Rabu, 05 Oktober 2011

Mitologi, Siapa yang Tidak Logis?


Kelas  teater hari ini menyisakan sebuah pertanyaan panjang dalam benak Tera. Mitologi nusantara  yang kaitannya dengan pertunjukkan teater terlalu diintimidasi dengan hadirnya seni teater Yunani yang jauh lebih berkembang. Sebuah diskusi terjadi, lebih  seperti monolog, yang membahas mengapa kisah Sangkuriang tidak dapat go international  dalam seni teater seperti Oidipus Sang Raja yang berasal dari Yunani.
Maka sang dosen yang kelihatan amat ahli di bidang teater membahas panjang lebar mengenai beberapa dongeng rakyat. Beliau berpendapat bahwa nilai dalam dongeng rakyat nusantara tidaklah mencerminkan nilai – nilai yang patut menjadi teladan dalam berkehidupan. “Bayangkan, seorang anak diceritakan cerita tentang kancil.  Bagaimana kita dapat mencetak generasi berkarakter jika cerita kancil itu menunjukkan bahwa untuk menggapai sesuatu kita boleh menghalalkan berbagai cara. Tak aneh kalau begitu, sekarang banyak sekali koruptor. Jelas, kecilnya diceritakan tentang Kancil yang begitu.”
Sekali lagi dosen saya menunjukkan cacat pada sebuah dongeng nusantara. “Sangkuriang. Ayahnya seorang anjing, sementara ibunya adalah manusia, Dayang Sumbi. Nah, di sini saja terlihat ketidaklogisan dari dongeng Sangkuriang. Indonesia banget ya?” Lontarnya pada kami mahasiswa yang lugu – lugu. Tera memandang sekitar, melihat teman – temannya yang mengangguk takzim, disusul beberapa tawa.
Tera jujur merasa tersinggung. Teman – temannya tampak tidak peduli dan merasa santai dengan pernyataan maupun pertanyaan yang dilontarkan sang dosen. Tidak ada yang peduli, semuanya santai dan mengalir, sang dosen melanjutkan cerita mengenai ketidaklogisan dan ketiadaan nilai luhur sebagai pembangun karakter bangsa.
Kalimat “Indonesia banget ya?” sangat menyinggung hati Tera. Kalimat itu menjadi teramat berduri ketika disandingkan dengan banyak ketidaklogisan dalam mitologi nusantara. Ini penghinaan bagi Tera! Dan ia aneh mengapa seisi kelas justru tampak setuju dan tidak terganggu. Tera mencoba mencari kawan, anehnya ia menemukan dirinya sendiri dalam emosinya yang menggebu.
Mitologi bukanlah sebuah cerita yang tidak sengaja diciptakan atau digilir datri generasi ke generasi. Mitos memang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu, atau untuk menjelaskan sesuatu. Kenapa terbentuknya gunung Tangkuban Perahu, manusia pada masanya mencoba menjelaskan dengan cerita yang polos dan lugu, yang terlalu banyak unsur sihir di dalamnya. Atau untuk menjelaskan kenapa ada keong berwarna emas di sawah, atau untuk menjelaskan kenapa bisa terbentuk danau Toba. Ini jelas – jelas cerita yang berawal dari ketidaklogisan Tera mengerti itu.
Yang Tera tidak mengerti adalah kenapa konsep ketidaklogisan itu seakan – akan hadir hanya di mitologi nusantara. Mitologi Yunani pun penuh dnegan ketidaklogisan. Mereka, orang – orang Yunani terdahulu, berusaha menjelaskan terjadinya siang dengan menggambarkan bahwa matahari di dorong oleh Dewa Apollo setiap harinya. Logis? Tidak, tidak logis sama sekali.
Tidak ada yang logis dalam mitos – mitos yang ada. Tidak di Yunani, pun di Indonesia. Semuanya terllingkup kebodohan – kebodohan yang coba dibangun sebagai penjelasan. Tidak perlu menurut Tera menempatkan kalimat “Indonesia banget.” setelah menyebutkan kata “tidak logis”. Mereka, orang – orang terdahulu, yang menciptakan mitos secara sangat sederhana mencerminkan pengetahuan kala itu. Maka menurut tera, sangat hina orang yang menghina ketiadaan pengetahuan yang berusaha dijelaskan dengan nalar manusia melalui mitos. Kala itu, yang bodoh yang tidak nyambung bukan hanya orang Indonesia, orang – orang di belahan bumi lain pun sama. Sama – sama bodoh dan sok tahu. Jadi ini bukan perkara Indonesia, atau Yunani. Ini perkara ketiadaan pengetahuan!
Meski pada akhirnya, patut diakui bahwa dongeng rakyat adalah cerminan kondisi karakter, dan mentalitas bangsa secara implisit. Dongeng rakyat nusantara harus diakui memang sedikit banyak mengajarkan suatu sikap nrimo, tidak mau kalah, dan kurang ksatria dalam kehidupan. Tetapi itu tidak berarti cerita Cinderella menjadi lebih baik. Tetap saja cerita itu mengajarkan anak – anak yang mendengarnya menjadi mereka yang percaya bahwa kebahagiaan akan datang dengan sihir, dan dengan mudah.
Cerita yang buruk bukan menyangkut sebuah bangsa, melainkan cerita itu sendiri yang merusak.
Jika memang ya harus diakui, sebetulnya Tera tahu bahwa bangsanya memang bobrok. Bangsanya tidak punya malu. Lucu jika membandingkan cerita Timun Mas dan Putri Kaguya dari Jepang. Ceritanya sama, sama – sama putri yang lahir atas pemberian, dan kemudian hendak dijemput kembali. Bedanya, Timun Mas berakhir pada kepemilikan Timun Mas di pihak orang tuanya, sementara Putri Kaguya justru meninggalkan orang tuanya. Jelas terlihat bahwa Putri Kaguya merupakan cerminan bangsa yang sangat tahu diri. Orang tua Kaguya menepati janjinya untuk menyerahkan kembali Kaguya, sementara orang tua Timun Mas enggan menepati janjinya untuk menyerahkan sang anak. Beda kan? Ya beda.
Tera tidak peduli. Baginya bangsanya sudah bobrok, tidak perlu lagi menambah kebobrokan dengan menceritakan aib.
Tak dapat Tera berdiskusi banyak dnegan dosennya. Ia pun cepat cepat menyambung pikirannya melalui tulisan ini.