Senin, 30 September 2013

Pulang

Terbayang rumah di perjalanan malam dengan kawan asing
Menyusuri jalan jingga dengan langit gelap yang terus bertanya: "Kapan pulang?".
Bulan jadi tak lagi bundar, malu-malu bersembunyi di kapas hitam. Tapi gaungnya memekakkan menusuk kalbu dengan pertanyaan: "Kapan pulang?".
Di jalan bergelombang seperti pita baju, aku meniti pulangku,
Mencoba menggauli jejakku sendiri sampai akhirnya bisa menderitkan gerbang tua.
Hampir, hampir sampai di ujung pita.
Sebaris tanya yang dilontarkan langit yang angkuh dan bulan yang rusuh aku coba jawab dengan kepastian yang lugu: aku hampir sampai ke sana. Ke rumah sebagai rahim yang hangat untuk bayi yang terlalu dewasa ini.

Biar saja mereka tertawa, sedang aku merendahkan diriku sendiri. Tapi, dalam hati siapa yang bisa menebak.

Pada akhirnya akan tertinggal hanya aku dan sepotong perasaan dingin di pinggir percakapan ramai.

-Lombok

Seusai gegap gempita, pasti ada sepi yang angkuh,
Tapi diam-diam menawan hati.

~desa Sasak, Lombok, setelah tertawa terlalu banyak~

Minggu, 29 September 2013

Kebahagiaan itu apa? Individu yang menciptakannya atau diberikan oleh orang lain? Mengapa lantas sering ketidakbahagiaan menyerang seorang individu karena dikecewakan oleh orang lain, kalau sebetulnya kebahagiaan itu merupakan pilihan yang bisa diciptakan oleh diri sendiri?

Apa untuk bahagia saja harus ditentukan oleh orang lain? 

Sabtu, 28 September 2013

Menulis

-Tidak ada ruang bagi saat yang lalu, terlebih bagi masa lalu.

Aku selalu bertanya-tanya mengapa apa yang kutulis tidak pernah berguna. Selalu terasa sia-sia bagiku. Rasa-rasanya aku telah mencurahkan seluruh isi hatiku, perasaanku, dan pikiran di dalam kepalaku. Aku sudah mencoba merangkai kata-kata yang indah, atau ,ketika aku merasa apa yang aku susun terlalu pura-pura, aku mencoba menjadi lebih natural dengan membiarkan tanganku bergerak sesuai inspirasi. Tapi inspirasi datangnya jarang-jarang, dan ketika datang pun seringkali secara tiba-tiba sehingga aku terkadang tidak bisa segera menuliskannya. Aku berusaha dengan sekuat tenaga menyimpannya di otakku, tapi kata-kata cepat sekali terbangnya jika tidak ditulis. Tulisanku yang terrencana sebelumnya bernada kaku, sementara yang spontan nadanya amat tak beraturan.  Aku sadar aku lebih banyak menulis untuk secara spontan mengalirkan emosi, karena terkadang aku sesak oleh perasaanku sendiri. Itu mengapa, aku tidak mempunyai waktu yang rutin untuk menulis.

Padahal, banyak orang sengaja menyediakan waktu khusus untuk menulis. Misalnya salah seorang kenalanku, ia menyediakan malamnya untuk menulis, merenung, dan berbicara dengan dirinya sendiri. Aku pernah pula mengikuti cara itu, namun sering kali gagal. Lebih banyak gagal karena aku terlalu lelah dan tak mampu lagi terjaga ketika malam. Namun bukan berarti aku tak mencoba. Aku mencoba juga berhadapan dengan mon jurnal en theme, tapi lebih banyak aku terpaku dan tidak tahu harus menulis apa karena bagiku sulit menulis jika arteriku tidak dialiri perasaan tertentu.

Baru aku sadari beberapa hari yang lalu di kelas KBP Madame Tjhoa bahwa aku selama ini menulis untuk kepuasan perasaanku, bukan untuk diriku sendiri sehingga aku menjadi sangat emosional dan spontan dalam menuangkan perasaanku. Padahal, sejatinya aku menemukan bahwa menulis harus jadi cara untuk berbicara dan berdialog dengan diri sendiri, dengan ingatan. Dengan begitu, seharusnya aku bersedia memberikan tempat di dalam tulisanku untuk ingatanku sendiri, untuk menuliskan apa yang sudah aku alami. Madame Tjhoa bercerita dengan membuka kembali son journal en theme ia tahu siapa dirinya dan sudah ke mana ia melangkah. Membuka tulisannya di son journal en theme memberikan dia kesempatan untuk tahu bahwa ia tidak banyak berubah semenjak 20 tahun lalu. Lantas aku? Apa yang akan aku tahu tentang diriku sendiri 5 tahun nanti, 10 tahun, 20 tahun nanti?

Tulisan-tulisanku yang spontan tidak akan benar-benar memberi tahuku siapa aku yang sebenarnya. Aku harus memaksa diri memberikan tempat bagi ingatanku, bagi peristiwa yang telah terjadi di hariku. Ketika Madame Tjhoa bertanya: "Kalian tahu bedanya hari ini dan kemarin?". Kelasku kosong seperti tak berpenghuni. "Jelas kalian tidak tahu, karena kalian tidak pernah berusaha untuk mengingat dan menuliskannya." . Betul, aku tidak tahu apa-apa tentang kemarin sehingga aku tidak bisa menghargai hari ini. Aku pun akhirnya sadar, bahwa saat menulis tidak boleh disia-siakan dengan hanya menyilakan emosi untuk berteriak dan bersuara, tapi berikan jalan bagi realita dan peristiwa yang aku alami. Aku harus lebih banyak mengingat-ingat apa yang aku alami sehingga peristiwa dan kata tidak terbang begitu saja meninggalkanku. Aku harus belajar lebih giat untuk merekam kata, menuliskan bau, membahasakan pengelihatan, dan menyediakan waktu.

Aku memang belum mampu memahami banyak hal, namun setidaknya aku harus memahami diriku sendiri, mengenal siapa aku sebenarnya.

Dinia

Jumat, 13 September 2013

Tidak kah engkau lelah, Angin, membelai wajah air laut setiap hari?
Aku menemukanmu hinggap dalam ingatan yang lalu tentang riakriak kecil yang mengecil namun tak menghilang.

Senggigi, 1392013

Kamis, 12 September 2013

Kamu adalah alam bawah sadar yang mencuri aku dan menculik waktuku.