Kamis, 26 Maret 2015

Aduh!

Tidak bermaksud mengeluh. Dalam postingan kali ini aku cuma ingin berbagi cerita saja.

Bengkak. Mukaku bengkak sampai membuat mataku tidak bisa dibuka. Sekarang kondisiku sudah membaik, tapi ngilu masih nyisa belummau pergi. Entah penyebabnya apa, tapi sekarang area bibir hingga hidung dan pipi bagian kanan mukaku membesar. Aku tidak bisa mengatupkan bibir.

Rasanya sakit sekali, betul-betul ngilu. Tambah nyeri ketika kuperhatikan wajahku di cermin. Hampir mirip Daisy Duck. Yup! Pasangan Donald Duck. Bibirku besar sekali, bukan hanya bagian atas, bagian bawah pun juga.

Aku malu. Kututupi wajahku selama kontrol ke dokter.

Ketika aku berdiri, atau duduk dengan posisi yang tidak enak, maka otomatis akan ada tekanan ke gigiku yang sedang meradang. Aku tidak tahan. Sebentar-sebentar kucari posisi yang nyaman.

Empat hari ini rasanya aku sangat menderita. Bengkak di wajahku sedikit berkurang, ngilunya pun mereda. Tapi tetap masih jauh dari kata sembuh.

Ketika hari pertama, aku sangat down, depressed, like this was gonna be forever. The pain seemed kill me in that time. I was upset. I cried a lot. I stopped talking.

Here I am right now.

Rasa-rasanya sakit yang kutanggung ini lebih dari yang kumampu. Tapi ketika pikiran itu datang kubilang pada diriku: Hey! Allah would not give any hardship beyond your capacity! Dan ya, nyatanya aku masih kuat sampai sekarang.

Bukannya aku mau terus begini, tapi setidaknya aku mulai bisa membiasakan diri dengan ngilu yang merajalela tanpa kenal waktu. Aku mulai bisa mengira-ngira cara makan dan minum yang tidak perlu menyakiti diriku. Aku belajar cara sikat gigi yang aman untuk gigiku. Setidaknya, aku mau mencoba berdamai dengan situasi ini.

Selain itu, setiap kali aku mau mengeluh dan ambruk, aku mengingat kembali perjuangan pada tahun 2013. Tahun yang luar biasa berat bagiku. Tapi toh Allah membiarkanku melaluinya.. :)

Tahun ketika aku ada di titik terrendah hidupku. Ketika bisa menggerakkan jari-jari tangan adalah berkat tiada tara. Ketika duduk, berdiri dan berjalan adalah sebuah perjuangan berarti. Ketika Allah dan keluarga terasa dekat di hati.

Ketika Allah memberikanku kesempatan kedua untuk berubah. Untuk hidup lagi.

Sekarang, aku siap. Ini mungkin berat. Dan pasti banyak hal yang harus aku benahi dalam diri. Tak apa. Aku percaya Allah memberikan cobaan yang tepat pada waktunya untuk mendewasakan diriku. Tak apa. Jika ini menjadi penggugur dosaku.

-Pada sebuah malam yang sepi