Jumat, 23 Januari 2015

Pemberian

Tentang seorang asing yang belum benar-benar menjadi teman. Apa salah jika ada pemberian khusus untuknya?

Kalau memang dibilang mengorbankan harga diri, rasanya tidak juga. Berpuluh-puluh halaman buku yang diberikan, bermasalahkah jika yang diminta hanya agar kamu membacanya pelan-pelan, satu persatu, seksama? Mungkin ada dulu perasaan yang terselip. Tapi, kalau yang begitu sudah gugur dihempas angin dan jadi debu, apa perlu masih bertanya-tanya?

Tak ada yang dikorbankan, apalagi harga diri. Cih, kayak roman picisan saja.

Persoalan memberi pada orang asing yang hampir menjadi teman, dibesar-besarkan, karena yang memberi adalah seorang perempuan, yang menerima seorang laki-laki. Katanya perempuan lebih pemalu daripada laki-laki. Maka tindakan seperti itu adalah pernyataan sikap dari hati yang paling dalam dan pasti ada maksudnya.

Apa harus selalu seperti itu?

Kalau seperti itu, menyesal lah aku telah memberikannya. Maksudku baik, buku itu bagus, dan kamu suka membaca. Tak lebih.

Tak ada secuil rasa pun yang ingin dibagi kecuali perasaan senang bahwa buku itu buku yang patut dibaca. Bahwa esensinya manusia pasti bisa kena godaan, Mourad sekalipun.

Kalau kamu tanya kenapa harus kamu? Entahlah. Saya memang begitu suka iseng. Jangan dianggap serius. Take it easy lah bro. Lagipula mana mungkin mengembalikan keisengan. Jadi, tak ada yang perlu dikembalikan.

Dinia