Selasa, 25 Oktober 2011

Bis?

Dimana bis yang hendak menjemputku? Yang menghantarku sampai ke halte? Sedari tadi aku membawa langkah, tetapi bis tak urung muncul. Aku lelah menyisir jalan. Bis yang kunanti mungkin pincnag di jalan lain. Bis, dimana? Malam hampir membuat sketsa di langit. Aku mau pulang, kelaparan, punggung dan pundakku linu, kakiku gemetar usai berjalan. Bisku yang lelah, aku pun lelah. Maka aku sampaikan padamu; "Jemput aku! Aku mau pulang!"

Serangan Langit

11 oktober
Cikini ramai, dan Tera baru sadar ternyata Cikini berbeda jauh dengan Depok. Kala itu senja, malam datang pelan – pelan seperti takut berbaur. Suara motor dan mobil tidak tahu malu, mengalahkan adzan magrib. Tera duduk di trotoar, memperhatikan sekeliling. Mencoba menikmati jus apel tiruan di tangannya.
Satu jam yang lalu ia di luar angkasa. Menari bersama rembulan, dicumbu sinar perawan gemintang. Beberapa kali ia melayang, jatuh terduduk di singgasananya yang baru; tempat duduk dari sulaman bintang. Beberapa burung merpati menghampiri Tera, memasangkan sebuah mahkota dengan ujung – ujung dari serpihan benda langit.
Berat rasanya memakai mahkota itu. Tetapi Tera mengangkat dagunya, ia menyandang kekuasaan semesta untuk beberapa saat.
Rupanya pemimpin baru tetap saja terlihat amatir. Tera bukan memimpin semesta, ia sibuk berenang di lautan kekaguman. Tera menyentuh secara perlahan sebuah bintang. Rasanya dingin, berbeda dari yang dikatakan siapa pun. Bintang itu syahdu mengecup tangan Tera. Harumnya seperti buah manggis, atau bunga melati. Tera memperhatikan bintang itu dengan lekat-lekat,  berpendar sinar ungu, sinar merah, hijau , jingga, abu-abu, dan bintang bintang hidup berbeda warna.
Ia lalu mendekati rembulan. Sudah tua rupanya. Keriput di sana-sini. Tera mengajak sang ibu bulan berbicara, tetapi  ternyata ia baru tahu kalau dirinya bisu di situ. Ibu bulan hanya tersenyum maklum, ia mengerti kebisuan Tera.
Ah indah, Tera duduk kembali  di singgasananya, memejamkan mata. Nikmatnya jadi penguasa semesta!
“Ada apa ini?!” bentak Tera tanpa bersuara.
Tiba-tiba ia telah dikepung. Bintang-bintang nyalang melihatnya! Mereka tak lagi berpendar, tetapi hitam. Mereka tak lagi rupawan, tetapi buruk rupa seperti bongkahan batu yang gosong. Bau mereka adalah bau kejahatan, bau kebusukan hati, bau kebencian.
Tera melirik dirinya sendiri. Betapa terkejutnya dia, badannya kelam, rambutnya melayang kusut, gigi – giginya bahkan menghitam. Ia kelam! Ditelan kelamnya semesta yang lebih pekat!
Bintang – bintang itu menggumam tidak jelas. Mereka menuntut! Mereka berteriak! Mereka mau menghajar Tera!
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
Bintang-bintang itu mengukung Tera. Mereka tak mundur selangkah pun. Tera begitu panik. Sekelilingnya ia dikepung bulan juga. Mereka ada banyak ternyata! Bulan itu peyote-peyot, begitu buruk rupa hingga Tera tak mampu melihatnya. 
Peluh mengalir deras, mereka makin dekat. Tera berusaha teriak, tetapi ia bisu. Suaranya berakhir pada gumam yang tidak jelas. Ia berlari mencari peluang. Tetapi justru dipeluk sebuah bintang yang dendamnya menyala-nyala. Tertangkap! Habislah Tera kalau begini caranya.
Bintang-bintang dan bulan-bulan menghimpit Tera. Mula-mula kaki Tera yang dibuat remuk. Kemudian, paha Tera. Kemudian, perut, tangan, sampai mata kepala Tera hilang di gumulan kerusuhan itu.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!”
Jus apel yang Tera minum sontak jatuh dari genggamannya. Ibu penjual itu buru-buru menjauh dan mencari bala bantuan. Aktivitas Cikini berhenti sebentar. Supir -supir taksi, angkot, ojek, pedagang kaki lima, muda -mudi yang tengah memadu kasih, seorang anak yang mengais sampah, ibu-ibu yang baru pulang kerja, dan sekelompok siswi SMA, mereka, menoleh ke arah datangnya teriakan itu. Sebentar, selebihnya Cikini normal.
Tera baru sadar ia telah membuat malu. Cepat-cepat ia keluarkan uang sepuluh ribu. Tanpa menunggu kembalian ia berjalan tergesa -gesa menuju stasiun.
Masih terbayang pengalamannya barusan. Ia melirik langit yang disebut malam. Mana? Pantas mereka marah. Langit malam tertutup awan merah, bintang-bintang berpindah tempat. Bintang-bintang tak lagi di langit,  tiruannya sempurna di ujung lampu-lampu kota. 

Jangan Dibaca Ya!

Saya mulai merasa ini bukan saya. Saat malam saya berjalan sendirian di pinggir jalan yang ramai, saya coba mengulang ingatan hari-hari yang telah saya lalui. Saya sangsi ini bukan diri saya. Siapa saya? Kenapa sendiri? Kenapa seakan-akan saya hilang? Saya tertawa tetapi tawa saya pahit, seakan-akan saya memang harus tertawa. Saya marah tetapi marah saya semu, siapa yang mau mendengarkan juga? Saya bicara tetapi itu tubuh saya, jiwa saya ada di tempat lain. Saya menyibukkan diri, dan itu untuk mencari siapa saya. Saya mengeluh pada aspal-aspal yang selalu diinjak. Saya ini apa? Saya siapa? Mungkin pertanyaan ini menggantung karena jawaban perlu pengalaman panjang hingga akhirnya diputuskan sebagai jawaban. Saya merasa pura-pura selama ini. Harus bersikap begini dan begitu. Saya terkadang bersikap (sok) baik, (sok) mengerti, (sok) bijak, padahal saya adalah nol besar. Saya ingin bilang ke kawan-kawan saya yang percaya pada saya bahwa saya ini adalah ketiadaan dalam sebuah tubuh. Saya merasa linglung, dan bingung. Terakhir; Siapa saya?

Minggu, 23 Oktober 2011

"Atau, ketika kita duduk bersisian, dan kamu tanpa sengaja mengelus punggung tanganku. Aku diam, tetapi hatiku rusuh." 
21 Oktober 2011, senja yang gelap, hujan.

Minggu, 16 Oktober 2011

Who? (repost from Kitin)


ini saya repost dari 

blog Kitin,

teman saya tersayang



WHO? 


Bukan. Bukan cowok yang di depan -_- Yang depan itu Ipul. 
Ini gue lupa, gue atau Aye yang foto. Ini pake kameranya Aye.
Jadi ini waktu gue ke Tidung bulan Juni 2010.
 Ini acara snorkeling gitu dari Trinawa Bhuwana (PALA 39) Seinget gue, gue ke Tidung bareng
 Ipul, Wastu, Ang, Putri, Cece, Acil, Utsy, Oji, Gian, Dwi San, Aye, Babe Ipul, Pak Ipul sama dua alumni cowok cewek.
Ini waktu kelar snorkeling. Sore mau maghrib.
Gue Snorkeling itu di Tidung kecil. Tidung besar sama kecil dipisahin sama jembatan gitu. 
Nah, abis snorkeling gue sama yang lain (kecuali babe Ipul, Pak Ipul, dua alumni)
 ke pantai ini, letaknya setelah jembatan persis. 
Yaudah kan tuh gue sama yang lain main main dulu, kecipak kecipakin air. Main pasir sama foto foto.
Nah ini yang gue anehin. 
Di pantai itu, emang sepi, cuma ada gue sama yang lain doang yang main ke pinggir sama main airnya.
 Gue inget banget cuma ada ibu ibu gendong anaknya di pinggir pantai, itu juga beliau pake kerudung.
 Inget ya, ibu ibu pake kerudung itu cuma di pinggir pantai
Gue Putri, Aye, Ipul, Utsy main di pinggir dan kita foto foto.
Gue tau kalo pas Ipul foto ini, di belakangnya itu ga ada apa apa dan siapa siapa
 (kalo yang paling belakang itu emang anak anak yang lagi lari lari tapi ga masuk air).
Sayangnya kalo dizoom-in terus terusan ga bakal jelas deh ini wujud si perempuan siapa.
Dari bajunya, dia anak SMP dengan rambut sebahu.
 Tatapannya itu loh tajem banget ke kamera dan kalo kata Bang Gentur gaya fotonya 'ga wajar'.
Dan satu yang bikin aneh, kenapa ada bayangannya -_-


 

Aneh. Banget. Dan dia ngebiarin roknya yang biru panjang itu basah kena air.
 Logikanya aja, kalo emang dia wajar. Pasti otomatis dia ngangkat roknya kalo mau main basah basahan. 
Udah gitu, posisi gaya dia yang emang bener bener 'ga wajar' dan standby buat difoto.
Sampe sekarang, gue masih penasaran. Kalo yang gue denger denger, emang pernah ada yang tenggelam terus meninggal, 
ada juga yang bilang kalo ada yang ngebuang mayat. Ga ada yang tau.
Jadi, perempuan ini siapa?

Selasa, 11 Oktober 2011

KAMU!

4 Nama dan semuanya kamu!
4 Nama dan semuanya kamu!
4 Nama dan semuanya kamu!
4 Nama dan semuanya kamu!

Bisa gila aku begini!
Mabuk, mabuk kamu!

Minggu, 09 Oktober 2011

Pohon Ketapang

Add caption
Ini pohon ketapang.
Saya selalu suka pohon ini karena dia mengalami siklus gugur daun
Daunnya kemerahan kemudian gugur
semacam ada perasaan lain,
setiap kali melihat gugur daun pohon ketapang

Kanda

Malam disadap romantisme maya
Dari dinda, pada kakanda yang tuli:

Engkau kemudian bersenandung gaduh dengan nada yang sumbang,
dan bait yang rumpang.
Meniupkan ruh bagi jejangkrik yang mati kala siang

Antara kita, dinda dan kakanda, adalah ketiadaan yang mutlak,
sebagai jarak singkat yang tak tertempuh

Dinda berjalan menjauhi kanda yang berdendang,
Melantunkan jampi jampi rahasia

Kanda adalah yang membangunkan teratai di padangnya
Kanda adalah pembawa rmbulan untuk dipantulkan di empang dekil
Kanda pula yang menghantar semilir angin pulang ke rumah kita

Kekasih orang lain, Kakanda  ku tersayang,
Mari kita berbincang lewat sajak gemintang malam ini
atau kita hidupkan dedaun bambu yang menjadi jarum,
kedinginan

Kakanda, kita terjebak dalam kepongahan hati,
dan,
 sedekat apa jarak akan memutus ketiadaan, Kanda?
Katakanlah!

Anyer, 8 Oktober
suatu malam yang meletup letup

Rabu, 05 Oktober 2011

Ternyata Bulan

"Terkadang aspal yang basah bukan sekadar penampilan selintas. Dan wajah aspal yang kasar seketika berubah indah saat merefleksikan sebuah cahaya. Terang sekali. Saya celingukan mencari asal cahaya, tetapi tidak ada lampu jalan. Rupanya bulan menjelma dan tumpah cahayanya pada air yang tergenang di aspal kasar."

Mitologi, Siapa yang Tidak Logis?


Kelas  teater hari ini menyisakan sebuah pertanyaan panjang dalam benak Tera. Mitologi nusantara  yang kaitannya dengan pertunjukkan teater terlalu diintimidasi dengan hadirnya seni teater Yunani yang jauh lebih berkembang. Sebuah diskusi terjadi, lebih  seperti monolog, yang membahas mengapa kisah Sangkuriang tidak dapat go international  dalam seni teater seperti Oidipus Sang Raja yang berasal dari Yunani.
Maka sang dosen yang kelihatan amat ahli di bidang teater membahas panjang lebar mengenai beberapa dongeng rakyat. Beliau berpendapat bahwa nilai dalam dongeng rakyat nusantara tidaklah mencerminkan nilai – nilai yang patut menjadi teladan dalam berkehidupan. “Bayangkan, seorang anak diceritakan cerita tentang kancil.  Bagaimana kita dapat mencetak generasi berkarakter jika cerita kancil itu menunjukkan bahwa untuk menggapai sesuatu kita boleh menghalalkan berbagai cara. Tak aneh kalau begitu, sekarang banyak sekali koruptor. Jelas, kecilnya diceritakan tentang Kancil yang begitu.”
Sekali lagi dosen saya menunjukkan cacat pada sebuah dongeng nusantara. “Sangkuriang. Ayahnya seorang anjing, sementara ibunya adalah manusia, Dayang Sumbi. Nah, di sini saja terlihat ketidaklogisan dari dongeng Sangkuriang. Indonesia banget ya?” Lontarnya pada kami mahasiswa yang lugu – lugu. Tera memandang sekitar, melihat teman – temannya yang mengangguk takzim, disusul beberapa tawa.
Tera jujur merasa tersinggung. Teman – temannya tampak tidak peduli dan merasa santai dengan pernyataan maupun pertanyaan yang dilontarkan sang dosen. Tidak ada yang peduli, semuanya santai dan mengalir, sang dosen melanjutkan cerita mengenai ketidaklogisan dan ketiadaan nilai luhur sebagai pembangun karakter bangsa.
Kalimat “Indonesia banget ya?” sangat menyinggung hati Tera. Kalimat itu menjadi teramat berduri ketika disandingkan dengan banyak ketidaklogisan dalam mitologi nusantara. Ini penghinaan bagi Tera! Dan ia aneh mengapa seisi kelas justru tampak setuju dan tidak terganggu. Tera mencoba mencari kawan, anehnya ia menemukan dirinya sendiri dalam emosinya yang menggebu.
Mitologi bukanlah sebuah cerita yang tidak sengaja diciptakan atau digilir datri generasi ke generasi. Mitos memang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu, atau untuk menjelaskan sesuatu. Kenapa terbentuknya gunung Tangkuban Perahu, manusia pada masanya mencoba menjelaskan dengan cerita yang polos dan lugu, yang terlalu banyak unsur sihir di dalamnya. Atau untuk menjelaskan kenapa ada keong berwarna emas di sawah, atau untuk menjelaskan kenapa bisa terbentuk danau Toba. Ini jelas – jelas cerita yang berawal dari ketidaklogisan Tera mengerti itu.
Yang Tera tidak mengerti adalah kenapa konsep ketidaklogisan itu seakan – akan hadir hanya di mitologi nusantara. Mitologi Yunani pun penuh dnegan ketidaklogisan. Mereka, orang – orang Yunani terdahulu, berusaha menjelaskan terjadinya siang dengan menggambarkan bahwa matahari di dorong oleh Dewa Apollo setiap harinya. Logis? Tidak, tidak logis sama sekali.
Tidak ada yang logis dalam mitos – mitos yang ada. Tidak di Yunani, pun di Indonesia. Semuanya terllingkup kebodohan – kebodohan yang coba dibangun sebagai penjelasan. Tidak perlu menurut Tera menempatkan kalimat “Indonesia banget.” setelah menyebutkan kata “tidak logis”. Mereka, orang – orang terdahulu, yang menciptakan mitos secara sangat sederhana mencerminkan pengetahuan kala itu. Maka menurut tera, sangat hina orang yang menghina ketiadaan pengetahuan yang berusaha dijelaskan dengan nalar manusia melalui mitos. Kala itu, yang bodoh yang tidak nyambung bukan hanya orang Indonesia, orang – orang di belahan bumi lain pun sama. Sama – sama bodoh dan sok tahu. Jadi ini bukan perkara Indonesia, atau Yunani. Ini perkara ketiadaan pengetahuan!
Meski pada akhirnya, patut diakui bahwa dongeng rakyat adalah cerminan kondisi karakter, dan mentalitas bangsa secara implisit. Dongeng rakyat nusantara harus diakui memang sedikit banyak mengajarkan suatu sikap nrimo, tidak mau kalah, dan kurang ksatria dalam kehidupan. Tetapi itu tidak berarti cerita Cinderella menjadi lebih baik. Tetap saja cerita itu mengajarkan anak – anak yang mendengarnya menjadi mereka yang percaya bahwa kebahagiaan akan datang dengan sihir, dan dengan mudah.
Cerita yang buruk bukan menyangkut sebuah bangsa, melainkan cerita itu sendiri yang merusak.
Jika memang ya harus diakui, sebetulnya Tera tahu bahwa bangsanya memang bobrok. Bangsanya tidak punya malu. Lucu jika membandingkan cerita Timun Mas dan Putri Kaguya dari Jepang. Ceritanya sama, sama – sama putri yang lahir atas pemberian, dan kemudian hendak dijemput kembali. Bedanya, Timun Mas berakhir pada kepemilikan Timun Mas di pihak orang tuanya, sementara Putri Kaguya justru meninggalkan orang tuanya. Jelas terlihat bahwa Putri Kaguya merupakan cerminan bangsa yang sangat tahu diri. Orang tua Kaguya menepati janjinya untuk menyerahkan kembali Kaguya, sementara orang tua Timun Mas enggan menepati janjinya untuk menyerahkan sang anak. Beda kan? Ya beda.
Tera tidak peduli. Baginya bangsanya sudah bobrok, tidak perlu lagi menambah kebobrokan dengan menceritakan aib.
Tak dapat Tera berdiskusi banyak dnegan dosennya. Ia pun cepat cepat menyambung pikirannya melalui tulisan ini.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Anak Kecil Penjual Koran, Etalase Bergerak Realita Sosial

Hari ini, pagi ini, ada yang mengusik hati saya, mengoyak rasa saya sebagai seorang manusia biasa. Di kampus saya, merupakan hal lumrah melihat beberapa anak kecil berkeliaran menjajakkan surat kabar. Saya belum pernah membelinya, sama sekali.

Karena pening, dan buruh hiburan, saya memutuskan untuk memanggil salah seorang anak, membeli koran.

Anak yang saya panggil memakai baju gombrang (kebesaran ukurannya -din) berlabel klub bola papan atas berwarna merah dan hitam. Badannya kurus, rambutnya pirang seperti bulu jagung. Ia berjalan gontai mendekati saya dan sesekali mengangkat kepalanya, tetapi lebih banyak menatap jalan di bawahnya.

Dia sampai di hadapan saya. Saya seperti tersulut dan tiba - tiba terkejut.

Saya sering melihat adegan orang dipukul, dihajar, dikroyok, bahkan sampai mati. Namun, segala yang saya saksikan itu adalah adegan film, atau sinetron, atau ftv. Semuanya telah dipersiapkan, orang - orang produksi dari film, ftv, atau pun sinetron itu pasti telah memperhitungkan betapa sudut, efek gerakan, make up dan lain - lain sebagai penunjang adegan tersebut. Sehingga yang dihasilkan adalah aktor atau aktris tampak babak belur, keluar darah dari mulut, kepala atau yang lain, bahkan hingga mereka ditampilkan mati.

Akan tetapi yang tersaji di hadapan saya adalah nyata, sungguhan, dan tidak pura - pura. Tidak ada make up, gumpalan kapas di pipi atau kebohongan lainnya. Yang di depan saya adalah seorang anak yang pipi kanannya bengkak, sampai matanya menyipit. Yang hadir dihadapan saya bisa saya sentuh, bisa saya raskaan vibrasinya, nyata!

Saya semula tidak percaya dengan pipi yang bengkak itu. Sekarang ini terlalu banyak modus pura - pura agar dapat dikasihani. Maka, saya meminta anak itu untuk membuka mulutnya. Saya kemudian mengintip sedikit dari dari lubang mulutnya, dan dari balik gigi - giginya, entah sudah disikat atau belum, saya benar - benar melihat pipi bagian dalam anak itu merah, dan menggembung.

Aih!

Saya tak kuasa untuk diam. Saya kemudian merepet seperti mercon yang mesiunya kebanyakan.
"Kenapa pipinya?"
"Dihajar temen saya Ka."
"Loh? Kok bisa?" tanya saya keheranan
"Saya dituduh nyuri Ka."
"Kamu nyuri ga tapinya?"
"Engga Ka."
"Beneran???"
"Iya, bener."

Pessss, saya seperti balon yang mengempis tiba - tiba, atau seperti gelembung yang sedang melayang - layang dilangit kemudian pecah tanpa sengaja.
Hancur, hancur hati saya kalau begini caranya. Pipi saya mendadak sakit.

Saya mencoba membaca mata anak itu, meski ia kerap menundukkan kepalanya. Ada pertentangan di hati saya. Saya berontak, karena mata anak kecil tak sepatutnya redup begini. Pancaran matanya hilang, dan lemah. Dari matanya saya seperti membaca kisah panjang tentang berat, getir, dan kelamnya kehidupan di luar sana. Tentang perjuangan buntu di hari - hari yang begitu panjang. Tentang susu adik, tentang "Anjing" "Babi" "Taik" dan umpatan lainnya, tentang ukulele bernada sumbang, tentang hujan hujan panjang yang dinantikan supaya mereka bisa menjadi ojek payung. Tentang hari yang tanpa ibadah, mungkin, karena tidak mengerti. Tentang kelaparan yang lupa lagi dirasa. Tentang, tentang, tentang.................

Saya melanjutkan pertanyaan saya,
"Kenapa jualan koran?"
"Bantu orang tua Ka."
"Orang tua kamu kerja?"
"Engga Ka.
"Ah! Yang bener?"
"Iya Ka, paling mulung doang."

Koran ada di tangan saya.

"Udah makan?"

Pertanyaan yang cuma berbalas gelengan pelan.

Saya bangkit dari jongkok, menyerahkan uang. Di titik itu saya menghitung uang yang tersisa. Saya lupa berapa jumlahnya.

Uang yang saya bawa ke kampus memang sangat terbatas. Dan hari itu saya benar benar cekak. Kebutuhan fotocopi ini itu sangat menyiksa.

Di satu sisi, saya merasa dengan uang yang tersisa saya masih bisa bertahan dengan cara tidak makan siang. Di sisi lain, saya masih banyak kebutuhan untuk ini dan itu. Maka, saya memilih untuk cukup memberikan uang 4 ribu seharga yang diminta.

Saya beralih ke tukang fotokopi. Seiring langkah saya, berkecamuk rasa bersalah, saya menoleh isi dompet. Ada semacam rasa tidak berdaya dalam menahan ego diri sendiri. Namun, ada semacam tanggung jawab moral yang gagal saya emban. Dan saya seperti tidak berguna. Saya bingung pada kondisi keuangan saya.

Menanyakan "Sudah makan atau belum?" kepada anak itu seperti makan buah simalakama. Saya merasa telah mengorek sebuah luka yang coba dilupakan, lantas berlari jauh - jauh kemudian tidak mau tahu dan membiarkan orang yang saya kopek lukanya merasa kesakitan. Aih! Saya ternyata lebih setan dari teman yang mengahajarnya.

Terbersit niat  kembali ke tempat tadi saya bertemu anak itu, setelah saya selesai memfotokopi. Saya selipkan beberapa ribuan yang saya ambil secara sembunyi sembunyi takut ketahuan ego saya.

Genggaman tinggallah genggaman, anak itu telah pergi dan saya dibiarkan melongok dan merasa bersalah sendirian.

Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Ah, anak kecil, kamu adalah etalase berjalan dari realitas sosial yang dipinggirkan orang. Ini rasanya sakit, saat saya menyadari di lingkungan kampus tercinta yang notabene pangung pameran kekayaan terdapat kenyataan kelam.

Saya jadi bertanya tanya sebenarnya berapa banyak uang yang menjadi permasalahan itu. 100 ribu kah? 50 ribu kah? 20 ribu? Ah, bahkan mungkin hanya lima ribu perak. Saya merinding. Bayangkan, betapa banyak teman - teman saya yang menghabiskan uang 30 ribu untuk sekadar minuman, sementara orang lain pipinya bengkak untuk uang yang mungkin hanya lima ribu.

Ampuni aku ya Rabb

Kampus tercinta, FIB
26 September 2011