabat yang ku kenal. Aku pinta kepada mereka agar mau meminta kepada Tuhan mereka masing-masing untuk mengirimkanku merpati-merpati putih yang jelita. Kala hujan pun aku tidak lelah meminta kepada Tuhan untuk mengabulkan doaku yang satu ini.
Lama sekali aku menunggu jawaban atas keinginanku….
Suatu pagi setelah malam yang penuh bintang, aku bangun pagi dan dikejutkan oleh bunyi ‘ketuk-ketuk’ di jendela kamarku. Saat ku sadari ternyata itu adalah bunyi paruh burung  merpati putih yang mengetuk-ketuk daun jendelaku. Kau harus tahu betapa bahagianya aku kala itu. Aku bergegas mencari sarang ‘teman baru’-ku ini. Pohon akasia! Ya pohon akasia! Rupanya di situ rumahmu, Cantik!
Semenjak kedatangan sekawanan merpati itu, aku menjadi selalu bersemangat setiap bangun pagi. Aku selalu mempersiapkan sekantung biji-biji untuk sarapan merpati-merpati putih itu. Terkadang ku terbarkan biji jagung, terkadang sisa beras, atau kacang hijau pun pernah kuberikan. Sayang, aku rasa merpati-merpati cantik itu tidak menyukai biji kacang hijau.
Aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas semua karunia ini. Ketika senja pun aku masih berkawan dengan para merpati. Terkadang sebelum gelap mengganti sinar mentari, aku sering menebarkan biji-biji lagi. Namun, jika senja, aku melakukannya di pinggir danau, bukan di pekarangan rumahku. Kau harus tahu, mengahbiskan senja di pinggir danau dengan sekawanan merpati yang masih lapar adalah hal yang menyenangkan. Danau ini selalu indah di kala senja, karena ia memiliki matahari yang beranjak pergi di sudutnya untuk Kau lihat.
Sebulan setelah kehadiran sekawanan merpati putih ini, aku mulai mengadu kepada Tuhan. Aku tidak  menyesali pemberian-Nya, tetapi aku hanya tidak tahu kalau ternyata sekawanan merpati putih itu sama mnyebalkannya dengan tikus-tikus yang berwarna putih. Mereka sama nakalnya.
Burung-burung merpati putih itu sangat tidak tahu malu. Bayangkan, mereka selalu membalas kebaikanku dengan tingkah yang amat menjengkelkan. Kau harus tahu, seprai putih yang sedang ku jemur diberakinya! Padahal aku sudah susah payah mencuci seprai itu, dan akhirnya aku harus mencuci seprai itu dua kali. Yang lain lagi suka menyembunyikan sepatuku, membawanya ke balik semak-semak gulma di samping rumahku. Tidak hanya itu, mereka pun memberakinya! Kabel telepon dan listrikku pun sering dijadikan tempat mereka untuk bertengger menunggu senja, menunggu jatah tidur mereka pada malam hari. Dan aku? Aku tersiksa karena saluran teleponku jadi kacau, siaran televisiku seperti semut semua.
Ah, aku jadi berpikir mengapa dulu aku meminta merpati-merpati nakal ini kepada Tuhan. Jadi begini kacau hidupku semenjak kedatangan jelita-jelita pengacau ini!
Sudah ku tetapkan di hati; esok aku harus mengusirnya! Aku harus mengirimnya kembali kepada Tuhan! Supaya jatah beras dan biji-biji di rumahku tidak lagi berkurang. Supaya seprai-seprai yang ku jemur di bawah sinar mentari tidak harus ku cuci ulang. Supaya aku tidak kesulitan mencari sepatu saat hendak pergi ke pasar. Supaya pekaranganku tidak penuh dengan serakkan daun yang mereka gugurkan dengan bantuan angin.
Pergi! Pergi! Pergi Kau merpati! Aku pikir Kau adalah penghias dan penghibur yang baik! Pergi!
Mana burung-burung gerejaku?
Tuhan, aku mau mereka kembali!

Depok, 15 Januari 2012