Selasa, 06 November 2012

Rehat

Tadi ketika pulang dari kampus jalanan macet sekali. Saya pikir ada kecelakaan atau apa, tahunya sebuah pohon besar tumbang disambar petir sore ini. Posisinya melintang di jalan, ditambah sebuah mobil pemadam kebakaran yang memang sengaja diparkir melintang.

Hampir satu setengah jam waktu yang saya perlukan untuk sampai ke rumah, padahal biasanya 30-45 menit juga cukup.

Karena lapar, saya memutuskan untuk makan di warung tenda pinggir jalan. Ada dua pilihan menu; soto dan pecel. Entah kenapa saya lebih memilih pecel (padahal saat itu hawa sedang dingin). Saya agak sedikit menyesal, tapi pecelnya cukup enak.

Saya makan santai saja dekat sekali dengan pohon yang tumbang.

Sedang saya makan, motor dengan rakusnya melahap hampir seluruh bagian jalan raya. Padahal jelas sekali dari arah kiri dan kanan pun tak ada yang akan bisa melanjutkan perjalanannya. Jalanan tertutup pohon yang tumbang.

Lalu saya lihat banyak sekali orang berjalan kaki. Mereka semua memutuskan untuk jalan kaki ketimbang duduk dalam mobil menunggu bangkai pohon itu dibereskan petugas. Pemandangan orang berjalan kaki dalam keadaan gelap tersebut cukup memesona saya.

Alangkah asing jalan beraspal yang biasa digilas ban, berganti diinjak kaki-kaki manusia yang berjalan bebas, tanpa takut-takut tertabrak. Saya sih tahu mereka pasti lelah dan kesal perjalanannya terganggu. Tho saya perhatikan tidak ada yang benar-benar menunjukkan muka bencinya. Sepertinya beberapa justru menikmati, tanpa bermaksud meminta kejadian seperti ini berulang.

Alangkah unik cara si pohon untuk menunjukkan keberadaannya. Bagi saya mungkin tumbangnya si pohon bisa jadi memang sebuah cara untuk mengingatkan keberadaannya di pinggir jalan itu. Mungkin juga saya salah.

Pecel yang saya makan agak kurang menyenangkan karena hanya berisi bayam, dan kacang panjang. Tapi tempenya lumayan enak, dan tetap saja saya iri dengan pilihan soto yang dimakan oleh pengunjung di depan saya.

Mungkin ini namanya rehat, sebentar. Hanya sekadar untuk duduk, menarik diri dari kemungkinan yang sudah terrencana, dan menikmati kejutan kecil. Terima kasih pohon tumbang, dan yang telah menumbangkannya.

Depok
1:04