Kamis, 27 Februari 2014

Mimpi

Ramairamai kita meramaikan mimpi yang mulai sepi dan kelelahan
Dengan menyeruput secangkir harapan yang hampir basi, kita bergegas menaburkan benihbenih kehidupan di tanah mimpi yang basah disiram hujan
Kemudian kita menunggu langit menyerahkan setengah jiwanya pada gelap;
kita kehadiran bintangbintang yang saling nyaring berdenting;
membangunkan tokohtokoh yang enggan tertidur.
Sebuah cerita dari kita berdua mengalir mengusik kehidupan yang hampir memejamkan hatinya.
Bagaimanapun tak ada yang sanggup mengusik dan mengusir kita dari mimpi yang baru saja bangun
Karena mimpi pun sebenarnya berutang budi pada kita, dan tanpa mimpi si peniat mengusik tak kan hidup.
Lalu cerita kita tetap mengalir, memenuhi, menggenangi ceruk kesepian
Perlahan seiring kita lepaskan katakata dalam gelap, cerita kita bercumbu mesra dalam kubangan rasa dan makna;
Mengalir dan menggenang terus menjadi telaga, menjadi laut, menjadi buih, menjadi garam, menjadi tiada, menjadi mimpi yang mengigit.......

Minggu, 23 Februari 2014

#EDISINORAK JANGAN DIBACA HAHAH

Ini nih yang bikin seneng dari jatuh cinta: perasaanperasaan konyol ga penting. Misal perasaan ingin ngobrol tapi ga tau yang mau diobrolin dan sebetulnya ga perlu ngobrol. Atau misal perasaan ingin sekadar nyapa, sekalipun lewat maya, cuma untuk tahu responnya. Atau misal perasaan senang saat bisa texting panjang lebar dan ga henti henti.

Norak sih. Bodo amat. It does happen to everyone I guess. Hahhhah

Sabtu, 22 Februari 2014

Gift Souvenir

Deep inside my diary.

Jumat, 21 Februari 2014

Cahaya

Tadi kita meracau lagi kepada waktu dan langit.
Menanti cahaya pulang ke rumahnya masing-masing, kita terpekur dan menarik rasa untuk disimpan sendiri,
mengolah sukma yang riuh bahagia, dan menuntunnya menjadi damai yang sederhana.

Kemudian turun gelap perlahan diiringi deru mobil, motor, dan jerit kereta, ternyata malam adalah peta bagi para cahaya.
Seperti kunang-kunang, cahaya terbang kian kemari menunggu.. menggoda...

Namun waktu sia-sia, tak tercuri. Lalu, saku  tak pernah lebih luas daripada ingatan untuk dapat digenangi oleh cahaya oleh kenangan indah ini.

Bertanya

Apakah hujan pernah bertanya ntuk apa dia jatuh?
Apakah air di selokan pernah bertanya untuk apa ia mengalir?
Apakah air laut pernah bertanya untuk apa ia bercinta dengan gelombang?
Apakah air mata pernah bertanya untuk apa ia bergulir?

Kamis, 20 Februari 2014

Masak

Harusnya jadi pie vla keju. Tapi banyak ga pake bahan di resep karena malas keluar rumah... enak ka? Entah.. hahahaha

Sahabat Tuku Jabur

Kurang lengkap apa punya keluarga baru kayak gini? Bahkan Sahabat Tuku Jabur punya tempat rahasya. Sssstttttt

Rabu, 19 Februari 2014

Belajar (?)

Kapan belajarnya kalau di kelas kerjanya gambar mulu..

Sabtu, 15 Februari 2014

Vakansi

Senang rasanya punya teman-teman yang bisa diajak pergi random, bervakansi menghelat pesta kami sendiri dengan hal-hal yang sederhana seperti udara dingin gunung, suara sepi di hutan, air terjun, perjalanan dengan bus di jalan macet, roti goreng gagal di samping air terjun.

Nanti kapankapan kita bervakansi lagi ya sahabatsahabatku!

Jumat, 14 Februari 2014

Sampaikan kehadiran

Saya ga suka orang bilang 'sabar ya..' ketika ada orang lain tertimpa musibah. Lebih baik bilang: 'saya berempati pada Anda. Saya tak bisa bilang sabar dan menasihati Anda karena saya tak tahu pasti bagaimana rasanya menjadi Anda. Tapi saya pastikan, saya ada untuk menemani Anda.'

Itu jauh.. jauh lebih menenangkan..

Kamis, 13 Februari 2014

Tak perlu jawab

Bagaimana mungkin menjemput kebahagiaanku jika yang kumiliki adalah ketiadaan dirimu?

Belum terjawab

Bagaimana mungkin membangun rumah dari angin?
Bagaimana mungkin meniti jalan di pelangi yang berkerikil, berpasir, dan bersetubuh dengan tanah becek yang liat?
Bagaimana mungkin terpuaskan haus jika yang mengalir adalah air tuba dari intisari penghianatan fan kekecewaan?
Bagaimana mungkin tertidur nyenyak dengan pedang terhunus di ubun-ubun?
Bagaimana mungkin melihat senyum dalam ruang gelap dan menyekap?
Bagaimana mungkin sekadar menjadi aku jika yang ada adalah ketiadaanmu?

Keluarga baruku: GUIM3 Titik 3

Mereka orangorang yang menghargai hal-hal sederhana. Mereka orangorang yang kebahagiaannya ada pada langit, tawa, matahari, hujan, makan siang yang dengan sambal dan nasi hangat betsama, atau bahkan pada secarik kecil kertas dengan sedikit suntikan semangat. Mereka keluarga baruku.

Selasa, 11 Februari 2014

Jawaban Panjang

Ada terlalu banyak hal yang akan keluar dari mulutku jika aku ditanya “Apa yang Kamu rindukan dari Cangkring?”. Aku mencoba menceritakan satu hal, aku mencoba mengucap jalan beton yang setiap pagi aku jejaki untuk memulai kehidupanku di Cangkring. Tapu sebuah pertanyaan melesat dalam pikiranku: “Benarkah hanya jalan beton itu yang Kamu rindukan?”. Aku mencoba mengingat-ingat, ternyata (mungkin) yang kurindukan adalah perasaanku selama meniti jalan beton itu. Tapi bukan… Atau yang kurindukan adalah suara burung dan suara jukung yang menemaniku berjalan kala pagi dan malam melintasi desa Canngkring? Bukan.. Bukan.. Bukan sekadar itu.

Aku rindu jalanan beton. Aku rindu suara jukung yang memaksaku bangun setiap pagi. Aku rindu suara burung yang suaranya merdu dank has sampai-sampai aku tak menemukannya di Depok. Aku rindu kegiatanku tuku sarapan, nasi lengko, di sebuah kedai kecil yang baunya khas, yang dapurnya selalu panas oleh wajan berisi gorengan gedang, boled, dan cireng. Aku rindu repotnya diriku berjalan melalui jalanan beton menuju sekolah: tasku kugendong di depan, tangan kananku memegang paying yang menjadi tameng, tangan kiriku membawa sarapan untuk di makan di rumah panitia, sementara mata dan bibirku siaga untuk memberikan sapaan hangat pada setiap tetangga yang aku lalui rumahnya. Aku rindu berteriak “ASSALAMUALAIKUM!” dan dengan kesal beberapa panitia yang masih tertidur bergerak tanda protes. Aku rindu perjalanan ke sekolah bersama anak-anak, dari rumahnya yang doyong Indah, murid kelas 1, akan berteriak: “Ibu Dinia!”, sementara aku akan menjawab sambil berusaha hati-hati menyebrangi jembatan yang licin dengan tas dan payungku yang membuatku seperti akan berperang. Aku rindu sapaan hangat anak-anak. Dengan semangat mereka berteriak dari masing-masing kelasnya menyambutku keluar dari gang Ibu Diniaa!!!”. Terutama anak-anakku yang berteriak semangat dari kelas kami, kelas dua yang berada di ujung. Aku rindu membuat lingkaran besar bersama anak-anak dan dengan spontan mereka berebut untuk memegang tanganku. Aku rindu anakku, Paska, yang selalu memainkan bulu kakiku ketika kami duduk di lantai. Aku rindu anakku, Uus, yang selalu berusaha berbahasa Indonesia meskipun terasa sulit baginya. Aku rindu baris-berbaris di depan kelas setiap akan masuk kelas. Aku rindu lagu Tepuk jari satu tu tu… untuk memulai berdoa. Aku rindu mereka secara serentak membunyikan meja dengan posisi tangan dilipat rapi “Slamat pagi ibu guru duduk yang rapi…Brak!”. Aku rindu wir yang wis bersama anak-anakku. Aku rindu anak-anakku yang dengan sabar menungguku merapikan buku ke dalam tas  sekadar untuk pulang bersamaku. Aku rindu berjalan beriringan bersama mereka. Aku rindu mereka bilang “Laper Bu… Asoo..”. Aku rindu pulang ke rumah panitia dan disambut lantai traso yang jelek tetapi selalu memberikan kesejukan. Aku rindu rasa lelah yang menyenangkan setelah mengajar anak-anak. Aku rindu masak bersama Amey, kemudian makan bersama panitia. Aku rindu kawanku ibu Ummu. Aku rindu bau amis pelelangan ikan di rumahku. Aku rindu kebohongan aku dan teman-teman yang sengaja menumpang solat dan pipis di rumah Devina agar kami bisa ditawari makan siang yang enak. Aku rindu nongkorng bareng di warung indah yang kami sebut cafĂ©. Aku rindu makan cireng, endog-endogan, boled,  dan goreng gedang di warung itu. Aku rindu anak-anak yang Cangkring yang luar biasa hebat. Aku bahkan rindu bagaimana air kali yang coklat bergoyang-goyang ketika jukung lewat. Aku rindu… Aku rindu… Aku rindu kehidupanku di Cangkring.

Ah, maaf pertanyaanmu yang sederhana kulanjutkan dengan jawaban yang panjang.


“Kita lama sih di Cangkring. Coba Cuma satu atau dua minggu pasti ga segini sedih..” -Anon