Minggu, 29 April 2012

soresore

apa yang kau lakukan di minggu sore
mungkin berkeliling kota mengitung lampu jalan
banyak yang kau lihat, tapi juga terluput.
apa yang kau lakukan di minggu sore

lalalalalalaaaa

bermainlah....
bersenda guraulah.....
tertawalah........

bahagia di sudut lampu jalan.
bahagia bernyanyi di atas terpal biru.
di samping kali bau
di rumah yang tanpa aku

Kamis, 19 April 2012

Love- Priscilla Ahn cute

Rabu, 18 April 2012

Anak Muda dan Bapak Tua

“Sudah saatnya kita berterus terang satu sama lain.” Ucapnya kepada seseorang di sebelahnya.
Saat itu mereka sedang berbincang di pinggir jalan. Selalu di sana karena memang di sanalah mereka tinggal, dan juga selalu berteriak-teriak karena ramai sekali jalan raya ini.
“Sudah, menyerahlah. Kamu pasti mati juga. Tinggal menunggu waktu yang sebentar. Mengerti?”
“Tidak bisa begitu! Aku lebih tua darimu, Anak Muda. Singkirkanlah pikiran semacam itu. Tak kasihankah engkau pada bapak tua ini?”
“Buat apa pula kasihan. Kau cukup menunggu dengan sabar. Dunia tidak menginginkanmu lagi. Kau bau, lama, kotor. Kau bodoh.”
Bapak tua itu kemudian termenung sebentar. Ia merasa begitu direndahkan sebagai seorang yang sudah tua, dan merasa begitu tersinggung. Namun, kemudian ia berhasil mengatasi perubahan suasana hatinya. Air mukanya berubah jadi lunak seperti biasa.
Sudah sejak lama bapak tua itu kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya karena usia tua dianggap telah membunuh apa-apa yang baik di dalam diri bapak itu. Dan mungkin juga karena sedikit orang yang mau mengingat jasa si bapak tua yang sebetulnya tidak terhitung jasanya. Tak apalah.
“Satu pesanku anak muda. Bapak tua ini mungkin tidak berguna pada masa mudanya. Tidak pula lebih berguna ketika masa tuanya. Kau perlu ingat Anak Muda, satu hal yang tak kan pernah dapat Kau berikan pada orang-orang yang kelewat majunya itu. Hal……..”
“Hahaha. Tidak perlu meluculah di ujung hidupmu Bapak Tua!
Baik. Apa yang tidak bisa kuberikan kalau begitu?” Potong si anak muda.
Bapak tua itu membutuhkan beberapa detik untuk menahan suaranya agar tidak bergetar. Agar air matanya tidak mengalir keluar.
“Ehm.
Dengarlah.
Kesederhanaan, kekeluargaan, kasih sayang, dan komunikasi. Tak kan pernah dapat Kau sajikan bagi mereka.
 Kau hanya mencari uang anak muda, padahal yang Kau layani adalah manusia bukan mesin yang hidup tanpa perasaan.”
Anak muda itu diam. Dan diamnya tidak bisa diartikan sebagai persutujuan atau penolakan. Ia hanya diam. Bisu yang kaku, dan dingin, dan getir.
Percakapan terhenti sampai di situ.
Mereka masih juga di tempat yang sama untuk satu, dua, tiga,……….dan beberapa bulan setelah percakapan itu. Tanpa bicara, tanpa komunikasi. Bapak tua makin tua, anak muda makin sombong.
Namun tidak sampai satu tahun pasar tradisional itu telah tutup habis, sementara orang tak bosan-bosan datang dan pergi ke mall besar di sebelahnya untuk membeli daging, kecap, dan bawang putih.
18 April 2012

KETIKA YANG TUA-TUA ITU KUMPUL BERUNDING

 Di sebuah kampung berkumpul
100  Kata Sifat, Kata Kerja dan Kata Benda
Mereka berunding tentang bagaimana cara menyusun
Kalimat Yang Baik

Yang dituakan di kalangan mereka, Keimanan,
ramai-ramai ditunjuk pertama.
“Ayolah Atuk, mulailah.”
(Atuk kependekan panggilan Datuk)

Keimanan agak enggan.
“Jangan aku yang mulai. Yang di pojok sana itu lah .
Simbah Pengorbanan.”

Pengorbanan terkejut.
“Wah, yang paling pas, Tanggung Jawab.
Ya: Tanggung Jawab.”

Tanggung Jawab menangkis bahwa sebaiknya Pendidikan
Pendidikan menolak halus, lalu menuju Ketertiban.
Ketertiban meminta kesediaan Optimisme.
Optimisme mengoper usul kepada Kerja Keras.
Kerja Keras mengalihkannya ke Demokrasi.
Demokrasi belum sanggup, sebaiknya katanya Kesantunan.

Angka diskusi mendekati 100, ketika diteriakkan kejujuran.
“ya, Ke-ju-ju-ran! Ke-ju –ju-ran! Ke-ju-ju-ran!”

Kejujuran didesak maju ke tengah.
Sesampai di tengah panggung. Kejujuran berkata:
“Baik, baik. Dengan satu syarat.”
“Apa itu? Apa itu?”
“Aku harus didahului oleh Rasa Malu.”
Majelis itu menolak ke kanan ke kiri, kemuka ke belakang
mencari Rasa Malu.

Ke mana dia Rasa Malu?

Taufiq Ismail
Horison/April/2012

Rabu, 11 April 2012

Minggu, 08 April 2012

Kalau saja Tidak Berangkat sekolah

Kalau kemarin tidak pergi ke sekolah,  Amir masih hidup,
Belum hanyut dibawa pasang
Kalau kemarin Amir tidak memaksa mengayuh sampan,
Ia pasti masih di sini, menganyam jala
Emak:
Jauh ya Nak,
Maksud emak jauh benar cita-citamu
Semoga laut nanti menceritakan kepada penduduk pantai tentang kamu.
Anak emak yang mati di sampan saat mau bersekolah.

7 April 2012 

Semoga tidak dipukul

“Di mana rotan!”
“Jangan mengamuk Tuan guru.
Saya hanya salah menjawab soal: tiga ditambah tiga.”
Kutukan nenek moyang diujung rotan.
Selamat tinggal kalau begitu.
Tak ada lagi rotan,
hutan telah habis.
Nenek moyang telah mati.
Semoga tidak dipukul saat salah.

7 April 2012

Minyak Jelantah

Mungkin aku cuma minyak jelantah. Kemarin masih bersih. Kemarin masih cerah dan jernih, sekarang hitam dan pekat. Aku membiarkan diri jadi penghantar bagi kerupuk-kerupuk untuk digoreng, atau ayam penyet supaya garing. Semua orang suka, semua orang mau makan apa yang aku hasikan. Mereka tidak tahu kalau aku pada akhirnya tersisa sebagai minyak jelantah yang membawa penyakit, membunuh orang. Aku pada akhrinya cuma sebagai pembunuh mereka. Aku pada akhirnya dibenci dan terbuang ke pelimbahan yang amis. Padahal… mereka makan kerupuk dan ayam penyet itu. Aku pembunuh? Minyak jelantah yang buruk rupa ini adalah pembunuh?
Aku tidak mengerti mengapa setelah aku sampai begini hitam dan pekat sebagai minyak, aku justru yang digugat, dihakimi, dicaci, dan dimaki. Minyak jelantah yang malang. Aku jadi kasihan sekali pada diriku yang buruk rupa ini. Selamat tinggal. Jika tidak berakhir di pelimbahan yang amis, aku akan berakhir di penjara yang gelap dan pengap.

Jumat, 06 April 2012

test

Rabu, 04 April 2012

bingung

saya membawa belati dalam tas jinjing saya yang berwarna merah muda,
saya membawa 15 bahkan lebih topeng di balik jilbab saya yang tipis,
saya menyimpan jutaan rekaman suara, nada, intonasi, dan pilihan kata di segenggam telpon yang saya bawa selalu..
Sekarang saya di depan Kamu, bingung sekali harus memilih memutar rekaman yang mana, memakai topeng yang mana. Akhir: Saya bingung harus menikam Kamu dengan belati ini atau tidak.

Minggu, 01 April 2012

kapital

Kapital  isme mengecup desa
Menidurkan kembali, pasar-pasar yang hampir saja terbangun
Indo(maret), Alfa(mart), dan sahabat lainnya bawa parang berselimut kain kasa
Hati-hati orang desa, 
sebentar lagi kalian berbaring dingin
di kaki pemilik saham

23,  Maret 2012

(Suka)bumi

Saat aku berplesir ke Sukabumi
Sungainya mengalir diam penuh aksi:
1. Seorang bapak berak tanpa permisi
2. Si Ibu mencuci tanpa retribusi
3. Anak mereka kencing tanpa basa-basi

Sukabumi, rakyatnya cinta bumi.

23 Maret 2012

Bunuh Diri

Lantak! Masukkan mesiu! Pompa Lantak!
Bidikkan pada arahku!
Darrr!
Jangan biarkan anjing gila itu menyentuh mayatku!

Self Respect

saya bingung sebenarnya mau menunangkan apa di blog saya. Sudah beberapa lama saya merasa seperti dipenjara, dipasung, diikat, dicekik, disumpal. Saya merasa gagu, tuli, buta, tidak punya hati, dan gila. Saya berceracau dalam kepala saya, dalam pikiran saya, dan hal tersebut hampir membuat seisi kepala saya meledak. Saya kurang mengerti masalah seperti ini.

Sebenarnya saya jadi merasa kehilangan jati diri akhir-akhir ini. Saya takut beropini jadinya. Mengapa? Karena saya takut diserang balik dari berbagai arah. Saya jadi tidak meras apercaya diri dengan apa yang akan saya katakan. Tidak ada puisi, cerpen, bahkan up date status, ataupun twit yang berguna. Mungkin karena saya selalu menganggap opini saya kurang lebih tidak berguna, dan tidak perlu didengar.

Oh ya, saya tahu. Sepertinya saya mengalami penyakit Lack of Self Respect yang sangat akut. Siapa bisa menolong?