Bulan di luar merangkak naik, pelan-pelan. Bulatnya belum sempurna di mata. Masih tertutup awan gelap, belum waktunya memang. Mungkin besok atau lusa, baru ia sempurna. Atau justru sudah lewat masa? aku kurang mengerti. Malas juga memeriksa tanggalan bulan.
Beberapa hari lalu temanku datang. Mukanya cemberut. Aku tahu dia habis pisah dari kasihnya. Memang pisah selama ini, karena yang stau di Depok yang lain di Jawa Tengah. Katanya kasihnya sudah habis sabar menghadapi si temanku ini. Katanya si Perempuan ini kayak bocah lakunya. Kataku sih juga begitu. Si Perempuan terlampau kayak bocah.
Aku kasihan sebetulnya terhadap dia. Habis seperti tergantung sekali pada kasihnya. Aku kata dia baru lihat dunia seujung tahi kuku. Masih banyak orang lebih baik buat dia. Aku terka dia tidak bahagia. Lantas aku kata lagi: Buat apa begini? Mending cari yang lain saja. Orang baik banyak, laki ganteng banyak, yang kaya dia biar sedikit tapi ada, cari yang lain saja. Buat apa siksa diri?
Temanku itu memeluk tiang koridor. Jangan begitu, kataku. Masih muda kita ini, waktu masih panjang. Masa mau mati, mau ga bahagia cuma gegara Laki itu? Dia kata, Tapi aku bahagianya sama dia. Kalo ga sama dia ga bakalan bahagia. Sekalipun kayak begini, aku bahagia. Aku ga mau nikah kalo ga sama laki itu.
Ini temanku memang sekeras batu. Aku heran kenapa harus menyiksa diri cuma biar bahagia. Kenapa bahagia saja bergantung pada orang lain? Atau memang konsep kebahagiaan itu harus tergantung ini atau itu? Aku iba ah pada temanku itu. Seperti layaknya perempuan itu objek, bahkan untuk bahagia saja butuh subjek untuk mengatur. Aduh!
-Aku