Kamis, 26 Januari 2012

Gadis Kemuning

Harum bunga kemuning adalah yang paling menenangkan hatiku setiap berjalan pulang menuju rumah atau keluar dari rumah. Rumah itu, rumah yang berjarak tiga rumah dari rumahku, memang sangat rimbun. Yang kukenali adalah bunga sepatu, kembang puring, kembang terompet, bunga kemuning, kembang soka, kembang mayang, pohon jambu, pohon mangga, dan pohon sirsak di rumah itu.
Harum bunga kemuning itulah yang sedari kecil selalu kukenang. Entah mengapa harumnya tidak tergantikan. Pernah suatu ketika aku coba membandingkan mana yang lebih harum, bunga kemuning atau bunga melati. Pada akhirnya aku tahu, bukan yang mana yang lebih harum, melainkan yang mana yang lebih aku suka. Jelas, aku lebih menyukai harum bunga kemuning.
Pernah suatu ketika kecil aku dan teman-temanku bermain. Kami berpura-pura hidup disebuah kerajaan dan aku yang menjadi putri di kerajaan itu. Ketika seorang pangeran datang melamarku, mereka dengan sorak-sorai menghujani aku dan pangeranku bunga kemuning. Rasanya sangat bahagia kala itu.
Sampai ketika aku duduk di sekolah menengah pertama, aku masih sering memetik bunga kemuning itu diam-diam. Aku selalu menyimpannya di jurnal harianku. Sehingga ketika suatu saat kubuka lagi, bunga-bunga kemuning itu telah menjadi kering, tetapi harumnya tetap sama.
Suatu ketika, aku memiliki seorang kekasih. Kekasihku bukan orang yang perasa sepertiku. Ia tidak tahu mengapa aku sampai begitu mencintai bunga kemuning. Baginya bunga tidak lebih dari sekadar penghias. Harum-harum bunga pun sebagian besar sama menurutnya.
Pernah sampai suatu kali aku membawakan bunga mawar, melati, kemuning, lili, krisan, dan kamboja ke hadapannya. Aku hanya ingin dia tahu kalau bunga-bunga itu berbeda harumnya. Namun, akhirnya aku menangis ketika ia hanya mengacak-acak rambutku sambil berkata “Sayangku, entah bagaimana aku dapat membedakan harumnya. Bagiku tiada beda harumnya, Sayang.”. Ah aku kesal sekali kala itu. Yang aku butuhkan bukanlah perlakuannya itu. Yang aku inginkan dia mau tahu kalau bunga kemuning itulah yang paling indah dan harum. Meski begitu aku bahagia karena ia akhirnya mau memanggilku “Sayang”.
Kekasihku yang aku bilang tidak perasa itu, pada akhirnya melamarku. Bukan di hotel, atau di restoran ia melamarku. Ini yang membuatku sedikit geli. Malam itu, kami baru saja pulang dari sebuah toko buku. Ia membawaku ke sana, padahal sudah berjanji untuk mengajakku ke taman. Aku sempat sebal kala itu. Terlebih ia tidak langsung membawaku ke rumah, ia mengajakku berputar-putar di sekitar kota malam itu. Namun di suatu tempat yang berjarak jauh dari rumahku ia memintaku untuk mengenakan penutup mata. Aku menurut saja, meski merasa sedikit ngeri diboncengi dalam keadaan mata tertutup. Aku sempat mengira ia akan membawaku ke sebuah danau yang romantis, penuh dengan lilin-lilin dipermukaannya, juga musik yang indah dan makan malam di sana. Rupanya bukan. Ia justru berhenti disebuah tempat yang  sepi. Tidak ada musik ataupun hembusan angin danau.
Ia memintaku untuk membuka penutup mataku. Ah aku salah rupanya. Ternyata kekasihku itu membawaku ke rumah yang rimbun milik tetanggaku itu. Kami berdiri berhadapan di bawah pohon bunga kemuning itu. Sungguh harum, terlebih kala itu bunga kemuning sedang bermekaran. Aku sebal, tetapi tak sanggup marah kepadanya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan satu kotak kecil. Aku sangat terkejut melihatnya mengeluarkan kotak itu. Ah indahnya, aku tidak bisa menahan perasaanku. Air mataku tiba-tiba saja mengalir karena terlalu bahagia. Ia membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah cincin emas, dan memasangkannya ke jari manisku. Aku mendekapnya karena terlalu bahagia. Kekasihku mengecup keningku. Ah, aku dilamar hari itu, disaksikan rimbunan bunga kemuning, bulan purnama, dan para bintang.

***
Hari ini aku masih mencintai harum bunga kemuning, dan kekasihku, yang sekarang menjadi suamiku, masih juga belum mengerti kenapa aku bisa sebegitu jatuh hati kepada bunga kemuning. Raisa putriku juga tidak mengerti mengapa ibunya bisa begini cinta kepada bunga kemuning.
Raisa, sudah tiga puluh lima tahun. Anakku, yang telah menjadi ibu itu, hari ini menghadiahiku seikat bunga mawar. Aku senang bunga mawar, tetapi mengapa bukan bunga kemuning? Sudah aku bilang berulang kali kalau aku lebih menyukai bunga kemuning ketimbang mawar. Tak apalah, aku senang putriku mengunjungiku.
Ia kemudian duduk di sampingku, bersama Dinda, putri kecilnya, dan suaminya. Aku sudah bilang berjuta kali kepadanya bahwa jika menjengukku jangan bawa air mata ke sini. Ya, tetapi Raisa, putriku, memang selalu begitu. Duduk dan menangis di sampingku. Suaminya berusaha menenangkan, sementara Dinda duduk manis di sampingnya.
Ah, tetapi hari ini aku pun menangis sejadinya, ketika kekasihku, suamiku, datang juga mengunjungiku. Kekasihku itu tidak pernah lagi datang ke sini. Ia pernah bercerita pada angin bahwa hatinya selalu hancur dan tak kuat jika harus datang ke sini. Padahal aku sangat merindukannya. Padahal aku kesepian. Padahal aku..
Aku memeluk kekasihku. Dengan dekap yang hampa. Aku menangis dan berusaha menjerit agar ia mendengar bahwa aku ada, bahwa aku merindu, bahwa aku ingin menhapus air matanya yang mengalir deras itu. Kekasihku! Kekasihku! Kekasihku! Aku tahu kita sama-sama merindu, Kekasih. Rupanya ia masih tahu kesukaanku. Ia membawakan aku seikat bunga kemuning. Membaringkannya di pusaraku. Betapa bahagianya diriku! Andai ia bisa mendengar suaraku.

Depok, 20 Januari 2011