Kamis, 26 Januari 2012

Ulang Tahun Alyssa

Beberapa hari ini setiap aku melewati taman kompleks rumahku, selalu ada seorang gadis yang sedang sendiri. Awalnya aku tidak menyadari kehadirannya sampai suatu ketika saat aku hendak pulang dan melewati taman itu, angin bertiup kencang dan gadis itu tidak bisa menahan kertas-kertas yang berada di pangkuannya. Aku tidak bisa hanya menonton. Aku berusaha membantu mengumpulkan kertas-kertas itu, dan mengembalikan kepadanya.
Keesokan harinya, aku berusaha mendekati gadis itu. Masih berseragam, aku menempatkan diri duduk di sampingnya. Ia sekilas menoleh kepadaku, tersenyum, memamerkan sederetan giginya yang putih seperti mutiara. Aku baru sadar betapa cantiknya gadis itu.
“Terima kasih ya atas bantuanmu kemarin. Kertas-kertasku akan berakhir di got tanpa bantuanmu.”
Ternyata suara gadis itu pun sangat merdu.  Aku merasa apa yang ada di diri gadis ini sangatlah sempurna. Tanpa bisa menguasai diri, pipiku mungkin sudah merah.
Gadis itu kemudian memulai percakapan. Namanya Alyssa. Ia menunjuk ke sebuah rumah yang tak jauh dari rumahku sebagai rumahnya. Alyssa  bercerita kalau ia berusa 16 tahun sama seperti usiaku. Namun, ia tidak bersekolah sepertiku. Ibunya sakit dan ia tidak mau meninggalkannya sendiri.
Aku makin terkesima dan terkesan dengan perempuan di sampingku ini. Ia tidak hanya banyak bercerita, ia pun mau mendengarkan ceritaku dengan seksama.
Aku ceritakan kepadanya bahwa aku baru seminggu tinggal di kompleks ini, dan ia lah teman pertamaku di sini. Aku menawarkan kepadanya untuk bermain ke rumahku malam ini. Namun, Alyssa hanya tersenyum dan aku mengartikan senyuman itu sebagai penolakan halus.
Mentari mulai menarik diri ke ufuk barat, dan sinarnya berbaur hangat dengan sisa langit petang. Alyssa menutup matanya, menikmati keindahan senja. Ia menghirup udara senja itu dengan penuh penghayatan. Sementara aku menikmati memandangnya lebih dari ia menikmati senja ini.
“Aku selalu suka senja. Aku pulang, Kamu juga sebaiknya pulang. Sebentar lagi adzan magrib.”
Alyssa bangkit dan kemudian hilang di balik pagar rumahnya yang rimbun oleh rambatan bunga Alamanda.
*
Semakin hari aku semakin senang berteman dengan Alyssa. Gadis ini sungguh penuh dengan kejutan, dan teka-teki. Ia masih senang duduk di bangku taman, dan aku masih senang menghampirinya, duduk di sampingnya.
Aku dan Alyssa bahkan pernah hanya duduk berdua di bangku itu tanpa melakukan apapun. Alyssa betah sekali dan tampak tidak merasa bosan. Sebuah pikiran jahil muncul, ku keluarkan kamera kesayanganku. Ya Tuhan, betapa indah gadis di sampingku ini. Ia bahkan tidak sadar sudah kujadikan modelku. Sayang kameraku bukan digital.
Alyssa membuka matanya, melirik ke arahku dan tersenyum malu.
“Jahatnya Kamu.”
Aku hanya tertawa kecil dan justru merasa terhibur dengan sikap Alyssa yang seperti anak-anak. Semak-semak di samping bangku taman ini berbunga putih, ku petik satu. Aku selipkan di telinganya. Alyssa kamu menawan sekali. Tak sadar ku landaskan sebuah kecupan di keningnya.
*
Di sebuah senja Alyssa duduk di bangku taman sambil memangku sebuah buku. Ku dekati dirinya.
“Al, itu buku apa?”
Alyssa tidak berkata apa-apa. Aku pun sebenarnya tidak peduli itu buku apa dan bagaimana cerita di dalamnya. Aku tidak pernah benar-benar suka membaca buku. Yang sebetulnya ku inginkan adalah mendengar suara merdu Alyssa. Biasanya Alyssa akan menjawab panjang lebar tentang buku yang sedang ia baca. Ia akan menceritakan tokohnya, alurnya, pendapatnya sendiri tentang buku itu, dan segala hal yang aku tanyakan tentang buku yang ia baca.
Kali ini Alyssa berbeda. Ia dengan lemah menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku biarkan saja, mungkin ia terlalu lelah mengurus ibunya. Tadi memang sempat kuperhatikan wajahnya sedikit pucat, tetapi aku kira ia baik-baik saja.
“Besok ulang tahunku. Kamu mau datang ke rumahku kan? Aku mau dihadiahi seikat bunga ya.” Ucapnya ketika masih bersandar di pundakku.
“Kau mau bunga apa?”
“Aku mau bunga lili. Kamu bisa bawakan?”
“Bisa.”
Senja itu kami tidak pulang ke rumah masing-masing. Al tertidur di pundakku dan baru pada jam sebelas malam ia terbangun. Matanya tampak begitu berat, dan wajahnya kelihatan pucat. Meski begitu, kecantikannya justru makin jelas di bawah sinar rembulan.
Al bangkit dan hendak kembali ke rumahnya. Aku tak menyangka ia mengecupku di pipi.
*
Ini adalah hari ulang tahun Al. Aku sengaja pergi ke pasar bunga untuk memilih sendiri bunga lili yang menurutku paling indah. Aku baru tahu ternyata bunga itu banyak sekali macamnya. Awalnya aku sempat kebingungan karena di mataku berbagai bunga ini sama menariknya, terlebih aku tidak tahu seperti apa bunga lili. Aku akhirnya jatuh hati pada sebuah bunga ungu yang akhirnya aku tahu bahwa bunga itu bernama lili.
*
Aku sudah sangat siap untuk bertemu Al di hari ulang tahunnya. Aku bisa membayangkannya akan sangat cantik dengan balutan gaun, dan terkejut menerima lili yang begitu indah dariku.
Sebelum senja benar-benar habis, aku datang ke rumahnya. Seusai ku ketuk, seorang ibu tua muncul dari balik pintu. Ia bersusah payah mengenaliku, dan pada akhirnya melontarkan pertanyaan:
“Kamu siapa, Nak? Dan mencari siapa?”
“Saya teman Alyssa, Bu. Saya membawakan bunga untuk hadiah ulang tahunnya.”
Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba wajah ibu tua itu berubah kaget. Sejenak air menggantung di matanya. Ia menghela napas. Sejurus kemudian memintaku menuntunnya ke beranda rumahnya.
Kami duduk di beranda itu tanpa bicara satu sama lain. Ibu tua itu tampak masih terguncang, dan aku tidak mengerti mengapa. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Aku semakin tidak mengerti dan tidak sabar. Mengapa ibu ini menangis?
“Al itu anakku.” Suara serak ibu tua memecah kesunyian.
“Ia meninggal empat tahun lalu, dan hari ini adalah tanggal kematiannya.”
Deg! Bulu romaku tiba-tiba berdiri. Aku teringat bunga yang aku bawakan untuknya dan fotonya yang baru saja aku cetak. Aku masih belum bisa percaya. Rasanya ingin aku bungkam cerita bohong ini. Aku buru-buru mengeluarkan foto yang kumaksud. Al, mengapa engkau tiada di dalam foto ini?
Al?
Ibu tua itu masih terus bercerita tentang putrinya, dan aku makin kebingungan. Mengapa engkau diam saja Al? Katakanlah kepadanya bahwa engkau ada! Engkau nyata. Namun, Alyssa yang terlihat begitu cantik dengan gaunnya, hanya tersenyum, duduk di samping ibu tua.

Selasa, 24 Januari 2012