Sebuah malam dan lagi-lagi malam. Aku masuk ke dalam hutan yang pekat, dan sembilu mengiris paru-paru. Kita bertukar udara, atau sekadar sedang pura-pura melakukannya. Kamu, hutan yang dalam diam menyanyikan lagu tentang lembabnya negeri nyata, dan keringnya negeri dongeng.
Kutelusuri jejak yang kau tinggalkan, bau yang tak pernah kucium, suara yang hampir hapal kudengar. Hallo? Kamu berjalan terlalu cepat, aku meniti hatiku sendiri; takut kalau sebenarnya aku sedang mencari cela dan rapuhnya diri sendiri.
Kamu hutan, hutan yang dingin dan sepi, tapi indah dengan warna-warni bunga dan hangat senyum mu sendiri. Kamu hutan, yang pedalamannya sebetulnya sunyi dan tak terjamah. Kamu hutan, yang di dalamnya ada sungai kebahagiaan yang kau buat bendungan dan kau enggan membagikannya dulu. Kamu, hutan yang gelap dan senyap, sementara pepohonanmu adalah ide-ide yang kau dan bapakmu tanam sejak dulu. Kamu, hutan dengan matamu sebagai rajawali.
Di manakah kamu bersembunyi? Di dalam hutanmu yang sebetulnya kamu adalah hutan itu sendiri?
Di sebelah mana kamu tidur? Apa di dalam lupa, atau di dalam resah?
Kamu, aku minta maaf karena lancang masuk hutanmu.
Aku minta maaf karena mulai menyusuri bahkan menggabungkan potongan dirimu yang kutemukan.
Kamu, harusnya minta maaf karena telah menyilakanku masuk.