Jumat, 27 Desember 2013

Yeay!

Di postingan kali ini, saya mau menampilkan foto-foto kantor pos Cimanggis setelah dipugar. Sebelumnya, kantor pos Cimanggis menggunakan bangunan rumah tua sebagai kantor. Sebetulnya tidak terlalu tua juga, tapi memang kondisinya kurang nyaman, karena udara di dalamnya terasa pengap. (Maaf tidak ada foto kantor pos sebelum dipugar).


Ada AC-nya! Udara tidak pengap lagi

Penampakan depan kantor pos.
Semoga renovasi ini bisa menambah kualitas pelayanan kantor pos! Semoga! :D

Selasa, 24 Desember 2013

bulan

Kau bulan persegi
di langitku yang berhulu dan berhilir.
Kau bulan persegi
di muaraku yang berbatas mimpi.
Kau bulan persegi
di antara bulanbulan bulat yang terpaksa hilang dicuri burungburung yang kelaparan.

Sabtu, 21 Desember 2013

Baik, bisakah kita duduk berdua kemudian memandang satu sama lain?
Setidaknya dengan begitu kita tahu siapa yang berbohong.
Bisakah kita duduk berdua kemudian melihat matahari gemuk di ufuk timur?
Merangkak pelan-pelan karena ia gemuk, atau memang mau mengintip kita berdua.
Kemudian, "yang namanya bayangan itu seperti hantu. Seperti kamu."
Padahal aku selalu merasa sendiri dan kau mengingatkanku pada bayangan itu.
Aku berkeriut, enggan untuk menyebut.

Hutan

Sebuah malam dan lagi-lagi malam. Aku masuk ke dalam hutan yang pekat, dan sembilu mengiris paru-paru. Kita bertukar udara, atau sekadar sedang pura-pura melakukannya. Kamu, hutan yang dalam diam menyanyikan lagu tentang lembabnya negeri nyata, dan keringnya negeri dongeng.

Kutelusuri jejak yang kau tinggalkan, bau yang tak pernah kucium, suara yang hampir hapal kudengar. Hallo? Kamu berjalan terlalu cepat, aku meniti hatiku sendiri; takut kalau sebenarnya aku sedang mencari cela dan rapuhnya diri sendiri.

Kamu hutan, hutan yang dingin dan sepi, tapi indah dengan warna-warni bunga dan hangat senyum mu sendiri. Kamu hutan, yang pedalamannya sebetulnya sunyi dan tak terjamah. Kamu hutan, yang di dalamnya ada sungai kebahagiaan yang kau buat bendungan dan kau enggan membagikannya dulu. Kamu, hutan yang gelap dan senyap, sementara pepohonanmu adalah ide-ide yang kau dan bapakmu tanam sejak dulu. Kamu, hutan dengan matamu sebagai rajawali.

Di manakah kamu bersembunyi? Di dalam hutanmu yang sebetulnya kamu adalah hutan itu sendiri?
Di sebelah mana kamu tidur? Apa di dalam lupa, atau di dalam resah?

Kamu, aku minta maaf karena lancang masuk hutanmu.
Aku minta maaf karena mulai menyusuri bahkan menggabungkan potongan dirimu yang kutemukan.
Kamu, harusnya minta maaf karena telah menyilakanku masuk.

Sabtu, 07 Desember 2013

Absensi Ketenangan

Aku harus menulis pagi ini. Untuk mengikat resahku yang terlanjur menjalar ke arteri, dan venaku. terlanjur. Pagi dan malam sama saja bagiku, karena menyisihkan salah satunya tetap membuatku merasa dihunus pedang. Aku kalap dan pengap dengan semua ini. Memindahkan diriku sendiri tadi malam ke rumah yang kupikir nyaman, tak membuatku mendapatkan arti apa-apa dari rasa nyaman. Padahal aku sudah berniat hendak bermalam nyenyak, setidaknya untuk satu malam sebelum eksekusi. Tapi mataku pedas, aku tertidur, dan terbangun oleh hantaman buruk perasaanku. Aku takut, dan kalut. Seharusnya banyak persiapan untuk ini, misalnya seperti pepohonan yang menyiapkan diri menyambut musim gugur, daun bersemi. Atau untuk mempersiapkan musim semi, ranting sengaja kedinginan tanpa daun. Harusnya begitu. Harusnya.

Aku masih menerka-nerka tentang nanti malam. Sialan! Mengapa aku jadi gugup begini? Rasa-rasanya, tak usah pasukanku, perasaanku pun sudah terlanjur kocar-kacir. Mungkin iya hidup ini adalah kincir. Berputar. Tapi aku benci kalau kincir berputar secepat ini dalam sehari. Gila! Bukan cuma kepalaku yang putus, bisa jadi jantungku lepas, terbang, dan nyangkut di suatu tempat. Aku kehilangan aku.

dinia

Senin, 02 Desember 2013

Sore di gelas yang retak,
hampir pecah dihajar suaramu yang melintang dengan brutal
Belum pecah,
senyummu menetes pelan-pelan memenuhi keberedaan sepi.

-awal Desember