Membiasakan diri mencintai angin. Yang gerak lembutnya membawa gemerisik di bambu bambu yang jangkung itu. Yang mengayun lembut jemari lentik hijau rerumputan. Yang meniupkan gelombang pada keruh permukaan air danau. Yang jauh, yang menyebar, hilang dari horizon pandang milik mata hati. Karena angin bisa jadi setajam pisau dinginnya, karena angin bisa segila ribut putar mesin cuci jadinya. Perusak, penghancur. Jadi, membiasakan diri adalah yang terhormat, dihormati, dan menghormati. Hingga nanti kita tetap kokoh berdiri, dan berpijak.