Beberapa minggu terakhir ini saya
punya dua topik favorit untuk ditelusuri di kanal youtube: makanan dan agama.
Kita skip soal agama, mari berfokus tentang makanan. Beberapa kanal, baik yang
dimiliki perseorangan ataupun kelompok, mengunggah video tentang food tasting, atau demo masak.
Yang sedang trend adalah kanal-kanal yang menampilkan video tentang icip-icip
makanan dari berbagai dunia. Salah satu kanal yang pernah menampilkan icip-icip
kudapan Indonesia adalah buzzvideo. Sayang, menurut saya reaksi yang diberikan
sangat berlebihan. ‘They said: Why would
you eat this?’ ‘It tastes like styreofoam’. Saya pun balas di dalam kepala:
Why wouldn’t I eat that?.It tastes superb!
Saya tidak bisa menyalahkan
reaksi mereka, beberapa di antara makanan yang mereka cicipi memang mungkin
asing, berbau menusuk hidung, atau memiliki tekstur yang unik. Tapi apa berarti
makanan Indonesia tidak enak?
Tentu fakta bahwa portal berita CNN
menobatkan rendang Indonesia sebagai makanan terlezat sedunia mematahkan semua
itu. Lagipula, kita punya bakso, nasi goreng, sate padang, mie aceh, tino ransak,
bubur manado, gudeg, cilok, cimol, cireng, seblak, dan jutaan menu lainnya yang
tentunya punya rasa jempolan.
Saya kemudian mencoba
membandingkan makanan Indonesia dengan kuliner Korea atau Jepang yang sangat in belakangan ini. Banyak orang suka
sekali makanan dari dua negara itu. Buktinya, kita bisa lihat bagaimana
menjamurnya restoran sushi, atau rumah makan korea di kota-kota besar
akhir-akhir ini.
Sebetulnya Indonesia punya trend
makanannya sendiri. Coba saja sebut ayam penyet dengan sambel super pedas, mie
setan, seblak seuhah, cireng rujak, cendol, bahkan sampai kue cubit. Hmm yang
mana yang rasanya tidak enak hayo?
Saya yakin tidak ada, karena memang semuanya enak.
Tapi tahukah orang di luar
Indonesia tentang kelezatan semua itu?
Mungkin tahu, semua bisa dilihat
di youtube dengan kata kunci pencarian Indonesian
street food. Bahkan banyak pula yang menampilkan resep dan cara pembuatan
kuliner Indonesia.
Terlepas dari adanya kanal
youtube dan cara yang ditempuh untuk mempromosikan makanan Indonesia, saya
merasa upaya yang dilakukan belum maksimal. Korea contohnya, saya pribadi tidak
suka makanan negeri ginseng ini namun melihat artis-artis negara itu dengan
asyik menyantapnya di dalam adegan film membuat saya mau tidak mau juga
meneteskan liur. Jepang lain lagi, meski tahu menyeruput mie ramen atau
menenggak kuah ramen langsung dari mangkuknya bukan tindakan lazim di banyak
negara, pembuat film tidak peduli. Yang ia tahu adalah membuat film, dan
menampilkan senatural mungkin kehidupan di negaranya. Tidak jarang, drama korea
menampilkan jajanan yang sedang disantap panas-panas oleh sang artis, sebut
saja toeppokki. Lain halnya, drama jepang sering menampilkan dango ataupun
takoyaki yang dimakan oleh sang artis.
Bagaimana dengan makanan
Indonesia dalam film atau drama negeri ini?
Jangan khawatir, ada serial drama
ataupun ftv yang menampilkan makanan Indonesia kok, sebut saja sinetron Tukang Bubur Naik Haji atau ftv berjudul
Azab Anak Penjual Batagor. Di
sinetron yang sudah lama pun makanan Indonesia ditampilkan, misalnya pada
tayangan Keluarga Cemara. Tentu
beberapa dari kita masih ingat bagaimana Euis dengan gigih berjualan opak
(sejenis kerupuk dari olahan singkong), dan Emak yang tidak bosan membuatnya di
rumah.
Bubur Ayam dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji merupakan unsur
penting. Kehadirannya melambangkan perjuangan dan kesulitan hidup yang dialami
Sulam sang penjual bubur. Keberlanjutan cerita, menampilkan bentuk keberhasilan
Sulam yang akhirnya dapat memberangkatkan dirinya serta keluarganya untuk pergi
berhaji. Ia pun pada akhirnya dapat membuka kios bubur sendiri dan berhenti
berjualan bubur dengan gerobaknya. Sama seperti sinetron Tukang Bubur Naik Haji, serial drama Keluarga Cemara juga menjadikan opak sebagai simbol perjuangan dan
kesulitan ekonomi yang dialami keluarga Abah. Juga, pada ftv Azab Anak Penjual Batagor, penjual
batagor digambarkan sangat miskin sehingga ia tidak dapat memberikan apa yang
diminta oleh sang anak.
Adapun beberapa sinetron lain
lebih senang menampilkan adegan makan di restoran, atau ruangan yang pura-pura
disulap sebagai restoran. Jika adegannya sudah begini, maka makanan yang
sekilas ditampilkan adalah makanan western
sebut saja spaghetti atau steak. Untuk minuman, tayang tersebut akan
menampilkan jus.
Sinetron Indonesia yang lebih
senang menyajikan konflik akibat perbedaan status sosial turut menjadikan
pilihan makanan dan gaya makan tokoh di dalamnya sebagai bahan pembanding.
Pilihan makan sayur asem, jengkol, petai, dan ikan asin misalnya dikaitkan
dengan tokoh yang berasal dari keluarga miskin. Sementara tokoh yang
digambarkan kaya selalu menganggap pilihan makanan seperti itu tidak sesuai
dengan status ekonomi maupun sosialnya.
Selain itu, Makanan dan minuman
pun tidak pernah ditampilkan sebagai sorotan utama yang turut menggerakkan
sebuah cerita. Kehadiran makanan ataupun minuman tidak lebih sebagai pelengkap
dari cerita di dalam ftv, ataupun serial drama. Dengan demikian, kehadiran
kuliner Indonesia merupakan sesuatu yang tidak essensial, yang tidak
dipentingkan.
Makanan dalam serial drama Korea
dan Jepang
Saya bukan penggemar drama Korea
atau Jepang. Dulu saya memang penonton setia drama dari dua negara tersebut,
bahkan drama Tiongkok pun saya nantikan tiap sore. Walaupun tidak up to date alias tidak kekinian, saya
adalah penonton setia Princess Hours,
Full House, Boys Before Flowers, Jewel In the Palace, Endless Love, One Litre Of Tears, Chibi Maruko Chan, Putri
Huan Zhu, Femau, dan Sun Go Kong.
Satu drama yang paling membekas diingatan saya adalah Jewel In the Palace dengan tokoh utama bernama Dae Jang Geum.
Drama korea Jewel In the Palace tanpa malu-malu dan secara serius digarap untuk
menampilkan profesionalitas koki-koki istana Korea pada masa lalu. Satu per
satu makanan dibuat dengan hati-hati, tidak asal-asalan. Bagi saya drama ini
menunjukkan bahwa Korea memiliki seni kuliner yang tinggi. Untuk mendapatkan
hasil makanan dengan kualitas baik, koki-koki istana tidak jarang harus membuat
makanan tersebut dalam waktu yang sangat lama karena proses memasak yang
perlahan. Dalam satu episode, digambarkan Jang Geum kehilangan fungsi indra pengecapannya
sehingga selama berhari-hari ia tidak mampu memasak sama sekali. Ia tidak mampu
membedakan rasa, dan hal itu membuatnya frustasi. Bukankah adegan itu
menunjukkan bahwa cita rasa merupakan hal nomor satu di makanan Korea?
Selain drama tersebut ada pula
drama Full House yang dengan cara
implisit menjadikan makanan Korea memiliki porsi penting dalam drama ini.
Maksud saya implisit adalah makanan tidak secara langsung ditampilkan sebagai
pelengkap saja, tetapi makanan menjadi penggerak cerita dari salah satu episode
drama ini. Pada salah satu episode Yong Jae meminta istrinya untuk membuatkan
Chobchae untuk sajian bagi tamu mereka. Karena Han Ji Eun tidak bisa memasak
maka ia meminta bantuan pada nenek mertuanya untuk mengajari membuat Chobchae.
Dengan demikian, secara tidak langsung sebetulnya drama ini telah mempromosikan
salah satu makanan Korea, termasuk cara membuatnya. Sebagai tambahan, drama Full House menjadikan meja makan sebagai
tempat sentral bagi Yong Jae dan Ji Eun untuk berdiskusi masalah keluarga
mereka. Uniknya, makanan yang ditampilkan selalu makanan Korea. Entah dalam
keadaan sedih, senang, bertengkar ataupun berdamai.
Boleh juga kita tengok kartun
ataupun film Jepang yang tidak lelah menampilkan kehidupan di Jepang apa
adanya. Chibi Maruko Chan, misalnya, pada film non-animenya menampilkan
bagaimana lezatnya sushi sehingga membuat Maruko meminta pada sang kakek untuk
memngajaknya makan di kedai sushi terkenal. Sang kakek pun tak kuasa menolak,
akhirnya ia pun menguras isi dompetnya untuk membelikan cucu kesayangannya
sushi yang berharga mahal. Ada pula adegan Maruko makan dengan menghirup harum
unagi karena ia ingin sekali makan unagi buatan ibunya namun tidak diizinkan. Akhirnya
ia mondar-mandir ke dapur sambil menyuapkan nasi hanya untuk dapat makan
bersama aroma unagi buatan ibunya.
![]() |
| Penggambaran Sushi yang begitu menggoda |
![]() |
| Keluarga Maruko memperebutkan Sushi terakhir |
Makanan: Bukan Sekadar Pelengkap
Menurut saya drama-drama di atas
berhasil membangun citra positif atas makanan negara asal masing-masing drama. Jewel In the Palace berhasil memberikan
gambaran bahwa makanan Korea adalah makanan yang dibuat dengan tingkat ilmu
yang tinggi, dengan profesionalitas dan kehati-hatian. Sementara, Full House berhasil menampilkan citra
bahwa makanan Korea adalah identitas bangsa Korea, bahwa bagaimanapun
kondisinya, seorang keturunan Korea akan memilih menikmati makanan Korea baik
dalam keadaan senang dan sedih. Bahkan juga digambarkan bahwa makanan Korea
bukanlah milik kelas-kelas sosial maupun ekonomi tertentu, buktinya Yong Jae,
yang berperan sebagai artis dalam drama itu, selalu menikmati makanan Korea di
rumahnya. Lain halnya dengan Chibi Maruko Chan yang mampu menampilkan makanan
Jepang dengan imej makanan yang mahal dan high class. Sushi dengan telur ikan
dan unagi digambarkan sebagai makanan yang super lezat dan begitu berharga di
keluarga Maruko yang sederhana.
Antara film dan makanan mungkin
ada kaitannya, mungkin juga tidak. Walau demikian saya tetap yakin bahwa
sedikit banyak film dan drama Korea maupun Jepang memiliki misi untuk
mengekspor budaya mereka lewat karya seni, termasuk dalam hal kuliner negara
masing-masing. Korelasi antara popularitas makanan dan film juga drama Korea
dan Jepang memang perlu dikaji ulang untuk menunjukkan hubungan signifikan
dalam bentuk angka, grafik, ataupun tabel. Namun demikian, saya yakin korelasi
itu ada dan hubungannya saling memengaruhi.
Mana makanan Indonesia?
Perfilman Indonesia sedang
merangkak naik, pun demikian dengan industri kuliner yang sedang menggeliat.
Ada baiknya cara Korea dan Jepang ini turut ditiru oleh pelakon-pelakon industri
perfilman Indonesia: meningkatkan citra positif kuliner Indonesia. Citra
positif yang dimaksud adalah, bersih, enak, dan menjangkau berbagai kalangan
baik kaya maupun miskin. Dengan demikian,
kuliner Indonesia tidak terpinggirkan di layar kaca negeri sendiri.






