11 oktober
Cikini ramai, dan Tera baru sadar ternyata Cikini berbeda jauh dengan Depok. Kala itu senja, malam datang pelan – pelan seperti takut berbaur. Suara motor dan mobil tidak tahu malu, mengalahkan adzan magrib. Tera duduk di trotoar, memperhatikan sekeliling. Mencoba menikmati jus apel tiruan di tangannya.
Satu jam yang lalu ia di luar angkasa. Menari bersama rembulan, dicumbu sinar perawan gemintang. Beberapa kali ia melayang, jatuh terduduk di singgasananya yang baru; tempat duduk dari sulaman bintang. Beberapa burung merpati menghampiri Tera, memasangkan sebuah mahkota dengan ujung – ujung dari serpihan benda langit.
Berat rasanya memakai mahkota itu. Tetapi Tera mengangkat dagunya, ia menyandang kekuasaan semesta untuk beberapa saat.
Rupanya pemimpin baru tetap saja terlihat amatir. Tera bukan memimpin semesta, ia sibuk berenang di lautan kekaguman. Tera menyentuh secara perlahan sebuah bintang. Rasanya dingin, berbeda dari yang dikatakan siapa pun. Bintang itu syahdu mengecup tangan Tera. Harumnya seperti buah manggis, atau bunga melati. Tera memperhatikan bintang itu dengan lekat-lekat, berpendar sinar ungu, sinar merah, hijau , jingga, abu-abu, dan bintang bintang hidup berbeda warna.
Ia lalu mendekati rembulan. Sudah tua rupanya. Keriput di sana-sini. Tera mengajak sang ibu bulan berbicara, tetapi ternyata ia baru tahu kalau dirinya bisu di situ. Ibu bulan hanya tersenyum maklum, ia mengerti kebisuan Tera.
Ah indah, Tera duduk kembali di singgasananya, memejamkan mata. Nikmatnya jadi penguasa semesta!
“Ada apa ini?!” bentak Tera tanpa bersuara.
Tiba-tiba ia telah dikepung. Bintang-bintang nyalang melihatnya! Mereka tak lagi berpendar, tetapi hitam. Mereka tak lagi rupawan, tetapi buruk rupa seperti bongkahan batu yang gosong. Bau mereka adalah bau kejahatan, bau kebusukan hati, bau kebencian.
Tera melirik dirinya sendiri. Betapa terkejutnya dia, badannya kelam, rambutnya melayang kusut, gigi – giginya bahkan menghitam. Ia kelam! Ditelan kelamnya semesta yang lebih pekat!
Bintang – bintang itu menggumam tidak jelas. Mereka menuntut! Mereka berteriak! Mereka mau menghajar Tera!
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
“Pendar cahaya milik langit! Semesta! Manusia mencuri!”
Bintang-bintang itu mengukung Tera. Mereka tak mundur selangkah pun. Tera begitu panik. Sekelilingnya ia dikepung bulan juga. Mereka ada banyak ternyata! Bulan itu peyote-peyot, begitu buruk rupa hingga Tera tak mampu melihatnya.
Peluh mengalir deras, mereka makin dekat. Tera berusaha teriak, tetapi ia bisu. Suaranya berakhir pada gumam yang tidak jelas. Ia berlari mencari peluang. Tetapi justru dipeluk sebuah bintang yang dendamnya menyala-nyala. Tertangkap! Habislah Tera kalau begini caranya.
Bintang-bintang dan bulan-bulan menghimpit Tera. Mula-mula kaki Tera yang dibuat remuk. Kemudian, paha Tera. Kemudian, perut, tangan, sampai mata kepala Tera hilang di gumulan kerusuhan itu.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!”
Jus apel yang Tera minum sontak jatuh dari genggamannya. Ibu penjual itu buru-buru menjauh dan mencari bala bantuan. Aktivitas Cikini berhenti sebentar. Supir -supir taksi, angkot, ojek, pedagang kaki lima, muda -mudi yang tengah memadu kasih, seorang anak yang mengais sampah, ibu-ibu yang baru pulang kerja, dan sekelompok siswi SMA, mereka, menoleh ke arah datangnya teriakan itu. Sebentar, selebihnya Cikini normal.
Tera baru sadar ia telah membuat malu. Cepat-cepat ia keluarkan uang sepuluh ribu. Tanpa menunggu kembalian ia berjalan tergesa -gesa menuju stasiun.
Masih terbayang pengalamannya barusan. Ia melirik langit yang disebut malam. Mana? Pantas mereka marah. Langit malam tertutup awan merah, bintang-bintang berpindah tempat. Bintang-bintang tak lagi di langit, tiruannya sempurna di ujung lampu-lampu kota.