Hari ini, pagi ini, ada yang mengusik hati saya, mengoyak rasa saya sebagai seorang manusia biasa. Di kampus saya, merupakan hal lumrah melihat beberapa anak kecil berkeliaran menjajakkan surat kabar. Saya belum pernah membelinya, sama sekali.
Karena pening, dan buruh hiburan, saya memutuskan untuk memanggil salah seorang anak, membeli koran.
Anak yang saya panggil memakai baju gombrang (kebesaran ukurannya -din) berlabel klub bola papan atas berwarna merah dan hitam. Badannya kurus, rambutnya pirang seperti bulu jagung. Ia berjalan gontai mendekati saya dan sesekali mengangkat kepalanya, tetapi lebih banyak menatap jalan di bawahnya.
Dia sampai di hadapan saya. Saya seperti tersulut dan tiba - tiba terkejut.
Saya sering melihat adegan orang dipukul, dihajar, dikroyok, bahkan sampai mati. Namun, segala yang saya saksikan itu adalah adegan film, atau sinetron, atau ftv. Semuanya telah dipersiapkan, orang - orang produksi dari film, ftv, atau pun sinetron itu pasti telah memperhitungkan betapa sudut, efek gerakan, make up dan lain - lain sebagai penunjang adegan tersebut. Sehingga yang dihasilkan adalah aktor atau aktris tampak babak belur, keluar darah dari mulut, kepala atau yang lain, bahkan hingga mereka ditampilkan mati.
Akan tetapi yang tersaji di hadapan saya adalah nyata, sungguhan, dan tidak pura - pura. Tidak ada make up, gumpalan kapas di pipi atau kebohongan lainnya. Yang di depan saya adalah seorang anak yang pipi kanannya bengkak, sampai matanya menyipit. Yang hadir dihadapan saya bisa saya sentuh, bisa saya raskaan vibrasinya, nyata!
Saya semula tidak percaya dengan pipi yang bengkak itu. Sekarang ini terlalu banyak modus pura - pura agar dapat dikasihani. Maka, saya meminta anak itu untuk membuka mulutnya. Saya kemudian mengintip sedikit dari dari lubang mulutnya, dan dari balik gigi - giginya, entah sudah disikat atau belum, saya benar - benar melihat pipi bagian dalam anak itu merah, dan menggembung.
Aih!
Saya tak kuasa untuk diam. Saya kemudian merepet seperti mercon yang mesiunya kebanyakan.
"Kenapa pipinya?"
"Dihajar temen saya Ka."
"Loh? Kok bisa?" tanya saya keheranan
"Saya dituduh nyuri Ka."
"Kamu nyuri ga tapinya?"
"Engga Ka."
"Beneran???"
"Iya, bener."
Pessss, saya seperti balon yang mengempis tiba - tiba, atau seperti gelembung yang sedang melayang - layang dilangit kemudian pecah tanpa sengaja.
Hancur, hancur hati saya kalau begini caranya. Pipi saya mendadak sakit.
Saya mencoba membaca mata anak itu, meski ia kerap menundukkan kepalanya. Ada pertentangan di hati saya. Saya berontak, karena mata anak kecil tak sepatutnya redup begini. Pancaran matanya hilang, dan lemah. Dari matanya saya seperti membaca kisah panjang tentang berat, getir, dan kelamnya kehidupan di luar sana. Tentang perjuangan buntu di hari - hari yang begitu panjang. Tentang susu adik, tentang "Anjing" "Babi" "Taik" dan umpatan lainnya, tentang ukulele bernada sumbang, tentang hujan hujan panjang yang dinantikan supaya mereka bisa menjadi ojek payung. Tentang hari yang tanpa ibadah, mungkin, karena tidak mengerti. Tentang kelaparan yang lupa lagi dirasa. Tentang, tentang, tentang.................
Saya melanjutkan pertanyaan saya,
"Kenapa jualan koran?"
"Bantu orang tua Ka."
"Orang tua kamu kerja?"
"Engga Ka.
"Ah! Yang bener?"
"Iya Ka, paling mulung doang."
Koran ada di tangan saya.
"Udah makan?"
Pertanyaan yang cuma berbalas gelengan pelan.
Saya bangkit dari jongkok, menyerahkan uang. Di titik itu saya menghitung uang yang tersisa. Saya lupa berapa jumlahnya.
Uang yang saya bawa ke kampus memang sangat terbatas. Dan hari itu saya benar benar cekak. Kebutuhan fotocopi ini itu sangat menyiksa.
Di satu sisi, saya merasa dengan uang yang tersisa saya masih bisa bertahan dengan cara tidak makan siang. Di sisi lain, saya masih banyak kebutuhan untuk ini dan itu. Maka, saya memilih untuk cukup memberikan uang 4 ribu seharga yang diminta.
Saya beralih ke tukang fotokopi. Seiring langkah saya, berkecamuk rasa bersalah, saya menoleh isi dompet. Ada semacam rasa tidak berdaya dalam menahan ego diri sendiri. Namun, ada semacam tanggung jawab moral yang gagal saya emban. Dan saya seperti tidak berguna. Saya bingung pada kondisi keuangan saya.
Menanyakan "Sudah makan atau belum?" kepada anak itu seperti makan buah simalakama. Saya merasa telah mengorek sebuah luka yang coba dilupakan, lantas berlari jauh - jauh kemudian tidak mau tahu dan membiarkan orang yang saya kopek lukanya merasa kesakitan. Aih! Saya ternyata lebih setan dari teman yang mengahajarnya.
Terbersit niat kembali ke tempat tadi saya bertemu anak itu, setelah saya selesai memfotokopi. Saya selipkan beberapa ribuan yang saya ambil secara sembunyi sembunyi takut ketahuan ego saya.
Genggaman tinggallah genggaman, anak itu telah pergi dan saya dibiarkan melongok dan merasa bersalah sendirian.
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Ah, anak kecil, kamu adalah etalase berjalan dari realitas sosial yang dipinggirkan orang. Ini rasanya sakit, saat saya menyadari di lingkungan kampus tercinta yang notabene pangung pameran kekayaan terdapat kenyataan kelam.
Saya jadi bertanya tanya sebenarnya berapa banyak uang yang menjadi permasalahan itu. 100 ribu kah? 50 ribu kah? 20 ribu? Ah, bahkan mungkin hanya lima ribu perak. Saya merinding. Bayangkan, betapa banyak teman - teman saya yang menghabiskan uang 30 ribu untuk sekadar minuman, sementara orang lain pipinya bengkak untuk uang yang mungkin hanya lima ribu.
Ampuni aku ya Rabb
Kampus tercinta, FIB
26 September 2011