Percakapan kita bagai setangkup roti yang tersembunyi di antara sajian santap malam. Letaknya nyempil, dan tidak pas untuk jamuan makan semewah itu.
Percakapan kita adalah keragu-raguan, yang kita bagi diam-diam dengan yakin. Seperti perut yang terlalu lama menahan rasa lapar, setangkup roti untuk kita berdua rasanya cukup. Pun percakapan kita yang penuh rahasia terasa cukup untuk membungkam rindu yang terlanjur gelisah. Cukup untuk membangktikan adrenalin yang menggulung di sela nadi kita.
Percakapan kita adalah permainan yang orang namai petak-umpet. Tak boleh ada yang menemukan celah di mana kita berbagi setangkup asa, biarpun hitungan pemain yang berjaga sudah lama terhenti.
Tapi kadang waktu tertidur, kita tak sadar, tahu-tahu percakapan yang kita bagi telah habis; setangkup roti yang kita makan bersama telah tandas; jamuan makan malam mewah telah berakhir; adrenalin telah mengalir tenang kehilangan gejolak; permainan sudah usai.
Percakapan kita sekarang bisu, tapi kenangan tentangnya jadi bisa yang menjalar. Jadi bisa yang meradang.