Kotak berkaca cembung dengan jutaan dunia di dalamnya. Yang dijual adalah mimpi-mimpi tentang kehidupan yang tak mau berkerabat dengan realita hidupku. Kemarin kulihat Jakarta yang berisi pertunjukan di mall mewah, ditayangkan di tv. Aku kemudian bertanya: “Loh Jakartamu kok beda dengan Jakarta ku?”
Kemudian juga menjual anak-anak kecil yang kadang masih belum dapat membedakan angka-angka.
Mereka justru lebih ahli membedakan yang mana cherry bell yang mana seven icon. Mereka lebih hapal yang mana yang suju yang mana yang shinee. Ada lagi remaja yanggung yang jejingkrakkan di panggung sempit, berkelir tebal mukanya, dan tangannya menggenggam mikrofon yang kebesaran di tangan mungilnya. Haha. Ia, mereka bukan penyanyi. Tetapi peniru gerak lagu. GAGAL!
Ke mana mereka memangnya pagi-pagi begini? Dari jam berapa mereka di make up? Mereka tidak bersekolah atau bolos sekolah? Aku bingung, apa perasaan orang tua mereka. Seharusnya mereka malu toh, anak remaja begitu, anak kecil begitu sudah disulap jadi tante-tante dan menghibur dengan jualan gerak badan mereka yang tidak menggoda. Kenapa sih dunia begitu berpura-pura? Bahkan semakin hari semakin banyak anak-anak yang dijual tanpa merasa terjual. Siapa yang tertipu? Siapa yang menipu?
Pagi hari seharusnya otak bekerja lancar. Memandang hari baru dan menyongsongnya dengan sebuah semangat. Bagaimana mau semangat kalau jam 6 pagi sudah disajikan lagu <<patah hati>>. Tentunya penonton yang tadinya tidak patah hati bisa terbawa haru biru.
Anak kecil, remaja tanggung, orang dewasa menjual hiburan palsu yang tidak menghibur. Mereka justru senang terbuai dalam kata-kata yang diiringi musik. Coba kapan-kapan kau baca lirik para boy band dan girl band itu tanpa iringan musik. Akan menggelikan membacanya! HAHA. Kemudian lirik menggelikan itu dijadikan diktat baru oleh anak-anak sd yang seharusnya masih boleh berkhayal. Berkhayal tentang sebuah negeri di balik awan, tentang dunia semut, tentang nenek sihir, tentang kelinci dan wortel, bukan melulu berkhayal tentang jatuh cinta, sakit hati, dan kehilangan pacar. Cih! Benci benar aku mendengar yang seperti ini.
Baiklah, kalau memang tidak bisa diubah, dan orang-orang memang senang ditipu dan menipu, aku cuma bisa bilang begini: “SELAMAT DATANG GENERASI PATAH HATI! SELAMAT DATANG ANAKKECIL YANG PATAH HATI!” hahah