Pagi – pagi sekali sebelum matahari bersinar terang, aku buru – buru ke luar rumah. Ku paksakan badanku yang masih nyaman dalam balutan tipis sarung dekil untuk ke luar menghadang dingin subuh.
Sebelum betul – betul ada yang melihat, aku copot bendera merah putih dari tiang bambu di halaman rumahku. Aku sempatkan diri untuk menengok, meneliti daerah sekitar, takut kalau ada yang memperhatikan.
Selama ini, bendera merah putih itu setia menghiasi rumah ku yang mungil ini, sementara di belakang aku biarkan bendera kebangsaan negara Malaysia. Di satu sisi aku hidup di tanah Indonesia, sementara di sisi lain aku hidup di tanah orang, Malaysia.
Keadaan sesungguhnya tidak pernah sesulit ini, aku tidak pernah harus tergesa – gesa mencopot bendera merah putih, atau bendera negri Jiran di belakang rumah. Namun sekarang semua lebih menegangkan, dan atmosfer daerah perbatasan bukan sesuatu yang menyenangkan akhir – akhir ini.
Semenjak terjadi gesekan politik dan kedaulatan antara RI dan Malaysia, kami seperti anak ayam kehilangan induk. Kami yang biasanya bertransaksi dengan ringgit jadi sedikit rikuh, kami bingung terlalu banyak gejolak politik yang melibatkan kami sebagai korban.
Aku sebagai Indonesia sejati tentu mendukung langkah pemerintah mempertahankan kedaulatan kami. Akan tetapi, semua berbalik menantangku. Di rumah yang terletak di dua negara ini, aku hidup bersama kekasih yang berbeda. Dewi cintaku tersayang bukan dari bangsa ku, hasil cinta kami pun begitu. Mereka orang – orang Malaysia sejati, yang hidup di dua negara sama seperti aku.
Kesetiaan masing – masing kami pada negeri semakin diuji. Lebih mudah bagi istriku untuk memilih, karena ia mengenal betul negaranya. Sementara aku? Bahkan lupa, atau lebih tepat tidak pernah diajari pancasila.
Aku bergegas masuk. Ku lipat bendera merah putih kesayanganku, pemberian dari teman yang berkunjung kala waktu. Ku hirup aromanya dalam – dalam. Ada bau matahari, hujan, dan sebuah kesedihan yang tak dapat aku jelaskan.
Istriku belum bangun, di belakang rumah masih berkibar bendera Malaysia. Kupandangi wajah istriku, kemudian anak – anak ku di kamar lain. Sedikit rasa miris melintas di hatiku, “Ah, andaikan negara melihat aku yang diliputi risau berganti bangsa. Andaikan negara tahu betapa aku jatuh cinta pada ibu pertiwi.”
Aku beranjak ke dapur. Ku buat sebuah kopi hitam panas, dan ku nikmati di serambi rumah. Sekitarku masih sepi, masih belum banyak yang bangun. Aku menyesapnya, ku hirup aroma kopiku.
Aku tarik napas sekuat ku. Ku biarkan bau tanah basah bekas hujan tadi malam, bau udara subuh, dan bau kopi hitam mengisi rongga paru – paru ku. Ah, hening. Tidak sengaja aku begitu sentimentil dan segaris air merembes dari kelopak mataku. Aku ingin badan dan jiwaku tahu, bahwa jika esok rumah ku hanya berada di satu wilayah, hatiku tetap untuk negeri pertiwi.