Ada terlalu banyak hal yang akan
keluar dari mulutku jika aku ditanya “Apa
yang Kamu rindukan dari Cangkring?”. Aku mencoba menceritakan satu hal, aku
mencoba mengucap jalan beton yang setiap pagi aku jejaki untuk memulai
kehidupanku di Cangkring. Tapu sebuah pertanyaan melesat dalam pikiranku: “Benarkah hanya jalan beton itu yang Kamu
rindukan?”. Aku mencoba mengingat-ingat, ternyata (mungkin) yang kurindukan
adalah perasaanku selama meniti jalan beton itu. Tapi bukan… Atau yang kurindukan adalah suara burung dan
suara jukung yang menemaniku berjalan kala pagi dan malam melintasi desa
Canngkring? Bukan.. Bukan.. Bukan sekadar itu.
Aku rindu jalanan beton. Aku
rindu suara jukung yang memaksaku
bangun setiap pagi. Aku rindu suara burung yang suaranya merdu dank has
sampai-sampai aku tak menemukannya di Depok. Aku rindu kegiatanku tuku sarapan, nasi lengko, di sebuah
kedai kecil yang baunya khas, yang dapurnya selalu panas oleh wajan berisi
gorengan gedang, boled, dan cireng. Aku
rindu repotnya diriku berjalan melalui jalanan beton menuju sekolah: tasku
kugendong di depan, tangan kananku memegang paying yang menjadi tameng, tangan
kiriku membawa sarapan untuk di makan di rumah panitia, sementara mata dan
bibirku siaga untuk memberikan sapaan hangat pada setiap tetangga yang aku
lalui rumahnya. Aku rindu berteriak “ASSALAMUALAIKUM!”
dan dengan kesal beberapa panitia yang masih tertidur bergerak tanda protes.
Aku rindu perjalanan ke sekolah bersama anak-anak, dari rumahnya yang doyong
Indah, murid kelas 1, akan berteriak: “Ibu Dinia!”, sementara aku akan menjawab
sambil berusaha hati-hati menyebrangi jembatan yang licin dengan tas dan
payungku yang membuatku seperti akan berperang. Aku rindu sapaan hangat
anak-anak. Dengan semangat mereka berteriak dari masing-masing kelasnya
menyambutku keluar dari gang “Ibu
Diniaa!!!”. Terutama anak-anakku yang
berteriak semangat dari kelas kami, kelas dua yang berada di ujung. Aku rindu
membuat lingkaran besar bersama anak-anak dan dengan spontan mereka berebut
untuk memegang tanganku. Aku rindu anakku, Paska, yang selalu memainkan bulu
kakiku ketika kami duduk di lantai. Aku rindu anakku, Uus, yang selalu berusaha
berbahasa Indonesia meskipun terasa sulit baginya. Aku rindu baris-berbaris di
depan kelas setiap akan masuk kelas. Aku rindu lagu Tepuk jari satu tu tu… untuk memulai berdoa. Aku rindu mereka
secara serentak membunyikan meja dengan posisi tangan dilipat rapi “Slamat pagi ibu guru duduk yang rapi…Brak!”.
Aku rindu wir yang wis bersama
anak-anakku. Aku rindu anak-anakku yang dengan sabar menungguku merapikan buku
ke dalam tas sekadar untuk pulang
bersamaku. Aku rindu berjalan beriringan bersama mereka. Aku rindu mereka
bilang “Laper Bu… Asoo..”. Aku rindu
pulang ke rumah panitia dan disambut lantai traso yang jelek tetapi selalu
memberikan kesejukan. Aku rindu rasa lelah yang menyenangkan setelah mengajar
anak-anak. Aku rindu masak bersama Amey, kemudian makan bersama panitia. Aku
rindu kawanku ibu Ummu. Aku rindu bau amis pelelangan ikan di rumahku. Aku
rindu kebohongan aku dan teman-teman yang sengaja menumpang solat dan pipis di
rumah Devina agar kami bisa ditawari makan siang yang enak. Aku rindu nongkorng bareng di warung indah yang
kami sebut café. Aku rindu makan cireng, endog-endogan, boled, dan goreng gedang
di warung itu. Aku rindu anak-anak yang Cangkring yang luar biasa hebat. Aku
bahkan rindu bagaimana air kali yang coklat bergoyang-goyang ketika jukung lewat. Aku rindu… Aku rindu… Aku
rindu kehidupanku di Cangkring.
Ah, maaf pertanyaanmu yang
sederhana kulanjutkan dengan jawaban yang panjang.
“Kita lama sih di Cangkring. Coba Cuma satu atau dua minggu pasti ga segini
sedih..” -Anon