Sabtu, 14 Maret 2015

Feeling(s)

Aku selalu memimpikan agar rumahku bisa lebih luas, karena bagiku dulu rumah ini rasanya sempit dan terlalu ramai. Semua orang mondar-mandir seenaknya, keluar-masuk kamar tanpa izin karena memang seolah ada aturan tidak tertulis agar pintu kamar tidak perlu dikunci.

Ingatanku berlabuh pada masa-masa kecil dulu ketika aku lebih senang menghabiskan waktu di kamar uda, karena di dalamnya begitu lengkap! Ada televisi, play station, seperangkat radio dan tape recorder. Bagiku semua itu keren. Jadi, sebeluma uda-udaku pulang sekolah, aku sempatkan untuk mendengarkan kaset favorit di kamarnya. Rasanya senang sekali kala itu.

Malam harinya, aku habiskan menonton televisi di kamarnya. Aku tiduran di kasurnya sementara uda-udaku di lantai, kami akur menonton tv. Walau sekali-kali mereka marah karena aku tidak henti usil menarik rambut mereka. Hari lain giliran aku yang menangis karena tak kebagian pegang remote, sehingga acara tv dikuasai oleh mereka berdua. Sebal! 

Kadang kalau sudah terlalu kesal aku keluar karena mereka mengusirku. Kubanting pintu kamar yang kuhuni bersama kembaranku. 

Kami tidak pernah betul-betul punya kamar sendiri. Aku tidur bersama kembaranku, dua kakak laki-lakiku tidur di kamar sebelah. Praktis per satu kamar diisi dua manusia. 

Tahun 2004, semuanya berubah. Uda keduaku melanjutkan SMA di Bogor, di SMA mamaku dulu. Kehidupannya pun dihabiskan di Bogor, di rumah nenekku. Sesekali ia pulang di akhir minggu dengan cucian segunung yang kadang membuatku geleng-geleng kepala. Semua berlanjut demikian karena selanjutnya ia berkuliah di IPB.

Tak jelas betul bagaimana perasaanku ketika itu. Kadang orang bilang homesick ketika mereka jauh dari keluarga. Kadang perantau yang selalu diibaratkan menyandang rindu. Aku kala itu perlu waktu lama untuk bisa menerima keadaan bahwa kakakku sudah tidak lagi tinggal bersama kami. Di rumah tinggal kami berlima. Kakakku pulang hanya dalam rangka berkunjung.

Tentang kamar, selepas perginya uda kedua, kamar jadi milik uda pertamaku. Aku makin jarang main ke kamarnya, ia pun begitu. Letak tv tak lagi di kamarnya, pemutar kaset sudah tak ngetren lagi, dan ponsel pun telah memiliki fitur canggih untuk mendengarkan radio. Jadi, aku benar-benar jarang sekali masuk ke kamarnya kalau bukan urusan menyalakan lampu garasi.

Kami pun bertambah dewasa, meski berhenti menghabiskan waktu bersama, aku masih ingat setiap pagi uda pertamaku punya tanggung jawab untuk mengantarkanku ke sekolah. Aku yang duduk di bangku SMP, selalu senang kalau dibonceng udaku. Ketika beberapa kali harus menggunakan ojek ke sekolah aku sering ribut dengan abang ojek karena cara mengendarainya yang asal-asalan. 

Ketika SD, tugas mengantar kami ke sekolah dipegang papa. Setiap pagi selalu sibuk! Mama membuatkan sarapan di dapur, atau sibuk menyuapi kami yang lelet, sementara papa pasti teriak "Hei sudah jam segini!" Kalau tak sempat sarapan di rumah, aku pasti merajuk minta mama ikut mengantarkan kami dan menyuapi kami di mobil. Seringkali di dalam mobil papa mengomeli kami yang terlambat, atau sering kami habiskan dengan ngobrol sambil tertawa. 

Ketika kami beranjak dewasa, permasalahan mulai timbul. Aku mulai suka protes tentang banyak hal, mengeluh tentang rumah yang sempit dan tidak adanya privasi. Kakakku mulai bermasalah dengan pulang malam. Makin remaja aku makin terlibat konflik dengan kembaranku. Kami bisa dibilang tidak akur ketimbang akur. Duh!

Masalah yang datang dan pergi kerap membuat aku tidak betah di rumah. Rumah jadi panas dan gerah, makin terasa sumpek!

Tapi kami makin dewasa, dan pembelajaran bukan cuma untuk kami para anak. Aku melihat mama dan papa juga berproses, makin dewasa dan makin kuat. Kalau kupikir-pikir tidak semua orang tua sesabar mama dan papa menghadapi kami yang ABG saat itu.

Sepertinya memang uda keduaku yang mengawali banyak hal dibanding kami saudara-saudaranya. Dengan pilihan berkuliah di fakultas Kehutanan IPB, ia lebih dulu menjejakkan kaki ke banyak pulau di Indonesia. Dalam urusan jodoh, ia juga duluan. Tahun 2013 ia memutuskan menikah dengan seorang teman kuliahnya. 

Tapi rumahku tak jauh beda kondisinya. Hanya saja, kami semakin sering pulang malam. Aku dan kembaranku dengan kegiatan organisasi kami di kampus, dan uda pertamaku dengan pekerjaannya. Kami makin jarang bertemu. Lebih-lebih dua tahun terakhir, uda pertamaku berhubungan dengan perempuan yang tinggal di Bandung. Praktis akhir minggu ia habiskan di Bandung untuk silaturahim dengan keluarga sang perempuan.

Bagi mama, setiap pagi tetap sibuk. Setiap pukul lima ia sudah harus memasak karena uda pertamaku selalu minta dibawakan bekal setiap harinya. Kadang aku kasihan melihat mama yang harus putar otak, mencari ide makanan apa yang tidak membuat udaku bosan. Kalau sudah bosan, ia akan bilang: "Ada lauk yang lain ga Mam?" Kalaupun tidak ada, ia akan pasrah membawa bekal yang sudah disiapkan mama. 
 
Sementara bagiku, kadang harus ribut dulu baru bisa pakai kamar mandi dengan aman, nyaman, damai, sentosa. Walau cuma untuk wudhu, uda pasti menggedor dan bilang: "Masih lama gak Dek? Jangan lama-lama! Gue mau kerja!". Dengan muka sebal pasti aku akan keluar dan  ngedumel dalam hati: "Ga sabar banget sih!"

Dan itu adalah rutinitas setiap pagi.

Sekarang, rumahku sudah lebih luas. Satu kamar baru dan satu ruangan baru papa sediakan untuk anak dan mantunya. Sekarang, uda pertamaku sudah menikah, dan bersama istrinya lebih memilih untuk tinggal di Bekasi.

Dan sekarang pula aku merasa rumah benar-benar sepi. Mama tidak pernah sibuk lagi setiap pagi. Sarapan yang dibuatnya cukup dua cangkir minuman hangat untuk beliau dan papa. Aku dan kembaranku tidak suka sarapan terlalu pagi. Tidak perlu lagi membuat bekal tiap pagi. Tidak ada lagi cek cok pagi-pagi karena antrean memakai kamar mandi. Tidak ada lagi deru motor yang ditunggu setiap malam untuk kemudian papa menggembok pagar. Tidak ada lagi yang antusias mencicipi makanan yang aku buat segagal apapun itu. Tidak ada lagi yang papa ketuk kamarnya setiap pagi untuk bersama-sama pergi solat subuh di masjid. Tidak ada lagi satu kamar untuk berdua.

Dewasa.

Menikah.

Berrumah tangga.

Aku pikir aku tak akan merasa kehilangan seperti ini. Tetapi ternyata little things mean a lot to me. Ternyata begini rasanya ditinggal kakak menikah. Tidak enak.