Rabu, 17 Agustus 2011
Dirgahayoe Negara Saja
Matahari sedang menandjak, ingin sampai pada poentjak djoelangnja. Pagi, sekarang masih pagi. Kami berdjadjar djadi barisan semoet poetih dari penghoedjoeng langit. Beriring iring menoeliskan djedjak djedjak pedjoeang baroe. Biar kami dikepoeng beringin beringin dan flamboyan bisoe! Biar djaket djaket senada matahari mendjoelang-djoelang di hadapan kami! Soedahlah kami pedjuang moeda tak gentar, karena ada si djangkoeng koeroes jang perloe tjoemboean merah poetih. Kami haroues menghantarkanja, hingga nanti tjoemboean terbawa sampai batas tertinggi langit. Oh! Hari ini soenggoeh milik kami, milik tanah merah di bawah kaki kami, milik semoea jang mengepoeng kami, milik merah poetih, milik iboe pertiwi. Para tjapoeng peon ikoet berbahagia memiliki doea empat poeloeh djam hari ini. Terbang terbang tanpa maloe maloe di atas kepala kepala kami jang kepanasan. Ah matahari semakin menjiksa.Tapi soenggoeh negeri saja bersorak raya! Bahkan semoet semoet poen keloear, dan bertjium mesra tanpa maloe maloe.