Mungkin aku cuma minyak jelantah. Kemarin masih bersih. Kemarin masih cerah dan jernih, sekarang hitam dan pekat. Aku membiarkan diri jadi penghantar bagi kerupuk-kerupuk untuk digoreng, atau ayam penyet supaya garing. Semua orang suka, semua orang mau makan apa yang aku hasikan. Mereka tidak tahu kalau aku pada akhirnya tersisa sebagai minyak jelantah yang membawa penyakit, membunuh orang. Aku pada akhrinya cuma sebagai pembunuh mereka. Aku pada akhirnya dibenci dan terbuang ke pelimbahan yang amis. Padahal… mereka makan kerupuk dan ayam penyet itu. Aku pembunuh? Minyak jelantah yang buruk rupa ini adalah pembunuh?
Aku tidak mengerti mengapa setelah aku sampai begini hitam dan pekat sebagai minyak, aku justru yang digugat, dihakimi, dicaci, dan dimaki. Minyak jelantah yang malang. Aku jadi kasihan sekali pada diriku yang buruk rupa ini. Selamat tinggal. Jika tidak berakhir di pelimbahan yang amis, aku akan berakhir di penjara yang gelap dan pengap.