Selasa, 11 Februari 2014

Jawaban Panjang

Ada terlalu banyak hal yang akan keluar dari mulutku jika aku ditanya “Apa yang Kamu rindukan dari Cangkring?”. Aku mencoba menceritakan satu hal, aku mencoba mengucap jalan beton yang setiap pagi aku jejaki untuk memulai kehidupanku di Cangkring. Tapu sebuah pertanyaan melesat dalam pikiranku: “Benarkah hanya jalan beton itu yang Kamu rindukan?”. Aku mencoba mengingat-ingat, ternyata (mungkin) yang kurindukan adalah perasaanku selama meniti jalan beton itu. Tapi bukan… Atau yang kurindukan adalah suara burung dan suara jukung yang menemaniku berjalan kala pagi dan malam melintasi desa Canngkring? Bukan.. Bukan.. Bukan sekadar itu.

Aku rindu jalanan beton. Aku rindu suara jukung yang memaksaku bangun setiap pagi. Aku rindu suara burung yang suaranya merdu dank has sampai-sampai aku tak menemukannya di Depok. Aku rindu kegiatanku tuku sarapan, nasi lengko, di sebuah kedai kecil yang baunya khas, yang dapurnya selalu panas oleh wajan berisi gorengan gedang, boled, dan cireng. Aku rindu repotnya diriku berjalan melalui jalanan beton menuju sekolah: tasku kugendong di depan, tangan kananku memegang paying yang menjadi tameng, tangan kiriku membawa sarapan untuk di makan di rumah panitia, sementara mata dan bibirku siaga untuk memberikan sapaan hangat pada setiap tetangga yang aku lalui rumahnya. Aku rindu berteriak “ASSALAMUALAIKUM!” dan dengan kesal beberapa panitia yang masih tertidur bergerak tanda protes. Aku rindu perjalanan ke sekolah bersama anak-anak, dari rumahnya yang doyong Indah, murid kelas 1, akan berteriak: “Ibu Dinia!”, sementara aku akan menjawab sambil berusaha hati-hati menyebrangi jembatan yang licin dengan tas dan payungku yang membuatku seperti akan berperang. Aku rindu sapaan hangat anak-anak. Dengan semangat mereka berteriak dari masing-masing kelasnya menyambutku keluar dari gang Ibu Diniaa!!!”. Terutama anak-anakku yang berteriak semangat dari kelas kami, kelas dua yang berada di ujung. Aku rindu membuat lingkaran besar bersama anak-anak dan dengan spontan mereka berebut untuk memegang tanganku. Aku rindu anakku, Paska, yang selalu memainkan bulu kakiku ketika kami duduk di lantai. Aku rindu anakku, Uus, yang selalu berusaha berbahasa Indonesia meskipun terasa sulit baginya. Aku rindu baris-berbaris di depan kelas setiap akan masuk kelas. Aku rindu lagu Tepuk jari satu tu tu… untuk memulai berdoa. Aku rindu mereka secara serentak membunyikan meja dengan posisi tangan dilipat rapi “Slamat pagi ibu guru duduk yang rapi…Brak!”. Aku rindu wir yang wis bersama anak-anakku. Aku rindu anak-anakku yang dengan sabar menungguku merapikan buku ke dalam tas  sekadar untuk pulang bersamaku. Aku rindu berjalan beriringan bersama mereka. Aku rindu mereka bilang “Laper Bu… Asoo..”. Aku rindu pulang ke rumah panitia dan disambut lantai traso yang jelek tetapi selalu memberikan kesejukan. Aku rindu rasa lelah yang menyenangkan setelah mengajar anak-anak. Aku rindu masak bersama Amey, kemudian makan bersama panitia. Aku rindu kawanku ibu Ummu. Aku rindu bau amis pelelangan ikan di rumahku. Aku rindu kebohongan aku dan teman-teman yang sengaja menumpang solat dan pipis di rumah Devina agar kami bisa ditawari makan siang yang enak. Aku rindu nongkorng bareng di warung indah yang kami sebut café. Aku rindu makan cireng, endog-endogan, boled,  dan goreng gedang di warung itu. Aku rindu anak-anak yang Cangkring yang luar biasa hebat. Aku bahkan rindu bagaimana air kali yang coklat bergoyang-goyang ketika jukung lewat. Aku rindu… Aku rindu… Aku rindu kehidupanku di Cangkring.

Ah, maaf pertanyaanmu yang sederhana kulanjutkan dengan jawaban yang panjang.


“Kita lama sih di Cangkring. Coba Cuma satu atau dua minggu pasti ga segini sedih..” -Anon