Kamis, 26 Januari 2012

Kojek Oh Kojek


            Senyum sumringah terpancar, bersinar – sinar dari wajah legam pak Mansur. Gigi putihnya menyembul di bawah kumisnya yang panjang.
            Ia mengintip dari balik jendela rumahnya yang sudah reyot. Menyaksikan antrean panjang orang – orang yang berbondong – bondong datang untuk sembuh.
            Di antara mereka pak Mansur mendapati wajah pak Sutaryo, sang ketua rukun warga setempat, bu Kasminah pemilik perusahaan tebu, dan beberapa orang kaya di kampung itu.
            “Liat apa Pak?”
            “Itu loh Bu, coba bayangin kita dapet duit berapa hari ini.” Ucap pak Mansur dengan wajah berseri – seri.
            “Uh Bapak nih, enggak pernah kapok.” Ucap bu Mansur seraya masuk ke dapur.
            Sudah jam delapan pagi, dan sudah mengular pula orang – orang di depan rumah pak Mansur. Maklumlah, baru – baru ini terjadi sebuah peristiwa heboh di kampung itu.

*

            Beberapa hari yang lalu, pak Mansur, yang bermaksud pulang setelah memanen tebu, terperosok ke dalam empang tempat biasanya ibu – ibu mencuci baju di pagi hari. Sepedanya rusak parah, dan ia pun terluka gores.
            Saat sedang menyumpah – nyumpah, matanya menangkap ada warna keemasan menyembul dibalik air empang yang keruh itu.
            “Apa ya itu?” gumamnya dalam hati.
            Pak Mansur menengok ke sekitar memastikan tidak ada orang lain. Sambil meringis kesakitan ia menyeret dirinya ke bagian tengah empang untuk mengetahui warna emas yang ia lihat dari kejauhan. Rupanya warna tersebut berasal dari seekor ikan, entah ikan apa.
            Karena tanpa peralatan pancing sama sekali, maka pak Mansur pun memutuskan untuk pulang, karena hari telah sore.
            Pagi berikutnya bu Mansur sangat terkejut ketika si bapak menolak untuk dibangunkan. Katanya, ia tidak mau ke penggilingan tebu hari ini.
            “Loh Bapak ini gimana sih? Mau apa prei hari ini?”
            “Aku mau mancing bu di empang.”
            “Mancing? Aneh – aneh saja. Wis, terserah Bapak lah. Aku mau ngaji nanti siang.”
            Dengan semangat perjuangan, pak Mansur pun pergi memancing di empang yang sepi siang itu. Lama, menunggu, akhirnya kesabaran pak Mansur pun habis.
            Tepat saat ia akan menendang pancingannya, tiba – tiba tali pancing bergerak – gerak minta ditarik.
            Ia pun bergegas mengambil alat pancing, dan menggulung dengan sekuat tenaga. Hup! Betapa terkejutnya pak Mansur saat menggulung tali pancingnya. Ia berhasil mendapatkan si ikan gabus emas!
            Kepada sang istri, dan anak menantunya, pak Mansur bercerita dengan bangga tentang bagaimana ia mendapatkan ikan tersebut. Tentunya cerita yang disampaikan berbeda jauh  dengan kenyataan, ia membumbui cerita itu, seakan – akan ikan tersebut langsung datang kepadanya karena ada ikatan batin. Ia pun mengatakan bahwa ikan itu dapat mengobati berbagai macam penyakit.
            “Buktinya tangan bapak yang jatuh yang memar kemarin sudah baik baik saja.”
            Anak dan menantu pak Mansur terperangah mendengar cerita yang disampaikan olehnya. Namun, bu Mansur yang telah lebih dahulu diceritakan oleh suaminya hanya diam saja. Ia tahu bahwa tidak semua yang dikatakan suaminya sesuai dengan kenyataan.

*

            Tanpa diminta, hal tentang pak Mansur dan ikan gabus emasnya itu menyebar ke seluruh kampung. Tidak sedikit masyarakat yang penasaran dan pada akhirnya mengunjungi rumah pak Mansur untuk melihat ikan tersebut.
            Entah angin dari mana, kabar lain pun dengan cepat mnyelimuti desa, berpindah dari mulut satu ke mulut lain; ikan gabus emas milik pak Mansur dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit!
            Sejak dibuka seminggu yang lalu, memang, praktik ikan gabus emas milik pak Mansur selalu dibanjiri orang – orang seantero desa. Jangan salah, bukan hanya penduduk sekitar, bahkan sampai calon walikota setempat pun pernah datang diam – diam ke rumah pak Mansur agar si ikan gabus emas dapat mewujudkan mimpinya menang di pilkada nanti. (Pssst.. Jangan kasih tau siapa – siapa ya!)
            Bahkan sekarang ikan itu sudah punya nama! Namanya adalah Kojek. Pak Mansur pun mulai memasang sebuah papan iklan di depan gubuknya, bertuliskan ““AYO DAPATKAN KEBERKATAN SI KOJEK di RUMAH PAK Mansur!!”

*

            Melihat antrean yang makin mengular dan makin panas, pak Mansur pun mulai bersiap – siap dengan kostum kebesarannya. Peci putih, tasbih, pakaian serba putih, lengkap dengan tanda hitam di jidat seperti ulama kebanyakan.
            Pukul sepuluh, pak Mansur pun siap. Siap untuk keluar menemui pasien – pasiennya. Disusul pak Mansur, adalah Padil anak pak Mansur yang bertugas membagikan air rendaman ikan gabus emas yang (katanya) penuh dengan khasiat, dan keberkatan.
Sebelumnya telah hadir di meja pendaftaran, Surimah menantu pak Mansur. Bu Mansur? Ia tidak pernah mau ikut ambil bagian dalam praktik penyembuhan ini.
            Manusia – manusia yang kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah itu rela berpayung – payung, berpeluh – peluh, berdesakkan di bawah panasnya matahari siang itu. Tujuan mereka satu; kesembuhan! Pak mansur pun rela duduk di depan gubuk reyotnya, bermandi peluh dan sumpek, tujuannya satu; Uang!
            Maka dibukalah praktik Kojek Emas hari itu. Satu per satu orang dipanggil oleh Surimah berdasarkan nomer urut. Sekarang bahkan sudah mencapai bomer urut 239. Di antara pasien – pasien yang masuk Surimah hafal ada beberapa orang yang memang sudah sering datang ke praktik Kojek sang gabus emas. Salah satunya adalah pasangan suami – istri dari bekasi; pak Sudrajat dan ibu Maemunah.
            Pasangan ini datang bukan untuk kesembuhan, melainkan mencari berkat kesuburan tubuh, karena mereka belum juga dikaruniai bayi mungil di tahun ke dua belas pernikahan mereka.
            Hari ini masih sama, tampaknya pasangan itu datang masih untuk berobat. “Tapi kok, seneng banget tuh ibu mukanya?” batin Surimah.
            Rupanya dugaan pak Mansur salah. Begitu berbasa – basi menanyakan kabar, pak Sudrajat pun mengeluarkan amplop tebal.
            “Ini ada sedikit untuk Bapak. Istri saya hamil, berkat minum air dari si Kojek.” Ucap pak Sudrajat. Sementara bu Maemunah hanya tersenyum malu – malu di samping suaminya.
            “Terima kasih Pak. Semoga kehamilan istri Bapak lancar.” Ucap pak Mansur seraya mengambil amplop tebal itu. Wow! Bahkan pak Mansur pun tidak melakukan apa – apa, terlebih si Kojek. Sebetulnya, ia tidak peduli betul dengan kehamilan itu, baginya yang terpenting adalah si ampol tebal!       
           Tak lama berada di dalam, pasangan pak Sudrajat dan ibu Maemunnah pun keluar dari ruang sumpek itu. Cerah sekali wajah mereka, dan mesra pula mereka berdua.
            Setelah pasangan itu keluar, berikutnya masuk berganti – gantian orang ke dalam rumah reyot itu. Ada yang tangannya di perban, matanya buta, kakinya pincang, dan berbagai macam orang berpenyakit silih berganti masuk, diperiksa, dan diberi air Kojek.
            Orang – orang itu kemudian disodorkan kotak amal bertuliskan “Seikhlasnya”. Anehnya, walaupun ada label “Seikhlasnya” barangsiapa yang memasukkan uang kurang dari lima ribu rupiah tidak akan lepas dari delikkan mata pak Mansur.


*

            Sedari tadi bergantian orang masuk ke gubuk reyot pak Mansur, yang mereka cari Cuma air penyembuhnya saja, tidak satupun dari mereka yang betul – betul memperhatikan si Kojek.
            Sang ikan gabus emas hanya melihat dari balik akuarium kumal tempatnya diletakkan. Sebetulnya ikan gabus emas itu sendiri bingung, mengapa orang yang sedari tadi dipanggil Padil itu sibuk menciduk air tempatnya berendam. Di lain sisi, Kojek pun bingung mengapa antrean orang – orang itu meminum air dari tempatnya berendam. Entahlah.

*

            “PRAKTIK PENYEMBUHAN KOJEK TUTUP”

            Papan iklan yang dahulu bertuliskan “AYO DAPATKAN KEBERKATAN SI KOJEK di RUMAH PAK MANSUR!!” tak lagi tampak, digantikan oleh berita bahwa pengobatan Kojek telah ditutup.
            Pasien, atau calon pasien yang telah mengantre sejak tadi pagi untuk mendapatkan nomor urut pun hanya bisa gigit jari, dengan wajah kecewa mereka harus mengubur harapan untuk sembuh dari si ikan gabus emas itu.
            Tak hanya para pasien dan calon pasien yang datang tak diberi tahu hal mengapa praktik ini tiba – tiba ditutup. Keluarga pak Mansur pun tidak mengetahui akan hal ini.
            Rasanya bukan senyum sumringah lagi yang terpancar dari pak Mansur yang bersembunyi di dalam rumahnya yang kini telah mewah, melainkan wajah kesal dan marah karena ia kehilangan praktik sumber kekayaannya.
            Pak Mansur kaku di kursi ruang tamunya, wajahnya keras, menyiratkan kemarahan dalam hatinya.
            “Kenapa ditutup sih Pak?” tiba – tiba Padil datang bertanya.
            “Iya Pak kenapa ditutup sih? Kan kita bisa jadi tambah kaya kalo masih dibuka tuh praktik!” susul Surimah yang sama tak habis pikirnya seperti Padil.
            “Hus! Ga usah banyak nanya Kalian! Itu si Kojek mati!” jawab pak Mansur dengan nada tinggi.
            Terbersit tanya di benak Padil; “Kok si Kojek bisa mati sih? Dia kan ikan sakti. Katanya bisa nyembuhin orang, tapi kok nyembuhin badan sendiri aja ga bisa?”.
            “Pak kok si Kojek mati sih? Katanya bisa nyembuhin orang?” tanya Surimah.
            “Heh Imah! Ga usah banyak tanya bapak bilang!”
            “Tarmi, Kamu buang tuh ikan!” bentak pak Mansur kepada istrinya.
            Suasana di ruang itu rikuh. Tidak ada yang berani banyak bicara. Padil dan Surimah beranjak ke luar, mencoba menenangkan orang – orang yang banyak bertanya penyebab ditutupnya praktik si Kojek.
            Beberapa saat kemudian suasana di luar rumah pak Mansur kembali tenang. Hanya terlihat beberapa orang yang datang, kemudian pulang setelah mendengar penjelasan Padil dan Surimah.

*

            “Betul begitu Pak Hakim, saya nemuin ikan mati yang mirip Kojek itu di depan rumahnya pak Mansur. Masa iya ikan penyembuh bisa mati? Kan nipu begitu namanya Pak.” Cerocos pak Surtaryo, sang ketua RW yang sudah beberapa bulan ini setia meminum “air si Kojek”.
            Suasana di tempat itu memanas, aura ketegangan menggantung di langit – langit ruang persidangan.
            Sembari saksi bergantian bercuap – cuap di hadapan sang hakim, pak Mansur hanya menunduk lesu, dan malu di kursi pesakitan.
            Tibalah saat pak Mansur menyampaikan keterangan. Tamu sidang yang kebanyakan korban kibulan pak Mansur secara bersamaan menyoraki pak Mansur. Bahkan di antara mereka pun ada yang berteriak “Penipu! Penipu!”.
            Tak ada lagi pembelaan dari diri pak Mansur. Semuanya sudah terbongkar, ia pun mengakui segala kebohongannya tentang si Kojek yang dapat menyembuhkan. Tak hanya pak Mansur, Surimah dan Padil pun harus rela mengikuti jejak pak Mansur yang harus mendekam di bui.
           Oh! Hancurlah reputasi pak Mansur. Bahkan saat penangkapan di rumahnya beberapa minggu yang lalu, banyak warga yang melempari dirinya dengan romat busuk sisa panen.
            Di sisi lain, bu Mansur hanya dapat mengurut dadanya. Dalam hatinya ia hanya berkata, “Ya Allah, taubatlah kamu pak.” diselingi dengan air mata di pipnya.
            Dari jauh pak Mansur melirik ke bu Tarmi, istrinya. Dari sinar matanya yang lesu terbaca, “Maafkan aku Bu. Aku ga akan ulangin lagi.”
            Yah, apa boleh dikata, nasi telah menjadi bubur. Tidak ada lagi rasa bangga dapat menyembuhkan, tidak ada lagi pundi – pundi rupiah yang mengalir ke kantong pak Mansur dan keluarga, yang ada hanya malu, malu dan malu.
            Para bekas pasien pun belajar untuk menjadi manusia yang lebih cerdas, agar tidak lagi mau percaya hal – hal bodoh seperti “pengobatan Kojek”.

*