Senin, 19 September 2011

Dinda dan Mega

Ini milik kekasih orang yang selalu saya sayangi.

Siapa dinda memuja mega
memuja kuda liar tanpa pelana, atau kesatria tanpa tudung di atasnya
mengukir padam arang dinda mengertilah
menebar debu pesak sisa penggilingan, saru pada nyawa tanpa warna

Dimana dinda, Tuan tak cukup tahu
meronceh melati di pekuburan juita

Penyap, ketika daun pohon ketapang gugur tanpa kata.
berbaring pilu membuat dinda berbayang sendu.

Pias, dinda ditelan buih, sedang kakanda melanja pada surgaloka di balik mega

Depok, 19 September 2011