Rabu, 08 April 2015

Antara Popularitas Serial Drama dan Menjamurnya Resto Asing

Beberapa minggu terakhir ini saya punya dua topik favorit untuk ditelusuri di kanal youtube: makanan dan agama. Kita skip soal agama, mari berfokus tentang makanan. Beberapa kanal, baik yang dimiliki perseorangan ataupun kelompok, mengunggah video tentang food tasting, atau demo masak.

Yang sedang trend adalah kanal-kanal yang menampilkan video tentang icip-icip makanan dari berbagai dunia. Salah satu kanal yang pernah menampilkan icip-icip kudapan Indonesia adalah buzzvideo. Sayang, menurut saya reaksi yang diberikan sangat berlebihan. ‘They said: Why would you eat this?’ ‘It tastes like styreofoam’. Saya pun balas di dalam kepala: Why wouldn’t I eat that?.It tastes superb!



Saya tidak bisa menyalahkan reaksi mereka, beberapa di antara makanan yang mereka cicipi memang mungkin asing, berbau menusuk hidung, atau memiliki tekstur yang unik. Tapi apa berarti makanan Indonesia tidak enak?

Tentu fakta bahwa portal berita CNN menobatkan rendang Indonesia sebagai makanan terlezat sedunia mematahkan semua itu. Lagipula, kita punya bakso, nasi goreng, sate padang, mie aceh, tino ransak, bubur manado, gudeg, cilok, cimol, cireng, seblak, dan jutaan menu lainnya yang tentunya punya rasa jempolan.

Saya kemudian mencoba membandingkan makanan Indonesia dengan kuliner Korea atau Jepang yang sangat in belakangan ini. Banyak orang suka sekali makanan dari dua negara itu. Buktinya, kita bisa lihat bagaimana menjamurnya restoran sushi, atau rumah makan korea di kota-kota besar akhir-akhir ini.

Sebetulnya Indonesia punya trend makanannya sendiri. Coba saja sebut ayam penyet dengan sambel super pedas, mie setan, seblak seuhah, cireng rujak, cendol, bahkan sampai kue cubit. Hmm yang mana yang rasanya tidak enak hayo? Saya yakin tidak ada, karena memang semuanya enak.

Tapi tahukah orang di luar Indonesia tentang kelezatan semua itu?

Mungkin tahu, semua bisa dilihat di youtube dengan kata kunci pencarian Indonesian street food. Bahkan banyak pula yang menampilkan resep dan cara pembuatan kuliner Indonesia.
Terlepas dari adanya kanal youtube dan cara yang ditempuh untuk mempromosikan makanan Indonesia, saya merasa upaya yang dilakukan belum maksimal. Korea contohnya, saya pribadi tidak suka makanan negeri ginseng ini namun melihat artis-artis negara itu dengan asyik menyantapnya di dalam adegan film membuat saya mau tidak mau juga meneteskan liur. Jepang lain lagi, meski tahu menyeruput mie ramen atau menenggak kuah ramen langsung dari mangkuknya bukan tindakan lazim di banyak negara, pembuat film tidak peduli. Yang ia tahu adalah membuat film, dan menampilkan senatural mungkin kehidupan di negaranya. Tidak jarang, drama korea menampilkan jajanan yang sedang disantap panas-panas oleh sang artis, sebut saja toeppokki. Lain halnya, drama jepang sering menampilkan dango ataupun takoyaki yang dimakan oleh sang artis.

Bagaimana dengan makanan Indonesia dalam film atau drama negeri ini?

Jangan khawatir, ada serial drama ataupun ftv yang menampilkan makanan Indonesia kok, sebut saja sinetron Tukang Bubur Naik Haji atau ftv berjudul Azab Anak Penjual Batagor. Di sinetron yang sudah lama pun makanan Indonesia ditampilkan, misalnya pada tayangan Keluarga Cemara. Tentu beberapa dari kita masih ingat bagaimana Euis dengan gigih berjualan opak (sejenis kerupuk dari olahan singkong), dan Emak yang tidak bosan membuatnya di rumah.

Bubur Ayam dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji merupakan unsur penting. Kehadirannya melambangkan perjuangan dan kesulitan hidup yang dialami Sulam sang penjual bubur. Keberlanjutan cerita, menampilkan bentuk keberhasilan Sulam yang akhirnya dapat memberangkatkan dirinya serta keluarganya untuk pergi berhaji. Ia pun pada akhirnya dapat membuka kios bubur sendiri dan berhenti berjualan bubur dengan gerobaknya. Sama seperti sinetron Tukang Bubur Naik Haji, serial drama Keluarga Cemara juga menjadikan opak sebagai simbol perjuangan dan kesulitan ekonomi yang dialami keluarga Abah. Juga, pada ftv Azab Anak Penjual Batagor, penjual batagor digambarkan sangat miskin sehingga ia tidak dapat memberikan apa yang diminta oleh sang anak.

Adapun beberapa sinetron lain lebih senang menampilkan adegan makan di restoran, atau ruangan yang pura-pura disulap sebagai restoran. Jika adegannya sudah begini, maka makanan yang sekilas ditampilkan adalah makanan western sebut saja spaghetti atau steak. Untuk minuman, tayang tersebut akan menampilkan jus.

Sinetron Indonesia yang lebih senang menyajikan konflik akibat perbedaan status sosial turut menjadikan pilihan makanan dan gaya makan tokoh di dalamnya sebagai bahan pembanding. Pilihan makan sayur asem, jengkol, petai, dan ikan asin misalnya dikaitkan dengan tokoh yang berasal dari keluarga miskin. Sementara tokoh yang digambarkan kaya selalu menganggap pilihan makanan seperti itu tidak sesuai dengan status ekonomi maupun sosialnya.

Selain itu, Makanan dan minuman pun tidak pernah ditampilkan sebagai sorotan utama yang turut menggerakkan sebuah cerita. Kehadiran makanan ataupun minuman tidak lebih sebagai pelengkap dari cerita di dalam ftv, ataupun serial drama. Dengan demikian, kehadiran kuliner Indonesia merupakan sesuatu yang tidak essensial, yang tidak dipentingkan.

Makanan dalam serial drama Korea dan Jepang

Saya bukan penggemar drama Korea atau Jepang. Dulu saya memang penonton setia drama dari dua negara tersebut, bahkan drama Tiongkok pun saya nantikan tiap sore. Walaupun tidak up to date alias tidak kekinian, saya adalah penonton setia Princess Hours, Full House, Boys Before Flowers, Jewel In the Palace, Endless Love, One Litre Of Tears, Chibi Maruko Chan, Putri Huan Zhu, Femau, dan Sun Go Kong. Satu drama yang paling membekas diingatan saya adalah Jewel In the Palace dengan tokoh utama bernama Dae Jang Geum.

Drama korea Jewel In the Palace tanpa malu-malu dan secara serius digarap untuk menampilkan profesionalitas koki-koki istana Korea pada masa lalu. Satu per satu makanan dibuat dengan hati-hati, tidak asal-asalan. Bagi saya drama ini menunjukkan bahwa Korea memiliki seni kuliner yang tinggi. Untuk mendapatkan hasil makanan dengan kualitas baik, koki-koki istana tidak jarang harus membuat makanan tersebut dalam waktu yang sangat lama karena proses memasak yang perlahan. Dalam satu episode, digambarkan Jang Geum kehilangan fungsi indra pengecapannya sehingga selama berhari-hari ia tidak mampu memasak sama sekali. Ia tidak mampu membedakan rasa, dan hal itu membuatnya frustasi. Bukankah adegan itu menunjukkan bahwa cita rasa merupakan hal nomor satu di makanan Korea?




Selain drama tersebut ada pula drama Full House yang dengan cara implisit menjadikan makanan Korea memiliki porsi penting dalam drama ini. Maksud saya implisit adalah makanan tidak secara langsung ditampilkan sebagai pelengkap saja, tetapi makanan menjadi penggerak cerita dari salah satu episode drama ini. Pada salah satu episode Yong Jae meminta istrinya untuk membuatkan Chobchae untuk sajian bagi tamu mereka. Karena Han Ji Eun tidak bisa memasak maka ia meminta bantuan pada nenek mertuanya untuk mengajari membuat Chobchae. Dengan demikian, secara tidak langsung sebetulnya drama ini telah mempromosikan salah satu makanan Korea, termasuk cara membuatnya. Sebagai tambahan, drama Full House menjadikan meja makan sebagai tempat sentral bagi Yong Jae dan Ji Eun untuk berdiskusi masalah keluarga mereka. Uniknya, makanan yang ditampilkan selalu makanan Korea. Entah dalam keadaan sedih, senang, bertengkar ataupun berdamai.

Boleh juga kita tengok kartun ataupun film Jepang yang tidak lelah menampilkan kehidupan di Jepang apa adanya. Chibi Maruko Chan, misalnya, pada film non-animenya menampilkan bagaimana lezatnya sushi sehingga membuat Maruko meminta pada sang kakek untuk memngajaknya makan di kedai sushi terkenal. Sang kakek pun tak kuasa menolak, akhirnya ia pun menguras isi dompetnya untuk membelikan cucu kesayangannya sushi yang berharga mahal. Ada pula adegan Maruko makan dengan menghirup harum unagi karena ia ingin sekali makan unagi buatan ibunya namun tidak diizinkan. Akhirnya ia mondar-mandir ke dapur sambil menyuapkan nasi hanya untuk dapat makan bersama aroma unagi buatan ibunya.

Penggambaran Sushi yang begitu menggoda

Keluarga Maruko memperebutkan Sushi terakhir



Makanan: Bukan Sekadar Pelengkap

Menurut saya drama-drama di atas berhasil membangun citra positif atas makanan negara asal masing-masing drama. Jewel In the Palace berhasil memberikan gambaran bahwa makanan Korea adalah makanan yang dibuat dengan tingkat ilmu yang tinggi, dengan profesionalitas dan kehati-hatian. Sementara, Full House berhasil menampilkan citra bahwa makanan Korea adalah identitas bangsa Korea, bahwa bagaimanapun kondisinya, seorang keturunan Korea akan memilih menikmati makanan Korea baik dalam keadaan senang dan sedih. Bahkan juga digambarkan bahwa makanan Korea bukanlah milik kelas-kelas sosial maupun ekonomi tertentu, buktinya Yong Jae, yang berperan sebagai artis dalam drama itu, selalu menikmati makanan Korea di rumahnya. Lain halnya dengan Chibi Maruko Chan yang mampu menampilkan makanan Jepang dengan imej makanan yang mahal dan high class. Sushi dengan telur ikan dan unagi digambarkan sebagai makanan yang super lezat dan begitu berharga di keluarga Maruko yang sederhana.

Antara film dan makanan mungkin ada kaitannya, mungkin juga tidak. Walau demikian saya tetap yakin bahwa sedikit banyak film dan drama Korea maupun Jepang memiliki misi untuk mengekspor budaya mereka lewat karya seni, termasuk dalam hal kuliner negara masing-masing. Korelasi antara popularitas makanan dan film juga drama Korea dan Jepang memang perlu dikaji ulang untuk menunjukkan hubungan signifikan dalam bentuk angka, grafik, ataupun tabel. Namun demikian, saya yakin korelasi itu ada dan hubungannya saling memengaruhi.

Mana makanan Indonesia?


Perfilman Indonesia sedang merangkak naik, pun demikian dengan industri kuliner yang sedang menggeliat. Ada baiknya cara Korea dan Jepang ini turut ditiru oleh pelakon-pelakon industri perfilman Indonesia: meningkatkan citra positif kuliner Indonesia. Citra positif yang dimaksud adalah, bersih, enak, dan menjangkau berbagai kalangan baik kaya maupun miskin. Dengan demikian,  kuliner Indonesia tidak terpinggirkan di layar kaca negeri sendiri.