Selasa, 24 Maret 2015

Tentang Telur Dadar

Malam ini papa pulang dengan membawa banyak makanan. Ada bakmi, ada sekotak nasi padang. Kemudian, mama memeriksa nasi padang itu apakah sudah basi atau belum. Papa bilang nasi kotak itu sudah dari tadi siang.

Begitu kotak nasi dibuka, mama tertegun dan diam. Aku mencoba mendekat dan sepotong telur dadar super tebal menyapa kami. Ah, telur dadar.

Sontak air mataku meleleh. Suara mama berubah gemetar. Aku tahu itu karena telur dadar.

Kami semua bukan penggemar telur, tapi beberapa tahun terakhir kami sering makan telur, khususnya telur dadar. Kenapa? Karena beberapa tahun terakhir aku-kembaranku-udaku jarang makan di rumah. Jadi, yang paling mudah dan praktis adalah membuat telur dadar. Tidak akan terbuang karena bisa disesuaikan dengan jumlah orang yang akan makan.

Kami, orang minang. Khususnya papaku, beliau lebih senang mengajak kami ke restoran padang ketimbang makan makanan barat. Setiap dari kami punya kesukaan lauk. Aku suka semua! Kalau kembaranku suka dendeng yang garing (harus garing), uda keduaku suka semuanya, uda pertamaku suka semuanya, tapi yang selalu ada di piringnya adalah telur dadar.

Baru saja tadi pagi uda pertamaku dengan sedikit air mata pamit dari rumah untuk mulai saat itu tinggal di Bekasi. Malamnya kami mendapatkan sepotong telur dadar di dalam kotak nasi.

Aih, rasa sayang bisa segitunya. Aku bahkan bertanya; "Mam telurnya mau ditinggalin untuk uda ngga?"

Tapi bagaimana caranya? Dia kan sudah pindah. Rumah sekarang hanya untuk berempat: aku-kembaranku-papa-mama.

Aku baru benarbenar sadar kalau uda pertamaku sudah pindah sore ini. Saat aku tidur di kamarnya, aku baru sadar kalau tumpukka  hotwheels jualannya sudah tak ada, foto, stack of files, bahkan kemeja di dalam lemari sudah diangkut semua.

Sekarang aku malah bertanya-tanya mengapa aku menangis.

Kangen? Tidak juga.

Tidak rela? Harus ikhlas.

Lantas?

Mungkin sayang. Mungkin terbawa perasaan. Mungkin butuh waktu.