Tampilkan postingan dengan label ode. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ode. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2011

Coba Kau Rasakan!

Saya bingung dengan sistem rumah ini. Yang sedikit - sedikit mengandalkan perempuan. Yang sedikit - sedikit berteriak minta tolong, ini itu, dan semuanya kepada perempuan.

Saya merasa perempuan bagai babu di sini, sedang laki - laki adalah rajanya. Setiap dari mereka harus dilayani, harus dicarikan ini, dibersihkan miliknya, dirawat, sedang mereka pulang keenakan lupa bahwa ada yang mengurusi.

Sepertinya mereka yang perlu diperhatikan, sementara mereka tidak pernah sedikit menyentuh apa yang menyebabkan tangan para perempuan berubah kasar.

Sentuh! 
Maka kau tahu betapa kasarnya air
Maka kau tahu runcingnya debu
Maka kau tahu sakitnya menyentuh permukaan kaus kaki mu

Ambil!
Pegang!
Lihat,
Jangan lupa ingat!

Kau akan tahu semut semut adalah pemicu amarah, dan kau lebih dari sekadar semut
Kau akan mengerti kenapa bekas tapak kaki menyulut api diri
Kau akan mengerti apa arti dari lantai yang bersih,
piring yang kesat,
atau sekadar baju yang rapi.

Depok, 18 September 

Rabu, 17 Agustus 2011

Dirgahayoe Negara Saja

Matahari sedang menandjak, ingin sampai pada poentjak djoelangnja. Pagi, sekarang masih pagi. Kami berdjadjar djadi barisan semoet poetih dari penghoedjoeng langit. Beriring iring menoeliskan djedjak djedjak pedjoeang baroe. Biar kami dikepoeng beringin beringin dan flamboyan bisoe! Biar djaket djaket senada matahari mendjoelang-djoelang di hadapan kami! Soedahlah kami pedjuang moeda tak gentar, karena ada si djangkoeng koeroes jang perloe tjoemboean merah poetih. Kami haroues menghantarkanja, hingga nanti tjoemboean terbawa sampai batas tertinggi langit. Oh! Hari ini soenggoeh milik kami, milik tanah merah di bawah kaki kami, milik semoea jang mengepoeng kami, milik merah poetih, milik iboe pertiwi. Para tjapoeng peon ikoet berbahagia memiliki doea empat poeloeh djam hari ini. Terbang terbang tanpa maloe maloe di atas kepala kepala kami jang kepanasan. Ah matahari semakin menjiksa.Tapi soenggoeh negeri saja bersorak raya! Bahkan semoet semoet poen keloear, dan bertjium mesra tanpa maloe maloe.