Rabu, 18 April 2012

KETIKA YANG TUA-TUA ITU KUMPUL BERUNDING

 Di sebuah kampung berkumpul
100  Kata Sifat, Kata Kerja dan Kata Benda
Mereka berunding tentang bagaimana cara menyusun
Kalimat Yang Baik

Yang dituakan di kalangan mereka, Keimanan,
ramai-ramai ditunjuk pertama.
“Ayolah Atuk, mulailah.”
(Atuk kependekan panggilan Datuk)

Keimanan agak enggan.
“Jangan aku yang mulai. Yang di pojok sana itu lah .
Simbah Pengorbanan.”

Pengorbanan terkejut.
“Wah, yang paling pas, Tanggung Jawab.
Ya: Tanggung Jawab.”

Tanggung Jawab menangkis bahwa sebaiknya Pendidikan
Pendidikan menolak halus, lalu menuju Ketertiban.
Ketertiban meminta kesediaan Optimisme.
Optimisme mengoper usul kepada Kerja Keras.
Kerja Keras mengalihkannya ke Demokrasi.
Demokrasi belum sanggup, sebaiknya katanya Kesantunan.

Angka diskusi mendekati 100, ketika diteriakkan kejujuran.
“ya, Ke-ju-ju-ran! Ke-ju –ju-ran! Ke-ju-ju-ran!”

Kejujuran didesak maju ke tengah.
Sesampai di tengah panggung. Kejujuran berkata:
“Baik, baik. Dengan satu syarat.”
“Apa itu? Apa itu?”
“Aku harus didahului oleh Rasa Malu.”
Majelis itu menolak ke kanan ke kiri, kemuka ke belakang
mencari Rasa Malu.

Ke mana dia Rasa Malu?

Taufiq Ismail
Horison/April/2012