Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Bangunan

Sebuah gedung baru di kampus saya. Berlantai tiga. Saya benci saat melihat pertama kali gedung itu dibangun. Tidak suka melihat lahan kosong dijadikan sebuah bangunan baru, yang menonjol, berdiri congkak karena warnanya kelabu pucat. Ogah disamakan dengan gedung lama yang beratap rendah berbata jingga. Padahal saya tahu pembuatnya sudah memikirkan untuk mencoba menipu khalayak dengan menempelkan bata-bata kelabu di bangunan baru itu. Tapi saya kok merasa itu semua pura-pura. Tetap saja saya tidak bisa menganggap bangunan baru itu bersaudara dengan bangunan pendahulu. Terlebih bangunan itu lebih banyak dihuni, dijejaki oleh para pendatang dari negara lain. Saya makin merasa si bangunan ini jumawa. Atau pembuatnya, pembangunnya, penyokong dananya yang jumawa? yang hipokrisi? hahahaha

Tapi itu kan hanya kesan sekilas. Pada kenyataannya saya harus juga berkuliah di gedung itu, seperti tadi sore. Memang saya siapa bisa mengatur dosen mengajar di mana?

Kelas bahasa asing itu tidak semenarik pertemuan pertamanya. Hari ini biasa-biasa saja. Padahal dosen saya yang atraktif dan ekspresif itu menyetel sebuah video tentang negaranya. Bagus? Dari sisi mananya dulu bagusnya? Dari teknik pengambilan dan warna videonya, menarik. Dari kesan diputarnya video itu di kelas, saya entah kenapa agak kurang sreg saja. Seperti merasa sedang terjebak pada promosi wisata ke negara orang lain. Well, thanks anyway. It was such a beautiful video tho :)

Bangunan itu mengikuti gaya arsitektur zaman sekarang yang cenderung minimalis. Di kelas saya ada jendela besar yang ternyata pemandangannya sangat menyenangkan, gnung (saya duga gunung Gede-Pangrango, atau gunung Salak), rektorat, sayangnya crane bangunan sialan mengganggu pemandangan. Tapi tetap saja melihat waktu berjalan melalui jendela luas begitu, menyenangkan buat saya.

Saya tidak tertarik dengan kelas lagi, padahal masih 45 menit hingga jam bubar. Jendela raksasa itu menyita saya. 

Di kaca jendela sebelum hari berubah malam
Gunung terpenggal kepalanya,
tidak mengecil seperti dari kaca bus yang melaju
tapi hilang saja pelan-pelan
Karena awan gelap turun dan datang seperti tiraui menutup

Sebentar semua larut dalam utopia negeri imaji
Tapi yang nyata, dan hadir di sekitar mengganggu
diam, tapi ribut 
bermagnit warna
minta dilihat

Sebagian sisa hujan, lengket di kaca
Sebagian menghilang tanpa pamit
Yang tinggal mengendap; diam-diam memasang telinga
curi dengar:

Ada orang-orang yang jatuh cinta pada batas antara senja dan malam di kaca jendela.


Ah, ternyata saya tidak konsisten juga dengan benci saya. Buktinya saya nyaman dan bahagia menonton pemandangan dari bangunan itu. Bangunan yang saya kutuk awalnya.


Din
19/02/13

Sabtu, 26 Januari 2013

Catatan kecil lari pagi

Di dekat rumah saya ada rumah.
Di pekarangan rumah itu ada pohon mengkudu.
Buah mengkudu rasanya pahit.
Kerap dikonsumsi sebagai obat.
Kalau ibu saya suka menceburkan daun mengkudu yang sudah diiris ke dalam nasi goreng.
Sekadar daun saja bagi saya sudah cukup pahit, apalagi buahnya.
Tapi aneh.
Kenapa kupu-kupu banyak bertamu ke pohon mengkudu?
Ada kupu-kupu yang warnanya biru-putih-kuning-coklat.
Semuanya sibuk terbang di pucuk-pucuk pohon mengkudu.
Lalu saya pulang lewat pohon kemuning yang habis berbunga.
Kenapa tidak ada kupu-kupu yang mampir?
Apa kemuning yang harum sudah kalah pamor dengan mengkudu yang pahit?
Haha ngaco ah.

Sabtu, 02 Juni 2012

Kue Putu dan Pecel Lele


Sudah lama kuperhatikan. Dia adalah bapak penjual kue putu keliling. Badannya hitam legam, tidak dipermanis dengan selengkung senyuman pun. Bapak itu datang dengan gerobak kecil dan sebuah kaleng pengukus yang tidak bosan menyemburkan suara “nguuuuuuuuuuuuuung” sepanjang jalan.  Sedari kecil, ibu hanya mengizinkanku membelikue putu itu. Kata ibu, jajan kue putu masih lebih mending dari pada jajan yang lain. Kue putu dari tepung beras, ketan dan kelapa, jadi aku bisa kenyang dengan makan sedikit saja.

Setiap sore di serambi rumah, aku selalu duduk dengan sabar menanti bapak penjual kue putu itu. Di genggamanku ada sekepal uang seribu rupiah dan di pangkuanku ada piring kecil. Ketika aku menunggu si bapak, ibu ada di sampingku. Terkadang di belakangku menyisiri rambutku. Rambutku selalu saja masih basah dan lepek habis keramas. Tapi aku selalu suka harum shampoo masa kecilku. Dan aku selalu senang saat aku dan ibu menghabiskan sore menanti si tukang kue putu lewat.

Aku kecil semakin lama semakin besar. Aku mulai bisa membedakan rasa makanan yang aku suka dan aku tidak suka. Namun, kue putu tetap pada daftar makanan yang aku suka. Aku bertambah besar, dan kian hari uang digenggamanku nilainya bertambah. Ketika dulu dengan uang seribu perak aku dapat lima kue putu, kini tiga ribu rupiah aku hanya dapat enam. Aku tidak pernah keberatan, dan tidak pernah bosan dengan kue putu.

Semakin bertambah besar, aku semakin sadar bagaimana rupa si bapak penjual kue putu itu. Ketika kelas enam sekolah dasar, aku baru memperhatikan bahwa bapak itu tidak pernah tersenyum sekalipun. Waktu aku kelas tiga SMP aku mencoba membuatnya tertawa. Namun, gagal. Aku coba bertanya ini-itu tentang keluarganya, tetap pula gagal untuk membuatnya tersenyum.

Aku tidak pernah berani bertanya masalah itu kepadanya.


Mungkin pembaca berpikir kalau tidak pernah tersenyum artinya selalu cemberut. Bukan, bukan itu maksudku. Bapak itu tidak pula cemberut, hanya saja ia tidak pernah memancarkan aura kebahagiaan.
Ketika suatu hari yang hujan, kue putu tidak datang ke rumahku. Padahal kala itu aku sedang sangat ingin ngemil kue putu. Memang, biasa jika hari hujan si bapak penjual kue putu tidak berdagang. Aku pun berpikir untuk membeli kue putu pada hari lain.

Keesokan harinya, aku menunggu di serambi rumah. Lagi-lagi sama dengan sebuah piring kecil dan segenggam uang. Bedanya sekarang aku tidak lagi disisiri ibuku. Tetapi justru bersantai mencabuti uban ibu. Sudah lima belas menit aku menunggu. Biasanya si penjual itu tidak pernah telat melewati rumahku. Uban ibu yang kucabuti makin menumpuk. Namun kue putu tak kunjung bernyanyi melengking di depan rumahku. Padahal hari ini tidak hujan. Ibu memutuskan mengajakku masuk ke dalam rumah karena adzan maghrib hampir mengalun.

Begitu selanjutnya hingga hari ini. Dua tahun lalu aku menunggu si bapak penjual kue putu yang tak kunjung datang dan sampai hari ini tidak pernah datang.

Malam hampir benar-benar menggelapkan warna langit. Dan ketika adzan mulai mengalun, aku masih di perjalanan bersama karibku. Lapar. (Aku sudah tidak ingat-ingat kue putu lagi. Aku tidak benci.) Sebelum sampai ke rumahku, ia mengajakku makan di pecel lele langganannya, dekat dengan kampus kami. Aku tidak terlalu suka pecel lele. Kataku kepadanya. Dan dia hanya menyarankan aku untuk pesan makanan yang lain. Aku mengalah. Kami makan pecel lele.

Dik. Ucap penjual pecel lele.

Ya. Hm, kenapa Pak?

Adik lupa? Wah saya saja masih ingat. Saya yang tukang jual kue putu Dik.

Waaaah. Kemana saja Pak? Saya kangen makan putu.

Saya bla bla bla….

Percakapan berlanjut.  O! Aku menyadari satu hal; Bapak itu kini tersenyum. Ia menyapaku dengan senyuman.

dinia
inspired by grenta


Sabtu, 01 Oktober 2011

Anak Kecil Penjual Koran, Etalase Bergerak Realita Sosial

Hari ini, pagi ini, ada yang mengusik hati saya, mengoyak rasa saya sebagai seorang manusia biasa. Di kampus saya, merupakan hal lumrah melihat beberapa anak kecil berkeliaran menjajakkan surat kabar. Saya belum pernah membelinya, sama sekali.

Karena pening, dan buruh hiburan, saya memutuskan untuk memanggil salah seorang anak, membeli koran.

Anak yang saya panggil memakai baju gombrang (kebesaran ukurannya -din) berlabel klub bola papan atas berwarna merah dan hitam. Badannya kurus, rambutnya pirang seperti bulu jagung. Ia berjalan gontai mendekati saya dan sesekali mengangkat kepalanya, tetapi lebih banyak menatap jalan di bawahnya.

Dia sampai di hadapan saya. Saya seperti tersulut dan tiba - tiba terkejut.

Saya sering melihat adegan orang dipukul, dihajar, dikroyok, bahkan sampai mati. Namun, segala yang saya saksikan itu adalah adegan film, atau sinetron, atau ftv. Semuanya telah dipersiapkan, orang - orang produksi dari film, ftv, atau pun sinetron itu pasti telah memperhitungkan betapa sudut, efek gerakan, make up dan lain - lain sebagai penunjang adegan tersebut. Sehingga yang dihasilkan adalah aktor atau aktris tampak babak belur, keluar darah dari mulut, kepala atau yang lain, bahkan hingga mereka ditampilkan mati.

Akan tetapi yang tersaji di hadapan saya adalah nyata, sungguhan, dan tidak pura - pura. Tidak ada make up, gumpalan kapas di pipi atau kebohongan lainnya. Yang di depan saya adalah seorang anak yang pipi kanannya bengkak, sampai matanya menyipit. Yang hadir dihadapan saya bisa saya sentuh, bisa saya raskaan vibrasinya, nyata!

Saya semula tidak percaya dengan pipi yang bengkak itu. Sekarang ini terlalu banyak modus pura - pura agar dapat dikasihani. Maka, saya meminta anak itu untuk membuka mulutnya. Saya kemudian mengintip sedikit dari dari lubang mulutnya, dan dari balik gigi - giginya, entah sudah disikat atau belum, saya benar - benar melihat pipi bagian dalam anak itu merah, dan menggembung.

Aih!

Saya tak kuasa untuk diam. Saya kemudian merepet seperti mercon yang mesiunya kebanyakan.
"Kenapa pipinya?"
"Dihajar temen saya Ka."
"Loh? Kok bisa?" tanya saya keheranan
"Saya dituduh nyuri Ka."
"Kamu nyuri ga tapinya?"
"Engga Ka."
"Beneran???"
"Iya, bener."

Pessss, saya seperti balon yang mengempis tiba - tiba, atau seperti gelembung yang sedang melayang - layang dilangit kemudian pecah tanpa sengaja.
Hancur, hancur hati saya kalau begini caranya. Pipi saya mendadak sakit.

Saya mencoba membaca mata anak itu, meski ia kerap menundukkan kepalanya. Ada pertentangan di hati saya. Saya berontak, karena mata anak kecil tak sepatutnya redup begini. Pancaran matanya hilang, dan lemah. Dari matanya saya seperti membaca kisah panjang tentang berat, getir, dan kelamnya kehidupan di luar sana. Tentang perjuangan buntu di hari - hari yang begitu panjang. Tentang susu adik, tentang "Anjing" "Babi" "Taik" dan umpatan lainnya, tentang ukulele bernada sumbang, tentang hujan hujan panjang yang dinantikan supaya mereka bisa menjadi ojek payung. Tentang hari yang tanpa ibadah, mungkin, karena tidak mengerti. Tentang kelaparan yang lupa lagi dirasa. Tentang, tentang, tentang.................

Saya melanjutkan pertanyaan saya,
"Kenapa jualan koran?"
"Bantu orang tua Ka."
"Orang tua kamu kerja?"
"Engga Ka.
"Ah! Yang bener?"
"Iya Ka, paling mulung doang."

Koran ada di tangan saya.

"Udah makan?"

Pertanyaan yang cuma berbalas gelengan pelan.

Saya bangkit dari jongkok, menyerahkan uang. Di titik itu saya menghitung uang yang tersisa. Saya lupa berapa jumlahnya.

Uang yang saya bawa ke kampus memang sangat terbatas. Dan hari itu saya benar benar cekak. Kebutuhan fotocopi ini itu sangat menyiksa.

Di satu sisi, saya merasa dengan uang yang tersisa saya masih bisa bertahan dengan cara tidak makan siang. Di sisi lain, saya masih banyak kebutuhan untuk ini dan itu. Maka, saya memilih untuk cukup memberikan uang 4 ribu seharga yang diminta.

Saya beralih ke tukang fotokopi. Seiring langkah saya, berkecamuk rasa bersalah, saya menoleh isi dompet. Ada semacam rasa tidak berdaya dalam menahan ego diri sendiri. Namun, ada semacam tanggung jawab moral yang gagal saya emban. Dan saya seperti tidak berguna. Saya bingung pada kondisi keuangan saya.

Menanyakan "Sudah makan atau belum?" kepada anak itu seperti makan buah simalakama. Saya merasa telah mengorek sebuah luka yang coba dilupakan, lantas berlari jauh - jauh kemudian tidak mau tahu dan membiarkan orang yang saya kopek lukanya merasa kesakitan. Aih! Saya ternyata lebih setan dari teman yang mengahajarnya.

Terbersit niat  kembali ke tempat tadi saya bertemu anak itu, setelah saya selesai memfotokopi. Saya selipkan beberapa ribuan yang saya ambil secara sembunyi sembunyi takut ketahuan ego saya.

Genggaman tinggallah genggaman, anak itu telah pergi dan saya dibiarkan melongok dan merasa bersalah sendirian.

Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Ah, anak kecil, kamu adalah etalase berjalan dari realitas sosial yang dipinggirkan orang. Ini rasanya sakit, saat saya menyadari di lingkungan kampus tercinta yang notabene pangung pameran kekayaan terdapat kenyataan kelam.

Saya jadi bertanya tanya sebenarnya berapa banyak uang yang menjadi permasalahan itu. 100 ribu kah? 50 ribu kah? 20 ribu? Ah, bahkan mungkin hanya lima ribu perak. Saya merinding. Bayangkan, betapa banyak teman - teman saya yang menghabiskan uang 30 ribu untuk sekadar minuman, sementara orang lain pipinya bengkak untuk uang yang mungkin hanya lima ribu.

Ampuni aku ya Rabb

Kampus tercinta, FIB
26 September 2011