Terbayang rumah di perjalanan malam dengan kawan asing
Menyusuri jalan jingga dengan langit gelap yang terus bertanya: "Kapan pulang?".
Bulan jadi tak lagi bundar, malu-malu bersembunyi di kapas hitam. Tapi gaungnya memekakkan menusuk kalbu dengan pertanyaan: "Kapan pulang?".
Di jalan bergelombang seperti pita baju, aku meniti pulangku,
Mencoba menggauli jejakku sendiri sampai akhirnya bisa menderitkan gerbang tua.
Hampir, hampir sampai di ujung pita.
Sebaris tanya yang dilontarkan langit yang angkuh dan bulan yang rusuh aku coba jawab dengan kepastian yang lugu: aku hampir sampai ke sana. Ke rumah sebagai rahim yang hangat untuk bayi yang terlalu dewasa ini.