Senin, 24 Desember 2012
hari ibu
terlalu munafik kalau bilang tak perlu hari ibu karena hari ibu adalah tiap hari. aku manusia tempatnya alpa, dan lalai. urusanku banyak dan terkadang mengesampingkan mamaku. aku butuh waktu menarik diri, merefleksi hubunganku dengan mama. aku butuh hari ibu karena aku cuma manusia biasa yang butuh diingatkan dan titik untuk kembali.
Minggu, 09 Desember 2012
In Your Own Time - Iron And Wine
In your own time
you'll dream something evil
sing like an old crow
and worship the land
Don't be scared
if I walk with the devil
come down the mountain
and ask for your hand
'Cause we only want a life
that's well worth living
and sleeping's
no kind of life at all
Come meet the family
and sit by the fire
someone will catch you
if you want to fall
In your own time
you'll dance in the moonlight
smoke like a freight train
and fuck like a dog
Don't be scared
if I tell you I love you
I'll be good to you
then I'll be gone
'Cause we only want a life
that's well worth living
and sleeping
ain't no kind of life at all
Come meet the family
get warm by the fire
someone will catch you
if you want to fall
More lyrics: http://www.lyricsmania.com/in_your_own_time_lyrics_iron_and_wine_1.html
All about Iron And+Wine+1: http://www.musictory.com/music/Iron+And+Wine+1
you'll dream something evil
sing like an old crow
and worship the land
Don't be scared
if I walk with the devil
come down the mountain
and ask for your hand
'Cause we only want a life
that's well worth living
and sleeping's
no kind of life at all
Come meet the family
and sit by the fire
someone will catch you
if you want to fall
In your own time
you'll dance in the moonlight
smoke like a freight train
and fuck like a dog
Don't be scared
if I tell you I love you
I'll be good to you
then I'll be gone
'Cause we only want a life
that's well worth living
and sleeping
ain't no kind of life at all
Come meet the family
get warm by the fire
someone will catch you
if you want to fall
More lyrics: http://www.lyricsmania.com/in_your_own_time_lyrics_iron_and_wine_1.html
All about Iron And+Wine+1: http://www.musictory.com/music/Iron+And+Wine+1
Sabtu, 08 Desember 2012
Seni Menonton Pertandingan Olimpiade UI
Dalam cakupan pertandingan olah raga antarnegara, , antarsekolah, antarwilayah, dan sebagainya tentunya terdapat perbedaan bagaimana setiap supporter dari masing-masing tim mengekspresikan dukungannya. Saat pertandingan bulu tangkis skala internasional yang mempertemukan atlet Indonesia dengan atlet negara lain, supporter Indonesia selalu tampil heboh. Heboh dengan yel-yel, nyanyian, hingga kostum yang semuanya ditujukan untuk mendukung atlet Indonesia. Yang tak kalah heboh adalah supporter tim di pertandingan bola, baik skala nasional, internasional, bahkan sekadar skala kampung. Saya sendiri di sini tergelitik untuk menulis tentang supporter di berbagai pertandingan olah raga pada event Olimpiade UI.
Olimpiade UI, ajang tahunan yang mempertaruhkan gengsi jurusan dalam berbagai jenis pertandingan olah raga. Sebagai event yang mempertaruhkan gengsi jurusan, supporter yang turun di berbagai pertandingan bukan sekadar sebagai penyemangat para atlet, melainkan sebagai unjuk kekompakkan fakultas. Seru memang. Terlebih jika sudah adu supporter di lapangan.
Yang menjadi khas dari supporter setiap fakultas adalah supporter fakultas A menghina fakultas B, pun sebaliknya. Kata-kata kotor meluncur, ejekan tanpa henti, bahkan sampai menuduh-nuduh. Apakah ini sebuah masalah? Saya rasa bukan, justru di situ nilai istimewa pertandingan Olimpiade UI. Tentunya tidak semua supporter melakukan hal yang seperti saya sebutkan.
Menurut hemat saya, seni menonton pertandingan olimpiade UI menurut saya justru terletak dari ejek-mengejek antarsupporter fakultas. Yang pada akhirnya akan berujung pada damai setelah pertandingan.
Olimpiade UI, ajang tahunan yang mempertaruhkan gengsi jurusan dalam berbagai jenis pertandingan olah raga. Sebagai event yang mempertaruhkan gengsi jurusan, supporter yang turun di berbagai pertandingan bukan sekadar sebagai penyemangat para atlet, melainkan sebagai unjuk kekompakkan fakultas. Seru memang. Terlebih jika sudah adu supporter di lapangan.
Yang menjadi khas dari supporter setiap fakultas adalah supporter fakultas A menghina fakultas B, pun sebaliknya. Kata-kata kotor meluncur, ejekan tanpa henti, bahkan sampai menuduh-nuduh. Apakah ini sebuah masalah? Saya rasa bukan, justru di situ nilai istimewa pertandingan Olimpiade UI. Tentunya tidak semua supporter melakukan hal yang seperti saya sebutkan.
Menurut hemat saya, seni menonton pertandingan olimpiade UI menurut saya justru terletak dari ejek-mengejek antarsupporter fakultas. Yang pada akhirnya akan berujung pada damai setelah pertandingan.
Selasa, 04 Desember 2012
Senin, 03 Desember 2012
Minggu, 02 Desember 2012
You
Dearest friend,
May be you'll read this post when you accidentally go to this pathetic blog. How's life? As you wish, I hope you're life's gonna be super great. I was just about to reply your last e-mail, when our good bye finally arrived. God will let us meet again someday :)
May be you'll read this post when you accidentally go to this pathetic blog. How's life? As you wish, I hope you're life's gonna be super great. I was just about to reply your last e-mail, when our good bye finally arrived. God will let us meet again someday :)
Interpretasi "Di Restoran" karya SDD
Kita berdua saja, dudukSaya masih belajar untuk menganalisis teks sastra, tapi untuk interpretasi teks sastra saya rasa siapa pun bisa melakukannya.
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput
kau entah memesan apa
Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras
kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk
Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya
memesan rasa lapar yang asing itu.
Saya tertarik untuk menulis interpretasi dari puisi "Di Restoran" karya Pak Sapardi, setalah berulang kali mendengarkan musikalisasi puisi ini.
Menurut hemat saya suasana yang dibangun dalam puisi ini begitu intim. Dalam bayangan saya ini merupakan monolog dari kondisi yang di dalamnya terdapat si "Aku" dan si "Kau". Monolog ini disampaikan sebagai ekspresi dari si "Aku".
Puisi ini menurut saya, menekankan pada kata "Aku memesan..." yang kemudian dilanjutkan dengan pesanan-pesanan yang tidak lazim : ilalang panjang, bunga rumput, batu di tengah sungai terjal yang deras, rasa sakit, rasa lapar.
"Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput."
"Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras."
"Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengikingnya
memesan rasa lapar yang asing itu."
"Aku memesan" menunjukkan sebuah kesadaran si "Aku" dalam pilihan. Jadi sekalipun apa yang si "Aku" pesan adalah rasa sakit, itu merupakan sebuah pilihan yang disadarinya bukan sebuah dorongan dari lingkungan luar. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam:
"Kau entah memesan apa." yang menunjukkan bahwa segala pilihan si "Aku" merupakan pilihan tunggal tanpa peran dari si "Kau", karena si "Aku" pun tidak tahu apa yang menjadi pilihan si "Ka
Suasana intim yang terbangun di dalam puisi ini ditegaskan dengan
"Kita berdua saja."
Hal tersebut menggambarkan bahwa apa yang dihadapi adalah hal yang berhubungan antara si "Aku" dan si "Kau", meskipun dalam hal pilihan si "Aku" memilih hal-hal tanpa campur tangan dari si "Kau".
Terakhir, pemilihan judul "Di Restoran" merupakan representasi dari hidup. Bahwa hidup bukan hanya tentang pilihan-pilihan yang menyenangkan hati, tetapi juga pilihan yang bisa jadi adalah hal-hal yang menyakitkan.
Apa yang bisa dibicarakan dari gerimis yang turun sore ini?
Apa yang bisa diceritakan dari langit malam tanpa bulan ataupun bintang?
Kepada siapa harus saya layangkan protesku tentang ini semua.
Andai memang semua itu wajar, tidak bagi saya.
Hujan memang sekadar air,
dan malam memanglah runtutan ceirta tentang gelap.
Tapi bukankah masih ada yang harus dibicarakan?
Seperti pembicaraan tentang bulan yang hadir terlambat di langit pagi dan tersingkir oleh matahari tanpa warna di tanpa ufuk
29/11
Apa yang bisa diceritakan dari langit malam tanpa bulan ataupun bintang?
Kepada siapa harus saya layangkan protesku tentang ini semua.
Andai memang semua itu wajar, tidak bagi saya.
Hujan memang sekadar air,
dan malam memanglah runtutan ceirta tentang gelap.
Tapi bukankah masih ada yang harus dibicarakan?
Seperti pembicaraan tentang bulan yang hadir terlambat di langit pagi dan tersingkir oleh matahari tanpa warna di tanpa ufuk
29/11
Jumat, 23 November 2012
mata hari di akhir tahun
Matahari di akhir tahun,
berlari kencang, peluh mengucur, aku bersembunyi di balik awan.
Matahari di akhir tahun,
sebagai aku yang undur diri dari percakapan alam raya.
Matahari bukan api di tungku, atau bunganya yang menari dan menjilat, melumat kayu, menjelma abu dan asap, serta hangat bagi orang-orang di ruanng tengah.
Ia sedang tertidur, dan aku dilindunginya dari hujan dan angin kencang yang belum mengantuk.
19/11
berlari kencang, peluh mengucur, aku bersembunyi di balik awan.
Matahari di akhir tahun,
sebagai aku yang undur diri dari percakapan alam raya.
Matahari bukan api di tungku, atau bunganya yang menari dan menjilat, melumat kayu, menjelma abu dan asap, serta hangat bagi orang-orang di ruanng tengah.
Ia sedang tertidur, dan aku dilindunginya dari hujan dan angin kencang yang belum mengantuk.
19/11
Hujan
Hujan, hujan bulan November
tidak semenarik hujan bulan Juni karya pak Sapardi
November memang jatahnya hujan,
jatahnya pohon-pohon disiram air,
jatahnya awan-awan menangis,
jatahnya matahari menutup mata dari hari.
Kenapa memang dengan hujan bulan November?
Tidak ada yang salah,
kecuali aku yang selalu gagal untuk menghindarinya.
19/11
tidak semenarik hujan bulan Juni karya pak Sapardi
November memang jatahnya hujan,
jatahnya pohon-pohon disiram air,
jatahnya awan-awan menangis,
jatahnya matahari menutup mata dari hari.
Kenapa memang dengan hujan bulan November?
Tidak ada yang salah,
kecuali aku yang selalu gagal untuk menghindarinya.
19/11
Minggu, 18 November 2012
Peliharaanku: TV
Kotak berkaca cembung dengan jutaan dunia di dalamnya. Yang dijual adalah mimpi-mimpi tentang kehidupan yang tak mau berkerabat dengan realita hidupku. Kemarin kulihat Jakarta yang berisi pertunjukan di mall mewah, ditayangkan di tv. Aku kemudian bertanya: “Loh Jakartamu kok beda dengan Jakarta ku?”
Kemudian juga menjual anak-anak kecil yang kadang masih belum dapat membedakan angka-angka.
Mereka justru lebih ahli membedakan yang mana cherry bell yang mana seven icon. Mereka lebih hapal yang mana yang suju yang mana yang shinee. Ada lagi remaja yanggung yang jejingkrakkan di panggung sempit, berkelir tebal mukanya, dan tangannya menggenggam mikrofon yang kebesaran di tangan mungilnya. Haha. Ia, mereka bukan penyanyi. Tetapi peniru gerak lagu. GAGAL!
Ke mana mereka memangnya pagi-pagi begini? Dari jam berapa mereka di make up? Mereka tidak bersekolah atau bolos sekolah? Aku bingung, apa perasaan orang tua mereka. Seharusnya mereka malu toh, anak remaja begitu, anak kecil begitu sudah disulap jadi tante-tante dan menghibur dengan jualan gerak badan mereka yang tidak menggoda. Kenapa sih dunia begitu berpura-pura? Bahkan semakin hari semakin banyak anak-anak yang dijual tanpa merasa terjual. Siapa yang tertipu? Siapa yang menipu?
Pagi hari seharusnya otak bekerja lancar. Memandang hari baru dan menyongsongnya dengan sebuah semangat. Bagaimana mau semangat kalau jam 6 pagi sudah disajikan lagu <<patah hati>>. Tentunya penonton yang tadinya tidak patah hati bisa terbawa haru biru.
Anak kecil, remaja tanggung, orang dewasa menjual hiburan palsu yang tidak menghibur. Mereka justru senang terbuai dalam kata-kata yang diiringi musik. Coba kapan-kapan kau baca lirik para boy band dan girl band itu tanpa iringan musik. Akan menggelikan membacanya! HAHA. Kemudian lirik menggelikan itu dijadikan diktat baru oleh anak-anak sd yang seharusnya masih boleh berkhayal. Berkhayal tentang sebuah negeri di balik awan, tentang dunia semut, tentang nenek sihir, tentang kelinci dan wortel, bukan melulu berkhayal tentang jatuh cinta, sakit hati, dan kehilangan pacar. Cih! Benci benar aku mendengar yang seperti ini.
Baiklah, kalau memang tidak bisa diubah, dan orang-orang memang senang ditipu dan menipu, aku cuma bisa bilang begini: “SELAMAT DATANG GENERASI PATAH HATI! SELAMAT DATANG ANAKKECIL YANG PATAH HATI!” hahah
Selasa, 06 November 2012
Rehat
Tadi ketika pulang dari kampus jalanan macet sekali. Saya pikir ada kecelakaan atau apa, tahunya sebuah pohon besar tumbang disambar petir sore ini. Posisinya melintang di jalan, ditambah sebuah mobil pemadam kebakaran yang memang sengaja diparkir melintang.
Hampir satu setengah jam waktu yang saya perlukan untuk sampai ke rumah, padahal biasanya 30-45 menit juga cukup.
Karena lapar, saya memutuskan untuk makan di warung tenda pinggir jalan. Ada dua pilihan menu; soto dan pecel. Entah kenapa saya lebih memilih pecel (padahal saat itu hawa sedang dingin). Saya agak sedikit menyesal, tapi pecelnya cukup enak.
Saya makan santai saja dekat sekali dengan pohon yang tumbang.
Sedang saya makan, motor dengan rakusnya melahap hampir seluruh bagian jalan raya. Padahal jelas sekali dari arah kiri dan kanan pun tak ada yang akan bisa melanjutkan perjalanannya. Jalanan tertutup pohon yang tumbang.
Lalu saya lihat banyak sekali orang berjalan kaki. Mereka semua memutuskan untuk jalan kaki ketimbang duduk dalam mobil menunggu bangkai pohon itu dibereskan petugas. Pemandangan orang berjalan kaki dalam keadaan gelap tersebut cukup memesona saya.
Alangkah asing jalan beraspal yang biasa digilas ban, berganti diinjak kaki-kaki manusia yang berjalan bebas, tanpa takut-takut tertabrak. Saya sih tahu mereka pasti lelah dan kesal perjalanannya terganggu. Tho saya perhatikan tidak ada yang benar-benar menunjukkan muka bencinya. Sepertinya beberapa justru menikmati, tanpa bermaksud meminta kejadian seperti ini berulang.
Alangkah unik cara si pohon untuk menunjukkan keberadaannya. Bagi saya mungkin tumbangnya si pohon bisa jadi memang sebuah cara untuk mengingatkan keberadaannya di pinggir jalan itu. Mungkin juga saya salah.
Pecel yang saya makan agak kurang menyenangkan karena hanya berisi bayam, dan kacang panjang. Tapi tempenya lumayan enak, dan tetap saja saya iri dengan pilihan soto yang dimakan oleh pengunjung di depan saya.
Mungkin ini namanya rehat, sebentar. Hanya sekadar untuk duduk, menarik diri dari kemungkinan yang sudah terrencana, dan menikmati kejutan kecil. Terima kasih pohon tumbang, dan yang telah menumbangkannya.
Depok
1:04
Hampir satu setengah jam waktu yang saya perlukan untuk sampai ke rumah, padahal biasanya 30-45 menit juga cukup.
Karena lapar, saya memutuskan untuk makan di warung tenda pinggir jalan. Ada dua pilihan menu; soto dan pecel. Entah kenapa saya lebih memilih pecel (padahal saat itu hawa sedang dingin). Saya agak sedikit menyesal, tapi pecelnya cukup enak.
Saya makan santai saja dekat sekali dengan pohon yang tumbang.
Sedang saya makan, motor dengan rakusnya melahap hampir seluruh bagian jalan raya. Padahal jelas sekali dari arah kiri dan kanan pun tak ada yang akan bisa melanjutkan perjalanannya. Jalanan tertutup pohon yang tumbang.
Lalu saya lihat banyak sekali orang berjalan kaki. Mereka semua memutuskan untuk jalan kaki ketimbang duduk dalam mobil menunggu bangkai pohon itu dibereskan petugas. Pemandangan orang berjalan kaki dalam keadaan gelap tersebut cukup memesona saya.
Alangkah asing jalan beraspal yang biasa digilas ban, berganti diinjak kaki-kaki manusia yang berjalan bebas, tanpa takut-takut tertabrak. Saya sih tahu mereka pasti lelah dan kesal perjalanannya terganggu. Tho saya perhatikan tidak ada yang benar-benar menunjukkan muka bencinya. Sepertinya beberapa justru menikmati, tanpa bermaksud meminta kejadian seperti ini berulang.
Alangkah unik cara si pohon untuk menunjukkan keberadaannya. Bagi saya mungkin tumbangnya si pohon bisa jadi memang sebuah cara untuk mengingatkan keberadaannya di pinggir jalan itu. Mungkin juga saya salah.
Pecel yang saya makan agak kurang menyenangkan karena hanya berisi bayam, dan kacang panjang. Tapi tempenya lumayan enak, dan tetap saja saya iri dengan pilihan soto yang dimakan oleh pengunjung di depan saya.
Mungkin ini namanya rehat, sebentar. Hanya sekadar untuk duduk, menarik diri dari kemungkinan yang sudah terrencana, dan menikmati kejutan kecil. Terima kasih pohon tumbang, dan yang telah menumbangkannya.
Depok
1:04
Rabu, 10 Oktober 2012
Gelas Tiga Warna
Gelas tiga warna, nyangkut di atas pohon, jadi berwarna hijau
Ketika pohon kering, jadi bermotif langit
Gelas tiga warna jadi tujuh warna ketika habis hujan
pelangi nyangkut di badan gelas
Gelas tiga warna jadi hilang ketika dimasukkan dalam kamar gelap
Gelas tiga warna dibuat untuk menampung perasaan yang hampir pecah
dan gelas tiga warna cuma jadi beling tajam ketika jatuh dari atas jembatan kayu.
10 Oktober 2012
Ketika pohon kering, jadi bermotif langit
Gelas tiga warna jadi tujuh warna ketika habis hujan
pelangi nyangkut di badan gelas
Gelas tiga warna jadi hilang ketika dimasukkan dalam kamar gelap
Gelas tiga warna dibuat untuk menampung perasaan yang hampir pecah
dan gelas tiga warna cuma jadi beling tajam ketika jatuh dari atas jembatan kayu.
10 Oktober 2012
Senin, 24 September 2012
Sabtu, 25 Agustus 2012
Sajak Kemudian
Kemudian istana menjadi rumah yang kesepian.
Bahkan burung walet ogah mampir untuk buang kotoran.
Tikus melengos menggotong anak-anaknya
Kemudian sebuah pohon tumbang dan membuka kayu dalamnya
Keropos, dan rapuh
Belatung marah tidurnya nyenyak diganggu
Kemudian langit jadi tanah yang tidak dipijak
Tandus, kering, tanpa bintang atau awan atau bulan atau matahari
Burung walet mematahkan sayapnya karena bosan terbang
Depok, 25 Agustus 2012
Bahkan burung walet ogah mampir untuk buang kotoran.
Tikus melengos menggotong anak-anaknya
Kemudian sebuah pohon tumbang dan membuka kayu dalamnya
Keropos, dan rapuh
Belatung marah tidurnya nyenyak diganggu
Kemudian langit jadi tanah yang tidak dipijak
Tandus, kering, tanpa bintang atau awan atau bulan atau matahari
Burung walet mematahkan sayapnya karena bosan terbang
Depok, 25 Agustus 2012
Minggu, 05 Agustus 2012
Sajak Tanya 3
Terjadi pembunuhan
Sorang perempuan ditembak kepalanya
Dar!
Polisi bingung
Cuma ada tanya berhamburan
Sajak Tanya 2
Dua sendok tanya sisa makan malam dan pagi
disisihkan hendak dibagi ke kucing
Tanpa kata kucing melengos
mengeong pergi
Depok
disisihkan hendak dibagi ke kucing
Tanpa kata kucing melengos
mengeong pergi
Depok
Sajak Tanya 1
Ada tiga gelas tanya dihidang untuk sarapan
Yang satu dicampur wine: tidak enak
Yang satu dicampur jus jeruk: asam!
Yang terakhir dicampur jawaban: enak, melegakan hati
Depok
Yang satu dicampur wine: tidak enak
Yang satu dicampur jus jeruk: asam!
Yang terakhir dicampur jawaban: enak, melegakan hati
Depok
Rabu, 01 Agustus 2012
Selasa, 24 Juli 2012
Saya dan Kamu
Tuhan tidak salah memilih.
saya dan kamu pasir dari pantai berbeda
terbawa arus pada samudera luas
dan tak pernah bertemu karena samudera betul-betul luas
saya dan kamu pasir dari pantai berbeda
terbawa arus pada samudera luas
dan tak pernah bertemu karena samudera betul-betul luas
Jumat, 20 Juli 2012
Rabu, 18 Juli 2012
Kitin
Hari ini saya akan menulis tentang salah satu teman baik saya. Namanya Christina Febriani Lautsan Fernandes, beken dengan nama "Kitin". Kenapa harus Kitin? Karena saya dipastikan tidak akan bertemu dan berkomunikasi sama sekali dengan dia sampai satu tahun ke depan.
Kitin teman saya dari SMP. Kala itu kami tidak terlalu dekat, tetapi dengan sifatnya yang supel dan heboh dia selalu menjadi kenalan masa SMP saya. Kemudian kami masuk ke SMA yang sama. Pada saat inilah kami menjadi agak lebih dekat. Dari SMP kami yang masuk SMA 39 kebetulan hanya belasan orang, dan kebetulan beberapa dari mereka cukup dekat dengan saya.
Dua tahun terakhir masa SMA kami berada di kelas yang sama karena memang tidak ada pengacakan kelas pada kenaikan dari kelas XI ke kelas XII. Kami pun berada pada barisan yang sama. Saya, Kitin, Tara, Tita, Mpok, Genta, Ade, Irma. Makin lama makin dekat, dan makin seru.
Seiring berjalan waktu, kami semua berkuliah kecuali Kitin. Dari SMP Kitin memang selalu ingin masuk kepolisian supaya jadi polwan. Ternyata tahun pertama setelah lulus SMA, Kitin gagal jadi polwan. Tahun ini dia coba daftar kowal. Tahu kowal apa? Korps Wanita Angkatan Laut.
Untuk ini Kitin berusaha abis-abisan. Dia jogging tengah hari bolong pake jaket parasut, suntik varises, berenang, lalalala. Banyak banget yang dia lakukan supaya bisa diterima. Setelah lolos tes wilayah Jakarta, Kitin berangkat tanggal 3 Juli kemarin ke Malang untuk tes selama dua minggu. Hari ini ternyata pengumuman dari tes selama dua minggu itu, dan Kitin lolos.
Konsekuensinya adalah Kitin akan masuk asrama untuk pendidikan lanjutan selama (kurang-lebih) 5 bulan di Surabaya. Tanpa komunikasi sama sekali. Tetapi bukan hanya lima bulan, karena setelah pendidikan Kitin bakal terus di Surabaya hingga total waktu satu tahun. Hmm.. kebayang ya segitu lama tanpa komunikasi.
---------
Kitins manusia usil, bokep, dan selalu menyapa mama saya dengan baik hati setiap ketemu. Meski jarang ketemu sama mama saya, tapi setiap ketemu selalu seperti kenal lama. Kitin, kitin....
-------------
Ingat-ingat kenyataan ini, ternyata memang masa SMA itu udah lama sekali ya. Dan memori, kenangan itu masih ada di kepala saya. Ternyata kenangan cuma sesuatu yang terperangkap di kepala saya, dan kenyataannya semua sudah jauh, pergi, berkembang.
Kitin, satu dari teman baik saya. Selamat berjuang! Jangan berubah ya, tetep bokep, heboh, dan ga tau malu. Akan sangat rindu sama lo! :"*
Kitin teman saya dari SMP. Kala itu kami tidak terlalu dekat, tetapi dengan sifatnya yang supel dan heboh dia selalu menjadi kenalan masa SMP saya. Kemudian kami masuk ke SMA yang sama. Pada saat inilah kami menjadi agak lebih dekat. Dari SMP kami yang masuk SMA 39 kebetulan hanya belasan orang, dan kebetulan beberapa dari mereka cukup dekat dengan saya.
Dua tahun terakhir masa SMA kami berada di kelas yang sama karena memang tidak ada pengacakan kelas pada kenaikan dari kelas XI ke kelas XII. Kami pun berada pada barisan yang sama. Saya, Kitin, Tara, Tita, Mpok, Genta, Ade, Irma. Makin lama makin dekat, dan makin seru.
Seiring berjalan waktu, kami semua berkuliah kecuali Kitin. Dari SMP Kitin memang selalu ingin masuk kepolisian supaya jadi polwan. Ternyata tahun pertama setelah lulus SMA, Kitin gagal jadi polwan. Tahun ini dia coba daftar kowal. Tahu kowal apa? Korps Wanita Angkatan Laut.
Untuk ini Kitin berusaha abis-abisan. Dia jogging tengah hari bolong pake jaket parasut, suntik varises, berenang, lalalala. Banyak banget yang dia lakukan supaya bisa diterima. Setelah lolos tes wilayah Jakarta, Kitin berangkat tanggal 3 Juli kemarin ke Malang untuk tes selama dua minggu. Hari ini ternyata pengumuman dari tes selama dua minggu itu, dan Kitin lolos.
Konsekuensinya adalah Kitin akan masuk asrama untuk pendidikan lanjutan selama (kurang-lebih) 5 bulan di Surabaya. Tanpa komunikasi sama sekali. Tetapi bukan hanya lima bulan, karena setelah pendidikan Kitin bakal terus di Surabaya hingga total waktu satu tahun. Hmm.. kebayang ya segitu lama tanpa komunikasi.
---------
Kitins manusia usil, bokep, dan selalu menyapa mama saya dengan baik hati setiap ketemu. Meski jarang ketemu sama mama saya, tapi setiap ketemu selalu seperti kenal lama. Kitin, kitin....
-------------
Ingat-ingat kenyataan ini, ternyata memang masa SMA itu udah lama sekali ya. Dan memori, kenangan itu masih ada di kepala saya. Ternyata kenangan cuma sesuatu yang terperangkap di kepala saya, dan kenyataannya semua sudah jauh, pergi, berkembang.
![]() |
| G-string sebagi kado ulang tahun Kitin. Bagus kan? |
![]() |
| Kitin nangis pas dikasih surprise ulang tahun ke-17 |
![]() |
| menjajah mac panjul |
![]() |
| di rumah Ninis |
Kitin, satu dari teman baik saya. Selamat berjuang! Jangan berubah ya, tetep bokep, heboh, dan ga tau malu. Akan sangat rindu sama lo! :"*
Sabtu, 14 Juli 2012
Karena Indonesia Bukan Hanya.........
Karena Indonesia bukan hanya Jakarta yang ber-PIM, ber-Central Park, ber-SCBD
Karena Indonesia bukan hanya kota besar yang manipulatif dengan toko-toko berlampu indah
Karena anak-anak Indonesia bukan hanya mereka yang berakhir pekan dengan tontonan di bioskop lengkap dengan berondong jagung dan minuman populer di kedua tangan
atau mereka yang menghabiskan petang-senjanya dengan berbagai les mahal
Karena jalan-jalan di Indonesia bukan hanya dijilat roda-roda mobil mewah
Karena ada bajaj, bemo, delman, dan kaki kuda dan kaki manusia tanpa sepatu memaku jalan
Karena Indonesia bukan hanya tentang perut-perut yang kenyang, tidur yang nyenyak, dan pendidikan yang layak
Karena Indonesia bukan hanya cerita tentang kemuliaan kota-kota besar yang senang berpura-pura melainkan juga tentang manusia-manusia miskin dan anak-anak buncit tak bersekolah
Karena Indonesia bukan hanya kota besar yang manipulatif dengan toko-toko berlampu indah
Karena anak-anak Indonesia bukan hanya mereka yang berakhir pekan dengan tontonan di bioskop lengkap dengan berondong jagung dan minuman populer di kedua tangan
atau mereka yang menghabiskan petang-senjanya dengan berbagai les mahal
Karena jalan-jalan di Indonesia bukan hanya dijilat roda-roda mobil mewah
Karena ada bajaj, bemo, delman, dan kaki kuda dan kaki manusia tanpa sepatu memaku jalan
Karena Indonesia bukan hanya tentang perut-perut yang kenyang, tidur yang nyenyak, dan pendidikan yang layak
Karena Indonesia bukan hanya cerita tentang kemuliaan kota-kota besar yang senang berpura-pura melainkan juga tentang manusia-manusia miskin dan anak-anak buncit tak bersekolah
setidaknya
Saya pernah berada dalam satu ruangan yang sama dengan kamu
Mengingatnya, saya baru sadar bahwa kala itu kita menghirup udara yang sama
kamu menghirup udara dari saya, saya mengirup udara dari kamu
Ya, saya sadar kenyataan itu tak akan mengubah apa pun di antara kita
Ketika kita berada dalam satu ruang yang cukup padat itu,
kita tidak pula bertukar sapa
tidak pula berujar nama.
Tetapi mengingatnya lagi, saya cukup bahagia
bahwa saya pernah menjadi bagian dari satu di antara yang kamu lihat kala itu
dimensi kita sama kala itu
dan saya senang setidaknya pernah hadir dalam sebagai penonton
Mengingatnya, saya baru sadar bahwa kala itu kita menghirup udara yang sama
kamu menghirup udara dari saya, saya mengirup udara dari kamu
Ya, saya sadar kenyataan itu tak akan mengubah apa pun di antara kita
Ketika kita berada dalam satu ruang yang cukup padat itu,
kita tidak pula bertukar sapa
tidak pula berujar nama.
Tetapi mengingatnya lagi, saya cukup bahagia
bahwa saya pernah menjadi bagian dari satu di antara yang kamu lihat kala itu
dimensi kita sama kala itu
dan saya senang setidaknya pernah hadir dalam sebagai penonton
Rabu, 27 Juni 2012
kota(k) kecil
Kotak kecil berdebu dan bersarang laba-laba
Hampir jatuh, barusan disenggol tikus yang naik ke atas meja
Dalamnya periperi berterbangan dengan sayap yang patah dan lengket
Kemudian juga bunga merambat berdaun kering
berbatang kerontang
Kotak kecil di atas meja bersanding dengan kotak kue berukuran besar dari toko
Kotak kecil punya pohon tua yang makin kering
dan berlukiskan pohon beringin tanpa daun.
Seperti bapak tua yang berjenggot terlalu lebat, tanpa rambut.
Jumat, 22 Juni 2012
Selasa, 19 Juni 2012
Senin, 18 Juni 2012
Jumat, 15 Juni 2012
Sampah Edisi III
Mungkin pembaca ingat gambar saya yang satu ini (sempat saya tampilkan di postingan sebelumnya):
Gambar ini saya buat sendiri tanpa bimbingan siapapun. Kemudian saya bawa gambar ini ke guru les lukis saya. Dan voila! Ini hasilnya:
Bagus? Iya lah.
__________________________________________________________________________________
Lanjut ya, ini gambar saya setelah pertemuan ke-2 les lukis. Belum dikoreksi sama sekali oleh pak Maryono.
Selasa, 12 Juni 2012
Senin, 11 Juni 2012
Oleh-Oleh dari Kantin Kampus
Sebuah kehidupan yang di dalamnya
ada cinta, nafsu, persahabatan, topeng, dan asap rokok. Di pedalamannya
orang-orang berambut setinggi menara air duduk dan mengobrol tanpa kenal waktu.
Menepi sejenak dan mereka memainkan waktu mereka sendiri. Gadis-gadis berambut
dengan kuncir tinggi turut ngobrol tentang kehidupan yang mau digulingkan,
tentang masa depan yang mau disemen.
Kehidupan sebuah kastil yang
pengap dengan cinta, nafsu, persahabatan, topeng dan asap rokok. Terutama asap
rokok. Ikon dari kegagahan yang berujung pada piring sisa makan. Kastil ini
tanpa putri dan pangeran, tanpa raja dan ratu, tetapi dengan seribu
dayang-dayang menyajikan makanan; ayam, daging, sup, daun selada, sambal, ikan
teri, soto, terung, nasi, dan sampah. Juga minuman; es teh, jeruk dingin, jeruk
panas, es campur, sop buah, es asam jawa, aqua, dan sampah.
Kehidupan di sini adalah urusan
perut, otak dan hati. Terkadang semua dilibatkan jadi sebuah elemen padu,
terkadang hanya satu yang dibawa; sisanya ditinggalkan. Bau-bau yang ada adalah
bau sabun cuci piring, ayam goreng baru matang, sup, soto, gado-gado, nasi
uduk, bau badan, bau kaki, dan napas busuk belum sikat gigi.
Ini adalah kehidupan dalam dunia,
tanpa dinding yang bercat kuku. Segala yang terjadi tumpuk dan reyot dalam
bangunan yang kuat. Tempat ini adalah kehidupan tentang makanan, perasaan, dan
kenang-kenangan.
5 juni 2012
Minggu, 10 Juni 2012
Rabu, 06 Juni 2012
beberapa sampah
beberapa gambar yang masih sangat buruk haha. tak apa-apa biar terlihat kemajuan saya:
yang terakhir tanpa belajar dan murni hanya iseng belaka. entah siapa:
-banyak tanggal di bulan juni
It is Dinia not Diana
I feel happy when google could find something named Dinia instead of Diana.
Selasa, 05 Juni 2012
Kehamilan Kota, dan Buntingnya Gedung-Gedung
gedung-gedung bunting dalam keadaan mandul.
ketika melahirkan hanya sekadar mengeluarkan bohlam lampu
tanpa menejan. tanpa teriak. tanpa rasa sakit.
kota hamil
dimasukkan mani penguasa dalam licinya duit lima ribu.
maka diakndungnyalah gedung-gedung yang bunting tadi.
kemudian kehamilan dan buntingnya kota dan gedung jadi mainan anak-anak.
sd, smp, sma, masuk semua ke dalam rahim gedung bunting mencari dedek bayi yang belum terbuat.
tak perlu dikasihani mereka memang senang mengaduk-aduk isi rahim si gedung bunting yang kosong.
hanya udara yang menghiasi bersama dinding-dinding penuh warna, dan pamplet-pemplet tukang bohong.
gedung-gedung bunting. cuma melahirkan bohlam-bohlam lampu berkelap-kelip. menghiasi kota yang hamil.
ketika melahirkan hanya sekadar mengeluarkan bohlam lampu
tanpa menejan. tanpa teriak. tanpa rasa sakit.
kota hamil
dimasukkan mani penguasa dalam licinya duit lima ribu.
maka diakndungnyalah gedung-gedung yang bunting tadi.
kemudian kehamilan dan buntingnya kota dan gedung jadi mainan anak-anak.
sd, smp, sma, masuk semua ke dalam rahim gedung bunting mencari dedek bayi yang belum terbuat.
tak perlu dikasihani mereka memang senang mengaduk-aduk isi rahim si gedung bunting yang kosong.
hanya udara yang menghiasi bersama dinding-dinding penuh warna, dan pamplet-pemplet tukang bohong.
gedung-gedung bunting. cuma melahirkan bohlam-bohlam lampu berkelap-kelip. menghiasi kota yang hamil.
Di Dalam Puisi
Dalam puisi aku hidup;
menelurkan angan-angan dalam kata-kata yang terdengar ganjil.
Seusai puisi aku mati.
Dan aku baru saja bertemu mati-ku yang ke-sekian.
4 Juni 2012
Ketika Malam bukan Lagi Gelap, Masihkah Lampu Jalan Dibutuhkan?
Lampu-lampu menjatuhkan sinarnya yang lurus ke jalan-jalan kering. Semalaman, lampu-lampu itu akan nyala sebisanya Lampu-lampu jalan baru dibutuhkan malam hari. Sementara pagi-siang-sora dilupakan oleh anak sekolahan, oran kantoran, pedagan keliling, mobil, rumah, motor, bapak dan ibu pulang dari masjid. Malam memang menjadi pertanda bagi lampu-lampu jalan bahwa mereka masih dibutuhkan.
"Tugas lampu jalan adalah menyeka gelap pada leher baju malam."
Lantas, kalau malam tak lagi berbaju gelap, masihkah lampu-lampu jalan dibutuhkan? Coba katakan!
din
4 Juni 2012
"Tugas lampu jalan adalah menyeka gelap pada leher baju malam."
Lantas, kalau malam tak lagi berbaju gelap, masihkah lampu-lampu jalan dibutuhkan? Coba katakan!
din
4 Juni 2012
Kita Coret Mereka dari "Rumah"
Di rumah ini
adalah haram membuai diri dengan karya
tidak perlu karya;
tidak perlu lukisan,
puisi,
cerita pendek,
novel,
dan yang lain.
Di rumah ini,
cukup satu cerita yang berkembang;
cerita hantu yang disulap
seindah bunga plastik dalam jambangan.
Aku hanya ingin membaca puisi
Mama,
aku hanya ingin membaca puisi
dari buku yang aku pinjam di perpustakaan kampus minggu lalu.
Jika kau hanya beri aku panggung 3x3.5 meter ini sebagai wilayahku, aku ikhlas dan rela.
Ini pun sudah cukup bagi diriku.
Tetapi, Mama, mengapa kau senang mengusikku yang tengah kasmaran dengan ibu puisi.
Aku minta maaf jika puisi dari mulutku terlalu berisik.
Ampun, Mama.
Duniaku, dunia yang terkunnci walau kadang merembes pada angin.
Mama, aku hanya ingin membaca puisi
untu diriku sendiri, dan ruanganku yang sempit.
jangan kau kurung aku dalam panggung yang telah kau beri.
Mama, jika aku harus terpenjara, terpasung di hadapanmu; tidak apa.
Asal jangan kau penjarakan aku dalam duniaku sendiri; tanpa puisi.
aku hanya ingin membaca puisi
dari buku yang aku pinjam di perpustakaan kampus minggu lalu.
Jika kau hanya beri aku panggung 3x3.5 meter ini sebagai wilayahku, aku ikhlas dan rela.
Ini pun sudah cukup bagi diriku.
Tetapi, Mama, mengapa kau senang mengusikku yang tengah kasmaran dengan ibu puisi.
Aku minta maaf jika puisi dari mulutku terlalu berisik.
Ampun, Mama.
Duniaku, dunia yang terkunnci walau kadang merembes pada angin.
Mama, aku hanya ingin membaca puisi
untu diriku sendiri, dan ruanganku yang sempit.
jangan kau kurung aku dalam panggung yang telah kau beri.
Mama, jika aku harus terpenjara, terpasung di hadapanmu; tidak apa.
Asal jangan kau penjarakan aku dalam duniaku sendiri; tanpa puisi.
Kau dan Kerinduan
kau adalah kerinduan
memisahkan jarak tapa rebahan waktu
dimensi satu.
kau adalah kerinduan
terletak di sekat-sekat aktivitas
nyempil tanpa ribut.
kau adalah kerinduan
menunggui kehidupan
hingga nama-nama bisa disebut.
kau adalah kerinduan
di pinggir ketakutan akan pertemuan
sangsi untuk dilabuh.
kau adalah kerindun
setelah habis malam
dan embun minta ditunggu.
kau adalah kerinduan
proyeksi terakhir dari ketulusan
sebelum topeng kembali disambut.
kau adalah kerinduan
bukan cerita berlakon subjek-objek
melinkan cuma kerinduan
cuma perasaan yang kelabu antara hitam yang pekat dan putih yang silau.
kau adalah kerinduan
yang setiap pagi memaksa aku untuk beranjak ke tempat yang sama
tanpa bosan apalagi gusar.
kau adalah kerinduan
keringat yang melekat di kerah bajuku.
dinia
4 Juni 2012
Sabtu, 02 Juni 2012
Kue Putu dan Pecel Lele
Sudah lama kuperhatikan. Dia adalah bapak penjual kue putu
keliling. Badannya hitam legam, tidak dipermanis dengan selengkung senyuman
pun. Bapak itu datang dengan gerobak kecil dan sebuah kaleng pengukus yang
tidak bosan menyemburkan suara “nguuuuuuuuuuuuuung” sepanjang jalan. Sedari kecil, ibu hanya mengizinkanku
membelikue putu itu. Kata ibu, jajan kue putu masih lebih mending dari pada
jajan yang lain. Kue putu dari tepung beras, ketan dan kelapa, jadi aku bisa
kenyang dengan makan sedikit saja.
Setiap sore di serambi rumah, aku selalu duduk dengan sabar
menanti bapak penjual kue putu itu. Di genggamanku ada sekepal uang seribu
rupiah dan di pangkuanku ada piring kecil. Ketika aku menunggu si bapak, ibu
ada di sampingku. Terkadang di belakangku menyisiri rambutku. Rambutku selalu
saja masih basah dan lepek habis keramas. Tapi aku selalu suka harum shampoo
masa kecilku. Dan aku selalu senang saat aku dan ibu menghabiskan sore menanti
si tukang kue putu lewat.
Aku kecil semakin lama semakin besar. Aku mulai bisa
membedakan rasa makanan yang aku suka dan aku tidak suka. Namun, kue putu tetap
pada daftar makanan yang aku suka. Aku bertambah besar, dan kian hari uang
digenggamanku nilainya bertambah. Ketika dulu dengan uang seribu perak aku
dapat lima kue putu, kini tiga ribu rupiah aku hanya dapat enam. Aku tidak
pernah keberatan, dan tidak pernah bosan dengan kue putu.
Semakin bertambah besar, aku semakin sadar bagaimana rupa si
bapak penjual kue putu itu. Ketika kelas enam sekolah dasar, aku baru
memperhatikan bahwa bapak itu tidak pernah tersenyum sekalipun. Waktu aku kelas
tiga SMP aku mencoba membuatnya tertawa. Namun, gagal. Aku coba bertanya
ini-itu tentang keluarganya, tetap pula gagal untuk membuatnya tersenyum.
Aku tidak pernah berani bertanya masalah itu kepadanya.
Mungkin pembaca berpikir kalau tidak pernah tersenyum artinya selalu cemberut. Bukan, bukan itu maksudku. Bapak itu tidak pula cemberut, hanya saja ia tidak pernah memancarkan aura kebahagiaan.
Ketika suatu hari yang hujan, kue putu tidak datang ke
rumahku. Padahal kala itu aku sedang sangat ingin ngemil kue putu. Memang, biasa jika hari hujan si bapak penjual
kue putu tidak berdagang. Aku pun berpikir untuk membeli kue putu pada hari
lain.
Keesokan harinya, aku menunggu di serambi rumah. Lagi-lagi
sama dengan sebuah piring kecil dan segenggam uang. Bedanya sekarang aku tidak
lagi disisiri ibuku. Tetapi justru bersantai mencabuti uban ibu. Sudah lima
belas menit aku menunggu. Biasanya si penjual itu tidak pernah telat melewati
rumahku. Uban ibu yang kucabuti makin menumpuk. Namun kue putu tak kunjung
bernyanyi melengking di depan rumahku. Padahal hari ini tidak hujan. Ibu
memutuskan mengajakku masuk ke dalam rumah karena adzan maghrib hampir
mengalun.
Begitu selanjutnya hingga hari ini. Dua tahun lalu aku
menunggu si bapak penjual kue putu yang tak kunjung datang dan sampai hari ini
tidak pernah datang.
Malam hampir benar-benar menggelapkan warna langit. Dan
ketika adzan mulai mengalun, aku masih di perjalanan bersama karibku. Lapar. (Aku sudah tidak ingat-ingat kue putu lagi. Aku
tidak benci.) Sebelum sampai ke rumahku, ia mengajakku makan di pecel lele
langganannya, dekat dengan kampus kami. Aku tidak terlalu suka pecel lele. Kataku
kepadanya. Dan dia hanya menyarankan aku untuk pesan makanan yang lain. Aku
mengalah. Kami makan pecel lele.
Dik. Ucap penjual pecel lele.
Ya. Hm, kenapa Pak?
Adik lupa? Wah saya saja masih ingat. Saya yang tukang jual
kue putu Dik.
Waaaah. Kemana saja Pak? Saya kangen makan putu.
Saya bla bla bla….
Percakapan berlanjut.
O! Aku menyadari satu hal; Bapak itu kini tersenyum. Ia menyapaku
dengan senyuman.
dinia
inspired by grenta
Les Fleurs
Percakapan pada Malam dengan Satu Rokok Terakhir
Malam masih seperempat lagi sebelum berakhir. Angin berembus
pelan-pelan, membawa dingin yang menusuk. Langit sepi, jauh dari kerlap-kerlip
bintang. Bulan tersenyum kecut, ditinggal sendiri di langit malam.
Makhluk tertidur. Kota tidak lagi bicara nyaring, tetapi
berbisik pelan takut mengganggu. Sepi.
Dalam malam yang sesepi itu, kau duduk berteman rokok.
Memang hanya rokok teman karibmu kala sendiri berkelana dalam malam kota.
Sejenak kau menyadari bahwa rokokmu tinggal satu batang. Rokok terakhir sejak
berjam-jam yang lalu kau memutuskan untuk tidak tidur.
Sementara sudah ada kotak rokok tanpa isi, kotak rokok yang
lain juga baru saja habis. Isinya tengah kau nikmati sekarang. Dalam candu
nikotin itu kau melamunkan malam yang kelam. Berganti-ganti menatap rokok,
langit, dan jam di pergelangan tanganmu. Kau selalu mengantuk, tetapi selalu
gagal tidur tiap kali ingat kau sedang dalam penantian. “Bagaimana jika dia
datang dan aku sedang tertidur?”. Sebab itu kau selalu mengharamjaddahkan tidur
malammu.
Lamunanmu dirusak. Namun kau justru bahagia.
“Ternyata Kau masih suka duduk di sini malam-malam begini?”
seorang perempuan duduk di sampingmu.
Ia melanjutkan gerakkan tangannya, menyelipkan seuntai
rambut di balik telinganya.
Perempuan itu selalu saja cantik dan tidak pernah kehilangan
kesegarannya meski pada malam begini. Itu yang membuat kau tidak pernah puas
menatapnya sebentar.
“Dan Kau masih sudi saja datang ke sini memuaskan
penantianku. Kau menunggu saatnya aku bosan dan melepaskan penantianku?”
“Tidak juga. Aku senang Kau mau menantikan kedatanganku.
Jangan terlalu banyak merokok, Kau bisa sakit.”
“Kau masih sama setiap hari, selalu berkata demikian. Dan
aku pun sama setiap hari. Kau tahu kenapa aku merokok?”
“Kau belum pernah bertanya begitu.”
“Kalau aku tidak merokok, aku akan kehilangan suaramu yang
risau itu. Aku senang Kau mengkhawatirkanku.”
“Ah.”
“Tenanglah, rokok ini tidak akan membunuhku. Kehilangan
cintamu adalah racun buatku.”
“Kau.”
“Aku ini selalu menjagamu. Aku tidak akan sakit.”
“Terserah.”
Udara dingin tidak lagi menjadi masalah. Menggigil adalah
cerita lalumu tentang penantian yang pertama-tama. Namun kini tanpa baju pun
kau rela duduk di tempat yang sama pada setiap malam untuk menantinya. Sekarang
udara adalah selimut bagi kau dan dia. Udaralah yang menyempurnakan kisah kau
dan dia dalam malam yang sepi.
Kau, tanpa nama, tanpa asal. Dan perepmuan itu adalah Embun.
Kalian berbeda tetapi sama; sama-sama pengecut. Kau dan Embun bertemu hampir
setiap malam hanya untuk lari dari kenyataan. Hanya untuk bertemu, karena
kenyataan tidak pernah mau mempertemukan kalian sebagai kalian di dalam imaji.
Bagi kalian, dunia adalah malam. Pagi adalah awal bencana,
Malam membiarkan kalian menjadi-dewa dan dewi yang berhak dan puas memadu
kasih, cinta, rasa, nafsu, dan berahi. Kalian bebas menatap langit menghitung
tanpa akhir bintang-bintang di langit malam. Pada awal pertemuan, kalian mulai
menggambar peta-peta rencana hidup kalian berdua. Kalian pula bercerita tentang
ketakutan kalian akan pagi dan hari-hari terang. Tentang ruang-ruang yang
saling berhimpitan pada terang dan makin sempit bagi individu-individu seperti
kau dan dia. Karena kalian liar dan selalu ingin terbang.
“Pagi”, kata dan kenyataan yang melucuti cinta kalian.
Menjadikan kalian tanggal dari cinta-cinta yang kalian semai malam-malam hari.
Kau dan Embun bertemu pada pagi-siang-sore tanpa kasih sama sekali. Karena
semua itu kenyataan, tanpa lahan bebas untuk imaji kalian. Tiada yang kalian
bawa saat bertemu ketika malam habis. Kau bahkan tidak mengenali Embun. Embun
bahkan tidak tahu siapa kau.
Sesungguhnya, kau tidak pernah benci pagi. Kau hanya terlalu
takut kedatangan pagi yang merusak imaji kau dan Embun-mu. Pada pagi, matahari
nampak. Ia menyeberang jadi sebuah lukisan warna yang sepenuhnya adalah
kata-kata. Mantra yang memisahkan kau dan Embun.
Embun, perempuan itu membiarkan wajahnya kau nikmati tanpa
kata-kata. Kau tahu sebentar lagi Embun-mu itu akan pergi karena hangat
matahari akan mengusirnya.
“Embun. Embun-ku.”
“Apa?” senyumnya tipis, segar.
“Aku benci pagi.”
“Jangan begitu.”
“Kau adalah milikku jika malam.”
“Selalu.”
“Aku tidak mau Kau pergi. Lantas imaji ini berakhir dan kita
bertemu pada dunia nyata sebagai alien dan alien.”
“Ini imaji. Aku embun. Kau tahu, tidak ada embun di Jakarta
jam tujuh pagi.”
“Selalu begitu. Kau Embun…. Aku? Aku ini apa?”
“Kau penjaga embun. Esok malam kita bertemu lagi. Kau jangan
merokok ya.”
Embun bangkit, berjalan menuju punggungmu. Dan kau tidak
pernah tahu ke mana ia berjalan. Kau sendiri, dan langit mulai terang. Kota mulai bangun dan
mulai berbicara nyaring lagi.
*
Rokokmu telah sepenuhnya habis. Dari matamu pasti merembes
tangis yang sepi dalam diam. Jangan menangis! Pagi datang mengusirku, dan kau
tidak akan pernah cukup mampu untuk menjagaku, Malam!
-Embun
Curahan Hati Siang Bolong
Bulan mei yang lalu, tanggal 17
adalah satu tahun diterimanya saya sebagai mahasiswi UI. Sekarang, 2 Juni 2012,
hampir genap satu tahun yang lalu saya mengurusi segala tetek bengek keperluan
kuliah. Sudah satu tahun ya?
Saya merasa baru mendapat pengumuman
SNMPTN undangan, tetapi ternyata semua adalah satu tahun yang lalu.
Waktu tidak berjalan cepat, atau
lambat. Harus ada pembandingnya jika mau disebut cepat atau lambat. Bahkan
konsep waktu sendiri saya tidak mengerti juga.
Banyak sekali hal yang terjadi
setahun terakhir. Banyak sekali. Banyak yang mungkin menyenangkan, atau memang
patut disesali.
Ketika hari ini saya buka buku teks
<<Echo1>>,
saya langsung lompat ke halaman terakhir. Halaman-halaman yang hampir terakhir
maksud saya. Saya sadar setahun yang lalu saya bahkan tidak mengerti cara
membaca huruf <<ҁ>>
dalam konsonan Perancis. Pernah saya mencoba membuka halaman-halaman terakhir
buku itu, dan yang terlintas di pikiran hanyalah: “Bagaimana cara bacanya?
Maksudnya apaan sih?”. Bahasa Perancis bagi saya sangatlah asing, alien. Namun
kini, membaca conversation, bahkan
artikel singkat dari buku Echo
menjadi hal yang biasa. Semakin hari saya makin terbiasa dengan bahasa Perancis
yang alien itu, yang susah itu. Saya makin terbiasa.
Kemudian saya beranjak membuka mundur
buku Echo. Saya sadar bagaimana dulu
kelas pertama kali dengan dosen saya bu Irzanti. Saya sadar di kelas itu saya
bodoh sekali, tetapi nilai saya selalu baik. Saya punya semangat. Dulu, bagi
saya, Bahasa Perancis adalah musuh yang harus dikalahkan, dinding beton yang
harus saya rubuhkan karena di baliknya ada mimpi-mimpi saya. Dulu.
Sekarang buku Echo di samping saya menjadi musuh yang mengalahkan saya. Musuh
yang menghantui setiap jengkal kehidupan saya, musuh yang bergelayut di kaki
saya, di tangan saya, di pundak saya. Bahasa Perancis kian sulit bagi saya.
Semakin hari, nilai yang saya harapkan semakin dibawa melayang oleh kenyataan.
Harapan saya hancur, hati saya hancur.
Dulu, masuk kuliah adalah kegiatan
menyenangkan. Sekarang lima menit pertama di kelas Kemahiran Bahasa Perancis,
saya mulai melihat jam. Saya rindu jam pulang. Kelemahan ini memang memalukan.
Pembaca pasti tertawa melihat betapa bodohnya saya, betapa hinanya saya.
Sekarang sudah setahun, dan tangisan
frustasi saya bukan mereda malah kian memburuk.
Echo 1 masih di
samping saya. Saya tidak mengerti apakah saya masih harus menggunakan buku yang
smaa setahun ke depan.
dinia
Minggu, 27 Mei 2012
Ilusi sebelum tengah hari
John bukan yang lain
tapi ia pindah tempat berjalan, harusnya ia di kota A bukan kota B
Aku salah lihat
Mungkin sisa kunang-kunang masih banyak
Membangun kesatuan manusia
Yang aku lihat berjalan di kota B
John
Apa iya?
Rasanya ilusi saja.
Yang kulihat bukan John. John, dia sedang menulis puisi di meja kerjanya yang tumpah.
Ia sedang berjalan-jalan di alam kata-kata yang rumit, yang aku sulit mengerti
tapi ia tak kan pernah tersesat.
Jadi siapa yang kulihat tadi?
Kesimpulan intuitif; aku berilusi sebelum tengah hari, pukul 11:30.
Yang begitu sebelum aku tahu kalau John memang lompat dari dunia puisinya;
Ia berjalan-jalan di kota B tepat saat aku berilusi.
tapi ia pindah tempat berjalan, harusnya ia di kota A bukan kota B
Aku salah lihat
Mungkin sisa kunang-kunang masih banyak
Membangun kesatuan manusia
Yang aku lihat berjalan di kota B
John
Apa iya?
Rasanya ilusi saja.
Yang kulihat bukan John. John, dia sedang menulis puisi di meja kerjanya yang tumpah.
Ia sedang berjalan-jalan di alam kata-kata yang rumit, yang aku sulit mengerti
tapi ia tak kan pernah tersesat.
Jadi siapa yang kulihat tadi?
Kesimpulan intuitif; aku berilusi sebelum tengah hari, pukul 11:30.
Yang begitu sebelum aku tahu kalau John memang lompat dari dunia puisinya;
Ia berjalan-jalan di kota B tepat saat aku berilusi.
Jumat, 25 Mei 2012
Pertemuan
Saya bukan pemilik blog ini loh. Saya orang lain yang pinjam blog ini dan mau cerita:
Buat saya, Anda seperti hal baru. Sebetulnya tidak juga sih. Begini, sebelum saya tahu nama Anda, siapa Anda, dalam bidang apa ketertarikan Anda, saya sudah pernah bertemu dengan Anda secara tidak sengaja. Ya, saya pikir jadi penyaksi sebuah video yang berisikan Anda juga bisa dianggap bertemu tho? Kalaupun tidak, saya akan menganggapnya sebagai pertemuan yang pertama juga. Setidaknya, saya bertemu jiwa dan roh Anda yang terjebak dalam satu bingkai. Bahkan pada bingkai yang berbingkai-bingkai pun isinya Anda. Maksud saya agar persepsi saya sebagai penulis, dan Anda sebagai pembaca sama. Biar sama-sama enak. Yo rak?
Hmm.. Sejujurnya, saya menghargai siapapun yang membaca tulisan ini. Monggo. Tapi, untuk si "Anda" yaa saya maunya sih "Anda"-nya ya Anda. Haha.
Baik, saya sudah mencantumkan pertemuan kita pertama. Lantas pertemuan kita kedua? Yang saya ingat begini, suatu kali ada pertunjukkan teater di kampus saya, kampus Anda juga. Ketika itu saya tidak punya cukup keinginan untuk menghabiskan duit saya untuk menonton pertunjukkan teater itu. Yah, dasar saya rak iso nahan napsu ya saya beli satu tiket. Berdua dengan teman, kami menonton di barisan kedua sebelum pertama dari panggung.
Dari sekian banyak pemain di teater itu, saya tertarik dengan Anda. Saya juga kurang mengerti kenapa Anda yang harus 'nyangkut' di otak saya. There was something that made you look different to me, and it was like you're so familiar to me. Saking penasaran, saya buka bolak-balik booklet dari panitia yang berisi daftar para pemain. Dan ada Anda di situ. Sampai sekarang booklet-nya masih saya simpan. Norak sekali ya?
Norak pun manusiawi lah saya rasa.
Kemudian pertemuan ketiga saya catat ketika kita bertemu dalam sebuah kesempatan itu. Anda membaca puisi saat itu, sambil mengepal tangan karena kesal. Anda kesal karena belum siap ya? But that was very wonderful for me. Bagus sekali kok.
Andaikan kita bisa berkenalan ya.
Jangan lah, saya urung. Anda tak akan mau juga tho?
Buat saya, Anda seperti hal baru. Sebetulnya tidak juga sih. Begini, sebelum saya tahu nama Anda, siapa Anda, dalam bidang apa ketertarikan Anda, saya sudah pernah bertemu dengan Anda secara tidak sengaja. Ya, saya pikir jadi penyaksi sebuah video yang berisikan Anda juga bisa dianggap bertemu tho? Kalaupun tidak, saya akan menganggapnya sebagai pertemuan yang pertama juga. Setidaknya, saya bertemu jiwa dan roh Anda yang terjebak dalam satu bingkai. Bahkan pada bingkai yang berbingkai-bingkai pun isinya Anda. Maksud saya agar persepsi saya sebagai penulis, dan Anda sebagai pembaca sama. Biar sama-sama enak. Yo rak?
Hmm.. Sejujurnya, saya menghargai siapapun yang membaca tulisan ini. Monggo. Tapi, untuk si "Anda" yaa saya maunya sih "Anda"-nya ya Anda. Haha.
Baik, saya sudah mencantumkan pertemuan kita pertama. Lantas pertemuan kita kedua? Yang saya ingat begini, suatu kali ada pertunjukkan teater di kampus saya, kampus Anda juga. Ketika itu saya tidak punya cukup keinginan untuk menghabiskan duit saya untuk menonton pertunjukkan teater itu. Yah, dasar saya rak iso nahan napsu ya saya beli satu tiket. Berdua dengan teman, kami menonton di barisan kedua sebelum pertama dari panggung.
Dari sekian banyak pemain di teater itu, saya tertarik dengan Anda. Saya juga kurang mengerti kenapa Anda yang harus 'nyangkut' di otak saya. There was something that made you look different to me, and it was like you're so familiar to me. Saking penasaran, saya buka bolak-balik booklet dari panitia yang berisi daftar para pemain. Dan ada Anda di situ. Sampai sekarang booklet-nya masih saya simpan. Norak sekali ya?
Norak pun manusiawi lah saya rasa.
Kemudian pertemuan ketiga saya catat ketika kita bertemu dalam sebuah kesempatan itu. Anda membaca puisi saat itu, sambil mengepal tangan karena kesal. Anda kesal karena belum siap ya? But that was very wonderful for me. Bagus sekali kok.
Andaikan kita bisa berkenalan ya.
Jangan lah, saya urung. Anda tak akan mau juga tho?
Kapan-Kapan Kita Harus Bertemu
Terlalu banyak kebetulan ya?
Ketika kita bertemu tanpa gelombang dan tanpa rasa.
Yang menonton ya aku, yang jadi penonton ya aku
Bukan, Kau bukan sebagai aktor di layar lebar
Yang ketika menontonnya aku harus lebih dulu menyerahkan tiket
Bukan,
Kali ini Kau adalah aktor layar susut yang menemaniku hingga jam dua malam.
Tidak ada yang lebih dekat dari apa yang ku rasa.
Aku tahu kekonyolan begini harus ada batas waktunya.
Aku sadar ini permulaan dan aku menikmatinya.
Aku ingin tertawajika mengingatmu.
Dan berterima kasih pula,
Kau mengembalikan rasa yang tak pernah Kau curi.
Terima kasih.
Kapan-kapan kita harus bertemu sebagai manusia dengan manusia.
Secara wajar saja.
Ketika kita bertemu tanpa gelombang dan tanpa rasa.
Yang menonton ya aku, yang jadi penonton ya aku
Bukan, Kau bukan sebagai aktor di layar lebar
Yang ketika menontonnya aku harus lebih dulu menyerahkan tiket
Bukan,
Kali ini Kau adalah aktor layar susut yang menemaniku hingga jam dua malam.
Tidak ada yang lebih dekat dari apa yang ku rasa.
Aku tahu kekonyolan begini harus ada batas waktunya.
Aku sadar ini permulaan dan aku menikmatinya.
Aku ingin tertawajika mengingatmu.
Dan berterima kasih pula,
Kau mengembalikan rasa yang tak pernah Kau curi.
Terima kasih.
Kapan-kapan kita harus bertemu sebagai manusia dengan manusia.
Secara wajar saja.
Minggu, 29 April 2012
soresore
apa yang kau lakukan di minggu sore
mungkin berkeliling kota mengitung lampu jalan
banyak yang kau lihat, tapi juga terluput.
apa yang kau lakukan di minggu sore
lalalalalalaaaa
bermainlah....
bersenda guraulah.....
tertawalah........
bahagia di sudut lampu jalan.
bahagia bernyanyi di atas terpal biru.
di samping kali bau
di rumah yang tanpa aku
Kamis, 19 April 2012
Rabu, 18 April 2012
Anak Muda dan Bapak Tua
“Sudah saatnya kita berterus terang satu sama lain.” Ucapnya kepada seseorang di sebelahnya.
Saat itu mereka sedang berbincang di pinggir jalan. Selalu di sana karena memang di sanalah mereka tinggal, dan juga selalu berteriak-teriak karena ramai sekali jalan raya ini.
“Sudah, menyerahlah. Kamu pasti mati juga. Tinggal menunggu waktu yang sebentar. Mengerti?”
“Tidak bisa begitu! Aku lebih tua darimu, Anak Muda. Singkirkanlah pikiran semacam itu. Tak kasihankah engkau pada bapak tua ini?”
“Buat apa pula kasihan. Kau cukup menunggu dengan sabar. Dunia tidak menginginkanmu lagi. Kau bau, lama, kotor. Kau bodoh.”
Bapak tua itu kemudian termenung sebentar. Ia merasa begitu direndahkan sebagai seorang yang sudah tua, dan merasa begitu tersinggung. Namun, kemudian ia berhasil mengatasi perubahan suasana hatinya. Air mukanya berubah jadi lunak seperti biasa.
Sudah sejak lama bapak tua itu kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya karena usia tua dianggap telah membunuh apa-apa yang baik di dalam diri bapak itu. Dan mungkin juga karena sedikit orang yang mau mengingat jasa si bapak tua yang sebetulnya tidak terhitung jasanya. Tak apalah.
“Satu pesanku anak muda. Bapak tua ini mungkin tidak berguna pada masa mudanya. Tidak pula lebih berguna ketika masa tuanya. Kau perlu ingat Anak Muda, satu hal yang tak kan pernah dapat Kau berikan pada orang-orang yang kelewat majunya itu. Hal……..”
“Hahaha. Tidak perlu meluculah di ujung hidupmu Bapak Tua!
Baik. Apa yang tidak bisa kuberikan kalau begitu?” Potong si anak muda.
Bapak tua itu membutuhkan beberapa detik untuk menahan suaranya agar tidak bergetar. Agar air matanya tidak mengalir keluar.
“Ehm.
Dengarlah.
Kesederhanaan, kekeluargaan, kasih sayang, dan komunikasi. Tak kan pernah dapat Kau sajikan bagi mereka.
Kau hanya mencari uang anak muda, padahal yang Kau layani adalah manusia bukan mesin yang hidup tanpa perasaan.”
Anak muda itu diam. Dan diamnya tidak bisa diartikan sebagai persutujuan atau penolakan. Ia hanya diam. Bisu yang kaku, dan dingin, dan getir.
Percakapan terhenti sampai di situ.
Mereka masih juga di tempat yang sama untuk satu, dua, tiga,……….dan beberapa bulan setelah percakapan itu. Tanpa bicara, tanpa komunikasi. Bapak tua makin tua, anak muda makin sombong.
Namun tidak sampai satu tahun pasar tradisional itu telah tutup habis, sementara orang tak bosan-bosan datang dan pergi ke mall besar di sebelahnya untuk membeli daging, kecap, dan bawang putih.
18 April 2012
KETIKA YANG TUA-TUA ITU KUMPUL BERUNDING
Di sebuah kampung berkumpul
100 Kata Sifat, Kata Kerja dan Kata Benda
Mereka berunding tentang bagaimana cara menyusun
Kalimat Yang Baik
Yang dituakan di kalangan mereka, Keimanan,
ramai-ramai ditunjuk pertama.
“Ayolah Atuk, mulailah.”
(Atuk kependekan panggilan Datuk)
Keimanan agak enggan.
“Jangan aku yang mulai. Yang di pojok sana itu lah .
Simbah Pengorbanan.”
Pengorbanan terkejut.
“Wah, yang paling pas, Tanggung Jawab.
Ya: Tanggung Jawab.”
Tanggung Jawab menangkis bahwa sebaiknya Pendidikan
Pendidikan menolak halus, lalu menuju Ketertiban.
Ketertiban meminta kesediaan Optimisme.
Optimisme mengoper usul kepada Kerja Keras.
Kerja Keras mengalihkannya ke Demokrasi.
Demokrasi belum sanggup, sebaiknya katanya Kesantunan.
Angka diskusi mendekati 100, ketika diteriakkan kejujuran.
“ya, Ke-ju-ju-ran! Ke-ju –ju-ran! Ke-ju-ju-ran!”
Kejujuran didesak maju ke tengah.
Sesampai di tengah panggung. Kejujuran berkata:
“Baik, baik. Dengan satu syarat.”
“Apa itu? Apa itu?”
“Aku harus didahului oleh Rasa Malu.”
Majelis itu menolak ke kanan ke kiri, kemuka ke belakang
mencari Rasa Malu.
Ke mana dia Rasa Malu?
Taufiq Ismail
Horison/April/2012
Langganan:
Postingan (Atom)
























.jpg)





.jpg)


