Percakapan kita bagai setangkup roti yang tersembunyi di antara sajian santap malam. Letaknya nyempil, dan tidak pas untuk jamuan makan semewah itu.
Percakapan kita adalah keragu-raguan, yang kita bagi diam-diam dengan yakin. Seperti perut yang terlalu lama menahan rasa lapar, setangkup roti untuk kita berdua rasanya cukup. Pun percakapan kita yang penuh rahasia terasa cukup untuk membungkam rindu yang terlanjur gelisah. Cukup untuk membangktikan adrenalin yang menggulung di sela nadi kita.
Percakapan kita adalah permainan yang orang namai petak-umpet. Tak boleh ada yang menemukan celah di mana kita berbagi setangkup asa, biarpun hitungan pemain yang berjaga sudah lama terhenti.
Tapi kadang waktu tertidur, kita tak sadar, tahu-tahu percakapan yang kita bagi telah habis; setangkup roti yang kita makan bersama telah tandas; jamuan makan malam mewah telah berakhir; adrenalin telah mengalir tenang kehilangan gejolak; permainan sudah usai.
Percakapan kita sekarang bisu, tapi kenangan tentangnya jadi bisa yang menjalar. Jadi bisa yang meradang.
Selasa, 23 Juni 2015
Pesan Untuk Anak Muda
Kepada anak muda, tentang balon
yang kau genggam,
Tentang jatuh cinta, tentang
perasaan, urusan itu begitu pelik. Mau dibahas sampai aku dan kau beruban pun (tapi aku sudah beruban sekarang!)
persoalan macam ini tidak akan pernah diputuskan dengan kata mufakat. Sebabnya,
setiap orang punya definisi tentang jatuh cinta dan perasaan.
Kau, pernah karena perasaanmu
tercungkil sedikit akibat patah hati, atau jatuh cinta, atau apapun namanya, merasakan
perubahan pada dirimu? Kubaca di buku karya abang pengarang hebat itu, si
tokoh, Borno namanya, sampai musti disuntik pantatnya karena sakit tak kunjung
sembuh. Sebabnya apa? Ia berpisah dengan kekasih hatinya.
Jika aku cukup pandai, aku
mungkin bisa mendefinisikan apa itu jatuh cinta atau patah hati. Tapi nyatanya,
perempuan ini, yang bahkan belum cakap menyetrika pakaian, tidak pandai dalam
merangkai kata-kata: menyajikan definisi baru untuk dua frasa itu.
Entah apa pasal, sore itu, di
perjalanan pulang dari wisata ke sebuah air terjun, sebagai penumpang di atas
motor yang pengemudinya ogah diajak ngobrol, dengan pemandangan persawahan yang
kemayu ditimpa sinar matahari, aku malah sibuk memikirkan sendu yang kurasakan
akhir-akhir ini. Aku memang tak pandai menyimpan perasaan, kadang berseloroh
dengan maksud menumpahkan beban. Tapi lama-lama jadi malu: aku simpan perkara
ini seorang diri saja. Paling parah suara di kepalaku tak henti berceracau
tentang perkara yang kusimpan ini.
Baik, aku sampai mana?
Tentang nama-menamai, aku tidak
pernah khatam belajar persoalan itu. Jadilah aku lebih memilih menjelaskan
perkara ini semua tanpa nama-namaan: entah patah hati, entah jatuh cinta,
apalah namanya.
Tapi, pernahkah kau merasa hatimu
bagai balon tiup atau balon helium yang bisa menggantung anggun di kaki langit?
Kemarin, mungkin hingga hari ini, hatiku adalah balon karet yang kembang kempis
tak beraturan. Entah apapun warnanya, kelabu sampai merah muda, sama saja balon
tiup atau balon helium terbuat dari karet elastis yang siap sedia mengembang
tapi kisut tiada rupa ketika hampa tak berudara. Ya, risiko utamanya, ketika
udara terlalu penuh adalah meledak: menyisakan lubang kentara di badan balon.
Sialnya, kalau sudah begitu balon akan sulit diisi dengan udara, enggan untuk
mengembang sempurna lagi.
Hatiku: entah kisut, semoga belum meledak, mungkin kehilangan separuh
dari udara yang seharusnya membuat mengembang indah.
Kau bisa bayangkan, anak muda,
bagaimana kehadiran seseorang bisa jadi mengisi separuh ruang balon milikmu
yang tidak pernah kau ketahui keberadaannya. Membuatmu melihat dan mempunyai bentuk
baru dari hati yang belum pernah kau amati lamat-lamat seperti itu. Kehadiran
seseorang, dengan udara baru, dalam jejak hatimu, membuat balon yang selama
ini kau genggam, mengapung ke kaki
langit: lembut menanjaki tangga tak terlihat, melawan gravitasi, balonmu
–hatimu melayang dengan syahdu tak peduli bola besar bernama matahari sudah
berapa kali mondar-mandir membuat siang dan malam berganti. Janga ragu, hatimu
tidak akan terbang karena ujung balon yang berupa senar nilon lembut melesap
dalam genggaman eratmu.
Tapi, apapun namanya, udara itu
bergerak dinamis, anak muda. Sekalipun kau pikir kehadiran seseorang –udara
yang kusebutkan itu, sudah menetap tak terganggu di relung hatimu ternyata kau
kadang lupa bahwa awalan hatimu, balon yang mengembang sempurna itu, adalah
karet kisut, berkerut-kerut tanpa bentuk. Dan kau pun kadang lupa bahwa udara
itu mengalir. Tak perlulah kujabarkan soal hukum-hukum fisika yang membahas
soal itu, tapi coba saja kau letakkan balon di lantai dingin, udara di dalamnya
secara rahasia mengkhianatimu: pergi keluar tanpa permisi. Dan kadang
kemalangan itu terjadi pula pada balon yang ujung senar nilonnya kau pegang erat
dengan riang.
Anak muda, kau kadang kurang
paham masalah ini. Maka mari kujelaskan. Kau tahu perubahan musim, meski di
Indonesia kita hanya punya dua musim, sering kali membuat air raksa dalam termometer
udara naik turun. Belum pernah melejit naik atau melesak turun, setidaknya di
Depok. Tapi lagi-lagi ini soal perspektif, tentang dingin dan panas.
Masalahnya, kita tidak bisa bertanya pada balon untuk tahu di suhu berapa udara
di dalamnya akan tetap bertahan.
Siapapun yang mengisi udara dalam
balonmu –hatimu, mungkin pada akhirnya harus merembes keluar dari ruang elastis
yang kau coba genggam erat. Tanpa salam jumpa, beranjak dari balonmu yang
kembung, menelusup tanpa disadari keluar lingkaran yang kau jaga. Seseorang itu
pergi, mengambil serta setangkup udara yang berusaha kau lindungi agar terjaga
tanpa gangguan. Menyisakan hatimu yang sulit mengambang di langit yang cerah.
Kau betul-betul kehilangan bentuk terbaik hatimu –balonmu, yang semestinya
dengan menawan sedang berdansa dengan angin yang tak sengaja lewat. Hatimu,
anak muda, bisa jadi kisut berkerut-kerut kehilangan rupa.
Kau namakan apa peristiwa semacam
itu?
*
Anak muda, aku banyak setuju
dengan abang kita, pengarang terkenal itu, yang berulang kali memberi petuah
tentang jatuh cinta dan patah hati, tentang rela dan ikhlas, tentang yang
terbaik untuk yang sabar menunggu, tapi aku juga mau bilang ini kisahmu. Berhak
kau namai apapun dan berhak kau carikan solusi yang terbaik. Balon kisut bukan
masalah berarti, karena udara lain akan siap menjadi penumpang balonmu yang
kosong. Kaupun boleh memilih warna karet balon, memilih senar nilon untuk kau
genggam, dan boleh memilih seberapa kuat kau akan menahan tali itu. Kau boleh
memilih dengan caramu, memperjuangkan udara di dalam balon itu agar tetap
mengisi tempat yang kau sediakan. Kau boleh memilih udara yang berhak mengisi
balonmu. Tapi kau tidak boleh membiarkan udara itu membuat balonmu meledak.
Balonmu –hatimu hanya ada satu, bukan dua apalagi tiga. Biarkanlah yang satu
itu mengembang sempurna, cantik, dan indah dalam takaran yang pas tak
berlebihan, apalagi kelepasan.
Salam,
Seorang Anak Muda
(bukan pengusaha balon)
Kamis, 23 April 2015
Senin, 13 April 2015
Rabu, 08 April 2015
Antara Popularitas Serial Drama dan Menjamurnya Resto Asing
Beberapa minggu terakhir ini saya
punya dua topik favorit untuk ditelusuri di kanal youtube: makanan dan agama.
Kita skip soal agama, mari berfokus tentang makanan. Beberapa kanal, baik yang
dimiliki perseorangan ataupun kelompok, mengunggah video tentang food tasting, atau demo masak.
Yang sedang trend adalah kanal-kanal yang menampilkan video tentang icip-icip
makanan dari berbagai dunia. Salah satu kanal yang pernah menampilkan icip-icip
kudapan Indonesia adalah buzzvideo. Sayang, menurut saya reaksi yang diberikan
sangat berlebihan. ‘They said: Why would
you eat this?’ ‘It tastes like styreofoam’. Saya pun balas di dalam kepala:
Why wouldn’t I eat that?.It tastes superb!
Saya tidak bisa menyalahkan
reaksi mereka, beberapa di antara makanan yang mereka cicipi memang mungkin
asing, berbau menusuk hidung, atau memiliki tekstur yang unik. Tapi apa berarti
makanan Indonesia tidak enak?
Tentu fakta bahwa portal berita CNN
menobatkan rendang Indonesia sebagai makanan terlezat sedunia mematahkan semua
itu. Lagipula, kita punya bakso, nasi goreng, sate padang, mie aceh, tino ransak,
bubur manado, gudeg, cilok, cimol, cireng, seblak, dan jutaan menu lainnya yang
tentunya punya rasa jempolan.
Saya kemudian mencoba
membandingkan makanan Indonesia dengan kuliner Korea atau Jepang yang sangat in belakangan ini. Banyak orang suka
sekali makanan dari dua negara itu. Buktinya, kita bisa lihat bagaimana
menjamurnya restoran sushi, atau rumah makan korea di kota-kota besar
akhir-akhir ini.
Sebetulnya Indonesia punya trend
makanannya sendiri. Coba saja sebut ayam penyet dengan sambel super pedas, mie
setan, seblak seuhah, cireng rujak, cendol, bahkan sampai kue cubit. Hmm yang
mana yang rasanya tidak enak hayo?
Saya yakin tidak ada, karena memang semuanya enak.
Tapi tahukah orang di luar
Indonesia tentang kelezatan semua itu?
Mungkin tahu, semua bisa dilihat
di youtube dengan kata kunci pencarian Indonesian
street food. Bahkan banyak pula yang menampilkan resep dan cara pembuatan
kuliner Indonesia.
Terlepas dari adanya kanal
youtube dan cara yang ditempuh untuk mempromosikan makanan Indonesia, saya
merasa upaya yang dilakukan belum maksimal. Korea contohnya, saya pribadi tidak
suka makanan negeri ginseng ini namun melihat artis-artis negara itu dengan
asyik menyantapnya di dalam adegan film membuat saya mau tidak mau juga
meneteskan liur. Jepang lain lagi, meski tahu menyeruput mie ramen atau
menenggak kuah ramen langsung dari mangkuknya bukan tindakan lazim di banyak
negara, pembuat film tidak peduli. Yang ia tahu adalah membuat film, dan
menampilkan senatural mungkin kehidupan di negaranya. Tidak jarang, drama korea
menampilkan jajanan yang sedang disantap panas-panas oleh sang artis, sebut
saja toeppokki. Lain halnya, drama jepang sering menampilkan dango ataupun
takoyaki yang dimakan oleh sang artis.
Bagaimana dengan makanan
Indonesia dalam film atau drama negeri ini?
Jangan khawatir, ada serial drama
ataupun ftv yang menampilkan makanan Indonesia kok, sebut saja sinetron Tukang Bubur Naik Haji atau ftv berjudul
Azab Anak Penjual Batagor. Di
sinetron yang sudah lama pun makanan Indonesia ditampilkan, misalnya pada
tayangan Keluarga Cemara. Tentu
beberapa dari kita masih ingat bagaimana Euis dengan gigih berjualan opak
(sejenis kerupuk dari olahan singkong), dan Emak yang tidak bosan membuatnya di
rumah.
Bubur Ayam dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji merupakan unsur
penting. Kehadirannya melambangkan perjuangan dan kesulitan hidup yang dialami
Sulam sang penjual bubur. Keberlanjutan cerita, menampilkan bentuk keberhasilan
Sulam yang akhirnya dapat memberangkatkan dirinya serta keluarganya untuk pergi
berhaji. Ia pun pada akhirnya dapat membuka kios bubur sendiri dan berhenti
berjualan bubur dengan gerobaknya. Sama seperti sinetron Tukang Bubur Naik Haji, serial drama Keluarga Cemara juga menjadikan opak sebagai simbol perjuangan dan
kesulitan ekonomi yang dialami keluarga Abah. Juga, pada ftv Azab Anak Penjual Batagor, penjual
batagor digambarkan sangat miskin sehingga ia tidak dapat memberikan apa yang
diminta oleh sang anak.
Adapun beberapa sinetron lain
lebih senang menampilkan adegan makan di restoran, atau ruangan yang pura-pura
disulap sebagai restoran. Jika adegannya sudah begini, maka makanan yang
sekilas ditampilkan adalah makanan western
sebut saja spaghetti atau steak. Untuk minuman, tayang tersebut akan
menampilkan jus.
Sinetron Indonesia yang lebih
senang menyajikan konflik akibat perbedaan status sosial turut menjadikan
pilihan makanan dan gaya makan tokoh di dalamnya sebagai bahan pembanding.
Pilihan makan sayur asem, jengkol, petai, dan ikan asin misalnya dikaitkan
dengan tokoh yang berasal dari keluarga miskin. Sementara tokoh yang
digambarkan kaya selalu menganggap pilihan makanan seperti itu tidak sesuai
dengan status ekonomi maupun sosialnya.
Selain itu, Makanan dan minuman
pun tidak pernah ditampilkan sebagai sorotan utama yang turut menggerakkan
sebuah cerita. Kehadiran makanan ataupun minuman tidak lebih sebagai pelengkap
dari cerita di dalam ftv, ataupun serial drama. Dengan demikian, kehadiran
kuliner Indonesia merupakan sesuatu yang tidak essensial, yang tidak
dipentingkan.
Makanan dalam serial drama Korea
dan Jepang
Saya bukan penggemar drama Korea
atau Jepang. Dulu saya memang penonton setia drama dari dua negara tersebut,
bahkan drama Tiongkok pun saya nantikan tiap sore. Walaupun tidak up to date alias tidak kekinian, saya
adalah penonton setia Princess Hours,
Full House, Boys Before Flowers, Jewel In the Palace, Endless Love, One Litre Of Tears, Chibi Maruko Chan, Putri
Huan Zhu, Femau, dan Sun Go Kong.
Satu drama yang paling membekas diingatan saya adalah Jewel In the Palace dengan tokoh utama bernama Dae Jang Geum.
Drama korea Jewel In the Palace tanpa malu-malu dan secara serius digarap untuk
menampilkan profesionalitas koki-koki istana Korea pada masa lalu. Satu per
satu makanan dibuat dengan hati-hati, tidak asal-asalan. Bagi saya drama ini
menunjukkan bahwa Korea memiliki seni kuliner yang tinggi. Untuk mendapatkan
hasil makanan dengan kualitas baik, koki-koki istana tidak jarang harus membuat
makanan tersebut dalam waktu yang sangat lama karena proses memasak yang
perlahan. Dalam satu episode, digambarkan Jang Geum kehilangan fungsi indra pengecapannya
sehingga selama berhari-hari ia tidak mampu memasak sama sekali. Ia tidak mampu
membedakan rasa, dan hal itu membuatnya frustasi. Bukankah adegan itu
menunjukkan bahwa cita rasa merupakan hal nomor satu di makanan Korea?
Selain drama tersebut ada pula
drama Full House yang dengan cara
implisit menjadikan makanan Korea memiliki porsi penting dalam drama ini.
Maksud saya implisit adalah makanan tidak secara langsung ditampilkan sebagai
pelengkap saja, tetapi makanan menjadi penggerak cerita dari salah satu episode
drama ini. Pada salah satu episode Yong Jae meminta istrinya untuk membuatkan
Chobchae untuk sajian bagi tamu mereka. Karena Han Ji Eun tidak bisa memasak
maka ia meminta bantuan pada nenek mertuanya untuk mengajari membuat Chobchae.
Dengan demikian, secara tidak langsung sebetulnya drama ini telah mempromosikan
salah satu makanan Korea, termasuk cara membuatnya. Sebagai tambahan, drama Full House menjadikan meja makan sebagai
tempat sentral bagi Yong Jae dan Ji Eun untuk berdiskusi masalah keluarga
mereka. Uniknya, makanan yang ditampilkan selalu makanan Korea. Entah dalam
keadaan sedih, senang, bertengkar ataupun berdamai.
Boleh juga kita tengok kartun
ataupun film Jepang yang tidak lelah menampilkan kehidupan di Jepang apa
adanya. Chibi Maruko Chan, misalnya, pada film non-animenya menampilkan
bagaimana lezatnya sushi sehingga membuat Maruko meminta pada sang kakek untuk
memngajaknya makan di kedai sushi terkenal. Sang kakek pun tak kuasa menolak,
akhirnya ia pun menguras isi dompetnya untuk membelikan cucu kesayangannya
sushi yang berharga mahal. Ada pula adegan Maruko makan dengan menghirup harum
unagi karena ia ingin sekali makan unagi buatan ibunya namun tidak diizinkan. Akhirnya
ia mondar-mandir ke dapur sambil menyuapkan nasi hanya untuk dapat makan
bersama aroma unagi buatan ibunya.
![]() |
| Penggambaran Sushi yang begitu menggoda |
![]() |
| Keluarga Maruko memperebutkan Sushi terakhir |
Makanan: Bukan Sekadar Pelengkap
Menurut saya drama-drama di atas
berhasil membangun citra positif atas makanan negara asal masing-masing drama. Jewel In the Palace berhasil memberikan
gambaran bahwa makanan Korea adalah makanan yang dibuat dengan tingkat ilmu
yang tinggi, dengan profesionalitas dan kehati-hatian. Sementara, Full House berhasil menampilkan citra
bahwa makanan Korea adalah identitas bangsa Korea, bahwa bagaimanapun
kondisinya, seorang keturunan Korea akan memilih menikmati makanan Korea baik
dalam keadaan senang dan sedih. Bahkan juga digambarkan bahwa makanan Korea
bukanlah milik kelas-kelas sosial maupun ekonomi tertentu, buktinya Yong Jae,
yang berperan sebagai artis dalam drama itu, selalu menikmati makanan Korea di
rumahnya. Lain halnya dengan Chibi Maruko Chan yang mampu menampilkan makanan
Jepang dengan imej makanan yang mahal dan high class. Sushi dengan telur ikan
dan unagi digambarkan sebagai makanan yang super lezat dan begitu berharga di
keluarga Maruko yang sederhana.
Antara film dan makanan mungkin
ada kaitannya, mungkin juga tidak. Walau demikian saya tetap yakin bahwa
sedikit banyak film dan drama Korea maupun Jepang memiliki misi untuk
mengekspor budaya mereka lewat karya seni, termasuk dalam hal kuliner negara
masing-masing. Korelasi antara popularitas makanan dan film juga drama Korea
dan Jepang memang perlu dikaji ulang untuk menunjukkan hubungan signifikan
dalam bentuk angka, grafik, ataupun tabel. Namun demikian, saya yakin korelasi
itu ada dan hubungannya saling memengaruhi.
Mana makanan Indonesia?
Perfilman Indonesia sedang
merangkak naik, pun demikian dengan industri kuliner yang sedang menggeliat.
Ada baiknya cara Korea dan Jepang ini turut ditiru oleh pelakon-pelakon industri
perfilman Indonesia: meningkatkan citra positif kuliner Indonesia. Citra
positif yang dimaksud adalah, bersih, enak, dan menjangkau berbagai kalangan
baik kaya maupun miskin. Dengan demikian,
kuliner Indonesia tidak terpinggirkan di layar kaca negeri sendiri.
Kamis, 26 Maret 2015
Aduh!
Tidak bermaksud mengeluh. Dalam postingan kali ini aku cuma ingin berbagi cerita saja.
Bengkak. Mukaku bengkak sampai membuat mataku tidak bisa dibuka. Sekarang kondisiku sudah membaik, tapi ngilu masih nyisa belummau pergi. Entah penyebabnya apa, tapi sekarang area bibir hingga hidung dan pipi bagian kanan mukaku membesar. Aku tidak bisa mengatupkan bibir.
Rasanya sakit sekali, betul-betul ngilu. Tambah nyeri ketika kuperhatikan wajahku di cermin. Hampir mirip Daisy Duck. Yup! Pasangan Donald Duck. Bibirku besar sekali, bukan hanya bagian atas, bagian bawah pun juga.
Aku malu. Kututupi wajahku selama kontrol ke dokter.
Ketika aku berdiri, atau duduk dengan posisi yang tidak enak, maka otomatis akan ada tekanan ke gigiku yang sedang meradang. Aku tidak tahan. Sebentar-sebentar kucari posisi yang nyaman.
Empat hari ini rasanya aku sangat menderita. Bengkak di wajahku sedikit berkurang, ngilunya pun mereda. Tapi tetap masih jauh dari kata sembuh.
Ketika hari pertama, aku sangat down, depressed, like this was gonna be forever. The pain seemed kill me in that time. I was upset. I cried a lot. I stopped talking.
Here I am right now.
Rasa-rasanya sakit yang kutanggung ini lebih dari yang kumampu. Tapi ketika pikiran itu datang kubilang pada diriku: Hey! Allah would not give any hardship beyond your capacity! Dan ya, nyatanya aku masih kuat sampai sekarang.
Bukannya aku mau terus begini, tapi setidaknya aku mulai bisa membiasakan diri dengan ngilu yang merajalela tanpa kenal waktu. Aku mulai bisa mengira-ngira cara makan dan minum yang tidak perlu menyakiti diriku. Aku belajar cara sikat gigi yang aman untuk gigiku. Setidaknya, aku mau mencoba berdamai dengan situasi ini.
Selain itu, setiap kali aku mau mengeluh dan ambruk, aku mengingat kembali perjuangan pada tahun 2013. Tahun yang luar biasa berat bagiku. Tapi toh Allah membiarkanku melaluinya.. :)
Tahun ketika aku ada di titik terrendah hidupku. Ketika bisa menggerakkan jari-jari tangan adalah berkat tiada tara. Ketika duduk, berdiri dan berjalan adalah sebuah perjuangan berarti. Ketika Allah dan keluarga terasa dekat di hati.
Ketika Allah memberikanku kesempatan kedua untuk berubah. Untuk hidup lagi.
Sekarang, aku siap. Ini mungkin berat. Dan pasti banyak hal yang harus aku benahi dalam diri. Tak apa. Aku percaya Allah memberikan cobaan yang tepat pada waktunya untuk mendewasakan diriku. Tak apa. Jika ini menjadi penggugur dosaku.
-Pada sebuah malam yang sepi
Bengkak. Mukaku bengkak sampai membuat mataku tidak bisa dibuka. Sekarang kondisiku sudah membaik, tapi ngilu masih nyisa belummau pergi. Entah penyebabnya apa, tapi sekarang area bibir hingga hidung dan pipi bagian kanan mukaku membesar. Aku tidak bisa mengatupkan bibir.
Rasanya sakit sekali, betul-betul ngilu. Tambah nyeri ketika kuperhatikan wajahku di cermin. Hampir mirip Daisy Duck. Yup! Pasangan Donald Duck. Bibirku besar sekali, bukan hanya bagian atas, bagian bawah pun juga.
Aku malu. Kututupi wajahku selama kontrol ke dokter.
Ketika aku berdiri, atau duduk dengan posisi yang tidak enak, maka otomatis akan ada tekanan ke gigiku yang sedang meradang. Aku tidak tahan. Sebentar-sebentar kucari posisi yang nyaman.
Empat hari ini rasanya aku sangat menderita. Bengkak di wajahku sedikit berkurang, ngilunya pun mereda. Tapi tetap masih jauh dari kata sembuh.
Ketika hari pertama, aku sangat down, depressed, like this was gonna be forever. The pain seemed kill me in that time. I was upset. I cried a lot. I stopped talking.
Here I am right now.
Rasa-rasanya sakit yang kutanggung ini lebih dari yang kumampu. Tapi ketika pikiran itu datang kubilang pada diriku: Hey! Allah would not give any hardship beyond your capacity! Dan ya, nyatanya aku masih kuat sampai sekarang.
Bukannya aku mau terus begini, tapi setidaknya aku mulai bisa membiasakan diri dengan ngilu yang merajalela tanpa kenal waktu. Aku mulai bisa mengira-ngira cara makan dan minum yang tidak perlu menyakiti diriku. Aku belajar cara sikat gigi yang aman untuk gigiku. Setidaknya, aku mau mencoba berdamai dengan situasi ini.
Selain itu, setiap kali aku mau mengeluh dan ambruk, aku mengingat kembali perjuangan pada tahun 2013. Tahun yang luar biasa berat bagiku. Tapi toh Allah membiarkanku melaluinya.. :)
Tahun ketika aku ada di titik terrendah hidupku. Ketika bisa menggerakkan jari-jari tangan adalah berkat tiada tara. Ketika duduk, berdiri dan berjalan adalah sebuah perjuangan berarti. Ketika Allah dan keluarga terasa dekat di hati.
Ketika Allah memberikanku kesempatan kedua untuk berubah. Untuk hidup lagi.
Sekarang, aku siap. Ini mungkin berat. Dan pasti banyak hal yang harus aku benahi dalam diri. Tak apa. Aku percaya Allah memberikan cobaan yang tepat pada waktunya untuk mendewasakan diriku. Tak apa. Jika ini menjadi penggugur dosaku.
-Pada sebuah malam yang sepi
Selasa, 24 Maret 2015
Tentang Telur Dadar
Malam ini papa pulang dengan membawa banyak makanan. Ada bakmi, ada sekotak nasi padang. Kemudian, mama memeriksa nasi padang itu apakah sudah basi atau belum. Papa bilang nasi kotak itu sudah dari tadi siang.
Begitu kotak nasi dibuka, mama tertegun dan diam. Aku mencoba mendekat dan sepotong telur dadar super tebal menyapa kami. Ah, telur dadar.
Sontak air mataku meleleh. Suara mama berubah gemetar. Aku tahu itu karena telur dadar.
Kami semua bukan penggemar telur, tapi beberapa tahun terakhir kami sering makan telur, khususnya telur dadar. Kenapa? Karena beberapa tahun terakhir aku-kembaranku-udaku jarang makan di rumah. Jadi, yang paling mudah dan praktis adalah membuat telur dadar. Tidak akan terbuang karena bisa disesuaikan dengan jumlah orang yang akan makan.
Kami, orang minang. Khususnya papaku, beliau lebih senang mengajak kami ke restoran padang ketimbang makan makanan barat. Setiap dari kami punya kesukaan lauk. Aku suka semua! Kalau kembaranku suka dendeng yang garing (harus garing), uda keduaku suka semuanya, uda pertamaku suka semuanya, tapi yang selalu ada di piringnya adalah telur dadar.
Baru saja tadi pagi uda pertamaku dengan sedikit air mata pamit dari rumah untuk mulai saat itu tinggal di Bekasi. Malamnya kami mendapatkan sepotong telur dadar di dalam kotak nasi.
Aih, rasa sayang bisa segitunya. Aku bahkan bertanya; "Mam telurnya mau ditinggalin untuk uda ngga?"
Tapi bagaimana caranya? Dia kan sudah pindah. Rumah sekarang hanya untuk berempat: aku-kembaranku-papa-mama.
Aku baru benarbenar sadar kalau uda pertamaku sudah pindah sore ini. Saat aku tidur di kamarnya, aku baru sadar kalau tumpukka hotwheels jualannya sudah tak ada, foto, stack of files, bahkan kemeja di dalam lemari sudah diangkut semua.
Sekarang aku malah bertanya-tanya mengapa aku menangis.
Kangen? Tidak juga.
Tidak rela? Harus ikhlas.
Lantas?
Mungkin sayang. Mungkin terbawa perasaan. Mungkin butuh waktu.
Begitu kotak nasi dibuka, mama tertegun dan diam. Aku mencoba mendekat dan sepotong telur dadar super tebal menyapa kami. Ah, telur dadar.
Sontak air mataku meleleh. Suara mama berubah gemetar. Aku tahu itu karena telur dadar.
Kami semua bukan penggemar telur, tapi beberapa tahun terakhir kami sering makan telur, khususnya telur dadar. Kenapa? Karena beberapa tahun terakhir aku-kembaranku-udaku jarang makan di rumah. Jadi, yang paling mudah dan praktis adalah membuat telur dadar. Tidak akan terbuang karena bisa disesuaikan dengan jumlah orang yang akan makan.
Kami, orang minang. Khususnya papaku, beliau lebih senang mengajak kami ke restoran padang ketimbang makan makanan barat. Setiap dari kami punya kesukaan lauk. Aku suka semua! Kalau kembaranku suka dendeng yang garing (harus garing), uda keduaku suka semuanya, uda pertamaku suka semuanya, tapi yang selalu ada di piringnya adalah telur dadar.
Baru saja tadi pagi uda pertamaku dengan sedikit air mata pamit dari rumah untuk mulai saat itu tinggal di Bekasi. Malamnya kami mendapatkan sepotong telur dadar di dalam kotak nasi.
Aih, rasa sayang bisa segitunya. Aku bahkan bertanya; "Mam telurnya mau ditinggalin untuk uda ngga?"
Tapi bagaimana caranya? Dia kan sudah pindah. Rumah sekarang hanya untuk berempat: aku-kembaranku-papa-mama.
Aku baru benarbenar sadar kalau uda pertamaku sudah pindah sore ini. Saat aku tidur di kamarnya, aku baru sadar kalau tumpukka hotwheels jualannya sudah tak ada, foto, stack of files, bahkan kemeja di dalam lemari sudah diangkut semua.
Sekarang aku malah bertanya-tanya mengapa aku menangis.
Kangen? Tidak juga.
Tidak rela? Harus ikhlas.
Lantas?
Mungkin sayang. Mungkin terbawa perasaan. Mungkin butuh waktu.
Senin, 16 Maret 2015
Ibu Kota
Ada jiwa-jiwa yang gentayangan:
mencuri selah antara mobil buatan Jepang dan Korea,
memeluk rindu rumah yang baru bebas ketika malam menghimpun gelap.
Berkeriut di tengah jalan,
Mereka lewati waktu yang panjang dengan berlari,
Tapi tak pernah betul-betul sampai.
mencuri selah antara mobil buatan Jepang dan Korea,
memeluk rindu rumah yang baru bebas ketika malam menghimpun gelap.
Berkeriut di tengah jalan,
Mereka lewati waktu yang panjang dengan berlari,
Tapi tak pernah betul-betul sampai.
Sabtu, 14 Maret 2015
Feeling(s)
Aku selalu memimpikan agar rumahku bisa lebih luas, karena bagiku dulu rumah ini rasanya sempit dan terlalu ramai. Semua orang mondar-mandir seenaknya, keluar-masuk kamar tanpa izin karena memang seolah ada aturan tidak tertulis agar pintu kamar tidak perlu dikunci.
Ingatanku berlabuh pada masa-masa kecil dulu ketika aku lebih senang menghabiskan waktu di kamar uda, karena di dalamnya begitu lengkap! Ada televisi, play station, seperangkat radio dan tape recorder. Bagiku semua itu keren. Jadi, sebeluma uda-udaku pulang sekolah, aku sempatkan untuk mendengarkan kaset favorit di kamarnya. Rasanya senang sekali kala itu.
Malam harinya, aku habiskan menonton televisi di kamarnya. Aku tiduran di kasurnya sementara uda-udaku di lantai, kami akur menonton tv. Walau sekali-kali mereka marah karena aku tidak henti usil menarik rambut mereka. Hari lain giliran aku yang menangis karena tak kebagian pegang remote, sehingga acara tv dikuasai oleh mereka berdua. Sebal!
Kadang kalau sudah terlalu kesal aku keluar karena mereka mengusirku. Kubanting pintu kamar yang kuhuni bersama kembaranku.
Kami tidak pernah betul-betul punya kamar sendiri. Aku tidur bersama kembaranku, dua kakak laki-lakiku tidur di kamar sebelah. Praktis per satu kamar diisi dua manusia.
Tahun 2004, semuanya berubah. Uda keduaku melanjutkan SMA di Bogor, di SMA mamaku dulu. Kehidupannya pun dihabiskan di Bogor, di rumah nenekku. Sesekali ia pulang di akhir minggu dengan cucian segunung yang kadang membuatku geleng-geleng kepala. Semua berlanjut demikian karena selanjutnya ia berkuliah di IPB.
Tak jelas betul bagaimana perasaanku ketika itu. Kadang orang bilang homesick ketika mereka jauh dari keluarga. Kadang perantau yang selalu diibaratkan menyandang rindu. Aku kala itu perlu waktu lama untuk bisa menerima keadaan bahwa kakakku sudah tidak lagi tinggal bersama kami. Di rumah tinggal kami berlima. Kakakku pulang hanya dalam rangka berkunjung.
Tentang kamar, selepas perginya uda kedua, kamar jadi milik uda pertamaku. Aku makin jarang main ke kamarnya, ia pun begitu. Letak tv tak lagi di kamarnya, pemutar kaset sudah tak ngetren lagi, dan ponsel pun telah memiliki fitur canggih untuk mendengarkan radio. Jadi, aku benar-benar jarang sekali masuk ke kamarnya kalau bukan urusan menyalakan lampu garasi.
Kami pun bertambah dewasa, meski berhenti menghabiskan waktu bersama, aku masih ingat setiap pagi uda pertamaku punya tanggung jawab untuk mengantarkanku ke sekolah. Aku yang duduk di bangku SMP, selalu senang kalau dibonceng udaku. Ketika beberapa kali harus menggunakan ojek ke sekolah aku sering ribut dengan abang ojek karena cara mengendarainya yang asal-asalan.
Ketika SD, tugas mengantar kami ke sekolah dipegang papa. Setiap pagi selalu sibuk! Mama membuatkan sarapan di dapur, atau sibuk menyuapi kami yang lelet, sementara papa pasti teriak "Hei sudah jam segini!" Kalau tak sempat sarapan di rumah, aku pasti merajuk minta mama ikut mengantarkan kami dan menyuapi kami di mobil. Seringkali di dalam mobil papa mengomeli kami yang terlambat, atau sering kami habiskan dengan ngobrol sambil tertawa.
Ketika kami beranjak dewasa, permasalahan mulai timbul. Aku mulai suka protes tentang banyak hal, mengeluh tentang rumah yang sempit dan tidak adanya privasi. Kakakku mulai bermasalah dengan pulang malam. Makin remaja aku makin terlibat konflik dengan kembaranku. Kami bisa dibilang tidak akur ketimbang akur. Duh!
Masalah yang datang dan pergi kerap membuat aku tidak betah di rumah. Rumah jadi panas dan gerah, makin terasa sumpek!
Tapi kami makin dewasa, dan pembelajaran bukan cuma untuk kami para anak. Aku melihat mama dan papa juga berproses, makin dewasa dan makin kuat. Kalau kupikir-pikir tidak semua orang tua sesabar mama dan papa menghadapi kami yang ABG saat itu.
Sepertinya memang uda keduaku yang mengawali banyak hal dibanding kami saudara-saudaranya. Dengan pilihan berkuliah di fakultas Kehutanan IPB, ia lebih dulu menjejakkan kaki ke banyak pulau di Indonesia. Dalam urusan jodoh, ia juga duluan. Tahun 2013 ia memutuskan menikah dengan seorang teman kuliahnya.
Tapi rumahku tak jauh beda kondisinya. Hanya saja, kami semakin sering pulang malam. Aku dan kembaranku dengan kegiatan organisasi kami di kampus, dan uda pertamaku dengan pekerjaannya. Kami makin jarang bertemu. Lebih-lebih dua tahun terakhir, uda pertamaku berhubungan dengan perempuan yang tinggal di Bandung. Praktis akhir minggu ia habiskan di Bandung untuk silaturahim dengan keluarga sang perempuan.
Bagi mama, setiap pagi tetap sibuk. Setiap pukul lima ia sudah harus memasak karena uda pertamaku selalu minta dibawakan bekal setiap harinya. Kadang aku kasihan melihat mama yang harus putar otak, mencari ide makanan apa yang tidak membuat udaku bosan. Kalau sudah bosan, ia akan bilang: "Ada lauk yang lain ga Mam?" Kalaupun tidak ada, ia akan pasrah membawa bekal yang sudah disiapkan mama.
Sementara bagiku, kadang harus ribut dulu baru bisa pakai kamar mandi dengan aman, nyaman, damai, sentosa. Walau cuma untuk wudhu, uda pasti menggedor dan bilang: "Masih lama gak Dek? Jangan lama-lama! Gue mau kerja!". Dengan muka sebal pasti aku akan keluar dan ngedumel dalam hati: "Ga sabar banget sih!"
Dan itu adalah rutinitas setiap pagi.
Sekarang, rumahku sudah lebih luas. Satu kamar baru dan satu ruangan baru papa sediakan untuk anak dan mantunya. Sekarang, uda pertamaku sudah menikah, dan bersama istrinya lebih memilih untuk tinggal di Bekasi.
Dan sekarang pula aku merasa rumah benar-benar sepi. Mama tidak pernah sibuk lagi setiap pagi. Sarapan yang dibuatnya cukup dua cangkir minuman hangat untuk beliau dan papa. Aku dan kembaranku tidak suka sarapan terlalu pagi. Tidak perlu lagi membuat bekal tiap pagi. Tidak ada lagi cek cok pagi-pagi karena antrean memakai kamar mandi. Tidak ada lagi deru motor yang ditunggu setiap malam untuk kemudian papa menggembok pagar. Tidak ada lagi yang antusias mencicipi makanan yang aku buat segagal apapun itu. Tidak ada lagi yang papa ketuk kamarnya setiap pagi untuk bersama-sama pergi solat subuh di masjid. Tidak ada lagi satu kamar untuk berdua.
Dewasa.
Menikah.
Berrumah tangga.
Aku pikir aku tak akan merasa kehilangan seperti ini. Tetapi ternyata little things mean a lot to me. Ternyata begini rasanya ditinggal kakak menikah. Tidak enak.
Rabu, 28 Januari 2015
Sabtu, 24 Januari 2015
Di Antara Batas
Sepi menari di antara batas pergi dan lari
Mengajak kawan seakan mustahil
Ini jalan milik satu orang saja
Sehingga bersama menjadi menyesakkan
Berjuang antara melangkah atau diam mengobservasi
Sungguh bukan tentang pilihan yang sederhana
Ada kemungkinan kehilangan,
Ada kemungkinan diterima suatu saat nanti.
Kapan? Tapi kapan?
Tentang semua yang tidak bisa sabar,
Belajarlah bagaimana teraturnya musim datang tanpa saling mendahului
Atau belajarlah pada ombak yang meski saling mendahului muaranya pada lautan juga.
Sabar,
Tentang yang begini musti belajar lagi
Supaya tak main asal lari
Supaya tak menyeret-nyeret perasaan yang belum tentu sudah matang
yang belum tentu berseminya di saat yang tepat.
Mengajak kawan seakan mustahil
Ini jalan milik satu orang saja
Sehingga bersama menjadi menyesakkan
Berjuang antara melangkah atau diam mengobservasi
Sungguh bukan tentang pilihan yang sederhana
Ada kemungkinan kehilangan,
Ada kemungkinan diterima suatu saat nanti.
Kapan? Tapi kapan?
Tentang semua yang tidak bisa sabar,
Belajarlah bagaimana teraturnya musim datang tanpa saling mendahului
Atau belajarlah pada ombak yang meski saling mendahului muaranya pada lautan juga.
Sabar,
Tentang yang begini musti belajar lagi
Supaya tak main asal lari
Supaya tak menyeret-nyeret perasaan yang belum tentu sudah matang
yang belum tentu berseminya di saat yang tepat.
Jumat, 23 Januari 2015
Pemberian
Tentang seorang asing yang belum benar-benar menjadi teman. Apa salah jika ada pemberian khusus untuknya?
Kalau memang dibilang mengorbankan harga diri, rasanya tidak juga. Berpuluh-puluh halaman buku yang diberikan, bermasalahkah jika yang diminta hanya agar kamu membacanya pelan-pelan, satu persatu, seksama? Mungkin ada dulu perasaan yang terselip. Tapi, kalau yang begitu sudah gugur dihempas angin dan jadi debu, apa perlu masih bertanya-tanya?
Tak ada yang dikorbankan, apalagi harga diri. Cih, kayak roman picisan saja.
Persoalan memberi pada orang asing yang hampir menjadi teman, dibesar-besarkan, karena yang memberi adalah seorang perempuan, yang menerima seorang laki-laki. Katanya perempuan lebih pemalu daripada laki-laki. Maka tindakan seperti itu adalah pernyataan sikap dari hati yang paling dalam dan pasti ada maksudnya.
Apa harus selalu seperti itu?
Kalau seperti itu, menyesal lah aku telah memberikannya. Maksudku baik, buku itu bagus, dan kamu suka membaca. Tak lebih.
Tak ada secuil rasa pun yang ingin dibagi kecuali perasaan senang bahwa buku itu buku yang patut dibaca. Bahwa esensinya manusia pasti bisa kena godaan, Mourad sekalipun.
Kalau kamu tanya kenapa harus kamu? Entahlah. Saya memang begitu suka iseng. Jangan dianggap serius. Take it easy lah bro. Lagipula mana mungkin mengembalikan keisengan. Jadi, tak ada yang perlu dikembalikan.
Dinia
Kalau memang dibilang mengorbankan harga diri, rasanya tidak juga. Berpuluh-puluh halaman buku yang diberikan, bermasalahkah jika yang diminta hanya agar kamu membacanya pelan-pelan, satu persatu, seksama? Mungkin ada dulu perasaan yang terselip. Tapi, kalau yang begitu sudah gugur dihempas angin dan jadi debu, apa perlu masih bertanya-tanya?
Tak ada yang dikorbankan, apalagi harga diri. Cih, kayak roman picisan saja.
Persoalan memberi pada orang asing yang hampir menjadi teman, dibesar-besarkan, karena yang memberi adalah seorang perempuan, yang menerima seorang laki-laki. Katanya perempuan lebih pemalu daripada laki-laki. Maka tindakan seperti itu adalah pernyataan sikap dari hati yang paling dalam dan pasti ada maksudnya.
Apa harus selalu seperti itu?
Kalau seperti itu, menyesal lah aku telah memberikannya. Maksudku baik, buku itu bagus, dan kamu suka membaca. Tak lebih.
Tak ada secuil rasa pun yang ingin dibagi kecuali perasaan senang bahwa buku itu buku yang patut dibaca. Bahwa esensinya manusia pasti bisa kena godaan, Mourad sekalipun.
Kalau kamu tanya kenapa harus kamu? Entahlah. Saya memang begitu suka iseng. Jangan dianggap serius. Take it easy lah bro. Lagipula mana mungkin mengembalikan keisengan. Jadi, tak ada yang perlu dikembalikan.
Dinia
Minggu, 04 Januari 2015
Isyarat
Isyarat adalah bahasa kelu yang tak pernah menari dari kata terucap.
Dalam sepi dan diam, kerling mata bisa jadi tanda, mungkin diartikan salah tapi bisa juga benar.
Isyarat menemukan maknanya dalam kegelisahan yang berharap kekeliruan menjauh dari arti yang ditemukan.
Entah bagaimana, isyarat melemparkan busur panah pada yang dikehendaki. Memberikan peta untuk mencari apa yang dimaksud dari apa yang tersembunyi.
Isyarat membuat perjalanan terasa lambat, diulur-ulur oleh dugaan yang cemasnya mampu menggugurkan daun muda yang baru tumbuh di pohon. Isyarat menjadikan ingatan sebagai ruh: tak bisa dilepaskan untuk kemudian direlakan.
Dan pada suatu ketika yang datang adalah hanya isyarat: entah yang sebenar dirasa, atau justru menciptakan apa yang tiada.
Dalam sepi dan diam, kerling mata bisa jadi tanda, mungkin diartikan salah tapi bisa juga benar.
Isyarat menemukan maknanya dalam kegelisahan yang berharap kekeliruan menjauh dari arti yang ditemukan.
Entah bagaimana, isyarat melemparkan busur panah pada yang dikehendaki. Memberikan peta untuk mencari apa yang dimaksud dari apa yang tersembunyi.
Isyarat membuat perjalanan terasa lambat, diulur-ulur oleh dugaan yang cemasnya mampu menggugurkan daun muda yang baru tumbuh di pohon. Isyarat menjadikan ingatan sebagai ruh: tak bisa dilepaskan untuk kemudian direlakan.
Dan pada suatu ketika yang datang adalah hanya isyarat: entah yang sebenar dirasa, atau justru menciptakan apa yang tiada.
Langganan:
Postingan (Atom)






