Kepada anak muda, tentang balon
yang kau genggam,
Tentang jatuh cinta, tentang
perasaan, urusan itu begitu pelik. Mau dibahas sampai aku dan kau beruban pun (tapi aku sudah beruban sekarang!)
persoalan macam ini tidak akan pernah diputuskan dengan kata mufakat. Sebabnya,
setiap orang punya definisi tentang jatuh cinta dan perasaan.
Kau, pernah karena perasaanmu
tercungkil sedikit akibat patah hati, atau jatuh cinta, atau apapun namanya, merasakan
perubahan pada dirimu? Kubaca di buku karya abang pengarang hebat itu, si
tokoh, Borno namanya, sampai musti disuntik pantatnya karena sakit tak kunjung
sembuh. Sebabnya apa? Ia berpisah dengan kekasih hatinya.
Jika aku cukup pandai, aku
mungkin bisa mendefinisikan apa itu jatuh cinta atau patah hati. Tapi nyatanya,
perempuan ini, yang bahkan belum cakap menyetrika pakaian, tidak pandai dalam
merangkai kata-kata: menyajikan definisi baru untuk dua frasa itu.
Entah apa pasal, sore itu, di
perjalanan pulang dari wisata ke sebuah air terjun, sebagai penumpang di atas
motor yang pengemudinya ogah diajak ngobrol, dengan pemandangan persawahan yang
kemayu ditimpa sinar matahari, aku malah sibuk memikirkan sendu yang kurasakan
akhir-akhir ini. Aku memang tak pandai menyimpan perasaan, kadang berseloroh
dengan maksud menumpahkan beban. Tapi lama-lama jadi malu: aku simpan perkara
ini seorang diri saja. Paling parah suara di kepalaku tak henti berceracau
tentang perkara yang kusimpan ini.
Baik, aku sampai mana?
Tentang nama-menamai, aku tidak
pernah khatam belajar persoalan itu. Jadilah aku lebih memilih menjelaskan
perkara ini semua tanpa nama-namaan: entah patah hati, entah jatuh cinta,
apalah namanya.
Tapi, pernahkah kau merasa hatimu
bagai balon tiup atau balon helium yang bisa menggantung anggun di kaki langit?
Kemarin, mungkin hingga hari ini, hatiku adalah balon karet yang kembang kempis
tak beraturan. Entah apapun warnanya, kelabu sampai merah muda, sama saja balon
tiup atau balon helium terbuat dari karet elastis yang siap sedia mengembang
tapi kisut tiada rupa ketika hampa tak berudara. Ya, risiko utamanya, ketika
udara terlalu penuh adalah meledak: menyisakan lubang kentara di badan balon.
Sialnya, kalau sudah begitu balon akan sulit diisi dengan udara, enggan untuk
mengembang sempurna lagi.
Hatiku: entah kisut, semoga belum meledak, mungkin kehilangan separuh
dari udara yang seharusnya membuat mengembang indah.
Kau bisa bayangkan, anak muda,
bagaimana kehadiran seseorang bisa jadi mengisi separuh ruang balon milikmu
yang tidak pernah kau ketahui keberadaannya. Membuatmu melihat dan mempunyai bentuk
baru dari hati yang belum pernah kau amati lamat-lamat seperti itu. Kehadiran
seseorang, dengan udara baru, dalam jejak hatimu, membuat balon yang selama
ini kau genggam, mengapung ke kaki
langit: lembut menanjaki tangga tak terlihat, melawan gravitasi, balonmu
–hatimu melayang dengan syahdu tak peduli bola besar bernama matahari sudah
berapa kali mondar-mandir membuat siang dan malam berganti. Janga ragu, hatimu
tidak akan terbang karena ujung balon yang berupa senar nilon lembut melesap
dalam genggaman eratmu.
Tapi, apapun namanya, udara itu
bergerak dinamis, anak muda. Sekalipun kau pikir kehadiran seseorang –udara
yang kusebutkan itu, sudah menetap tak terganggu di relung hatimu ternyata kau
kadang lupa bahwa awalan hatimu, balon yang mengembang sempurna itu, adalah
karet kisut, berkerut-kerut tanpa bentuk. Dan kau pun kadang lupa bahwa udara
itu mengalir. Tak perlulah kujabarkan soal hukum-hukum fisika yang membahas
soal itu, tapi coba saja kau letakkan balon di lantai dingin, udara di dalamnya
secara rahasia mengkhianatimu: pergi keluar tanpa permisi. Dan kadang
kemalangan itu terjadi pula pada balon yang ujung senar nilonnya kau pegang erat
dengan riang.
Anak muda, kau kadang kurang
paham masalah ini. Maka mari kujelaskan. Kau tahu perubahan musim, meski di
Indonesia kita hanya punya dua musim, sering kali membuat air raksa dalam termometer
udara naik turun. Belum pernah melejit naik atau melesak turun, setidaknya di
Depok. Tapi lagi-lagi ini soal perspektif, tentang dingin dan panas.
Masalahnya, kita tidak bisa bertanya pada balon untuk tahu di suhu berapa udara
di dalamnya akan tetap bertahan.
Siapapun yang mengisi udara dalam
balonmu –hatimu, mungkin pada akhirnya harus merembes keluar dari ruang elastis
yang kau coba genggam erat. Tanpa salam jumpa, beranjak dari balonmu yang
kembung, menelusup tanpa disadari keluar lingkaran yang kau jaga. Seseorang itu
pergi, mengambil serta setangkup udara yang berusaha kau lindungi agar terjaga
tanpa gangguan. Menyisakan hatimu yang sulit mengambang di langit yang cerah.
Kau betul-betul kehilangan bentuk terbaik hatimu –balonmu, yang semestinya
dengan menawan sedang berdansa dengan angin yang tak sengaja lewat. Hatimu,
anak muda, bisa jadi kisut berkerut-kerut kehilangan rupa.
Kau namakan apa peristiwa semacam
itu?
*
Anak muda, aku banyak setuju
dengan abang kita, pengarang terkenal itu, yang berulang kali memberi petuah
tentang jatuh cinta dan patah hati, tentang rela dan ikhlas, tentang yang
terbaik untuk yang sabar menunggu, tapi aku juga mau bilang ini kisahmu. Berhak
kau namai apapun dan berhak kau carikan solusi yang terbaik. Balon kisut bukan
masalah berarti, karena udara lain akan siap menjadi penumpang balonmu yang
kosong. Kaupun boleh memilih warna karet balon, memilih senar nilon untuk kau
genggam, dan boleh memilih seberapa kuat kau akan menahan tali itu. Kau boleh
memilih dengan caramu, memperjuangkan udara di dalam balon itu agar tetap
mengisi tempat yang kau sediakan. Kau boleh memilih udara yang berhak mengisi
balonmu. Tapi kau tidak boleh membiarkan udara itu membuat balonmu meledak.
Balonmu –hatimu hanya ada satu, bukan dua apalagi tiga. Biarkanlah yang satu
itu mengembang sempurna, cantik, dan indah dalam takaran yang pas tak
berlebihan, apalagi kelepasan.
Salam,
Seorang Anak Muda
(bukan pengusaha balon)