Ku pandangi tetes demi tetes air hujan yang menggantung di genting seng tempatku bernanung. Tidak ada lagi suara gemuruh halilintar, tetapi hujan belum mau usai. Bukan hujan yang menjadi musuhku sebetulnya. Aku tidak berkeberatan untuk pulang hujan-hujan begini. Masalahku adalah bis untuk pulang belum juga tiba. Memang begini ceritanya, bis yang membawa aku pulang hanya lewat dua jam sekali. Terlebih hari ini aku pulang sangat larut.
Sambil menantikan bis, aku sulut rokok terakhir milikku. Ku pikir daripada aku melamun sendiri, lebih baik berteman dengan sebatang rokok. Ku hisap dalam-dalam rokok itu, mencoba menghangatkan diri di tengah sepinya malam dan dinginnya hujan.
Bisku belum juga muncul. Sementara toko buku tempatku berteduh sudah tutup. Aku sempat bertemu dengan pemiliknya tadi. Ia mengizinkanku dan beberapa orang yang lain berteduh di serambi toko buku miliknya. Bapak itu sangat baik, logat cinanya masih sangat kental. Ia masuk ke dalam toko dan tak keluar lagi. Mungkin dibalik toko ini adalah rumah sang pemilik.
Orang-orang yang tadi berteduh bersamaku, sudah tiada lagi. Satu per satu mereka pulang dengan kendaraan yang dinanti. Ada sorang gadis yang dijemput pemuda, seorang bapak yang dijemput anaknya, ada pula yang sudah dihampiri bis tujuannya. Aku menghela napas. Bisku lama sekali rupanya.
Rokokku masih tiga perempat batang. Ku pejamkan mataku di bawah sinar remang lampu serambi toko buku ini, dan menghisap rokokku. Asapnya sengaja kupermainkan untuk mengusir kebosanan. Ku lirik sekitarku, rupanya sudah sepi sekali. Sesekali motor berlaju kencang lewat dihadapanku, mencipratkan genangan air. Haruskah aku menginap di sini? Aku tertawa kecil. Seperti gelandnagan saja aku kalau begitu.
Namun hujan masih begitu rapat, dan bisku belum juga datang. Aku curiga sepertinya aku memang benar-benar harus menginap di sini. Mungkin tak apa, toh di belakangku terdapat beberapa kardus-bekas buku. Aku jadi benar-benar memikirkan opsi ini. Aku mulai gelisah. Di mana bis yang hendak menantarkan aku pulang?
Saat aku kembali menghisap rokokku yang tinggal setengah batang, bus itu datang. Aku jelas bisa menebak dari warna kuningnya yang khas, mengantarkan paparan sinar lampunya dari kejauhan. Betapa aku beruntung masih ada bis selarut ini. Terima kasih Tuhan! Meski ya, selalu begini , bis penuh. Ku lemparkan rokokku ke sembarang arah sebelum naik. Akhirnya aku tidak harus menginap di serambi toko, walaupun harus dengan susah payah menyelipkan tubuh jangkungku di antara penumpang yang lain.
*
Tanganku gemetar memegang koran di hadapanku. Saat itu rasanya seseorang harus menamparku, harus membangunkanku dari keterkejutanku ini. Siapapun bangunkan aku!
Tanpa sadar, koran yang kupegang lolos dari cengkramanku. Jatuh di ujung sepatuku dan menampakkan sebuah bangunan yang sedang dilalap api. Tertulis dikoran itu, “Sebuah toko buku terbakar. Hanya seorang gadis yang selamat dari peristiwa ini.” Apa ini salahku, Tuhan?
*
Koran itu tidak mungkin berbohong. Aku mengamati lekat-lekat gambar yang terpampang di surat kabar itu, dan seperti mengenali suatu tempat. Jangan-jangan itu adalah toko buku tempatku berteduh semalam.
Tanpa terasa aku tiba-tiba menggigil ketakutan. Wajah bapak tua pemilik toko buku itu langsung mengisi seluruh pengelihatanku. Yang ku dengar sekarang adalah suaranya. Yang aku ingat sekarang adalah logat cina-nya. Yang aku rasa sekarang adalah dinginnya hujan tadi malam. Yang aku lihat sekarang adalah serambi toko buku semalam yang temaram.
Air mataku mengalir tanpa permisi. Aku tidak mampu membayangkan jika ternyata yang menghanguskan bapak itu serta keluarga dan tokonya adalah aku. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung beranjak dari kampus. Pergi meninggalkan teman-temanku yang kebingungan melihat ulahku.
Tidak terasa kaki ku berlari sangat kencang. Tak kupedulikan tatapan penuh tanya orang-orang. Aku harus sampai ke toko buku itu sekarang juga!
*
Lututku lemas, dan aku berusaha sekuat tenaga untuk berdiri. Bis yang aku tumpangi sudah pergi, meninggalkanku sendiri dengan seonggok bangunan yang telah hangus di hadapanku.
Papan nama toko buku itu masih tersisa setengah bagian, setengahnya lagi aku lihat sudah meleleh. Tak ada genting seng tempat aku berteduh semalam. Bangunan itu kosong dan sepi, dan warnanya menjadi sangat kumal karena terbakar. Hanya sedikit orang di tempat ini. Beberapa mungkin masih kerabat, mereka meletakkan bunga di depan toko buku itu.
Ketakutan mulai menyergapku. Aku sangsi untuk bertanya penyebab kejadian ini. Namun, rasa penasaranku juga menusuk ingin dipuaskan. Telapak tanganku mulai berkeringat, kepalaku berdenyut sangat kencang, dan jantungku tak mau sedikit reda berdentum; aku takut.
Tiba-tiba seseorang di sampingku mulai bercerita kepada orang di sampingnya tentang penyebab kebakaran. Aku mendengarkannya dengan perasaan was-was.
“Iya, Mbak. Katanya gara-gara puntung rokok loh. Padahal kan Koh Lim ga ngerokok.”
“Aneh ya. Ih kok orang sejahat itu.”
Ah! Aku langsung beranjak dari tempat itu. Air mata ini mengalir saja tiba-tiba. Aku pembunuh! Aku pembunuh yang tak akan pernah diketahui! Ampuni aku Koh..
*
Satu minggu sebelum pernikahan kami, Lisa mau menguak kisah hidupnya. Sebelumnya, yang ku tahu hanya satu hal; Lisa sebatang kara karena ayah dan ibunya telah tiada. Namun, ia tidak pernah mau bercerita tentang hidupnya sama sekali. Sampai akhirnya hari ini ia mengajakku pergi.
Lisa mengajakku pergi ke makam ayah dan ibunya. Ah kekasihku ini sangatlah tegar, ia bahkan tidak menangis di hadapan nisan ayah dan ibunya.
*
Hari menjelang senja. Kami sudah hendak pulang ketika Lisa mengajakku pergi ke sebuah tempat. Kami berdua begitu lelah, tetapi ia memaksaku tetap mengemudikan mobil ini ke arah yang ia maksud.
Kami berhenti di sebuah jalan. Hari sudah gelap dan aku tidak betul-betul mengerti mengapa Lisa tetap memaksaku untuk keluar dari mobil. Aku tak menolak, meski rasanya badanku sangat lelah menemaninya menelusuri catatan hidupnya.
Aku tercengang saat Lisa menyuruhku berdiri di depan sebuah bangunan. Meski gelap aku masih dapat mengenali bangunan itu. Toko buku itu…
Bibirku kelu, dan keringat mulai membasahi tubuhku. Aku tidak tahu apa kaitan Lisa dengan bangunan tua yang sudah tinggal puing di hadapanku.
Tanpa terasa air mataku mengalir, sementara Lisa masih menceritakan tentang masa kecilnya di bangunan di hadapan kami. Tentang ayahnya yang selalu menungguinya di serambi toko. Tentang ibunya yang tidak pernah lelah melayani pembeli. Tentang buku-buku yang sering ia sembunyikan untuk dibacanya. Aku tak dapat memahami ceritanya. Hatiku hancur berkeping, dan aku merasa makhluk paling malang di alam semesta.
Lisa! Ku kecup keningnya. Aku tahu di kepalanya pasti berputar-putar alas an mengapa aku menangis, mengapa orang asing sepertiku harus menangis sementara ia begitu tegar. Namun, Lisa membiarkanku dalam tangisanku. Tangannya membelai lembut pipiku.
“Lisa, Kau tak akan pernah tahu mengapa aku menangis. Maafkan aku, Sayang.”
*