Sabtu, 07 Desember 2013

Absensi Ketenangan

Aku harus menulis pagi ini. Untuk mengikat resahku yang terlanjur menjalar ke arteri, dan venaku. terlanjur. Pagi dan malam sama saja bagiku, karena menyisihkan salah satunya tetap membuatku merasa dihunus pedang. Aku kalap dan pengap dengan semua ini. Memindahkan diriku sendiri tadi malam ke rumah yang kupikir nyaman, tak membuatku mendapatkan arti apa-apa dari rasa nyaman. Padahal aku sudah berniat hendak bermalam nyenyak, setidaknya untuk satu malam sebelum eksekusi. Tapi mataku pedas, aku tertidur, dan terbangun oleh hantaman buruk perasaanku. Aku takut, dan kalut. Seharusnya banyak persiapan untuk ini, misalnya seperti pepohonan yang menyiapkan diri menyambut musim gugur, daun bersemi. Atau untuk mempersiapkan musim semi, ranting sengaja kedinginan tanpa daun. Harusnya begitu. Harusnya.

Aku masih menerka-nerka tentang nanti malam. Sialan! Mengapa aku jadi gugup begini? Rasa-rasanya, tak usah pasukanku, perasaanku pun sudah terlanjur kocar-kacir. Mungkin iya hidup ini adalah kincir. Berputar. Tapi aku benci kalau kincir berputar secepat ini dalam sehari. Gila! Bukan cuma kepalaku yang putus, bisa jadi jantungku lepas, terbang, dan nyangkut di suatu tempat. Aku kehilangan aku.

dinia